📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 - Hurt
Hari itu cerah.
Hari terakhir ulangan akhir semester di kelas sebelas. Sebentar lagi aku akan naik ke kelas dua belas, dan tahun depan, aku akan mulai kuliah.
Aku bahagia. Bukan hanya karena hari itu adalah hari terakhir ulangan akhir semester, tetapi juga karena setelah selesai ujian, aku akan menonton film bersama Liam, pacarku.
Sebenarnya, orang tuaku melarangku berpacaran karena mereka ingin aku fokus belajar. Namun, Liam terus mendekatiku sampai akhirnya aku mulai menyukainya dan menerima perasaannya.
“Elle... ayo sarapan.”
Suara Ibu terdengar dari luar kamar.
“Iya, Bu. Bentar.”
Aku masih sibuk mengikat setengah rambut panjangku. Setelah merasa cukup rapi, aku mengambil tas dan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Ayah dan Ibu sudah duduk bersebelahan di sana. Aku mengambil tempat di depan Ibu.
Di atas meja sudah tersedia nasi goreng yang masih mengepul.
“Kamu sudah belajar?” tanya Ayah begitu aku duduk.
“Sudah, Yah.”
“Bagus.”
Aku baru hendak mengambil sendok ketika tiba-tiba teringat sesuatu.
“Yah...” panggilku hati-hati.
Ayah menatapku.
“Hari ini kan hari terakhir UAS. Setelah pulang sekolah, aku boleh nonton di bioskop sama teman-teman, Yah?”
Aku menyatukan kedua tangan di depan dada.
“Please... habis itu aku janji langsung pulang.”
Ayah melirik Ibu yang sejak tadi diam.
“Udah, Yah. Izinin aja. Sekali-kali ini aja,” kata Ibu.
Ayah kembali menatapku.
“Habis itu langsung pulang, benar?”
“Iya. Setelah nonton aku langsung pulang.”
“Ya sudah. Boleh.”
“Yeee!!!”
Aku langsung bangkit dari kursi, mendekati Ayah, lalu memeluknya dari belakang.
“Makasih, Ayah. Ayah adalah ayah terbaik di dunia.”
“Bisa aja kamu ini. Giliran dibolehin pergi, ngomongnya kayak gini.”
Aku tertawa kecil.
“Ya, namanya juga aku bosan, Yah. Belajar terus.”
“Nggak boleh bosan. Belajar itu penting. Ayah nggak mau lihat nilai kamu di bawah KKM.”
Aku langsung melepaskan pelukan dan berdiri tegak.
“Iya, iya.”
“Sudah, sekarang sarapan. Nanti kamu telat lagi.”
Aku segera kembali ke kursiku dan mulai menyantap nasi goreng yang sudah disiapkan Ibu.
Setelah selesai sarapan, aku langsung berangkat ke sekolah.
Sementara itu, Ayah juga bersiap pergi bekerja di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Semarang.
Aku berangkat ke sekolah menggunakan motor yang dibelikan Ayah saat aku masuk SMA.
Jalanan Kota Semarang pagi itu cukup ramai, tetapi masih lancar. Di sepanjang jalan, aku melihat banyak anak sekolah sepertiku yang juga sedang berangkat.
Saat hampir sampai di sekolah, tiba-tiba terdengar suara klakson dari sebelahku.
Aku langsung menoleh.
Liam.
Ternyata dia juga baru berangkat.
Aku segera membuka kaca helmku.
“Liam?” ucapku terkejut.
“Hai...” sapa Liam sambil tersenyum.
“Duluan aja. Jangan di sampingku. Bahaya.”
Liam mengangguk. Dia kemudian melajukan motornya dan mengambil posisi di depanku.
Aku pun mengikutinya hingga kami tiba di sekolah beberapa menit kemudian.
Kami memarkirkan motor masing-masing secara bersebelahan.
“Nanti jadi nonton, kan?” tanya Liam begitu kami melepas helm.
“Jadi dong.”
“Udah izin sama orang tua kamu?”
“Udah.”
“Kamu ngomong apa sama orang tua kamu?”
“Aku mau nonton sama temen.”
Liam langsung memasang wajah tidak terima.
“Oh, jadi aku cuma temen, nih?”
Aku terkekeh.
“Ya masa aku bilang aku pergi nonton sama pacarku? Bisa-bisa Ayahku malah nyuruh kita putus. Atau bahkan Ayah bisa nyoret aku dari KK.”
