Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan turun deras malam itu. Seoul seperti tenggelam dalam cahaya lampu yang buram. Dari balik kaca tinggi Hanseong Grand Hotel, titik-titik air berkejaran turun, membelah pantulan gedung-gedung kota menjadi garis-garis panjang yang berkilauan.
Jam di lobi menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit. Sebagian besar tamu sudah kembali ke kamar. Restoran di lantai dua puluh tiga baru saja tutup dan Han Ji-eun masih berdiri di meja resepsionis sambil memeriksa laporan pergantian shift.
"Manager Han."
Ji-eun mengangkat kepala. Seorang supervisor malam berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Ada masalah?" Tanya Ji-eun.
"Lift servis di lantai dua puluh delapan tiba-tiba berhenti."
"Sudah panggil teknisi?"
"Sudah. Mereka sedang memeriksa."
Ji-eun mengangguk. "Pastikan tidak ada tamu yang terjebak."
"Sudah diperiksa. Kosong."
"Baik."
Supervisor itu pergi dan Ji-eun kembali menatap layar komputer.
Lima menit. Hanya lima menit lagi. Setelah itu ia bisa pulang. Ia sudah bekerja hampir empat belas jam hari ini.
Namun sebelum sempat menyelesaikan laporan, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. Ji-eun refleks menoleh.
Seorang pria masuk dari tengah hujan. Jas hitamnya basah di bagian bahu. Ia tidak membawa payung dan tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Anehnya, pria itu tidak terlihat seperti tamu biasa. Ia berjalan tenang melewati pintu otomatis dengan ekspresi dingin yang membuat dua orang bellboy spontan berdiri lebih tegak.
Ji-eun memperhatikannya selama beberapa detik lalu matanya jatuh pada wajah pria itu.
Seo Tae-jun. Direktur utama divisi hotel Seo Group yang merupakan cucu keluarga Seo. Salah satu orang yang namanya bahkan lebih dikenal daripada nama hotel yang sedang ia kelola. Karena Tae-jun jarang datang tanpa pemberitahuan. Kalaupun datang, seluruh manajemen biasanya sudah mengetahui satu atau dua hari sebelumnya. Tapi tidak dengan malam ini.
Ji-eun segera meletakkan berkas, "Direktur Seo."
Pria itu berhenti. Tatapannya beralih kepadanya. Dingin, tenang dan sulit dibaca.
"Manager Han."
"Anda datang tanpa pemberitahuan."
"Apa itu dilarang?"
"Tidak." Ji-eun tersenyum profesional, "Hanya sedikit terkejut."
Tatapan Tae-jun berpindah ke jam tangannya, "Hotel sedang ramai?"
"Sudah cukup sepi."
"Bagus."
Ia melepas sarung tangan kulitnya, "Aku ingin melihat operasional malam."
"Tentu." Ji-Eun mengangguk kemudian mengambil tablet dan berjalan mengikutinya.
Tidak banyak percakapan diantara keduanya. Tae-jun memang seperti itu. Selama lima tahun Ji-eun bekerja di hotel tersebut, ia sudah beberapa kali melihat pria itu. Namun hubungan mereka tidak pernah lebih dari seorang pemilik perusahaan dan seorang manager hotel. Ji-eun tahu reputasinya. Seo Tae-jun tidak pernah tersenyum ketika bekerja, tidak suka basa-basi dan tidak menyukai kesalahan. Menurut rumor yang beredar di antara para karyawan, dia bahkan pernah membatalkan kontrak seorang eksekutif hanya karena laporan yang diberikan terlambat tiga puluh menit. Tetapi malam itu ada sesuatu yang berbeda, Tae-jun terlihat lebih diam daripada biasanya.
Ketika mereka sampai di lantai dua puluh delapan, Ji-eun menyadari sesuatu. Ada bekas goresan tipis di dekat buku jarinya.
"Direktur Seo."
"Hm?"
"Apakah tangan Anda terluka?"
Tae-jun melihat tangannya sendiri kemudian menjawab, "Tidak."
