Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenang, Ini Baru Awal
"Woy, Aira! Sini bentar!" Suara Jaka memecah bising bengkel.
"Bantuin gue angkat blok mesin si Ninja ini napa! Tangan gue udah gemeteran kayak habis digebukin satu kampung!"
Aira Dhea Ananta menggeleng sambil tersenyum sinis, jemarinya menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Langkahnya santai tapi pasti. Kaus putihnya kontras dengan wearpack abu-abu terikat rapi di pinggang, lengan digulung memperlihatkan otot lengan yang kencang dan padat, hasil bertahun tahun mengencangkan baut dan mengangkat beban berat, dan menolak dijadikan lemah hanya karena ia perempuan.
"Dih, lemah lo, Jak!" ledeknya sambil berjongkok, memposisikan kedua tangan dengan presisi. "Makanya kalau malem tidur. Jangan begadang nonton bola sambil ngemil kuaci sampai subuh."
Satu tarikan mantap. Blok berat itu pas masuk ke dudukan.
Cklek.
"Tuh beres. Otot kawat, balung besi. Jangan otot tempe!"
Jaka meringis mengencangkan baut pengunci. "Buset, tenaga lo nggak ngotak. Badan wangi losion bayi, tenaga kayak kuli pasar induk."
Rian tertawa dari samping. "Makanya Jak, jangan cari perkara sama Aira. Sekali di-smackdown, langsung pindah alam lo!"
"Sialan lo, Yan!" Kain lap melayang ditangkap Rian cekatan.
Tawa mereka bercampur dengan denting kunci pas, deru kompresor, dan bau bensin yang akrab. Hangat. Bising. Nyata. Satu-satunya tempat dimana dia tak perlu berpura-pura, tempat di mana dia diterima seutuhnya, bukan sebagai anak hilang, bukan sebagai siapa pun, melainkan hanya sebagai Aira.
Namun tawa itu pelan-pelan padam. Rian meletakkan obengnya, wajahnya mendung seketika.
"Serius deh... Lo udah denger kabarnya?"
Tangan Aira yang sedang menyeka kunci sok terhenti di udara. Jantungnya sedikit berdebar, seakan sudah tahu apa yang akan dikatakan.
"Surat peringatan kedua turun kemarin malam," bisik Rian pelan. "Tanah ini dibeli korporat besar. Bulan depan mulai pembongkaran."
Aira menghela napas panjang, menatap lantai. Bengkel ini bukan sekadar tempat kerja. Ini kenangan. Ini keluarga. Ini satu-satunya rumah yang dia miliki sejak kedua orang tuanya meninggal.
"Udah tanya Pak RT," suaranya lirih tapi tegas, tak ada gentar di sana. "Fix. Kita harus pergi."
"Aduh, berabe dong," Jaka menyandar di tumpukan ban bekas, bahunya merosot. "Terus kita kerja di mana? Bayar kosan aja gue pusing kalau tempat ini tutup."
Dia menatap mereka satu per satu. Matanya tajam, tak ada air mata, cuma tekad yang tak bisa digoyahkan.
"Mau gimana lagi. Kita rakyat kecil, nggak punya kuasa lawan pemilik modal," ucapnya mantap. "Tapi selama pintu masih terbuka, selama mesin masih berputar, kita kerjakan sebaik-baiknya. Jangan hancurin hari ini cuma karena takut hari esok yang belum tentu datang."
"Betul! Mental nomor satu!"
Suara berat Pak Beni terdengar dari pintu kantor. Pemilik bengkel berdiri di sana, senyumnya hangat meski matanya lelah.
"Kalian cemas, saya juga pusing. Tapi ingat, selama atap belum runtuh, jangan biarkan takut merusak apa yang sedang kita kerjakan. Kualitas tetap nomor satu. Paham?"
"Siap, Pak!" serempak.
"Nah. Ra, mobil sedan hitam di depan sudah beres?"
"Sudah, Pak. Dinamo dibersihkan, karburator dikalibrasi ulang. Tes jalan mulus tanpa getaran sedikit pun."
