Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Karena Pulpen
Namaku Tia Agusti Ningsih, tapi keluarga dan orang-orang terdekat biasa memanggilku Ia. Aku bukan tipe anak yang heboh. Sebagai seorang introvert, aku lebih nyaman berada di sudutku sendiri. Namun, kalau sudah kenal dekat, aku bisa jadi teman yang sangat asyik dan akrab.
Dulu, waktu masih duduk di bangku SD, aku sekolah di tempat yang cukup dekat dari rumah. Bisa ditempuh dengan jalan kaki santai atau diantar naik motor.
Di sekolah itulah, sebuah kejadian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya terjadi: aku dituduh menjadi seorang maling.
Hari itu hari Sabtu. Kelas kami sedang dipakai untuk kegiatan lain, jadi kami terpaksa mengungsi ke perpustakaan untuk belajar seharian.
Saat jam istirahat tiba, aku sadar tinta pulpenku sudah habis. Aku pun berjalan ke toko alat tulis langganan dekat sekolah untuk membeli pulpen baru. Perutku yang mulai keroncongan membuatku langsung lanjut berburu jajanan SD. Begitu kembali ke perpustakaan, aku langsung mengambil posisi duduk sendirian di salah satu sudut meja kayu yang dingin. Aku ingin fokus menyelesaikan tugas yang diberikan guru.
Awalnya semua berjalan tenang. Jarum jam berputar cepat sampai tugasku tersisa lima nomor lagi.
Sedikit lagi selesai, batinku senang. Bayangan bisa bersantai di rumah sambil menonton Doraemon atau Spongebob Squarepants membuat jemariku semakin lincah menari di atas kertas.
Namun, ketenangan itu mendadak buyar.
Duar!
Tanpa aba-aba, seorang anak laki-laki di kelas kami—namanya Putra—tiba-tiba datang dan langsung merebut pulpen baru dari genggamanku.
"Apaan sih! Main rebut aja, ini pulpenku baru beli!" seruku kaget campur kesal sambil refleks merebutnya kembali. Tinta di dalam tabung plastik bening itu masih utuh penuh.
"Maling! Ini pulpen punya Si Bella! Kemarin aku pinjam dari dia!" tuduh Putra dengan nada tinggi.
"Bodo amat! Ini pulpenku, baru beli tadi! Ya kalau kamu pinjam barang orang, jaga dong!" balasku tak mau kalah.
Tetapi Putra justru semakin ngotot. Wajahnya memerah karena emosi yang dibuat-buat.
"Bisa aja kamu ngeles! Bilang aja kamu kan yang ngambil pulpennya?!"
Rasanya ingin sekali aku mendaratkan pukulan ke wajahnya saat itu juga. Mulut anak itu benar-benar minta dijahit.
"Lah, kamu kan yang bawa pulpen itu ke mana-mana? Lagian pas istirahat aku sendirian di sini, gimana caranya aku ngambil? Kamu kan jalan bareng teman-temanmu!" celotehku meluapkan kekesalan.
Di tengah perdebatan yang makin memanas, aku melirik ke arah Caca dan Dina. Mereka berdua ada di perpustakaan sejak tadi dan melihatku cuma diam membaca buku.
"Tanya aja sama Caca dan Dina! Mereka lihat kok dari tadi aku cuma diam membaca buku pas istirahat!" ucapku mantap, berharap ada keadilan.
Namun, harapanku runtuh seketika. Caca dan Dina justru menatapku dingin dan berpihak pada Putra.
"Bisa aja pas ngambilnya waktu istirahat," cetus mereka pelan tapi menusuk.
Seketika dadaku terasa sesak. Rasanya sakit sekali. Selama ini, setiap kali mereka membutuhkan bantuan, aku selalu siap ulur tangan. Tapi begitu aku berada di posisi tersudut seperti ini, mereka malah berbalik melemparkanku ke dalam jurang.
Takut, bingung, sedih, dan capek bercampur jadi satu. Setiap kata pertahanan yang keluar dari mulutku tak ada yang mau mendengar. Tak ada satu pun yang percaya.
Akhirnya, aku memilih mengalah.
Bukan karena aku takut, dan bukan pula karena aku salah. Aku hanya ingin menghentikan perdebatan tak berguna ini. percuma saja bicara jika telinga mereka sudah tertutup prasangka.
Pulpen baruku dibawa pergi begitu saja.
Aku terduduk lesu. Uang saku di kantongku sudah habis untuk membeli pulpen tadi. Sementara itu, guru memberi tugas baru dan aku tidak punya alat tulis lagi. Beruntung, seorang teman bernama Putri berbaik hati meminjamkan pulpennya padaku.
Dengan perasaan hancur dan bisikan-bisikan jahat yang berseliweran di sekitarku, aku memaksakan diri menyelesaikan tugas itu secepat mungkin. Puncaknya, saat aku berjalan mengumpulkan bukuku ke meja, Putra dengan sengaja senggol dan melempar bukuku hingga jatuh ke lantai.
Keesokan harinya, penderitaan itu belum selesai.
Begitu melangkahkan kaki di koridor sekolah, bisik-bisik itu kembali terdengar.
Putra rupanya sudah bercerita ke Bella—yang kemarin tidak masuk—sambil terus menunjukku dan berteriak, "Maling! Maling!"
Sebagian besar teman sekelas mulai berbisik-bisik, lalu riuh tawa mengejek pecah di dalam ruangan. Rasanya air mataku sudah meluap di pelupuk mata, tinggal menunggu waktu untuk menetes.
Teng! Teng! Teng!
Bel masuk berbunyi tepat waktu, menyelamatkanku dari ledakan tangis. Pak Budi, guru laki-laki kami, berjalan masuk ke kelas. Setelah memimpin doa, Pak Budi tiba-tiba memanggil Bella ke depan kelas.
"Bella, ini pulpenmu. Kemarin jatuh di area sekolah dan Bapak yang amankan," kata Pak Budi santai. "Bapak tahu ini punyamu soalnya ada stiker namamu di sini."
Suasana kelas yang tadinya riuh penuh cibiran mendadak senyap.
Semua mata tertuju pada Bella yang maju mengambil pulpennya. Beberapa anak yang tadi paling keras menuduhku langsung bungkam, menundukkan kepala tanpa kata.
Pelajaran pun dimulai seperti biasa. Namun, hingga bel pulang sekolah berbunyi, Putra tak pernah mengucapkan sepatah kata 'maaf' pun padaku. Begitu pula dengan yang lainnya. Mereka berakting seolah-olah tidak pernah menghancurkan hatiku sehari sebelumnya
Catatan Kecil dari aku:
Jangan pernah asal menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. Cari tahu dulu kebenarannya sebelum kamu menunjuk hidung orang lain. Menuduh tanpa bukti dan mengajak orang lain memusuhi seseorang itu adalah bentuk bullying. Jika kita tidak bisa berbuat baik kepada sesama, setidaknya jangan pernah berbuat jahat..