*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Dua Fragmen Kuali Leluhur
Kaki raksasa Ilusi Dewa-Iblis menghantam dataran obsidian dengan kekuatan dahsyat. Benturannya mengguncang seluruh dimensi hingga bukan hanya batu yang hancur, melainkan ruang pun ikut bergetar dan retak.
Dataran yang membentang ratusan mil pecah seperti kaca. Pecahan obsidian beterbangan ke segala arah, sementara dari kedua kepala monster terdengar raungan yang menyatukan nyanyian suci dengan lolongan iblis.
Pilar cahaya keemasan turun dari langit dengan daya yang mampu membakar jiwa. Dari bawah tanah, racun darah menjalar seperti ular, membawa kekuatan busuk yang sanggup mengikis tulang.
Di tengah kehancuran itu, dua sosok melesat bersamaan.
Lin Xuan bergerak seperti kilatan perak. Lengan kanannya masih terluka akibat pantulan serangan sebelumnya, tetapi tangan kirinya terus memancarkan Hukum Tolak. Setiap puing dan pilar cahaya yang mendekat langsung terpental.
Di sisi lain, Mo Xie berubah menjadi bayangan ungu. Sabit Tulang Hitam di tangannya menebas racun darah, mengikis kekuatan iblis yang menghalangi jalannya.
Mereka tidak berbicara dan bahkan tidak perlu saling menatap.
Setelah beberapa kali bentrokan, mereka telah mengenal gerakan satu sama lain terlalu baik.
Ilusi Dewa-Iblis mengayunkan lengannya.
Lin Xuan justru melesat ke samping dan masuk ke titik buta serangan itu. Hampir bersamaan, Mo Xie muncul di sana dan menebaskan Sabit Tulang Hitam ke pergelangan tangan monster.
Kulit Level 12 itu tetap tidak terluka, tetapi benturan sabit berhasil mengubah arah lengannya.
Celah itu sudah cukup.
Lin Xuan menginjak lengan monster yang bergeser dan melesat ke udara. Dalam sekejap, ia telah berada di depan wajah kepala dewa.
Boom!
Hukum Tolak meledak dari telapak tangannya dan menghantam mata monster.
Ilusi Dewa-Iblis meraung dan mengangkat tangan untuk menghantam Lin Xuan. Namun sebelum serangan itu mencapai sasaran, Mo Xie telah lebih dahulu bergerak.
Sabit Tulang Hitam menghantam lutut monster. Hukum Kehancuran merayap masuk dan menggerogoti daya yang menopang tubuh raksasanya.
Lin Xuan dan Mo Xie bergerak seperti dua bilah pedang yang ditempa dari kebencian yang sama.
Lin Xuan menahan serangan.
Mo Xie menghancurkan pertahanan.
Tidak diperlukan komunikasi di antara mereka. Keduanya telah berusaha membunuh satu sama lain. Karena itu, mereka tahu persis kapan lawannya akan bergerak.
“Terus tekan daya iblisnya!”
“Urus dirimu sendiri, Jangan mati sebelum aku yang memenggalmu!”
Mo Xie tertawa buas sambil menghindari pilar cahaya yang menghujaninya.
Ilusi Dewa-Iblis semakin murka.
Tubuh Level 12 itu memang sulit ditembus, tetapi serangan Lin Xuan dan Mo Xie terus mengganggu keseimbangan dayanya. Sedikit demi sedikit, pertahanannya mulai kehilangan kestabilan.
Tiba-tiba, kedua tangan monster itu menyatu di depan dada.
Cahaya emas dan racun darah berkumpul menjadi sebuah bola raksasa. Daya penciptaan dan kehancuran berputar liar di dalamnya, menciptakan tekanan yang membuat seluruh dimensi bergetar.
Jika dilepaskan, ledakan itu cukup untuk memusnahkan seluruh Labirin Gravitasi.
Tatapan Lin Xuan menjadi tajam.
“Dia membuka pertahanannya.”
Di tengah dada monster itu, terdapat garis tipis tempat daya Yang dan Yin bertemu. Itulah satu-satunya celah yang mereka miliki.
“Tuan Muda Iblis Kuno!”
“Aku tahu.”
Keduanya berhenti menghindar dan mulai mengerahkan seluruh sisa tenaga.
Lin Xuan memaksa Tungku Daging Puncak Level 10 berputar hingga batasnya. Cahaya perak menyelimuti tangan kirinya, sementara Hukum Tolak terus dipadatkan hingga mencapai tingkat yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.
Pada saat yang sama, Mo Xie membakar sebagian besar esensi darah Tulang Surgawi Tahap ke-10. Racun merah keunguan menyelimuti Sabit Tulang Hitam, lalu seluruh daya kehancurannya terkumpul di ujung bilah.
Satu adalah dorongan mutlak. Yang lain adalah tarikan mutlak.
Keduanya melesat dari arah berlawanan.
Bola daya di tangan Ilusi Dewa-Iblis hampir mencapai batasnya, tetapi Lin Xuan dan Mo Xie tetap menerjang lurus ke dada monster.
Dalam sekejap, seolah waktu berhenti. Telapak tangan Lin Xuan tiba dari kiri.
Ujung sabit Mo Xie datang dari kanan.
Dua serangan itu bertemu di satu titik.
Hukum Tolak mendorong tubuh monster menjauh, sementara Hukum Kehancuran menarik bagian yang sama ke arah berlawanan.