Ji-eun mengangkat alis melihat noda merah kecil di manset kemejanya, "Itu berdarah."
Tae-jun tidak menjawab.
"Anda yakin tidak apa-apa?" Tanya Ji-Eun memastikan.
"Aku bilang tidak apa-apa." Jawab Tae-jun. Nada suaranya cukup dingin untuk mengakhiri percakapan.
"Baik." Ji-eun mengangguk dan tidak bertanya lagi. Kemudian mereka melanjutkan pemeriksaan.
Dua puluh menit kemudian, Tae-jun meminta Ji-eun meninggalkannya karena ingin memeriksa ruang konferensi sendirian. Ji-eun menurut dan baru beberapa langkah kembali ke lift, ponselnya berdering.
Nomor dari Busan. Wajahnya yang sejak tadi tenang seketika berubah, "Nenek?"
Suara perempuan tua terdengar di ujung telepon. Ji-eun langsung tersenyum.
"Iya. Aku belum tidur."
"Jangan bohong. Suaramu terdengar lelah."
Ji-eun terkekeh kecil.
"Aku baik-baik saja."
"Kau sudah makan?"
"Sudah."
"Jangan lupa pulang ke Busan bulan depan."
Ji-eun bersandar pada dinding dekat lift.
"Iya halmeoni. Aku janji."
Setelah panggilan berakhir, senyumnya perlahan menghilang, ia menunduk. Entah mengapa, setiap kali berbicara dengan neneknya, rasa bersalah selalu muncul.
Lima tahun sejak ia meninggalkan Busan, Ji-eun harus meninggalkan neneknya demi masa depannya. Ia mengusap sudut matanya sebelum kembali ke meja kerja. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara keras dari arah tangga darurat.
Brak!
Ji-eun berhenti kemudian menoleh. Suara itu terdengar sekali lagi.
Brak..
"Direktur Seo?"
Tidak ada jawaban.
Ji-eun berjalan menuju pintu tangga darurat dan membukanya. Lampu putih di dalam ruangan berkedip pelan namun tidak ada siapa-siapa. Ji-eun turun satu anak tangga lalu dua dan ketika ia melihat ke bawah, napasnya tercekat. Seo Tae-jun tergeletak di lantai dengan jas hitamnya yang berantakan. Satu tangannya menekan sisi tubuh. Darah mengalir tipis dari pelipisnya.Ji-eun berlari turun.
"Direktur Seo!" Teriak Ji-eun lalu berlutut di samping pria itu.
"Direktur Seo.." Panggilnya lagi.
Namun tidak ada respon. Ji-eun segera mengambil ponselnya. Tangannya baru saja menyentuh layar ketika tangan Tae-jun bergerak. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Ji-eun. Membuat Ji-eun terkejut.
Mata pria itu terbuka. Tatapannya masih tajam meskipun wajahnya pucat.
"Jangan...", Kata Tae-jun dengan suara sangat rendah. "Jangan panggil siapa pun."
Ji-eun menatapnya tidak percaya, "Anda terluka."
"Aku tahu."
"Darah Anda banyak."
"Tidak apa-apa."
"Ini jelas bukan tidak apa-apa."
Tae-jun berusaha bangun namun Ji-eun menahannya.
"Jangan bergerak," Perintah Ji-eun.
"Manager Han."
"Kalau Anda pingsan lagi, saya benar-benar akan memanggil ambulans."
Tae-jun menatap wanita di depannya. Biasanya, orang-orang akan langsung panik ketika berhadapan dengannya. Ada yang gugup dan takut. Ada pula yang berusaha mencari muka. Tetapi wanita ini? Dia justru memarahinya.
Ji-eun membuka tas kecil yang selalu ia bawa kemudian mengambil saputangan bersih dan menekannya perlahan ke luka di pelipis Tae-jun.
Pria itu sedikit mengernyit.
"Sakit?"
"Tidak."
"Kalau begitu jangan mengerutkan dahi."
"Kau selalu berbicara seperti ini kepada atasan?"
Ji-eun menatapnya, "Sepertinya anda juga suka berbicara banmal kepada bawahan anda."
