NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAN 1 : SENYUM YANG TERLIPAT DIBALIK HUJAN

Suara gemericik hujan yang menghantam kaca jendela kamar utama lantai dua gedung megah itu terdengar seperti sindiran halus yang tak kunjung usai. Dingin merayap perlahan, menembus gaun malam sutra warna hijau zamrud yang melekat di tubuh Kirana.

Wanita berusia dua puluh empat tahun itu berdiri mematung di dekat jendela, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah itu masih sama: polos, cantik dengan mata bulat yang bening, dan kulit seputih porselen. Namun, di balik binar matanya yang dulu penuh mimpi, kini tersimpan jejak lelah yang amat dalam. Di atas meja rias mahoni di belakangnya, sebuah cincin pernikahan emas putih berkilat muram, seolah mengejek status baru yang kini disandangnya.

Tiga bulan. Baru tiga bulan ia menyandang status sebagai istri sah dari Aris Pratama—seorang pengusaha sukses berusia tiga puluh delapan tahun—sekaligus ibu tiri bagi dua anak Aris yang masih kecil, Leo dan Maya.

Tiga bulan yang terasa seperti tiga dekade neraka yang sunyi.

Pintu kamar mendadak terdorong terbuka tanpa ketukan. Kirana terperanjat, buru-buru mengusap sudut matanya yang basah sebelum berbalik. Di ambang pintu, berdiri Aris. Pria itu tampak gagah namun dingin dalam balutan kemeja kerja yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Wajahnya yang tegas tidak memancarkan kehangatan sedikit pun untuk wanita yang beberapa jam lalu baru saja memasakkannya makan malam.

"Kenapa kamu belum tidur, Kirana?" suara Aris terdengar berat, datar, dan tanpa nada.

"Aku... aku menunggumu, Mas," jawab Kirana pelan, berusaha mengukir senyum terbaiknya. Senyum yang saban hari ia latih di depan cermin, senyum seorang wanita muda yang bertekad menjadi istri dan ibu yang baik. "Aku sudah menyiapkan teh hangat di bawah, tapi mungkin sudah dingin. Mau kubuatkan yang baru?"

Aris melangkah masuk, melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja dengan denting nyaring. "Tidak perlu. Aku lelah. Lagipula, aku baru saja menenangkan Maya. Dia menangis lagi sebelum tidur."

Langkah Kirana terhenti. Dadanya berdesir nyeri. "Maya menangis lagi? Kenapa? Tadi sore saat kuantar makan malam ke kamarnya—"

"Itulah masalahnya, Kirana," potong Aris cepat. Ia menatap Kirana tajam, tatapan yang selalu berhasil membuat nyali Kirana ciut. "Sudah kubilang bertali-kali, jangan terlalu memaksakan diri masuk ke dalam ruang pribadi anak-anak. Maya belum siap melihat wanita lain menggantikan posisi ibunya. Tindakanmu yang terlalu ikut campur hanya membuat dia merasa tertekan."

Menggantikan posisi ibunya.

Kata-kata itu bagaikan sembilu yang diiriskan tepat di atas luka lama yang belum sembuh. Kirana menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di dadanya. Ia bergelut dengan rasa perih yang tiba-tiba membakar tenggorokannya.

"Aku tidak berniat menggantikan almarhumah Mbak Rina, Mas," bisik Kirana, suaranya gemetar namun ia berusaha melawan rasa takutnya. "Aku hanya ingin menjadi ibu bagi mereka. Aku ingin merawat mereka. Maya tidak mau makan sejak siang, dan aku khawatir dia sakit. Apakah perhatian seorang ibu dianggap sebagai tekanan?"

Aris menghela napas kasar, memijat pangkal hidungnya. "Jangan dramatis, Kirana. Kamu masih muda. Kamu belum mengerti bagaimana rasanya menjadi orang tua, apalagi mengurus anak-anak yang kehilangan ibu kandung mereka. Kamu pikir dengan tersenyum manis dan memasakkan makanan favorit mereka, mereka akan langsung memanggilmu 'Mama'? Kehidupan nyata tidak sesederhana dongeng yang kamu bayangkan."

Sindiran Aris menghantam dada Kirana begitu keras. Dramatis. Masih muda. Belum mengerti.

Selalu tiga hal itu yang dilemparkan Aris setiap kali Kirana berusaha menyuarakan isi hatinya. Pernikahan ini, yang berawal dari perjodohan keluarga dan niat tulus Kirana untuk berbakti serta membangun keluarga yang utuh, kini terasa seperti sangkar emas yang membunuhnya secara perlahan.

