"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanaya sadar
Semua orang yang mengantar Adrian ke air terjun mayat, ikut merasa senang saat Adrian berhasil membuat peti mati itu terkubur bersama iblis yang mendiami tempat itu, bahkan mereka bersyukur karena mereka bisa turun dengan selamat ke arah jalan besar tempat mobil mereka terparkir, mereka menunggu di rumah kosong tempat mereka parkir mobil dan menunggu waktu subuh tiba, supir yang merupakan anggota Mirza tidur di dalam mobil agar saat mereka menyupiri pulang, mereka tidak mengantuk, dan akan bergantian dengan yang lain.
"Abah yai, Abah tahu ini rumah siapa? Kenapa rumah ini dari luar tampak kotor tapi di dalam bersih?" Tanya Dimas
"Ini rumah almarhum ibunya Andhika putra dukun Jiwo yang dulu menjadi dukun teluh pemuja iblis Kala, yang merawatnya ada orang dari kampung yang ada di bawah tempat ini, sekitar satu kilometer jaraknya, tapi mereka hanya kesini sebulan sekali, kebetulan tadi pagi saat Abah telepon, Abah juga minta mereka membersihkan rumah, luarnya memang terbengkalai, tapi dalamnya bersih ko" jawab Adrian
"Om Andhika yang punya bisnis katering Abah?" tanya Gerhana
"Iya yang itu, anaknya juga pesantren di tempat Abah, masih SMP nanamnya Arsyila Andhika Permana" jawab Adrian
"Ibunya itu dulu orang kaya, itu sebabnya Jiwo menikahi ibunya agar dia jadi terkenal dan juga tidak kesulitan uang" bisik Adrian
"Parah, tapi Alhamdulillah ya anaknya tidak ada yang ikut jejaknya" ungkap Dimas
"Hihihi... Dimas, Sahara lihat warung makan di persimpangan sana, Sahara mau ke sana ya" bisik Sahara mengagetkan semua orang karena tiba tiba saja Sahara muncul di punggung Dimas.
"Kalau begitu kita istirahat saja sampai matahari terbit, Sahara kamu beli makan untuk kami awas kalau kamu hirup atau cicipi, setelah itu kita pulang" ucap Adrian.
"Yes" ungkap Sahara menyodorkan tangannya.
Adrian melirik Dimas dan Dimas terkekeh karena dia yakin Adrian tidak membawa uang karena terburu buru, jadi Dimas segera mengeluarkan empat lembar uang berwarna merah ke tangan Sahara yang langsung merubah dirinya jadi seorang perempuan berpakaian putih dengan rambut panjang sepinggang dan mengedipkan matanya ke arah Mirza, Aryasatya dan Gerhana.
"Astagfirullahaladzim, hantu genit satu ini" keluh Adrian
"Gerhana, ayo sini duduk dulu, tadi aku sudah telepon kak Irsyad saat ada sedikit sinyal, katanya Kanaya sudah sadar dan kondisinya baik baik saja" ucap Aryasatya merangkul Gerhana yang masih terlihat murung.
"Benarkah Kiai? Kanaya sudah sadar?" Tanya Gerhana mulai berbinar dan sedikit tersenyum.
"Iya, Alhamdulillah Kanaya sudah sadar, kalian ganti pakaian kalian, ada di dalam tas yang di bawa Arthayasa tadi" ucap Aryasatya
Dengan segera mereka berganti pakaian karena suasana disana benar benar dingin dan mereka kembali dalam keadaan basah kuyup, apalagi tangan Gerhana juga terlihat berdarah lagi karena tadi mengangkat peti mati yang sangat berat, punggungnya yang sudah mulai sembuh juga kembali berdarah.
"Ini, untuk sementara pakai perban dan antiseptik ini untuk luka kamu, setelah sampai di rumah sakit, di periksa lagi mungkin harus kembali di jahit" ucap Dimas membantu Gerhana setelah dia berganti pakaian.
"Jangan di jahit lagi Om, Gerhana nggak mau, waktu itu saja Gerhana sampai pura pura kuat saat di jahit di depan Kanaya" keluh Gerhana karena luka di punggungnya malah di jahit setelah empat hari lalu Kanaya membawanya ke rumah sakit.
"Dia mungkin pingsan" ledek Adrian
"Itu lebih bagus, kamu jadi nggak akan merasa sakit atau takut kalau kamu pingsan" ucap Mirza terkekeh.