Tae-jun terdiam. Ia baru sadar ternyata ia sudah berbicara dengan bahasa santai didepan karyawannya. Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya bergerak sangat tipis. Hampir tersenyum. Namun Ji-eun tidak menyadarinya. Ia sibuk memperhatikan luka di kepala pria itu.
"Siapa yang melakukan ini?"
Tatapan Tae-jun berubah. Ia melepaskan tangannya dari pergelangan Ji-eun.
"Bukan urusanmu."
Ji-eun mengangguk, "Benar, memang bukan urusan saya. Tapi kalau terjadi sesuatu pada Anda di hotel saya, itu menjadi urusan saya."
"Hotelmu?"
"Setidaknya selama jam kerja."
Tae-jun menatapnya cukup lama kemudian berkata pelan, "Kau seharusnya pulang."
Ji-eun menghela napas. "Saya akan pulang setelah memastikan Anda bisa berdiri."
"Aku bisa." Tae-jun mencoba bangkit.
Tubuhnya baru terangkat setengah ketika ia kembali kehilangan keseimbangan. Ji-eun spontan memegang lengannya. Tubuh mereka menjadi sangat dekat sampai Tae-jun bisa mencium aroma lembut parfum Ji-eun. Aroma bunga yang samar.
Ji-eun juga menyadari jarak mereka. Untuk sesaat, keduanya terdiam dan mata mereka bertemu.
Tae-jun adalah orang pertama yang mengalihkan pandangan, "Jangan salah paham."
Ji-eun berkedip. "Saya tidak salah paham. Ikut saya."
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di sebuah ruang istirahat pribadi dan Ji-eun mengambil kotak P3K kemudian ia membersihkan luka di pelipis Tae-jun.
"Anda harus diperiksa dokter."
"Tidak perlu."
"Direktur Seo."
"Aku bilang tidak."
Ji-eun menatapnya kemudian berkata, "Keras kepala."
"Kau terlalu banyak bicara."
"Kalau begitu anda juga diam saja."
Tae-jun benar-benar diam dan Ji-eun melanjutkan pekerjaannya. Ruangan menjadi sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar dari balik jendela.
Untuk pertama kalinya, Tae-jun memperhatikan wanita itu dari dekat. Rambut hitam sebahu, wajah sederhana, tidak menggunakan riasan berlebihan dan sepasang mata yang anehnya terlihat hangat.
Tae-jun tidak mengerti kenapa ia memperhatikannya. Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya merasa tenang.
"Sudah." Kata Ji-eun kemudian mundur, "Lukanya tidak terlalu dalam. Tapi besok tetap periksa", lanjutnya.
Tae-jun berdiri dan kali ini tubuhnya tidak goyah. "Terima kasih." Ucapnya.
Ji-eun tersenyum, "Sama-sama."
Tae-jun mengambil jasnya bersiap untuk pergi. Namun, sebelum pergi, ia berhenti.
"Manager Han."
"Ya?"
"Jangan ceritakan kepada siapa pun tentang malam ini."
Ji-eun mengangguk. "Baik."
Tae-jun berjalan pergi. Namun baru sampai di pintu, Tae-jun berhenti lagi.
"Dan..."
Ji-eun menoleh.
"Aku mengizinkanmu berbicara banmal juga saat hanya denganku."
"Kenapa?"
"Karena kau sudah menolongku."
Ji-eun mengangkat kedua alisnya kemudian menjawab ragu, "Baik, Direktur Seo."
Tae-jun pergi dan pintu tertutup.
"Pria aneh."
Ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, Tae-jun berdiri beberapa detik lebih lama daripada seharusnya. Tangannya masih merasakan hangat telapak tangan Ji-eun. Dan untuk alasan yang tidak dapat ia jelaskan, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.
Sudah berapa lama wanita itu bekerja di bawah perusahaannya?
Malam itu, Seo Tae-jun pulang dengan luka di pelipis. Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya daripada rasa sakit.
Senyum seorang wanita bernama Han Ji-eun.
...****************...