"Aku memang muda, Mas," tegas Kirana, mengambil satu langkah maju. Matanya menatap Aris lurus-lurus, mencoba memancarkan keberanian yang selama ini terendam air mata. "Tapi aku bukan anak kecil yang tidak punya perasaan. Aku menikahimu bukan untuk menjadi pajangan di rumah besar ini. Aku menyanggupi menjadi istri dan ibu tiri bagi Leo dan Maya karena aku percaya kamu dan anak-anak butuh sosok yang menyayangi kalian dengan tulus!"

"Lalu apa yang kamu harapkan?" balas Aris, suaranya meninggi. "Pujian? Penghargaan? Kirana, aku menikahimu karena anak-anak butuh figur wanita di rumah ini, dan ibuku menyukaimu. Tapi jika kamu mengharapkan cinta yang meledak-ledak seperti remaja, kamu salah alamat. Cintaku sudah mati bersama Rina lima tahun lalu!"

Brakk!

Kata-kata itu telanjang, tanpa selubung, dan terlempar begitu saja tanpa memikirkan betapa hancurnya hati wanita di depannya. Kirana terpaku. Seluruh pertahanannya runtuh seketika. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram jantungnya hingga remuk.

Aris tidak menunggu balasan. Pria itu menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Kirana yang berdiri membeku di tengah kamar yang terasa makin menghimpit.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang mulus. Kirana terduduk di tepi ranjang. Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Di dalam benaknya, bayangan masa depan yang suram menari-nari. Haruskah ia terus bertahan dalam pernikahan yang dingin ini? Haruskah ia terus melawan tembok tebal bernama masa lalu yang dibangun oleh suaminya sendiri?

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden ruang makan. Meja makan panjang berbahan kayu jati itu dipenuhi dengan pelbagai hidangan hangat: nasi goreng seafood, telur gulung, pancakes dengan sirupan murni, dan jus jeruk segar. Semuanya dibuat sendiri oleh tangan Kirana sejak pukul lima pagi.

Kirana berdiri di sisi meja dengan apron merah muda yang terikat rapi di pinggangnya. Wajahnya dipoles riasan tipis untuk menyembunyikan sembap di matanya akibat menangis semalaman. Saat mendengar langkah kaki dari arah tangga, Kirana langsung mengumbar senyum manisnya.

Leo, bocah laki-laki berusia sepuluh tahun dengan wajah yang sangat mirip dengan Aris, berjalan turun bersama adiknya, Maya, yang baru berusia enam tahun. Maya menggandeng boneka beruang lusuh yang tak pernah lepas dari pelukannya.

"Selamat pagi, Leo, Maya," sapa Kirana lembut. "Ayo duduk, Tante—maksud Ibu—sudah buatkan pancake kesukaan kalian."

Leo tidak menjawab. Bocah itu hanya menatap meja makan dengan pandangan dingin yang teramat dewasa untuk usianya. Sementara Maya bersembunyi di balik punggung kakaknya, menatap Kirana dengan tatapan curiga.

"Kami tidak mau makan pancake itu," kata Leo datar, suaranya ketus.

Senyum Kirana agak meredup, namun ia berusaha tetap ramah. "Kenapa, Sayang? Kemarin Mbak Asih bilang Maya suka sekali pancake dengan saus sirup manis ini."

"Mama Rina dulu selalu buatkan pancake isi cokelat, bukan sirup murah seperti ini," potong Leo tajam. "Dan stop panggil dirimu 'Ibu'. Kamu bukan Ibu kami. Kamu cuma wanita asing yang datang ke rumah ini dan mau mengambil posisi Mama!"

Deg.

Kata-kata bocah sepuluh tahun itu merajam hati Kirana. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengucapkan kata-kata sesadis itu jika tidak mendengar atau diajarkan oleh lingkungan di sekitarnya?

"Leo, tidak boleh bicara begitu pada Tante Kirana," sebuah suara berat terdengar dari balik tangga. Aris berjalan mendekat dengan pakaian kerja yang rapi.

Namun, teguran Aris terasa sangat hampa di telinga Kirana. Tidak ada ketegasan di sana, hanya sekadar pemenuhan formalitas sebagai seorang ayah.

"Tapi emang bener, Papa!" seru Leo membela diri. "Dia sengaja mau menggantikan Mama! Kenapa Papa harus nikah lagi sama cewek ini? Aku sama Maya gak butuh dia!"