Liam tertawa.
“Ya udah, kamu masuk KK-ku aja.”
Aku langsung memukul lengannya pelan.
“Ih, apaan sih? Kita masih SMA, lho. Masih kelas sebelas, udah mikir sejauh itu.”
“Ya nggak apa-apa dong.” Liam tersenyum. “Itu berarti aku pengin, di masa depan, tetap sama kamu.”
Aku mendengus, meskipun tanpa sadar aku ikut tersenyum.
“Apa sih? Belajar yang benar dulu. Cari kerja dulu. Baru deh mikirin masukin aku ke KK kamu.”
“Siap, Tuan Putri.”
“Udah dong, jangan manggil aku kayak gitu terus.”
“Itu kan panggilan sayangku buat kamu. Lagian, Putri kan nama belakang kamu. Elfiana Putri.”
Aku menghela napas.
“Baiklah, Tuan Liam.”
Liam tertawa kecil
“Udah, yuk. Masuk.”
Aku berjalan lebih dulu menuju gedung sekolah.
“Eh, tunggu, Elle.”
Liam menyusulku. Begitu sudah berada di sampingku, dia tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Liam... apa-apaan sih? Kita di sekolah, lho.”
“Gini doang, kok.”
Aku menghela napas. Entah kenapa Liam selalu tidak peduli dengan keadaan sekitar kalau sudah menyangkutku.
Meski begitu, aku membiarkannya menggenggam tanganku.
Sampai tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang yang membuatku terkejut.
“Pak Guru! Bu Guru! Ada yang pegangan tangan!”
Aku refleks melepaskan tangan Liam dan langsung menoleh.
Sita.
Teman sekelasku sekaligus sahabatku.
“Apa-apaan sih, Ta?” Liam langsung menatapnya kesal.
“Ya kalian ngapain pegangan tangan? Ini di sekolah, lho.”
Sita kemudian menarik tanganku.
“Ayo, Elle.”
“Eh?”
Aku sempat menoleh ke arah Liam.
“Liam, sampai nanti.”
Liam hanya mengangguk.
Sita terus menarikku sampai kami tiba di kelas. Kami duduk di kursi masing-masing yang memang bersebelahan.
“Bisa-bisanya kamu sama Liam pegangan tangan di sekolah,” kata Sita.
“Nggak sengaja.”
Sita langsung menatapku tidak percaya.
“Erat banget gitu dibilang nggak sengaja.”
Aku hanya tertawa kecil.
“Aku masih nggak nyangka, lho, kamu bisa pacaran sama Liam. Si ketua basket itu. Yang disukai banyak cewek. Padahal dulu kamu ngelirik dia aja nggak.”
“Ya nggak tahu.” Aku mengangkat bahu. “Hati ini tiba-tiba tertarik sama dia.”
“Hati ini... hati ini...” Sita mengulang perkataanku sambil memasang wajah mengejek. “Kayak orang dewasa aja kamu, Elle.”
Aku tersenyum.
“Udah, sekarang belajar aja. Biar nilai kamu bagus dan nggak dimarahi Ayah kamu.”
“Iya, iya.”
Beberapa saat kemudian, bel masuk berbunyi. Kami semua bersiap mengikuti ulangan akhir semester.
Setelah guru membagikan soal, aku menuliskan namaku di lembar jawaban. Setelah itu, aku mulai mengerjakan soal satu per satu.
Sebagian besar soal bisa kukerjakan dengan mudah. Hanya beberapa soal yang membuatku harus berpikir lebih lama.
Setelah UAS mata pelajaran pertama selesai, bel istirahat berbunyi.
Selama istirahat, aku tidak bertemu Liam. Selain jurusan kami berbeda, aku juga memilih menghabiskan waktu dengan belajar untuk ujian terakhir.
Setelah waktu istirahat selesai, UAS mata pelajaran kedua sekaligus yang terakhir pun dimulai.
Aku berusaha fokus mengerjakan semua soal.
Sesekali aku memeriksa kembali jawabanku sebelum akhirnya menyerahkan lembar jawaban kepada guru.
Begitu UAS selesai, aku langsung keluar kelas.
Aku ingin segera menuju parkiran. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba panggilan alam datang.
Aku pun berbelok menuju toilet.
