Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 027 - Pertarungan di Bibir Kolam Darah
Taks! Kring!
Dua mata tombak besi panjang meluncur deras ke dalam celah retakan batu cadas, menancap sedalam tiga ruas jari tepat di celah lantai marmer tempat ujung sandal jerami Gu Yuan berada sepersekian detik sebelumnya. Percikan bunga api dan serpihan debu batu kapur yang tajam menghujani punggung kaki Gu Yuan yang berhasil ia tarik mundur tepat pada waktunya.
Namun posisi Gu Yuan saat ini berada di titik paling berbahaya sepanjang pelariannya.
Celah retakan kisi-kisi angin alami di dinding tebing itu menyempit di bagian tengah, menuntutnya merayap lambat dengan tubuh telungkup tanpa ruang gerak sedikit pun untuk menangkis atau memutar badan. Jika kedua pengawas bertombak di luar menarik kembali gagang senjata mereka dan melancarkan tusukan membabi buta berulang-ulang ke dalam celah sempit, kedua kakinya akan tercabik-cabik dan dipaku ke lantai batu tanpa bisa melakukan perlawanan fisik.
Dalam pertarungan hidup dan mati melawan musuh yang unggul dalam jumlah dan senjata, terus merayap maju ke dalam lubang sempit yang belum tentu tembus tepat waktu adalah tindakan bodoh yang setara dengan menyodorkan leher ke talenan jagal.
Gu Yuan menghentikan usahanya merayap keluar. Dengan kelincahan tubuh yang lentur, ia membalikkan posisi badannya di dalam celah sempit dengan melipat kedua lututnya rapat ke arah dada.
Tepat di samping kepalanya, terdapat sebuah balok batu kapur berukuran sebesar badan sapi yang berfungsi sebagai pasak penyangga utama lantai marmer mimbar singgasana batu. Balok batu itu telah rapuh dimakan kelembapan air tanah, lumut darah, dan uap belerang selama puluhan tahun, hanya tertahan oleh beberapa pasak kayu besi tua yang sudah lapuk di pangkal rongga tebing.
Gu Yuan memusatkan seluruh tenaga Tulang Besi dari Ranah Pemurnian Raga lapis ketiganya ke kedua telapak kakinya. Sambil menahan punggung dan pundaknya menekan kuat ke dinding tebing cadas di belakang, ia menghantamkan kedua tumit kakinya sekuat tenaga ke arah pasak kayu penyangga balok batu tersebut.
KRAKKK!
Pasak kayu lapuk itu seketika patah berderak menjadi serpihan kayu tajam. Balok batu penyangga berbobot ratusan kati seketika kehilangan tumpuan dasarnya, terdorong lepas dari rongga tebing dan meluncur jatuh ke arah lantai marmer di bawah panggung mimbar.
“Awas batu penyangga runtuh!” teriak salah satu pengawas tombak di bawah dengan nada panik, namun peringatan itu sudah terlambat bahkan sebelum sempat bergema di aula.
Balok batu kapur raksasa itu meluncur jatuh menimpa telak kedua pengawas tombak yang sedang berlutut menusukkan senjata mereka ke celah sempit. Suara derak tulang punggung, iga, dan paha yang remuk terdengar begitu mengerikan saat balok batu meremukkan tubuh kedua pria itu ke lantai marmer hitam. Reruntuhan batu dan kepulan debu kapur putih seketika membubung pekat, menelan jeritan kesakitan kedua pengawas itu yang terputus seketika saat dada mereka hancur tertindih beban ratusan kati.
Memanfaatkan kepulan debu kapur putih dan kekacauan mendadak yang membutakan pandangan musuh tersebut, Gu Yuan meluncur keluar dari celah retakan dinding tebing. Tubuhnya melompat turun dari puncak mimbar marmer setinggi satu depa seperti elang malam menyambar mangsa dari dahan pohon.
Di tangan kanannya, tergenggam erat belati berkarat dengan mata bilah yang dingin menusuk.
Pengawas tombak ketiga yang berdiri di samping tangga mimbar terkejut setengah mati melihat sosok berjubah abu-abu meluncur turun dari atas kepalanya di tengah kabut debu. Pria itu buru-buru memutar gagang tombak besinya untuk menangkis, namun gerakannya terlalu lambat jika dibandingkan dengan kecepatan reaksi Gu Yuan.
Gu Yuan mendarat dengan kedua lutut ditekuk di samping sang pengawas, lalu dengan gerakan putaran pinggang yang eksplosif dan dingin, ia menusukkan bilah belati berkaratnya sekuat tenaga menembus paha kanan pria itu hingga mata belati tembus menyentuh tulang paha.
“Aaaargh!” jerit pengawas ketiga sambil menjatuhkan tombak besinya ke lantai marmer yang licin.
Gu Yuan tidak mencabut belatinya; ia segera memutar tubuhnya ke belakang punggung pengawas yang sedang melolong kesakitan itu. Tangannya mencengkeram erat kerah jubah abu-abu pria tersebut, lalu dengan sentakan tenaga raga yang kokoh, ia menarik tubuh pengawas itu ke depan dadanya untuk dijadikan perisai daging.
Sret… WUSSS!
Tepat pada pecahan detik yang sama, sebilah pedang baja bergagang tembaga menyambar mendatar dengan desingan angin yang ganas, tajam, dan liar. Tebasan pedang Luo Biao yang dipenuhi amarah buta meluncur lurus mengincar leher Gu Yuan dari arah samping kanan.
Namun, bilah pedang baja yang tajam itu tidak mengenai leher Gu Yuan. Sebaliknya, sabetan pedang berkekuatan Pemurnian Raga lapis kesembilan tersebut membelah telak dada dan bahu kiri pengawas ketiga yang dijadikan tameng hidup oleh Gu Yuan.
Darah segar menyembur deras membasahi wajah, leher, dan kemeja dalaman Luo Biao, membuat pengawas ketiga itu mengejang kaku sambil memuntahkan darah hitam ke lantai marmer sebelum akhirnya terkulai lemas tak bernyawa di pelukan Gu Yuan.
Bilah pedang baja Luo Biao tersangkut sedalam tiga ruas jari di tulang belikat anak buahnya sendiri. Sentakan benturan tulang yang keras itu membuat cengkeraman tangan Luo Biao terhenti kaku selama setengah tarikan napas—sebuah jeda fatal yang membiarkan jarak antara dirinya dengan Gu Yuan kini hanya terpisah oleh sebilah mayat yang masih mengejang hangat.