Maya mulai terisak pelan di belakang Leo, ketakutan melihat atmosfer meja makan yang tegang. "Maya... Maya mau Mama Rina..." bisiknya di antara isak tangannya.

Kirana merasakan matanya mulai memanas kembali. Rasa bersalah, sedih, dan marah bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang sesak di dadanya. Selama tiga bulan ini, ia telah mencoba segalanya. Ia mempelajari semua resep kesukaan anak-anak, mengalah ketika dibentak, sabar ketika gambaran dan karya seni yang ia buatkan dibuang ke tong sampah oleh Leo, dan tetap tersenyum meski diabaikan.

Namun, sampai kapan? Bergelut dengan prasangka tanpa ada perlindungan dari suami sendiri adalah bentuk siksaan yang tak kasat mata.

"Leo, Maya, makan makanan kalian dan berangkat sekolah," perintah Aris tegas, lalu duduk di kursi utamanya tanpa memandang Kirana sedikit pun. "Kirana, ambilkan kopi hitam tanpa gula."

Kirana berdiri mematung sejenak. Tangannya yang memegang piring bergetar. Hatinya menjerit. Apakah aku hanya seorang pelayan berkulit halus di rumah ini?

Dengan langkah pelan, Kirana menuangkan kopi ke dalam cangkir Aris. Ketika ia meletakkan cangkir itu di depan suaminya, jari mereka tak sengaja bersentuhan. Aris dengan cepat menarik tangannya, seolah sentuhan Kirana adalah sesuatu yang mengharamkan.

Sindiran takdir itu begitu nyata. Di luar sana, orang-orang menganggap Kirana wanita paling beruntung di dunia: muda, cantik, dipersunting pengusaha kaya raya, dan tinggal di rumah megah. Namun di dalam sini, ia hanyalah sesosok hantu yang kehadirannya diacuhkan dan cintanya ditolak mentah-mentah.

"Aku akan makan di kantor saja," kata Aris tiba-tiba, berdiri menyeruput kopinya sedikit lalu meraih tas kerjanya. "Leo, Maya, ayo Papa antar."

Kedua anak itu segera berlari mengikuti ayahnya, meninggalkan meja makan yang penuh dengan makanan hangat yang telah disiapkan Kirana dengan penuh kasih sayang.

Pintu depan tertutup dengan suara dentuman keras.

Rumah besar itu kembali hening. Begitu hampa hingga suara detak jarum jam dinding terdengar seperti detak jantung yang sekarat. Kirana terduduk di salah satu kursi makan. Ia menatap piring-piring makanan yang tak tersentuh.

Satu tetes air mata jatuh tepat di atas permukaan sirup manis di piring pancake. Lalu disusul tetesan lainnya. Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis terisak-isak dalam kesendirian yang mencekam.

Siang harinya, untuk mengusir rasa sepi dan penat yang menggerogoti jiwanya, Kirana memutuskan untuk membersihkan ruang kerja Aris—ruangan yang selama ini selalu dikunci dan dilarang untuk dimasuki. Namun hari itu, Mbak Asih, asisten rumah tangga mereka, lupa menguncinya setelah menyapu balok balkon.

Kirana melangkah masuk dengan ragu. Ruangan itu beraroma kayu cendana dan tembakau mahal. Di dinding, terpajang beberapa piagam penghargaan milik Aris. Namun, yang paling mencuri perhatian Kirana adalah sebuah meja konsol di sudut ruangan, tempat sebuah foto berbingkai perak berukuran besar dipajang.

Di dalam foto itu, tampak Aris muda tersenyum sangat lepas—senyuman hangat yang tak pernah Kirana lihat selama tiga bulan pernikahan mereka. Di sampingnya, berdiri seorang wanita cantik bergaun putih dengan keanggunan yang alami. Rina. Dan di pangkuan mereka, Leo yang masih balita tertawa riang.

Kirana mendekati foto itu. Ada rasa cemburu yang menggetarkan dadanya, namun lebih dari itu, ada rasa kasihan yang mendalam. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Aris dan anak-anak yang terjebak dalam sangkar duka masa lalu.

"Mbak Rina..." bisik Kirana lirih, jemarinya mengusap kaca bingkai foto itu. "Bagaimana caranya membuat mereka mencintaiku? Apa yang harus kulakukan agar mereka berhenti melihatku sebagai musuh?"

Saat hendak merapikan tumpukan dokumen di samping bingkai foto, tangan Kirana tak sengaja menyenggol sebuah kotak kayu berukir yang berada di sudut agak tersembunyi. Kotak itu terjatuh ke lantai kayu, terkunci snap-nya terlepas, dan isinya berhamburan di atas karpet.

