Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Gaun Robek di Atas Kelopak Mawar
Suara hak tinggiku beradu dengan lantai marmer putih Hotel Grand Mulia.
Tok. Tok. Tok.
Hampa.
Di dalam ruang tunggu VVIP yang megah itu, aku berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai ukiran emas. Lampu gantung kristal di atas kepalaku berkilauan, memantulkan cahaya ke seluruh dinding.
Cermin itu memantulkan seorang wanita dalam gaun pengantin putih sutra bermotif lace mewah. Ekor gaunnya menjuntai panjang menyapu lantai. Rambut hitam legamnya disanggul modern dengan mahkota mutiara kecil yang berkilau lembut. Sempurna.
Itulah yang dilihat semua orang.
Yang tidak dilihat cermin itu adalah mata sembabku yang sudah kubenamkan dengan concealer selama satu jam, tangan gemetarku yang bersembunyi di balik lipatan kain gaun, serta sesak luar biasa yang meremukkan rongga dadaku sejak satu jam yang lalu.
Pukul 09.00. Acara pemberkatan seharusnya sudah dimulai.
Rian belum datang menjemputku.
Lima tahun. Aku menunggu hari ini selama lima tahun. Sejak kami masih makan mi instan berdua di garasi kontrakan sempit, sejak perusahaan rintisan Rian belum punya satu klien pun. Aku yang mendesain proposalnya. Aku yang begadang membuat presentasinya. Aku yang menemani dari nol.
Dan hari ini, aku akan menjadi Nyonya Mahardika.
Tok, tok, tok.
Ketukan pelan pada pintu kayu mahoni itu membuat napasku tertahan. Jantungku melompat. Bodohnya, aku masih berharap itu Rian. Mungkin dia terlambat karena macet. Mungkin jas putihnya tertinggal.
"Masuk..." jawabku lirih. Suaraku parau, hampir tenggelam oleh alunan musik instrumental dari ballroom.
Pintu terbuka perlahan.
Bukan Rian.
Shinta. Sahabatku. Sekaligus desainer gaun yang kupakai hari ini.
Wajahnya pucat pasi. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar hebat seperti menahan isak tangis yang akan meledak kapan saja. Gaun kerjanya yang biasanya rapi, kini kusut.
"Shinta? Kenapa ekspresimu begitu?" Aku memaksakan senyum, meski firasat buruk di dalam perutku semakin pekat dan mual. "Rian mana?"
Shinta tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat dengan langkah berat, lalu meraih kedua tanganku yang terkepal dingin.
Tangannya dingin. Sed dingin tanganku.
"Les... kau harus kuat," ucap Shinta terbata-bata, suaranya pecah. Air matanya akhirnya tumpah. "Apa pun yang terjadi setelah ini, kau harus dengar ini langsung dari aku. Jangan dari orang lain di luar sana. Jangan dari mulut mereka."
Darahku berdesir dingin. Jantungku berdegup liar menghantam tulang dada.
"Apa maksudmu? Rian di mana? Pemberkatan seharusnya dimulai sepuluh menit yang lalu. Kenapa dia belum menjemputku ke sini?"
Shinta menunduk. Tidak sanggup menatap mataku.
"Di luar... di altar utama... Rian tidak akan datang ke sini untuk menikahimu, Les."
Kalimat itu meluncur seperti bilah pisau tajam yang menghujam langsung ke jantungku.
Dunia di ruang rias itu berhenti berputar. Musik orkestra dari luar yang tadinya merdu, mendadak mendengung panjang dan memekakkan telinga. Lampu kristal di atasku berputar-putar.
"Jangan bercanda, Ta..." Aku tertawa hambar. Air mataku mendadak tumpah tanpa bisa kucegah. Aku menggeleng pelan, menolak. "Ini hari pernikahan kami. Kami sudah merencanakan ini selama lima tahun. Lima tahun, Shinta! Dari saat Rian belum punya apa-apa. Dia tidak mungkin meninggalkanku. Tidak mungkin."
"Dia tidak hanya meninggalkanmu, Les..." Shinta terisak semakin keras, mencengkeram jemariku erat-erat seolah takut aku jatuh. "Di depan ratusan tamu undangan, di hadapan media massa, dan di hadapan keluarga besar... Rian berdiri di altar bersama Clarissa. Anak tunggal Presdir Grup Mahardika."
Clarissa Mahardika.
Nama itu menghantam kepalaku seperti palu godam raksasa.
Sekejap, semua kepingan yang janggal selama sebulan terakhir menyatu.
Alasan kenapa Rian mendadak sibuk luar biasa dan sering membatalkan janji temu denganku. Alasan kenapa perusahaan rintisan milik Rian yang hampir bangkrut itu tiba-tiba mendapatkan suntikan dana triliunan rupiah dari konsorsium misterius. Alasan kenapa pria yang bersumpah mencintaiku dalam suka dan duka itu, mendadak menghindar setiap kali aku membahas masa depan kami yang sederhana.
Bukan karena sibuk.
Karena dia sudah menemukan tangga yang lebih tinggi.
Rian tidak pernah mencintaiku. Pria itu hanya memanfaatkan kesetiaanku, tenagaku, ide-ideku, dan keringatku selama bertahun-tahun sebagai batu loncatan. Begitu gerbang kekayaan dan status sosial kelas atas terbuka lebar melalui anak seorang konglomerat, aku dibuang begitu saja seperti sampah usang yang tidak berguna.
