Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinginnya Selimut
Kehidupan pernikahan yang bahagia adalah impian setiap pasangan. Saling mencintai, saling menghargai, saling memadu kasih sudah menjadi bare minimum bahtera rumah tangga yang baru saja berlayar. Kecupan manis setelah bangun tidur dan hangatnya selimut, bukankah itu suatu yang biasa?
Namun demam pengantin baru ini tidak pernah dirasakan oleh Rana Dania, perempuan berumur 28 tahun yang memutuskan menikah dengan Jax Damian yang selisih umurnya 6 tahun lebih muda darinya.
"Jax, bangun! sarapan sudah siap," teriak Dania.
Dari pagi buta, Dania sudah terjaga untuk memasak sarapan yang lengkap untuk Jax. Dia sengaja menggelung tinggi rambut coklatnya agar tak mengganggu pergerakannya menyiapkan bahan makanan. Celemek warna biru tampak elegan mengalung di pinggangnya.
Tangannya cukup terampil menggunakan pisau. Bawang merah, bawang putih, dan cabai seperti melompat indah diatas telenan karena kecepatan tangannya. Telor ceplok pagi ini juga terlihat sempurna dengan kuning telur bulat di tengah.
Nasi goreng dengan telor ceplok diatasnya akhirnya siap disajikan, namun orang yang seharusnya menikmati makanan lezat dan begizi itu malah belum keluar dari kamarnya.
"Jax? Bangun!" Teriaknya lagi, kali ini Dania langsung membuka pintu kamar Jax.
"Iya," jawab singkat Jax yang sudah berjalan menuju kamar mandi sambil mengucek matanya.
Kemudian Dania kembali ke meja makan, menunggu suaminya untuk segera menyantap sarapannya. "Oh ya, hampir lupa." Dania berlari menuju dapur kembali untuk membuat teh hangat favorit Jax.
"Semua sudah siap!" Dania menepuk kedua tangannya dengan senyum tipis di bibirnya.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Jax keluar dari kamar dengan penampilan biasa seorang mahasiswa. Atasan kaos berlapis jaket dan bawahan jins bersepatu kets. Namun yang mencolok darinya adalah fitur tegas wajah tampannya. Hidung mancung, alis tebal, dan rahang yang tajam sangat kontras dengan baju biasanya. Bahkan rambut hitam tebal menambah kadar kegantengannya semakin maksimal.
"Jax, duduklah! Aku membuat nasi goreng untukmu."
Jax menurutinya tanpa berbicara, hanya duduk dan makan.
Sudah menjadi kebiasaan dari dua bulan yang lalu, keduanya selalu sarapan bersama namun tidak ada interaksi lain. Mereka saling berhadapan namun tak saling bertegur sapa, hanya suara dentingan sendok menyentuh piring yang terdengar menggema.
Dania berulang kali melirik kearah suaminya untuk sedekar memeriksa apakah masakannya sesuai dengan selera Jax atau tidak. Dia juga meneliti suaminya dari atas kepala hingga ujung kaki untuk mengecek apakah ada sesuatu yang terlupa darinya.
Akan tetapi semua itu tak terlihat di mata Jax. Baginya, Dania hanya melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan dia juga melakukan apa yang diwajibkan tanpa banyak komplain.
Keheningan panjang berhembus hingga menembus dinding-dinding rumah. Detak suara jam terdengar seperti tabuhan gong yang memekakkan telinga. Dan ....akhirnya suara Jax memecahnya.
"Aku akan pulang malam," ucap Jax.
"Kenapa?"
"Aku mau pergi sama teman," singkatnya.
"Oh," Dania hanya menganguk dan terus menyuap makanannya perlahan.
"Oke," Jax berdiri membawa piring kotornya dan mencucinya di wastafel. Semua dia lakukan tanpa berbicara, tanpa gerakan yang berlebih.
Lalu ia berangkat ke kampusnya, meninggalkan Dania yang masih duduk di ruang makan bertemankan teh hangat yang tak tersentuh hingga perlahan membuatnya dingin.
Apa salahnya?
Dania sudah berusaha semampunya untuk membuat Jax nyaman. Dia tidak pernah mengekang kehidupan ala anak mudanya meskipun dia sering ditinggal sendirian. Dia juga tidak pernah menuntut Jax menjadi sangat romantis seperti laki-laki normal lainnya.
Apa yang salah?
Dengan helaan nafas panjangnya, Dania berjalan menuju kamar Jax yang berantakan. Kamar penuh poster dan baju yang tergantung sembarangan itu sangat berbeda dengan kamarnya. Iya, mereka tidur terpisah dan itu sudah mereka lakukan mulai dari awal menikah.