"Ah, ya Tuhan..." Kirana berlutut dengan panik, khawatir merusak barang berharga suaminya.

Isi kotak itu adalah lembaran-lembaran surat lama, beberapa lembar foto usang, dan sebuah buku harian bercover kulit cokelat yang tampak sering dibuka. Kirana memunguti surat-surat itu satu per satu. Namun, matanya tak sengaja menangkap sebuah amplop berwarna cokelat tebal yang agak terbuka, bertuliskan Kerahasiaan Medis & Hukum - Rumah Sakit Harapan Kasih.

Rasa ingin tahu yang luar biasa mendadak menguasai diri Kirana. Ada dorongan kuat di dalam dadanya yang membisikkan bahwa jawaban atas semua kebekuan di rumah ini ada di dalam kertas tersebut.

Dengan tangan gemetar, Kirana mengeluarkan lembaran kertas dari dalam amplop cokelat itu. Matanya menyapu baris demi baris kalimat medis dan pernyataan hukum yang tertera di sana.

Mata Kirana membelalak. Nafasnya tertahan di tenggorokan.

Surat Pernyataan Pemutusan Perawatan dan Hasil Autopsi Psikologis / Medis atas Nama Rina Saraswati.

Kirana membaca kalimat-kalimat di dalamnya dengan tubuh yang kian gemetaran. Rahasia besar yang selama lima tahun ini dikubur rapat-rahar rapat oleh Aris dan keluarga besarnya kini terhampar jelas di depan matanya.

Pernikahan Aris dan Rina dulu bukanlah pernikahan bahagia seperti yang dicitrakan selama ini. Rina menderita depresi berat pasca melahirkan Maya, dan hubungan mereka telah retak jauh sebelum kematian Rina. Kebenaran yang lebih pahit adalah... Rina tidak meninggal karena sakit jantung mendadak seperti yang diceritakan Aris kepada semua orang dan anak-anaknya.

Rina mengakhiri hidupnya sendiri di rumah ini, saat Aris sedang tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya dan mengabaikan jeritan minta tolong sang istri.

Rasa bersalah yang teramat sangat itulah yang selama ini membunuh jiwa Aris. Pria itu menyiksa dirinya sendiri dengan membangun monumen kesucian untuk almarhumah istrinya, menolak untuk bahagia, dan mengunci hatinya rapat-rapat dari wanita mana pun—termasuk Kirana. Aris ketakutan setengah mati bahwa jika ia mencintai wanita lain, ia akan mengkhianati penyesalannya dan mengulangi kesalahan yang sama.

Anak-anak... Leo dan Maya, dijadikan Aris sebagai tameng untuk menutupi rasa bersalahnya yang menganga.

"Jadi... jadi selama ini..." Kirana membekap mulutnya, terhenyak di lantai. Air matanya menetes deras, membasahi lembaran kertas di pangkuannya.

Tiba-tiba, sebuah kebenaran yang menghantam jiwanya membuat Kirana tersadar.

Bukan. Bukan anak-anak yang menolaknya. Bukan Aris yang membencinya.

Mereka semua hanyalah jiwa-jiwa yang terluka dan ketakutan, yang sedang bersembunyi di balik benteng prasangka dan kemarahan. Aris tidak sedang membenci Kirana; Aris sedang membenci dirinya sendiri! Dan anak-anak itu hanyalah korban dari trauma yang tak pernah disembuhkan.

Perjuangan Kirana selama tiga bulan ini untuk "melawan" dan "bergelut" menembus tembok itu terasa begitu konyol sekaligus tragis. Ia selama ini bertarung dengan bayangan semu yang diciptakan oleh rasa bersalah seorang pria.

"Kirana?! Apa yang kamu lakukan di sini?!"

Sebuah bentakan nyaring menggelegar dari ambang pintu.

Kirana mendongak. Aris berdiri di sana dengan wajah memerah padam, matanya menyalang penuh kemarahan melihat kotak kayunya terbuka dan rahasia terbesarnya berada di tangan wanita muda itu.

Aris melangkah lebar-lebar, memburu Kirana dan merampas kertas-kertas itu dari genggaman Kirana dengan kasar. "Siapa yang memberi izin kamu masuk ke ruangan ini dan menyentuh barang-barangku?! Kamu benar-benar tidak punya sopan santun!"