"Iya kak, lebih bagus kalau di bius total, jadi kak akan tenang nggak berontak lagi seperti kemarin kemarin" ledek Azam
"Tidak! Kalau di bius total nanti kak Gerhana tidak akan bisa melihat kondisi Kanaya" jawab Gerhana
Selang satu jam, adzan subuh berkumandang dari arah perkampungan yang ada di bawah gunung itu, mereka langsung melaksanakan shalat berjamaah, Sahara juga sudah datang dengan banyak plastik makanan karena di tempat itu sudah mulai ada warung yang buka dan menyediakan banyak makanan dan gorengan.
"Aduh, lama sekali shalatnya, Kiai tampan baca suratnya panjang panjang, Sahara dong baca Al ikhlas saja biar cepat" keluh Sahara yang perutnya sudah mulai berbunyi karena tadi dia menjaga tempat itu supaya tidak di masuki mahluk lain.
••••••••••••••
Di rumah sakit
"Bagaimana kondisi kamu?" Tanya Sultan yang sudah terlihat sehat kembali, bahkan tidak ada sisa dari guna guna itu setelah Adrian membersihkan tubuhnya dari energi negatif.
"Alhamdulillah baik kak, Kanaya hanya masih pakai selang oksigen ini karena masih sedikit sesak" jawab Kanaya
"Hiks... Kanaya jangan sakit, nanti aku sedih dan kak Gerhana juga sedih" ucap Shaquilla memeluk Kanaya.
"Iya, aku sudah sembuh, kamu tidak apa apa kan?" Tanya Kanaya dan Shaquilla mengangguk.
"Kanaya masih belum bisa banyak bergerak, dia harus bed rest selama satu minggu untuk memulihkan kondisi kesehatan dan kakinya, jadi Kanaya mungkin tidak akan bisa ke pabrik" ungkap Raditya yang entah mengapa masih bisa menguasai tubuhnya dengan baik.
Irsyad juga sudah menelepon Andar dan Rebecca yang khawatir tak kunjung bisa menghubungi Kanaya, mereka ingin menyusul ke sana tapi Kanaya melarang mereka karena khawatir mereka akan jadi incaran Eva juga Tarman, apalagi Kanaya juga tahu kalau jin yang mendiami tubuh Gita juga adalah jin yang di tanam oleh Tarman dan dukun yang di datangi Gita adalah Tarman.
"Aku jadi merasa tidak enak syad, ini karena aku kurang hati hati saat mengenal orang, harusnya aku sadar saat dia dulu aku tolak, dan dia datang lagi setelah beberapa tahun menghilang" ungkap Sultan
"Ini musibah, dan kita tidak bisa memprediksinya kak, kami ikhlas ko membantu, Shaquilla juga kan teman kami" ucap Irsyad menenangkan Sultan dan Shaquilla yang terlihat menangis di samping Kanaya.
"Tapi kak, sejak kapan Gita sering memberikan makanan pada kak Sultan?" Tanya Kanaya
"Sejak aku kasih dia modal usaha dengan bibinya, dia pertama mengantar makanan itu sekitar dua minggu lalu yang pas kak Gerhana belikan kalian nasi uduk, itu dari dia, setelah itu aku sering lupa lupa ingat, bahkan kejadian kemarin saja aku masih merasa seperti mimpi" jawab Sultan
"Itu artinya dia sudah lama mengincar kak Sultan, dan sudah lama juga berhasil" ungkap Kanaya yakin.
"Iya dan aku pikir dia hanya benar benar ingin berterima kasih saja saat memberikan makanan itu karena bertahun tahun kami tidak bertemu" jawab Sultan
"Apa belum ada kabar dari yang lain?" Tanya Zia
Terakhir menelepon tengah malam tadi, mereka sudah sampai di lokasi dan sedang mengantar peti jenazah itu ke air terjun, setelah itu mungkin disana tidak ada sinyal sampai sekarang belum ada kabar lagi, tapi tadi Irsyad sudah mengatakan kalau Kanaya sudah sadar" jawab Irsyad
"Handphone kak Gerhana juga nggak bisa di hubungi karena handphonenya ada di dirumah, ketinggalan" ucap Shaquilla
"Disana memang susah sinyal, itu sebabnya tidak memberi kabar" ucap Zia
"Mungkin mereka sudah dalam perjalanan pulang" ucap Raditya
Gass Sahara godain aja tuh Raditya biar Eva keluar tanduknya 😄