Kemampuan bertahan hidup yang dimilikinya sejak lama sendirian membuatnya sangat kompeten untuk mengurus rumah tangga. Tanpa adanya pembantu, Dania bisa mengurus segalanya. Mulai dari belanja, masak, bahkan bersih-bersih.
Dan satu lagi, bekerja.
Mungkin saat ini dia sedang menganggur karena merasa agak lelah dengan pekerjaannya, namun sepertinya sebentar lagi dia akan kembali ke zona amannya meskipun harus bekerja lembur bagai kuda.
"Haaah... Benar, aku sudah terlalu lama menganggur," desahnya setelah selesai merapikan kamar Jax.
"Lebih baik aku bekerja lembur daripada sendirian di rumah besar ini." Dia merebahkan tubuhnya sebentar untuk merasakan kehangatan yang tertinggal dari tubuh suaminya.
Dia bukan tidak mencintai suaminya, namun pernikahan yang mendadak ini belum sepenuhnya bisa ia proses. Dia tidak masalah menikah dengan Jax, sama sekali tidak masalah. Namun menikahinya juga bukan sesuatu yang mendebarkan.
"Dia masih anak kecil," gumamnya. "Bukan salah dia kalau semua berakhir seperti ini. Orang dewasa lah yang salah."
Dan orang dewasa itu adalah Dania.
.
.
.
.
Hari semakin malam dan Jax belum juga pulang. Dania yang sudah memasak makanan berkuah telah berulang kali memanaskannya, tapi Jax masih tak terlihat batang hidungnya. "Apakah dia menginap di rumah temannya?" Gumam Dania.
"Tapi mengapa tidak mengabari?"
Semakin lama, rasa khawatir menguasai dirinya. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan karena ia tidak mengenal satu-pun teman Jax. Yang ia punya hanya kontak saudara-saudaranya yang pasti tidak akan di kunjungi oleh Jax.
"Apa yang harus aku lakukan? Ini sudah tengah malam."
Dania hanya bisa mondar mandir di ruang tamu dengan sesekali melihat kearah teras untuk memastikan Jax sudah pulang atau belum.
"Jax, kamu dimana?"
Berulang kali Dania mencoba mengubungi nomer HP Jax namun tidak ada yang menjawab. Hanya ada suara operator yang mengatakan kalau nomer yang ia hubungi tidak menjawab.
Tuuuut tuuut....
Pip
Akhirnya Jax mengangkat panggilannya.
Tapi bukan suara Jax yang terdengar tapi suara orang lain.
"Maaf, pemilik HP saat ini sedang mabuk berat. Apakah bisa dijemput sekarang?" Ucap suara itu.
"Apa? I, iya..."
Berbekal alamat yang diberikan oleh orang asing itu, Dania langsung membawa mobilnya keluar rumah.
Sesampainya di Bar, dania menoleh ke kanan dan kirinya untuk mencari Jax. Hingar-bingar lampu warna terang sempat membingungkan Dania, tapi karena lambaian tangan bartender ia bisa menemukan suaminya.
Jax benar-benar tak sadarkan diri. Ia pasti minum dua gentong miras sampai pingsan seperti ini.
"Berat banget tubuhmu!!!" Protes Dania.
Meskipun dibantu oleh bartender, Dania masih kuwalahan memapah Jax yang lembek seperti ubur-ubur. Ia bahkan sempat hampir terjatuh karena tidak kuat menahan badan Jax yang tingginya 180 cm.
"Hah! Akhirnya," desah Dania begitu berhasil memindahkan badan Jax ke kursi belakang mobilnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Jax? Mengapa kamu memilih untuk mabuk-mabukan seperti ini?" Ucap Dania dalam perjalanan pulang.
"Aaaarghh...." Jax mengerang dalam tidurnya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Dania masih fokus dengan jalan.
"Emmmmm ngggghhhh..." Jax meneruskan igauannya.
"Haah.... Tidurlah, nanti aku bangunkan ketika sampai di rumah."
"Dania..."
Suara parau dan berat itu tidak pernah sekalipun memanggilnya.
"Hm?" Ada sesuatu yang tertahan di pangkal tenggorokannya. Bahkan Dania sendiri tidak tahu alasan tubuhnya bereaksi seperti itu hanya karena mendengar namanya disebut.
"Bagaimana kalau kita berpisah saja?" Ucap Jax dengan mata terpejam tanpa melihat perasaan Dania.
udah teruji gitu. jgn mudah kena rayuannya yak,