"Keparat..." bisikku lemah. Air mataku mengalir deras, menghancurkan riasan yang sudah dikerjakan selama tiga jam.
Tanpa memedulikan Shinta yang berteriak memanggil namaku, aku memutar tubuh. Dengan langkah sempoyongan, aku menarik bagian bawah gaun pengantinku yang panjang dan berat itu, menerobos keluar dari ruang rias VVIP.
Aku harus melihatnya sendiri. Aku harus mendengar kebohongan itu langsung dari mulutnya.
Pintu ganda utama Grand Ballroom sedikit terbuka. Dari celah itu, aku melihatnya.
Ratusan tamu undangan yang terdiri atas para pengusaha, rekan kerja, dan kerabat, tengah berkerumun dalam keheningan yang mencekam. Di atas panggung utama yang dihiasi ribuan kelopak mawar merah segar, Rian berdiri gagah dalam balutan jas putih klimis yang seharusnya dia pakai untukku.
Di sampingnya, seorang wanita bergaun merah menyala dengan senyuman kemenangan tersungging di bibirnya. Clarissa Mahardika. Cantik, tinggi, kaya.
Dan di hadapan mikrofon utama, Nyonya Listia — ibu kandung Rian — berdiri di sudut panggung, menatap ke arah pintu masuk dengan senyuman sinis penuh penghinaan. Seolah kehadiranku selama ini hanyalah aib yang akhirnya berhasil disingkirkan.
"Hari ini..." suara Rian menggema melalui mikrofon, terdengar begitu tenang tanpa secercah pun rasa bersalah. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu undangan yang hadir. Hidup adalah tentang pilihan yang rasional. Dan aku memilih masa depan yang lebih baik, bersama wanita yang benar-benar sepadan dengan status dan ambisiku... Clarissa."
Bisik-bisik riuh langsung meledak di antara para tamu. Kamera media massa menyorot tajam ke arah panggung, lampu blitz berkedip-kedip.
Aku tidak sanggup lagi menahan beban di kakiku. Dengan sisa tenaga, aku mendorong pintu ganda itu hingga terbuka lebar.
BRAAK!
Gaun pengantinku tersangkut ujung pintu dan robek sedikit di bagian ekor.
Setiap pasang mata di ruangan itu seketika menoleh ke arahku. Menatapku dengan campuran rasa kasihan, cibiran, dan rasa penasaran yang menjijikkan.
Langkah kakiku terhenti tepat di tengah ruangan, di atas karpet yang penuh kelopak mawar merah. Gaun putihku yang ternoda air mata sangat kontras dengan gaun merah wanita di atas panggung.
Rian yang menyadari kehadiranku, mendadak menelan ludahnya dengan susah payah. Senyuman di wajahnya memudar sepersekian detik, digantikan oleh kepanikan.
"A-Alesha..." panggil Rian terbata-bata melalui mikrofon, suaranya kehilangan wibawa. "Jangan membuat suasana semakin rumit. Kau tahu kita tidak mungkin bersatu. Kau hanya wanita biasa, dan dunia kita sudah berbeda. Tolong mengerti posisiku."
Mendengar kalimat itu, tawa hambar lolos dari bibirku.
Rasa sakit di dadaku seketika berubah menjadi bara api yang membakar hangus setiap inci kerapuhanku.
Aku menegakkan punggungku. Kubuang jauh-jauh sisa air mataku dengan punggung tangan, menghapusnya dengan kasar.
"Kau benar, Rian," ucapku. Suaranya tidak menggunakan mikrofon, namun berhasil menembus keheningan seluruh ruangan karena ketegasannya yang luar biasa. "Kita memang berasal dari dunia yang berbeda. Aku adalah orang bodoh yang menghabiskan lima tahun hidupku untuk membangun mimpimu dari debu... sementara kau adalah pengkhianat murahan yang menjual jiwanya demi sebungkus harta."
Wajah Rian berubah merah padam menahan malu dan amarah di hadapan para investor penting. "Jaga mulutmu, Alesha! Security! Cepat usir wanita gila ini keluar dari hotel!" bentaknya histeris.
Dua petugas keamanan berbadan besar melangkah maju mendekatiku.
Sebelum tangan kotor mereka sempat menyentuh gaun robekku, sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan berwibawa tiba-tiba memecah kekacauan dari arah pintu masuk utama di belakangku.
"Berani menyentuhnya satu inci saja dengan tangan kotor kalian, dan aku pastikan hotel ini beserta seluruh aset perusahaan kalian akan lenyap dari muka bumi sebelum matahari terbenam besok."
Semua kepala di dalam ballroom serentak menoleh ke arah pintu masuk.
Di sana, berdiri sosok Vion dalam balutan tuksedo hitam legam berpotongan sempurna. Pria berpostur tinggi tegap itu melangkah masuk menembus kerumunan tamu yang secara otomatis membuka jalan selebar-lebarnya karena ketakutan yang ditebar oleh auranya. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, matanya menatap tajam ke arah panggung.
Aku menoleh dengan napas tertahan, memandang pria asing berdarah dingin yang kini berhenti tepat di sampingku, menyelamatkan harga diriku dari kehancuran total di atas kelopak mawar merah itu.
Badai kehancuran baru saja dimulai, dan di atas reruntuhan gaun pengantinku yang robek, aku bersumpah di dalam hati: aku akan bangkit, membalas setiap luka, dan meruntuhkan seluruh dunia Rian tanpa ampun.