NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANAK BARU KELUARGA VALERIUS

Hujan turun deras sejak sore.

Langit Kota Arvantis tertutup awan hitam, sementara kilatan petir sesekali menerangi gedung-gedung tinggi yang berdiri di sepanjang jalan. Suara hujan bercampur dengan suara kendaraan yang melintas, menciptakan suasana malam yang dingin dan muram.

Di salah satu jalan utama kota, sebuah mobil hitam melaju dengan tenang.

Mobil itu memiliki kaca gelap dan lambang kepala serigala berwarna perak di bagian depan.

Lambang keluarga Valerius.

Sebuah nama yang sangat dikenal oleh masyarakat sebagai keluarga pemilik perusahaan besar.

Namun bagi orang-orang yang hidup di dunia bawah tanah, nama Valerius memiliki arti yang jauh lebih mengerikan.

Kekuasaan.

Uang.

Jaringan kriminal.

Dan keluarga mafia yang sudah menguasai sebagian besar wilayah Kota Arvantis selama puluhan tahun.

Di kursi belakang mobil tersebut duduk seorang pemuda.

Namanya Aren.

Tujuh belas tahun.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sedang menuju sebuah tempat yang katanya akan menjadi rumahnya.

Aren menatap hujan yang mengalir di kaca jendela.

Wajahnya terlihat tenang, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Sejak pagi tadi, semuanya terjadi terlalu cepat.

Seorang pria berpakaian hitam datang ke sekolahnya.

Pria itu mengatakan bahwa ada keluarga yang ingin mengadopsinya.

Aren awalnya menolak.

Ia tidak mengenal keluarga tersebut.

Namun pria itu menunjukkan dokumen resmi dan menjelaskan bahwa proses adopsinya sudah diselesaikan.

Yang membuat Aren semakin bingung adalah satu nama yang tercantum pada dokumen tersebut.

Valerius.

Aren pernah mendengar nama itu.

Semua orang di Kota Arvantis pernah mendengarnya.

Tetapi ia tidak pernah menyangka keluarga sebesar itu ingin mengadopsi seorang anak dari panti asuhan.

Aren menunduk dan memperhatikan gelang hitam di pergelangan tangannya.

Gelang itu sudah bersamanya sejak bayi.

Tidak ada yang tahu siapa yang memasangkannya.

Ketika Aren ditemukan di depan sebuah rumah sakit tujuh belas tahun lalu, gelang itu sudah berada di tangannya.

Tidak ada surat.

Tidak ada nama orang tua.

Tidak ada petunjuk.

Hanya sebuah gelang hitam dengan lambang kecil berbentuk serigala.

Aren selama ini menganggap lambang itu hanyalah hiasan.

Namun sekarang ia mulai bertanya-tanya.

Apakah benar hanya kebetulan?

"Apa kita masih jauh?"

Aren akhirnya bertanya.

Sopir yang duduk di depan melihat melalui kaca spion.

"Tidak lama lagi, Tuan Aren."

Aren sedikit mengernyit.

"Tuan?"

"Maaf."

Sopir tersebut tersenyum kecil.

"Mulai sekarang Anda adalah bagian dari keluarga Valerius."

Aren tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki jalan yang semakin sepi.

Tidak ada rumah di sekitar mereka.

Hanya pepohonan tinggi dan pagar batu yang membentang sangat panjang.

Kemudian sebuah gerbang hitam muncul di hadapan mereka.

Gerbang itu sangat besar.

Di tengahnya terdapat lambang kepala serigala berwarna perak.

Begitu mobil mendekat, dua penjaga berseragam hitam langsung membuka gerbang.

Aren terdiam.

Di balik gerbang terbentang sebuah jalan panjang.

Lampu-lampu taman menyala di sepanjang jalan.

Di ujung jalan terlihat sebuah mansion yang sangat besar.

Bangunannya memiliki tiga lantai dengan arsitektur mewah bergaya klasik modern.