Setelah selesai, aku mencuci tangan di wastafel. Saat hendak keluar, aku mendengar suara beberapa anak laki-laki sedang mengobrol dari luar.
Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan.
Sampai samar-samar aku mendengar namaku disebut.
Aku langsung berhenti.
Tanpa sadar, aku mendekati pintu toilet dan membukanya sedikit.
“Iya, bener. Kok Liam betah banget sih sama si Elle? Padahal perjanjiannya sampai Elle luluh sama dia, terus mereka putus.”
Aku terdiam.
Perjanjian?
Perjanjian apa?
Dan kenapa harus putus?
“Kayaknya Liam beneran suka sama Elle, deh. Dia nerima tawaran taruhan kita cuma kedok aja.”
Aku membeku.
Taruhan?
Apa maksudnya?
“Masa sih? Kan awalnya Liam cuma penasaran. Dari banyaknya cewek yang suka sama Liam, cuma Elle yang nggak pernah ngelirik dia. Makanya dia mau taruhan sama kita. Mau buktiin kalau cewek kayak Elle bisa ditaklukkan.”
Aku mengepalkan tangan.
Jantungku berdegup kencang.
Tidak.
Aku pasti salah dengar.
Liam tidak mungkin melakukan itu.
Liam yang setiap pagi menyapaku.
Liam yang menggenggam tanganku.
Liam yang mengatakan ingin bersamaku di masa depan.
Semua itu...
Hanya taruhan?
Aku menahan napas, berusaha menenangkan diri.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar menjauh. Mereka akhirnya pergi.
Aku menunggu beberapa saat untuk memastikan tidak ada siapa pun di sekitar toilet sebelum akhirnya keluar.
Rasanya seluruh semangatku untuk pergi menonton bersama Liam sudah hilang.
Aku berjalan menuju parkiran dengan langkah berat.
Begitu sampai, aku langsung melihat Liam sudah berdiri di dekat motornya.
Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah cerah.
“Elle...”
Aku tidak menjawab.
Aku terus berjalan menuju motorku.
“Kita langsung ke bioskop?” tanya Liam ketika aku sudah duduk di atas motor.
“Nggak jadi.”
Liam terlihat bingung.
“Nggak jadi?”
“Aku nggak mau pergi sama cowok yang jadiin cewek sebagai bahan taruhan.”
Senyum di wajah Liam langsung menghilang.
“Apa maksud kamu?”
Aku menatapnya dengan mata yang mulai panas.
“Aku udah tahu semuanya. Kamu pacaran sama aku cuma buat taruhan, kan?”
“Ka... kamu tahu dari mana?”
Suaranya terdengar terbata.
“Dari teman-teman kamu. Tadi aku denger mereka ngomong di toilet.”
Aku menahan air mata yang mulai menggenang.
“Kamu jahat!”
Liam terdiam.
“Aku nggak nyangka kamu setega itu sama aku.”
Liam segera mendekat dan memegang tanganku.
“Elle, aku bisa jelasin.”
Aku langsung melepaskan tangannya dengan kasar.
“Aku nggak mau denger penjelasan kamu.”
“Elle...”
“Mulai sekarang, kita putus.”
Liam membeku.
Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya.
Tanpa menunggu apa pun lagi, aku segera memakai helm dan menyalakan motor.
Namun, saat aku hendak pergi, Liam tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.
“Tunggu, Elle. Dengerin aku dulu.”
“Lepasin.”
“Nggak.”
Aku menatapnya tajam.
“Lepasin atau aku teriak.”
Liam terdiam.
Beberapa detik kemudian, dia akhirnya melepaskan tanganku.
Aku langsung menarik gas dan meninggalkan parkiran.
Sepanjang perjalanan pulang, air mataku terus mengalir.
Aku tidak menyangka kebersamaanku dengan Liam selama ini ternyata berawal dari sebuah taruhan.
Liam yang selama ini kupikir baik ternyata tega melakukan itu kepadaku.
Aku bahkan sudah membiarkan diriku percaya bahwa dia benar-benar menyukaiku.
Seharusnya aku mengikuti perkataan Ayah.
Seharusnya aku tidak berpacaran dan tetap fokus belajar.
Mungkin kalau sejak awal aku mendengarkan Ayah, aku tidak akan merasakan sakit seperti ini.
Mulai detik ini, aku tidak akan berpacaran dengan siapa pun lagi.
Dan aku tidak akan pernah mengenal Liam lagi.