NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENOLAKAN DI BAWAH SINAR BULAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 1: Penolakan di Bawah Sinar Bulan

Malam begitu hening. Semilir angin yang berembus terasa kian menusuk kulit, membawa rasa dingin yang perlahan merayap hingga ke tulang. Di atas sana, rembulan bersinar dengan anggunnya, ditemani taburan bintang yang berkedip silih berganti, seolah sedang menghiasi panggung sunyi malam itu.

Di pelataran sebuah kios yang sudah tutup, tampak empat pemuda-pemudi tengah asyik berbincang. Dua pria dan dua wanita itu duduk melingkar, menikmati suasana malam yang kian larut.

"Neng!" panggil seorang pemuda bernama Jaka, memecah obrolan santai mereka.

"Iya, ada apa, Kak Jaka?" sahut perempuan berkerudung putih bernama Dea itu lembut, seraya memalingkan wajah dan menatap Jaka.

Jaka menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, tampak serba salah. "Neng Dea... Kakak boleh nanya sesuatu, nggak?"

"Mau nanya apa sih, Kak Jaka? Pakai izin segala," balas Dea sambil terkekeh kecil, membetulkan letak kerudungnya yang tertiup angin.

Jaka menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum menatap lurus mata Dea. "Neng... sebenarnya Kakak suka sama Neng Dea."

Mendapat pernyataan tiba-tiba itu, Dea tersentak kaget. Pipinya seketika hangat. Ia sama sekali tidak menyangka Jaka akan menyatakan perasaan padanya di malam ini. Dengan refleks, Dea menoleh ke arah temannya, Ayu, yang juga ikut membelalakkan mata sambil menahan senyum.

Dea menarik napas pelan, mencoba menetralkan rasa terkejutnya sebelum kembali menatap Jaka dengan tatapan penuh rasa segan.

"Maaf ya, Kak Jaka, sebelumnya..." sahut Dea pelan, namun terdengar mantap. "Dea untuk sekarang belum mau pacaran. Lebih baik kita temanan saja ya, Kak?"

Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dea, sontak semua yang ada di situ kaget—Ayu, Kiki, dan tentu saja Jaka sendiri. Jawaban polos itu menghantam dada Jaka bagaikan sembilu yang merobek luka. Sakit hati, malu, dan rasa tak berdaya bercampur menjadi satu di bawah remang cahaya lampu toko. Ia merasa sudah memberanikan diri dan melakukan segalanya dengan baik, namun kenyataan tak berpihak padanya.

"Oh... gitu, ya? Ya sudah, nggak apa-apa. Setidaknya kita masih bisa berteman," sahut Jaka, berusaha tersenyum tipis, mencoba tegar walau hatinya sudah hancur luluh lantak.

"Maaf ya, Kak Jaka..." ujar Dea, merasa tak enak hati. Tanpa menunggu situasi makin canggung, ia melirik temannya. "Kalau begitu, Dea sama Ayu pulang dulu, ya. Udah makin malam."

Ayu mengangguk cepat. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Jaka maupun Kiki, Dea dan Ayu segera berbalik melangkah pergi, meninggalkan kedua pemuda itu terpaku di pelataran toko yang makin sunyi.

Langkah kaki Dea dan Ayu perlahan menjauh, tenggelam di balik remang-remang kegelapan lorong desa. Angin malam yang makin dingin menusuk tak dihiraukan oleh Ayu, yang sejak tadi menahan rasa penasaran di dadanya.

"Dea! Kamu kenapa sih ajak aku pulang? Aku kan lagi asyik ngobrol sama Kiki!" seru Ayu sembari menyamai langkah Dea. "Lagian, kenapa kamu menolak Jaka? Jaka kan keren, ganteng... cuma ya agak tengil saja sih," lanjutnya, menatap Dea heran.

"Nah, itu kamu tahu sendiri, Yu!" sahut Dea cepat, nadanya sedikit ketus seraya membetulkan posisi tas kecilnya. "Aku tuh nggak suka sama laki-laki yang suka mempermainkan perasaan perempuan. Jaka itu buaya darat! Kalau kamu mau, ambil saja sana!"

"Ih, apa-apaan sih kamu, Dea!" potong Ayu, tiba-tiba memegang lengan Dea dengan pipi yang mendadak bersemu merah. Ia tersenyum-senyum malu, menggigit bibir bawahnya. "Aku juga... barusan ditembak sama Kiki."

Dea menghentikan langkahnya seketika, melirik Ayu dengan tatapan tak percaya, sekaligus malas melayani khayalan temannya itu.

"Ya kalau gitu, sana kamu balik lagi ke kios, aku mah nggak mau!" jawab Dea ketus, lalu kembali berjalan cepat, meninggalkan Ayu yang masih tersenyum-senyum sendirian di belakang.

Sementara itu, di pelataran kios yang sunyi, Jaka masih berdiri membeku. Wajahnya menunduk dalam-dalam, sementara kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya yang tadi hangat kini berubah dingin, penuh amarah yang berkilat-kilat di bawah remang lampu toko.

"Sialan..." geram Jaka dengan suara serak menahan malu. "Kurang apa aku? Aku udah baik, udah sopan... tapi dia malah nolak aku begitu aja di depan orang banyak!"

Kiki, teman dekat Jaka yang sejak tadi membisu, melangkah mendekat lalu menepuk bahu Jaka cukup keras. "Wah... wah! Ini sih namanya penghinaan, Jak! Masa kamu mau diam aja digituin sama Dea?" hasut Kiki, memanas-manasi sahabatnya yang saat itu tengah berada di titik terendah.

Mendengar bisikan provokasi dari Kiki, amarah Jaka yang tadi sempat terendam rasa malu seketika meluap kembali. Sorot matanya makin tajam, seolah mendapat energi baru.

"Kamu benar, Ki! Aku nggak bisa membiarkan penghinaan ini begitu saja!" jawab Jaka seraya mengetatkan rahangnya.

"Sudah, sekarang kita pulang dulu. Biar nanti aku pikirkan cara..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!