Aren sampai tidak sadar membuka mulutnya.

"Ini..."

"Rumah keluarga Valerius," jawab sopir.

Mobil berhenti di depan tangga utama.

Pintu dibuka.

Aren turun.

Udara malam terasa dingin.

Ia berdiri beberapa detik sambil memandangi mansion tersebut.

Kemudian pintu utama terbuka.

Seorang pria tua keluar.

Rambutnya sudah dipenuhi warna putih, tetapi tubuhnya tetap tegap.

Ia mengenakan setelan hitam dengan mantel panjang.

Tatapannya tenang.

Namun aura yang terpancar dari dirinya membuat para penjaga di sekitar mansion langsung menundukkan kepala.

Adrian Valerius.

Kepala keluarga Valerius.

Ayah dari lima putra.

Adrian berjalan menuruni tangga.

Ketika berdiri di depan Aren, ia tidak langsung berbicara.

Ia hanya memandang wajah pemuda itu cukup lama.

Aren merasa sedikit gugup.

"Selamat datang."

Suara Adrian berat tetapi tidak kasar.

Aren mengangguk.

"Terima kasih."

"Mulai malam ini, kau tinggal di sini."

Aren menggenggam ujung bajunya.

"Kenapa saya?"

Adrian diam.

Pertanyaan itu sudah diperkirakan.

Namun ia belum bisa memberikan jawaban sebenarnya.

"Karena aku ingin memberimu keluarga."

Aren menatapnya.

"Aku sudah tidak punya keluarga sejak kecil."

Adrian menghela napas.

"Justru karena itu."

Kemudian Adrian mengulurkan tangan.

Aren ragu sejenak sebelum menerimanya.

"Mulai hari ini, kau adalah Aren Valerius."

Untuk pertama kalinya, Aren mendengar seseorang menyebut namanya dengan marga.

Aren Valerius.

Nama yang belum pernah ia miliki sebelumnya.

Adrian membawa Aren masuk ke mansion.

Begitu pintu terbuka, Aren langsung melihat lima pria berdiri di ruang utama.

Mereka semua memiliki aura yang berbeda.

Pria pertama berdiri paling depan.

Tinggi.

Berpakaian serba hitam.

Tatapannya dingin dan tajam.

Raka Valerius.

Anak pertama keluarga Valerius.

Penerus utama bisnis gelap keluarga.

Raka menatap Aren beberapa saat.

Kemudian berkata singkat.

"Raka."

Aren mengangguk.

"Aren."

Raka mengulurkan tangan.

"Kakak pertama."

Aren menatap tangan tersebut sebelum menjabatnya.

"Kak Raka."

Ekspresi Raka yang sejak tadi dingin berubah sedikit.

Ia mengusap kepala Aren.

"Selamat datang."

Kemudian pria kedua maju.

Ia mengenakan setelan abu-abu gelap.

Rambutnya tertata rapi dan sebuah jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.

Darren Valerius.

CEO termuda keluarga Valerius.

"Aku Darren."

Darren tersenyum.

"Mulai sekarang panggil aku Kak Darren."

Aren mengangguk.

"Baik, Kak."

Darren tersenyum lebih lebar.

"Bagus."

Pria ketiga datang berikutnya.

Ia mengenakan kemeja putih dengan jas dokter yang masih melekat di tubuhnya.

Stetoskop tergantung di lehernya.

Leon Valerius.

Dokter keluarga sekaligus dokter yang namanya cukup terkenal di Kota Arvantis.

Leon memandang Aren dari kepala sampai kaki.

"Kau makan teratur?"

Aren terdiam.

"Kurang lebih."

"Kurang lebih itu berapa kali?"

Aren berpikir.

"Dua kali."

Leon langsung menghela napas.

"Mulai besok tiga kali."

Darren tertawa.

"Dia baru sampai."

"Aku hanya memastikan kesehatannya."

Aren hampir tersenyum.

Kemudian pria keempat berjalan mendekat.

