NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAKUAN DIMAS

Dimas tidak mau masuk rumah dulu.

Ia minta kursi rodanya berhenti di bawah pohon mangga di halaman. Pohon yang daunnya rontok menutup got, yang akarnya membuat ubin teras retak.

"Dingin di dalam," katanya pelan ke perawat. "Di sini aja."

Perawat mengangguk, pergi ke warung depan beli air.

Yang tinggal di halaman hanya Dimas, Tania yang masih bersimpuh di samping kursi roda, Laras yang berdiri di teras memegang rantang, dan Sumi serta Bu Tuti yang duduk di kursi plastik agak jauh, memberi jarak.

Kenzo sudah dibawa Vania ke dalam, tidur lagi.

Lama tidak ada yang bicara. Hanya suara motor lewat di gang.

Akhirnya Tania yang bicara, suaranya hampir hilang.

"Kamu ingat saya?"

Dimas menggeleng. Jujur.

"Tidak."

"Ya. Kamu umur tiga tahun waktu saya titip." Tania mengusap lutut Dimas yang ditutup selimut tipis rumah sakit. "Kamu demam waktu itu. Saya nggak punya uang beli obat. Panti bilang mereka punya dokter."

Dimas menatap wajah Tania. Mencoba mencari miripnya. Tidak ada. Atau ada, di bentuk alis.

"Kenapa Ibu nggak ambil lagi?" tanyanya, tidak marah. Hanya lelah.

"Saya mau ambil. Tahun 2008, saya sudah punya butik kain di Tanah Abang. Saya datang ke panti. Mereka bilang kamu sudah diadopsi. Sama keluarga kaya. Namanya Rudi."

Dimas mengangguk. "Rudi Hartono. Bapak angkat saya."

"Dia bukan bapak angkat. Dia beli kamu, Mas." Tania menatapnya. "Panti itu nakal. Mereka jual anak."

Dimas menutup mata. Napasnya berat.

Laras turun dari teras, membawa dua gelas teh hangat. Satu untuk Tania, satu untuk Dimas.

Dimas mengambil gelas itu, tangannya gemetar. "Ras..."

"Iya?"

"Aku sudah tahu dari setahun lalu."

Laras berhenti.

"Aku tahu aku bukan anak kandung Rudi," lanjut Dimas, menatap tehnya yang beruap. "Waktu aku urus sertifikat rumah, notaris bilang nama ibu kandung di akta kelahiran beda. Namanya Tania Suryani. Aku cari."

"Terus kenapa nggak bilang?"

"Karena aku takut." Dimas menatap Laras. "Aku takut kalau aku bilang aku anak angkat, kamu pikir aku nggak punya apa-apa. Aku takut kamu pergi bawa Kenzo. Sama seperti aku takut waktu Rudi suruh aku tanda tangan pemindahan saham atas nama Kajati. Dia bilang kalau aku nggak tanda tangan, dia akan kasih tahu kamu kalau pernikahan kita diatur Sumi dan Bu Tuti."

Laras terduduk di ubin teras, tepat di depan kursi roda Dimas.

"Mas, pernikahan kita memang diatur Ibu dan Bu Tuti. Aku sudah tahu dari Bab 14."

Dimas kaget. "Kamu tahu?"

"Ibu cerita. Tapi yang diatur cuma pertemuannya. Yang bikin aku stay bukan Ibu. Yang bikin aku stay itu waktu Kenzo kejang umur dua tahun, kamu gendong dia lari ke IGD tanpa pakai sandal. Itu bukan diatur, Mas."

Dimas menangis. Kali ini tidak ditahan. Air matanya jatuh ke tehnya.

"Ras, aku jual motor bukan karena mau cari muka. Aku jual motor karena tabungan Kenzo yang aku pakai buat bayar utang Rudi, aku nggak bisa tidur. Tiap malam aku mimpi Kenzo nanya, 'Pah, celengan ayamku mana?'"

Laras mengambil tangan Dimas yang dingin.

"Aku tahu, Mas. Ibu Sumi cerita kamu datang bawa martabak bilang motor dicuri. Padahal dijual."

Tania yang sejak tadi diam menatap anaknya, tiba-tiba menyela.

"Dimas, kamu tebus rumah ini pakai uang apa?"

"Tabungan Kenzo aku kembalikan dulu, Bu. Plus jual motor. Sisanya aku pinjam ke Reza."

"Reza? Reza Wijaya?"

"Iya. Dia yang bantu."

Tania menutup mulutnya. "Ya Allah... anak Pak Hendra..."

Sumi yang duduk agak jauh akhirnya berdiri, berjalan mendekat.

"Tania, kamu masih ingat Jono?"

Tania mengangguk. "Suami kamu. Sopir Pak Hendra."

"Jono mati di mobil yang sama dengan Pak Hendra dan Bu Sari. Di tikungan Puncak. Kamu ada di mobil belakang malam itu, kan?"

Tania menatap Sumi, lalu menunduk.

"Iya. Saya ada di mobil belakang. Mobil saya yang kasih foto polaroid itu ke Tuti."

"Kenapa kamu nggak teriak waktu lihat Kajati lepas setir?"

"Karena di mobil saya, ada Rudi. Rudi yang pegang pistol." Tania mulai gemetar. "Dia bilang, 'Tania, diam, atau anakmu Dani saya bunuh juga di panti'."

Sore itu, di bawah pohon mangga, empat orang yang hidupnya hancur karena satu proyek pelabuhan akhirnya duduk di satu ubin yang sama.

Tidak ada yang memaafkan. Belum.

Tapi tidak ada lagi yang berbohong.

Hendarto datang lagi, membawa map.

"Bu Tania, maaf. Saya harus bawa Ibu ke Kejagung jadi saksi. Bapak Kajati sudah sebut nama Ibu sebagai pemilik proyek."

Tania berdiri pelan, menyeka air mata.

"Boleh saya peluk anak saya dulu sekali lagi?"

Dimas mengangguk.

Tania memeluk Dimas yang di kursi roda. Lama.

"Besok Ibu kembali," bisiknya. "Kalau masih sempat."

Dimas menggenggam tangan Tania erat.

"Bu, besok saya tunggu di sini. Di bawah pohon mangga."

Tania pergi dengan Hendarto. Mobil putih itu hilang di ujung gang.

Laras mendorong kursi roda Dimas masuk ke rumah yang lunas.

Di meja, rantang kue talam masih setengah. Kenzo bangun, langsung ambil satu, makan dengan tangan belepotan.

"Mama, kue nenek enak," katanya.

Laras menatap Dimas.

"Mas, kue talam buatan ibu kandungmu enak."

Dimas tersenyum, pertama kali setelah sebelas bab menangis.

"Rasanya... kayak pulang."

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!