Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Mencari kesempatan
Matahari mulai tenggelam, membawa kegelapan masuk ke dalam lembah.
Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya bergetar pelan. Beberapa batu kecil runtuh dari langit-langit reruntuhan yang lapuk.
Langkah kaki berat yang berirama lambat menggema dari arah luar.
Ia langsung merapatkan tubuh ke balik dinding batu yang retak. Kesadarannya menajam, mengendus bahaya besar yang mendekat.
Dari getaran yang merambat, makhluk itu memiliki ukuran raksasa. Tekanan energinya setara dengan monster ranah Pengumpulan Qi tingkat menengah.
Kondisi tubuhnya masih sangat lemah, persediaannya terbatas, dan Qi di tubuhnya hampir tidak ada.
Ia menggenggam senjata sederhana miliknya erat-erat. Matanya menyusuri jalur sempit di dalam reruntuhan, mempelajari medan untuk melarikan diri atau menjebak lawan.
"Bagus. Baru bisa bernapas satu kali, sudah ada yang datang untuk menghentikanku bernapas," gumamnya dengan senyum dingin.
Suara raungan berat menggelegar, mengguncang seluruh reruntuhan.
Di ujung lorong yang gelap, sesosok bayangan besar perlahan merangsek masuk.
Ia berdiri tegak di balik dinding, membiarkan sisa Qi di dadanya mengalir lambat.
"Kalau begitu... Saatnya mulai bergerak."
***
Suara endusan berat bergema di lorong sempit, memecah kesunyian reruntuhan kuno itu.
Sesosok tubuh raksasa melangkah masuk dengan sangat lambat. Kakinya yang besar mengetuk lantai batu, meninggalkan jejak goresan dalam yang berdebu. Makhluk itu adalah Serigala Batu Kelam.
Lempengan batu hitam pekat melapisi bagian punggung hingga kepalanya. Lapisan itu tampak seperti zirah alami yang sangat keras, membuatnya sulit ditembus oleh serangan biasa.
Ye Chan menahan napas di balik bayangan pilar. Ia menempelkan punggungnya pada permukaan batu yang dingin, mengawasi setiap gerak-gerik sang predator lembah.
'Sisik batunya terlalu tebal di dada dan kepala,' amatinya dalam hati.
Matanya yang tajam menyusuri gerakan makhluk itu tanpa berkedip. Kaki depan serigala tersebut tampak sangat kokoh, menopang berat tubuhnya dengan sangat stabil. Namun, ada satu celah yang tertangkap oleh pandangan Ye Chan.
Saat tubuh besar itu bergerak berbelok, bagian perut belakangnya merenggang. Kulit di area itu tampak lebih tipis dan sama sekali tidak terlindung oleh zirah batu.
'Perut belakangnya adalah titik lemah,' simpul Ye Chan.
Ia juga menyadari bahwa telinga monster itu bergerak-gerak konstan. Pendengarannya sangat peka terhadap suara sekecil apa pun. Menggunakan Qi dalam tubuhnya yang hampir kosong sekarang hanya akan memicu deteksi instan dari monster itu.
Ye Chan mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum yang sangat samar.
Ia tidak perlu menjadi lebih kuat daripada monster itu untuk memenangkan pertarungan ini. Ia hanya perlu memancing makhluk itu agar melakukan satu kesalahan fatal.
Ia meraba lantai di dekat kakinya, lalu menemukan serpihan batu sekepalan tangan.
Dengan sekali sentakan pergelangan tangan, ia melempar batu itu ke arah lorong di seberang ruangan.
Prak!
Suara benturan batu itu terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian.
Serigala itu langsung berputar seketika. Tubuh besarnya melesat bagai anak panah, menerjang ke arah sumber suara dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Memanfaatkan momentum tersebut, Ye Chan segera bergeser. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tanpa suara saat berpindah ke balik pilar lain yang lebih dekat dengan jalan keluar.
Ia terus mengawasi cara monster itu bereaksi di ujung lorong sana. Makhluk itu mengendus udara dengan rakus, tampak sangat bingung karena tidak menemukan mangsa apa pun di sana.
Tiba-tiba, monster itu berhenti mengendus.
Kepalanya berputar cepat, langsung mengarah tepat ke tempat Ye Chan bersembunyi sekarang. Mata merahnya berkilat tajam di tengah kegelapan lorong.