Pria tambun di ruang tunggu mengetuk jam tangannya tak sabar. Saat melihat Aira alisnya bertaut rapat.
"Mbak ini montirnya? Nggak salah?" dengusnya remeh, menatap dari ujung kepala hingga kaki. "Cewek sekecil ini bisa benerin mobil saya yang brebet parah? Yakin nggak asal-asalan?"
Jaka dan Rian melangkah maju, tangan meraih kunci inggris. Aira memberi isyarat tenang. Marah tak akan membuktikan apa-apa. Kerja yang akan bicara, hasil yang akan menjawab.
"Coba dinyalakan, Pak. Kalau masih bermasalah, saya perbaiki gratis sampai benar."
Pria itu mendengus, lalu masuk ke balik kemudi.
BRRUMM!
Mesin menderu halus, stabil, buat. Pria itu terbelalak. Turun dari mobil, wajahnya merah padam malu.
"Wah... hebat juga kamu. Suaranya mulus kayak baru keluar diler! Maaf ya tadi saya ragu."
"Sama-sama. Hati-hati di jalan."
Mobil melaju pergi. Rasa lega menyelinap, sebentar saja.
BRRRRRRRRR!
Deru motor gede memekakkan telinga. Pria muda berhenti mendadak, ban berdecit meninggalkan bekas hitam. Turun dengan wajah panik dan kaku.
"Ganti ban sekarang! Buruan! Saya ada urusan penting!"
"Antre dulu ya, Mas. Ada yang datang duluan."
Pria itu berkacak pinggang, mendengus kasar. "Saya nggak punya waktu! Saya bayar dua kali lipat, kerjain sekarang! Kalau meletus di jalan dan bisnis saya rugi miliaran, lo mau tanggung?!"
Dada Aira mendadak panas. Sabar. Ini ujian.
Daripada berdebat membuang waktu, ia memilih jalan taktis. "Oke. Mas duduk di ruang tunggu. Biar saya kerjakan sekarang."
Dengan gerakan cepat yang didorong rasa dongkol, Aira mengambil dongkrak. Baru saja ban terlepas dari poros, suara gaduh dari arah jalan kembali memecah suasana.
Sebuah sedan klasik hitam mewah yang harganya pasti menembus belasan miliar rupiah, melambat dengan susah payah tepat di depan gerbang. Asap putih tebal mengepul dari bawah kap mesin. Mobil itu terbatuk beberapa kali sebelum mati total, posisinya melintang menghalangi jalan masuk.
Semua terdiam. Jaka menatap mobil itu, menyenggol lengan Aira. "Ra... itu mobil siapa? Kok berasa bawa aura masalah gede banget?"
Aira menyipitkan matanya. Firasatnya mendadak tidak enak. Jantungnya berdebar kencang tanpa sebab yang jelas, seakan ada sesuatu yang lama hilang kini berdiri tepat di depan pintu.
Pintu belakang sedan mewah itu terbuka perlahan. Sepasang sepatu kulit hitam yang mengkilap menapak di atas aspal berdebu. Dari balik pintu mobil, muncul seorang pria tua. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, dipotong rapi. Jas hitam pas di badan, tongkat kepala naga berlapis emas di tangan.
Kerutan yang mendalam di wajahnya menjadi saksi bahwa usianya telah senja, menembus angka 77 tahun. Tubuhnya ringkih tapi berdiri tegak, seakan seluruh ruangan ikut diam saat beliau melangkah masuk.
Dingin. Penuh selidik. Tatapan itu menyapu sekeliling area bengkel dengan cermat, hingga akhirnya pandangan pria tua itu berhenti tepat pada satu titik. Mata elangnya terkunci tepat ke arah wajah Aira Dhea Ananta.
Aira membeku. Siapa dia? Dan kenapa tatapannya seakan sudah mengenalnya sejak lama? Seakan ia sedang melihat sesuatu yang hilang puluhan tahun, lalu akhirnya ditemukan kembali di tempat yang paling tak terduga.