Ia mengenakan hoodie hitam dan celana panjang gelap.

Di tangannya terdapat laptop.

Kian Valerius.

Peretas terbaik keluarga.

Bahkan banyak orang di dunia bawah tanah tidak mengetahui wajah aslinya.

Kian menatap Aren.

"Jadi ini adik kecil kita."

Aren mengangguk.

"Hai, Kak Kian."

Kian tersenyum tipis.

"Kalau ada orang mengganggumu di internet, kasih tahu aku."

Aren bingung.

"Kenapa?"

"Aku bisa mencari orang itu."

Leon langsung menatap Kian.

"Jangan membuatnya takut."

"Aku sedang menawarkan bantuan."

Sebelum percakapan berlanjut, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu samping.

Seorang pria masuk.

Jaket hitam.

Rambut sedikit berantakan.

Tatapan tajam.

Ada beberapa luka kecil di buku-buku jarinya.

Riven Valerius.

Ketua geng terbesar di Kota Arvantis.

Riven melihat Aren.

Kemudian melihat saudara-saudaranya.

"Adik baru?"

Raka mengangguk.

Riven berjalan mendekat.

Ia berdiri di depan Aren.

"Riven."

Aren menjawab pelan.

"Aren."

Riven mengulurkan tangan.

Namun sebelum Aren menjabatnya, Riven tiba-tiba mengacak rambutnya.

Aren terkejut.

"Eh?"

Riven tertawa.

"Mulai sekarang kau adik bungsuku."

Aren tidak tahu harus menjawab apa.

Adik bungsu.

Ia tidak pernah memiliki seorang kakak.

Sekarang ia memiliki lima.

Lima kakak laki-laki yang sama sekali berbeda.

Raka yang dingin.

Darren yang santai.

Leon yang cerewet tentang kesehatan.

Kian yang misterius.

Dan Riven yang terlihat paling berbahaya.

Namun anehnya, untuk pertama kalinya Aren merasa tidak sendirian.

Adrian memperhatikan mereka.

"Besok Aren mulai sekolah."

Lima kakak tersebut langsung menoleh.

Raka bertanya.

"Di Akademi Valerius?"

Adrian mengangguk.

"Ya."

Riven tersenyum.

"Menarik."

Darren langsung memperingatkan.

"Jangan membuat masalah."

"Aku tidak bilang akan membuat masalah."

"Kau selalu membuat masalah."

Kian tertawa kecil.

Leon menghela napas.

Aren memandangi mereka.

"Memangnya Akademi Valerius seperti apa?"

Kelima kakaknya saling memandang.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Akhirnya Raka berkata,

"Berbeda dari sekolahmu sebelumnya."

"Seberapa berbeda?"

Riven menyeringai.

"Kalau ada yang menantangmu berkelahi, jangan langsung melawan."

Aren mengangguk.

"Baik."

Riven menambahkan,

"Tapi kalau mereka mulai duluan..."

"Riven."

Raka memotong.

Riven tertawa.

"Aku cuma bercanda."

Namun Aren belum tahu bahwa perkataan itu bukan sepenuhnya candaan.

Akademi Valerius merupakan sekolah elit yang dipenuhi anak-anak dari keluarga kaya dan berpengaruh.

Di balik seragam mahal dan gedung megahnya, terdapat persaingan antar kelompok yang sangat kuat.

Geng sekolah.

Kelompok siswa.

Tawuran.

Perebutan wilayah.

Bahkan beberapa siswa memiliki hubungan dengan keluarga kriminal.

Dan besok, seorang anak baru bernama Aren Valerius akan masuk ke tempat itu.

Malam semakin larut.

Aren akhirnya dibawa ke kamar barunya.

Kamar tersebut jauh lebih besar daripada kamar panti asuhan yang selama ini ia tempati.

Ada tempat tidur besar.

Lemari pakaian.

Meja belajar.

Sofa.

Balkon.