Dua hukum yang bertentangan bertabrakan pada satu titik.
Ruang bergetar. Kemudian retak.
Tubuh Level 12 yang selama ini tidak dapat ditembus akhirnya kehilangan keseimbangannya. Daya yang menopang tubuh monster mulai saling bertentangan dan menciptakan tekanan yang bahkan tidak mampu ditahannya.
Kraak!
Suara retakan menggema ke seluruh dimensi.
Di titik pertemuan kedua serangan, muncul celah hitam setipis rambut.
Itulah Robekan Ruang Waktu. Celah tersebut terus melebar.
Dada Ilusi Dewa-Iblis perlahan terbelah, lalu retakan menjalar ke seluruh tubuhnya seperti jaring laba-laba. Bola daya penciptaan dan kehancuran di tangannya kehilangan kendali dan meledak ke dalam.
“Haaah!”
Lin Xuan dan Mo Xie meraung bersamaan. Dorongan dan tarikan mereka menembus tubuh monster hingga mencapai intinya.
Booom!
Ilusi Dewa-Iblis akhirnya meledak.
Tubuh Level 12 itu pecah menjadi serpihan cahaya emas dan darah. Gelombang kehancuran menyapu seluruh dimensi, melemparkan Lin Xuan dan Mo Xie seperti daun yang diterjang badai.
Lin Xuan terhempas ribuan meter dan berguling di atas lantai obsidian. Darah perak mengalir dari sudut bibirnya.
Tidak jauh darinya, Mo Xie menghantam reruntuhan pilar hingga Sabit Tulang Hitam terlepas dari tangannya.
Keduanya terbaring tanpa tenaga.
Tungku Daging Lin Xuan berputar sangat lambat, seolah-olah hampir kehilangan seluruh kekuatannya. Sementara itu, tulang-tulang Mo Xie mengepul karena tidak sanggup menahan beban yang baru saja dipaksakan kepadanya.
Xue Ling’er segera berlari menghampiri Mo Xie dan menyalurkan sisa Darah Yin untuk menstabilkan Tulang Surgawinya.
Untuk sesaat, dimensi itu kembali sunyi.
Serpihan cahaya emas dan merah darah perlahan turun di tengah kehancuran.
Lin Xuan terbatuk dan memuntahkan darah sebelum menoleh ke arah Mo Xie.
Mo Xie pun menatap balik.
Keduanya saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil.
Dua musuh baru saja menghancurkan makhluk Level 12 yang sebelumnya bahkan tidak mampu mereka lukai.
“Kerja bagus...,” ujar Lin Xuan dengan napas berat.
“Hahah... bawahan Taichu.” Mo Xie tertawa pelan.
Tawa mereka perlahan mereda.
Untuk pertama kalinya, keduanya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka akui.
Namun kedamaian itu hanya berlangsung beberapa tarikan napas.
Di tengah badai cahaya tempat Ilusi Dewa-Iblis hancur, sisa daya penciptaan dan kehancuran tiba-tiba berkumpul kembali. Pusaran besar perlahan terbentuk, membuat tatapan Lin Xuan dan Mo Xie seketika berubah tajam.
Di pusat pusaran itu, wujud asli Inti Yin-Yang akhirnya muncul.
Sebuah kuali raksasa berkaki tiga melayang di udara. Permukaannya dipenuhi ukiran jutaan bintang dan lautan darah, memancarkan aura purba yang membuat seluruh dimensi bergetar.
Namun kuali itu tidak utuh.
Sebuah retakan membelah bagian tengahnya.
Perlahan, kuali purba tersebut terbelah menjadi dua fragmen.
Fragmen kanan memancarkan cahaya putih keperakan. Hukum Penciptaan dan Yang memenuhi permukaannya, sementara telinganya berbentuk naga yang melingkar.
Fragmen kiri diselimuti Racun hitam keunguan. Hukum Kehancuran dan Yin berdenyut di dalamnya, sementara telinganya berbentuk harimau yang sedang mengaum.
Kedua fragmen itu adalah kunci menuju Level 11.
Tatapan Lin Xuan berubah tajam.
Tatapan Mo Xie pun berubah.
Kedamaian yang baru saja muncul lenyap seketika. Hawa membunuh yang jauh lebih ganas memenuhi seluruh dimensi.
Lin Xuan memaksa dirinya berdiri. Lututnya gemetar akibat luka, tetapi tekad di matanya tetap tidak goyah.
Di seberang sana, Mo Xie menepis tangan Xue Ling’er dengan lembut sebelum bangkit. Ia mengulurkan tangan dan Sabit Tulang Hitam kembali ke genggamannya.
Kerja sama mereka telah berakhir.
Penghalang Level 12 telah dihancurkan.
Sekarang hanya tersisa satu hadiah dan dua pemburu.
“Tugas sudah selesai,” ujar Lin Xuan.
Cahaya perak kembali menyelimuti tubuhnya.
Mo Xie mengangkat sabit. Racun kehancuran kembali memenuhi bilah hitam itu.
“Saatnya menyelesaikan urusan kita.”
Keduanya saling menatap.
Boom!
Lantai obsidian di bawah kaki mereka kembali hancur.
Lin Xuan dan Mo Xie melesat bersamaan ke udara.
Kali ini mereka bukan rekan seperjuangan.
Mereka kembali menjadi dua musuh yang memperebutkan jalan menuju Level 11.
Dan sasaran mereka hanya satu.
Dua fragmen Kuali Leluhur!