Kirana berdiri perlahan. Tubuhnya masih bergetar, namun tatapan matanya telah berubah. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Tidak ada lagi rasa minder seorang wanita muda yang merasa tak diinginkan. Yang ada hanyalah tatapan penuh kedalaman, keteguhan, dan rasa simpati yang amat sangat dari seorang wanita yang telah memahami penderitaan pria di depannya.

"Kenapa, Mas?" suara Kirana terdengar sangat tenang, mendalam, dan memotong kemarahan Aris seketika. "Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri selama bertahun-tahun?"

Aris membeku. Wajahnya yang semula merah murka mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang kertas-kertas itu gemetar hebat. "K-kamu... kamu tidak tahu apa-apa..."

"Aku tahu sekarang, Mas," potong Kirana, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Aris yang berguncang. "Aku tahu rasa bersalah itu membunuhmu setiap hari. Aku tahu kamu menjadikan kenangan Mbak Rina sebagai penjara untuk dirimu sendiri, dan kamu juga memenjarakan Leo dan Maya di dalamnya!"

"Cukup, Kirana! Diam!" teriak Aris, suaranya pecah, mengungkapkan keretakan jiwa yang selama ini disembunyikannya di balik topeng pria dingin dan berkuasa.

"Tidak, Mas! Aku tidak akan diam lagi!" lawan Kirana dengan suara lantang namun penuh kehangatan. Ia melangkah mendekati Aris, tak peduli meski pria itu mundur satu langkah. "Selama tiga bulan aku berjuang mati-matian agar diterima di rumah ini. Aku menangis setiap malam, berpikir apa kurangnya aku, kenapa anak-anak membenciku, dan kenapa kamu tidak pernah mau menyentuh hatiku!"

Kirana menarik napas panjang, air matanya mengalir deras namun senyum tipis yang tulus dan sangat kuat terukir di bibirnya—sebuah senyum wanita dewasa yang telah menemukan pijakannya.

"Tapi sekarang aku sadar. Takdir sedang menertawakan kita berdua, Mas," ucap Kirana lirih, suaranya bergetar oleh drama emosi yang memuncak. "Takdir mempermainkan kita. Kamu menikahiku untuk mencari penawar rasa bersalahmu, dan aku menikahimu karena mencari cinta. Kita berdua sama-sama bodoh."

Aris menatap Kirana tanpa kedip. Napasnya terengah-engah. Tembok pertahanan yang ia bangun kokoh selama lima tahun serasa runtuh perlahan, batu demi batu, hanya oleh tatapan mata wanita muda yang selama ini ia sepelekan.

"Aku tidak akan pergi, Aris," lanjut Kirana, kini memanggil nama suaminya tanpa sebutan 'Mas', menandakan kesetaraan posisi mereka sebagai dua manusia yang sama-sama terluka. "Aku tidak akan lari dari rumah ini hanya karena kamu dan anak-anak menolakku. Jika kamu ingin menyiksa dirimu dalam rasa bersalah, silakan. Tapi aku di sini bukan untuk menggantikan Rina. Aku di sini untuk menyelamatkan tempat ini dari rasa dingin yang kamu ciptakan."

Kirana mendekat, lalu dengan lembut menyentuh lengan Aris yang tegang. Aris tidak menarik tangannya kali ini. Pria itu hanya terpaku, matanya berkaca-kaca, menatap wanita di depannya yang mendadak tampak begitu anggun, kuat, dan dewasa.

"Takdir mungkin mempermainkan kita dengan membawa kita ke dalam pernikahan yang penuh air mata ini," bisik Kirana tepat di depan wajah Aris, suara dan tatapannya sarat akan kasih sayang yang tak terbatas. "Tapi aku percaya, di balik semua sindiran pahit kehidupan ini, takdir juga menyelipkan kesempatan kedua. Untukmu, untuk Leo, untuk Maya... dan untukku."

Kirana membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan kepala tegak. Ia tidak lagi menjadi wanita muda yang lemah dan penuh keraguan. Di dalam benaknya, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan pertempuran melawan anak tiri atau bayang-bayang almarhumah istri pertama, melainkan pertempuran untuk menyembuhkan luka sebuah keluarga dengan ketulusan cinta yang tak tergoyahkan.

Di luar, hujan deras mulai mereda, menyisakan aroma tanah yang basah dan secercah sinar matahari sore yang menembus awan kelabu. Pernikahan ini memang diawali oleh air mata dan kepalsuan, namun di atas puing-puing rahasia yang terkuak, Kirana siap membangun kebahagiaannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!