Bahkan terdapat ruang kecil khusus untuk membaca.

Aren berdiri di tengah kamar.

Ia tidak tahu harus merasa bahagia atau takut.

Kemudian pintu diketuk.

Tok.

Tok.

Aren membuka pintu.

Raka berdiri di sana.

"Sudah makan?"

"Sudah."

Raka mengangguk.

"Kalau butuh apa pun, panggil aku."

Aren tersenyum kecil.

"Terima kasih, Kak."

Raka hendak pergi.

Namun Aren tiba-tiba memanggil.

"Kak Raka."

Raka menoleh.

"Ya?"

"Apakah... saya benar-benar boleh tinggal di sini?"

Pertanyaan itu membuat Raka diam.

Ia kembali masuk ke kamar.

Kemudian berdiri di depan Aren.

"Kau bukan tamu."

Raka mengusap kepala Aren.

"Kau adikku."

Aren menunduk.

Entah mengapa matanya terasa panas.

Raka melihat ekspresi itu tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menepuk bahu Aren sebelum keluar.

Pintu tertutup.

Aren duduk di tempat tidur.

Ia memegang gelang hitam di tangannya.

Namun tiba-tiba gelang tersebut terasa panas.

Aren terkejut.

Ia melepaskannya.

Di permukaan bagian dalam gelang terdapat ukiran kecil yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.

Sebuah huruf.

"V."

Aren mengerutkan kening.

Pada saat yang sama, di ruangan lain, Kian sedang duduk di depan beberapa monitor.

Salah satu layar tiba-tiba menunjukkan sebuah file lama.

Kian berhenti mengetik.

Matanya menyipit.

"Ini..."

Ia memperbesar dokumen tersebut.

Sebuah data lama muncul.

Tanggal tujuh belas tahun lalu.

Nama: tidak diketahui.

Status: hilang.

Kian terus membaca.

Kemudian wajahnya berubah serius.

Ada satu foto kecil di dalam dokumen.

Foto seorang bayi.

Bayi tersebut mengenakan gelang hitam.

Kian berdiri dari kursinya.

"Mustahil."

Di bawah foto itu terdapat sebuah catatan.

"Jangan biarkan anak ini ditemukan keluarga Valerius."

Kian menatap layar dalam diam.

Kemudian ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Raka.

"Raka."

"Apa?"

"Aku menemukan sesuatu tentang Aren."

Raka langsung serius.

"Apa?"

Kian melihat kembali foto tersebut.

"Sepertinya Aren bukan sekadar anak yang kita adopsi."

Hening.

Raka menatap layar ponselnya.

"Apa maksudmu?"

Kian menarik napas.

"Data kelahirannya telah dihapus."

"Siapa yang menghapus?"

"Itulah masalahnya."

Kian menatap deretan kode di layar.

"Orang yang menghapus data ini memiliki akses ke sistem keluarga Valerius."

Raka terdiam.

Kian melanjutkan.

"Dan akses itu berasal dari tujuh belas tahun lalu."

Di kamar, Aren masih tidak mengetahui apa pun.

Ia hanya memandang gelang hitam di tangannya.

Besok pagi ia akan menjadi murid baru di Akademi Valerius.

Ia akan bertemu dengan orang-orang baru.

Ia akan mengenal dunia sekolah yang penuh persaingan.

Ia akan menghadapi tawuran pertamanya.

Dan ia akan semakin dekat dengan lima kakaknya.

Namun tanpa Aren ketahui, sejak malam pertamanya di mansion Valerius, seseorang dari masa lalu sudah mulai bergerak.

Seseorang yang mengetahui siapa Aren sebenarnya.

Seseorang yang tahu mengapa keluarga Valerius mengadopsinya.

Dan seseorang yang tidak akan membiarkan rahasia itu tetap tersembunyi.

Karena kedatangan Aren Valerius bukanlah kebetulan.

Ia adalah awal dari rahasia terbesar keluarga Valerius.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!