'Sial, ia sudah menyadariku,' batin Ye Chan.
Tanpa memberikan jeda sedikit pun, serigala itu melompat maju dengan ganas. Cakar besarnya terangkat tinggi di udara, siap merobek apa saja yang menghalangi jalannya.
Ye Chan menjatuhkan diri ke samping, berguling di atas lantai berdebu hanya sepersekian detik sebelum cakar itu menghantam tempatnya berdiri.
Boom!
Pilar batu tempatnya berlindung tadi hancur berkeping-keping menjadi puing-puing kecil yang beterbangan ke segala arah.
Ye Chan berguling bangun, menatap reruntuhan pilar itu dengan mata menyipit.
"Kekuatan seperti itu... kalau kena sekali, selesai," bisiknya dengan nada sangat datar.
Ia segera mundur beberapa langkah, menjaga jarak aman dari monster tersebut. Tidak ada rasa panik di wajahnya, hanya kalkulasi dingin yang terus berputar di dalam kepalanya.
***
Ye Chan sengaja berlari ke arah koridor yang lebih sempit di bagian dalam reruntuhan kuno itu.
Di belakangnya, suara geraman serigala itu terdengar semakin dekat dan mengancam. Langkah kakinya yang berat membuat langit-langit reruntuhan yang rapuh bergetar hebat.
Ye Chan mengatur napasnya dengan sangat cermat. Ia sengaja menahan diri untuk tidak mengalirkan Qi secara berlebihan guna meningkatkan kecepatan berlarinya. Tubuhnya yang terluka parah belum siap menahan beban energi itu lebih lama.
Ia hanya fokus pada tujuannya sejak awal: sebuah area dengan langit-langit yang dipenuhi retakan sangat lebar.
Serigala itu kembali menerjang, tampak sangat tidak sabar untuk segera mencabik mangsanya yang licik.
Saat bayangan monster itu hampir menutupinya, Ye Chan melompat ke arah celah sempit di antara dua dinding batu.
Cakar monster itu meleset, lalu menghantam pilar penyangga utama di lorong tersebut dengan kekuatan penuh.
Krak!
Suara patahan keras bergema di seluruh ruangan. Pilar itu menyerah, memicu reaksi berantai yang langsung meruntuhkan bagian langit-langit di atasnya.
Batu-batu besar runtuh dengan sangat cepat, mengubur tubuh serigala itu dalam sekejap di bawah tumpukan puing. Debu tebal mengepul tinggi, menghalangi pandangan mata.
Namun, Ye Chan tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali. Ia tahu runtuhan ini belum cukup untuk membunuh monster setingkat Pengumpulan Qi tingkat menengah.
Benar saja, tanah di bawah kakinya kembali bergetar pelan.
Serigala itu merangkak keluar dari tumpukan batu dengan susah payah. Tubuhnya dipenuhi debu dan beberapa luka goresan ringan, tetapi kemarahannya justru berlipat ganda sekarang.
Ye Chan segera memeriksa sisa barang yang berada di dalam cincin penyimpanannya.
Hanya ada beberapa botol cairan obat murah dan kantong kecil berisi ekstrak tanaman beracun yang ia kumpulkan dari sekitar lembah sebelum ini. Racun ini memang tidak cukup kuat untuk membunuh monster sebesar ini secara langsung.
Namun, Ye Chan mengetahui sifat racun ini dengan sangat baik: mampu menghambat dan mengacaukan aliran Qi dalam tubuh makhluk hidup jika berhasil masuk ke dalam aliran darahnya.
Ia segera mengoleskan cairan pekat beracun itu ke bilah senjata sederhananya. Senjata ini tidak akan mampu menembus kulit batu luar monster, jadi ia harus menggunakannya dengan metode lain.
Ia harus menjadikannya sebagai umpan pancingan.
Serigala itu meraung keras, bersiap untuk menerjang kembali dengan sisa kekuatannya yang mengamuk hebat.
Ye Chan menggenggam gagang senjatanya yang telah dilapisi racun itu dengan sangat erat.
"Satu serangan. Hanya perlu satu," gumamnya dengan suara sangat pelan.
Ia sengaja melangkah maju ke tengah lorong sempit, membiarkan dirinya terlihat sangat rentan di hadapan monster itu.
Monster itu menerjang lurus tanpa ragu sedikit pun.