NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Ujian Terakhir Pesantren

Ujian akhir pondok Darul Hikmah itu tegangnya beda. Bukan hanya ujian tulis, tapi ada ujian lisan kitab kuning, hafalan, dan praktek mengajar.

Seminggu itu, semua santri mukanya pucat, membawa kitab kemana-mana.

Muthi'ah, Dina, Zahra, Salsa, Nadira, semua kelas akhir, sudah di ujung tanduk. Ini ujian terakhir sebelum wisuda.

Muthi'ah yang habis melewati badai fitnah, habis berani berbicara di depan Ayahnya, habis damai dengan Nadira, sekarang fokusnya hanya satu: ujian ini. Dia ingin membuktikan, dia bukan hanya "calon istri putra kiai" yang digosipkan, dia santriwati berprestasi.

Di ruang ujian putri, pengujinya ada tiga: Ustazah Khadijah, Nyai Maryam, dan satu penguji tamu dari pesantren cabang.

Penguji tamunya... Jay.

Pas Muthi'ah masuk ruang ujian, melihat Jay duduk di kursi penguji, memakai jubah hitam, membawa daftar nilai, dia kaget. Jadwalnya acak, panitia baru sadar setelah Muthi'ah masuk, tapi Jay memberi kode akan tetap profesional. Dia mengangguk kecil ke Muthi'ah, anggukan hormat.

"Muthi'ah Azzahra, silakan duduk," kata Ustazah Khadijah.

Ustazah Khadijah mulai, "Muthi'ah, coba baca Kitab Fathul Qorib bab sholat, terus jelaskan dengan bahasa kamu sendiri."

Muthi'ah menarik napas, lalu membaca. Suaranya awalnya gemetar, tapi lama-lama lancar. Dia menjelaskan dengan bahasa yang mudah, tidak hanya menghafal, tapi paham.

Nyai Maryam tersenyum bangga.

Giliran Jay bertanya.

"Muthi'ah, coba jelaskan, apa bedanya ta'aruf dengan pacaran menurut adab pesantren? Dan bagaimana cara kamu menjaga diri kalau sedang diuji dengan perjodohan dan fitnah?" tanya Jay, suaranya tegas, seperti penguji betulan.

Pertanyaannya menusuk, personal sekali, tapi relevan.

Muthi'ah diam sebentar, lalu menjawab dengan jujur, bukan jawaban hafalan.

"Ta'aruf itu mengenal dengan adab, ada pendamping, ada tujuan yang jelas, yaitu menikah kalau cocok. Pacaran itu mengenal tanpa adab, tanpa pendamping, tujuannya tidak jelas, hanya untuk senang-senang. Kalau diuji dengan perjodohan dan fitnah, cara menjaga diri itu... dengan berani menyuarakan pendapat dengan adab, dengan minta tolong kepada guru, kepada sahabat, kepada keluarga, dan dengan tetap fokus kepada mimpi sendiri. Jangan sampai fitnah membuat kita lupa siapa diri kita," jawab Muthi'ah, matanya berkaca-kaca, tapi suaranya jelas.

Jay yang mendengar, diam. Di dalam hati, dia kagum sekali. Dia melihat Muthi'ah bukan sebagai "Muthi'ah yang mau dijodohkan dengan saya", tapi sebagai "Muthi'ah Azzahra, santriwati peringkat satu yang berhak punya masa depan sendiri".

Ujian lisan selesai. Muthi'ah keluar ruang ujian dengan lega.

Di dalam ruang ujian, setelah Muthi'ah keluar, Nyai Maryam berbisik ke Jay, "Bagaimana, Jay? Muthi'ah pintar ya?"

Jay mengangguk, masih dengan muka penguji profesional, tapi matanya berbinar, "Pintar sekali, Umi. Jawabannya bukan hafalan, dia paham."

Ustazah Khadijah yang mendengar tersenyum, "Ya sudah, beri nilai yang objektif ya, Jay. Jangan karena calon, nilainya dibagus-baguskan."

Tiga hari kemudian, pengumuman peringkat.

Di aula pesantren, semua santri kelas akhir dikumpulkan. Kiai Hasyim yang mengumumkan.

"Untuk peringkat satu santriwati, diraih oleh... Muthi'ah Azzahra!"

Satu aula tepuk tangan. Dina berteriak paling kencang, "WOOO MUTHI'AH!!!"

Salsa menangis, Zahra tersenyum bangga, Nadira juga tepuk tangan, agak telat, tapi tulus.

Muthi'ah maju ke depan, menerima piagam, mukanya merah, malu, tapi bangga. Dia melihat ke arah Ayah Ibunya yang datang, Ayahnya menangis, Ibunya menangis.

Terus dia melihat ke arah bangku penguji, Jay duduk di sana, tepuk tangan juga, dengan senyum tipis, senyum hormat.

Di detik itu, Jay berpikir, "Perempuan ini bukan hanya berhak jadi istri putra kiai, dia berhak jadi ustazah, jadi guru, jadi apapun yang dia mau. Dan aku ingin jadi orang yang mendukung dia jadi apapun itu."

Malamnya, di asrama, Dina, Zahra, Salsa membuat selamatan kecil.

"Muth, lu peringkat satu! Gila! Habis dibully, habis trauma, masih bisa peringkat satu! Keren banget!" kata Salsa.

Zahra bertanya, "Muth, pas ujian ditanya Jay, deg-degan tidak?"

Muthi'ah tertawa, "Deg-degan sekali. Tapi pas menjawab, malah jadi plong. Seperti... aku membicarakan diri aku sendiri."

Dan Muthi'ah, yang tadi masuk ruang ujian dengan tangan dingin, keluar dengan piagam peringkat satu.

Karena ujian terakhir pesantren itu bukan hanya ujian kitab kuning. Itu ujian untuk Jay juga. Ujian untuk melihat Muthi'ah bukan sebagai beban perjodohan, tapi sebagai perempuan cerdas yang berhak punya masa depan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!