Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 (KASUS 1) DISKUSI DUA SAUDARI
Lampu jalanan di area parkir Dokpol Bhayangkara mulai menyala satu per satu, memancarkan pendaran kuning hangat di tengah pekatnya malam yang merayap turun.
Suasana di area parkir samping gedung laboratorium forensik terasa cukup lengang, hanya dihiasi deru halus angin malam yang menggoyangkan ranting-ranting pohon mahoni.
Klak!
Pintu penumpang sebelah kiri depan mobil MPV hitam milik Harumi terbuka.
dr. Haruma melangkah masuk, lalu menyandarkan punggungnya yang terasa kaku di atas kursi kulit yang empuk. Ia menarik napas panjang, meluapkan seluruh rasa lelah fisik dan mental setelah berdiri berjam-jam di dalam ruang otopsi yang dingin sejak siang tadi.
"Aduuuh... pegel banget rasanya bahu Kakak, Rumi," keluh Haruma santai sambil memijat pelan leher belakangnya sendiri.
Harumi yang duduk di kursi pengemudi terkekeh pelan. Ia menjangkau sebuah botol air mineral dingin dari cup holder tengah, lalu menyerahkannya pada sang kakak.
"Minum dulu, Kak. Hari ini Kakak beneran kerja keras banget. Dari bedah fisik biasa sampai nembus dimensi kematian," ujar Harumi dengan penuh rasa sayang.
Haruma menerima botol itu, meminumnya beberapa tegukan hingga dahaganya terobati. "Makasih ya, Dek. Tapi rasanya puas banget pas foto makro itu berhasil dicetak Bowo tadi."
Haruma memangku sebuah map tebal berwarna cokelat di atas paha. Ia membuka tali pengikat map tersebut, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto cetakan berukuran 10 x 12 inci di atas kertas glos tebal.
Foto-foto itu memperlihatkan hasil dokumentasi kamera makro dari pembedahan jaringan tengkuk belakang kepala Jonathan Nasution.
"Nih, coba kamu lihat sendiri hasil cetakannya, Rumi," kata Haruma menyerahkan lembaran foto tersebut pada adiknya.
Harumi menyalakan lampu kabin atas mobil. Cahaya kuning terang memenuhi interior kabin yang kedap suara. Jemari Harumi menerima lembaran foto cetakan itu, menatapnya dengan pandangan mata yang teramat fokus.
Di dalam foto beresolusi tinggi tersebut, tampak jelas hamparan jaringan fasia daging berwarna merah pucat yang telah disayat rapi.
Tepat di atas permukaan selaput tulang tengkorak, terukir sebuah cap luka bakar berwarna hitam pekat berbentuk garis-garis geometris yang sangat rumit. Garis busur lingkaran, sudut-sudut segitiga simetris, namun garis lingkungannya tampak terputus di sudut kanan bawah.
...........

...........
Harumi meneliti foto itu dari dekat, alisnya yang tipis berkerut halus.
"Rapi banget ya, Kak..." gumam Harumi heran. "Bentuk lukanya simetris banget. Gak kayak bekas luka bakar karena kena besi panas atau api biasa yang pinggirannya pasti meleleh acak-acakan."
"Betul, Dek," timpal Haruma mengangguk setuju. "Secara medis, ini reaksi termal yang aneh banget. Sihir itu ngebakar jaringan fasia dalam sampai menghitam kaku, tapi lapisan kulit luar sama sekali gak lecet. Makanya pas olah TKP awal, tim medis lapangan gak ngerasa ada kejanggalan di leher korban."
Harumi meletakkan lembaran foto itu di atas kemudi mobil. Pandangannya menatap kosong ke balik kaca depan, mencoba memutar kembali memori visual yang ditangkap oleh mata batinya saat berada di dalam kamar penthouse siang tadi.
"Tapi Kak Haruma..." panggil Harumi pelan, nada suaranya berubah menjadi sangat serius dan penuh kebingungan.
"Kenapa, Rumi?" tanya Haruma menoleh menatap adiknya.
"Aku masih bingung banget kalau nyoba nyocokin foto stempel ini sama apa yang aku lihat pakai mata batin pas di TKP tadi," aku Harumi jujur, menepuk pelan foto geometris di atas setir.
Haruma membetulkan posisi duduknya menghadap Harumi. "Bingungnya di bagian mana, Dek? Coba ceritakan lagi detail penglihatan mata batinmu."
Harumi menarik napas dalam-dalam, mengatur alur pikirannya.
"Pas aku berdiri di samping kasurnya Jonathan tadi di TKP, mata batinku kan ngelihat gumpalan asap hitam pekat di atas plafon. Bentuknya itu aura raksasa yang menyerupai sepasang telapak tangan dengan jari-jari panjang dan kuku membengkok tajam." jelas Harumi.
Haruma mengangguk-angguk tekun mendengarkan. "Iya, kamu bilang tangan raksasa itu posisinya menukik ke bawah, kan?"
"Betul, Kak!" seru Harumi menekankan suaranya. "Di dalam penglihatanku, sepasang telapak tangan gaib yang segede gaban itu menukik, meluk, terus nyengkeram area dada sama lehernya Jonathan dari atas. Hawa esnya kerasa tajam banget."
Harumi menjangkau foto makro itu kembali, menyodorkannya ke hadapan Haruma.
"Nah, yang bikin aku pusing setengah mati itu di sini, Kak!" kata Harumi penuh keheranan. "Kalau secara logika ghaib yang menyerang Jonathan itu wujudnya sepasang telapak tangan raksasa dengan cakar tajam... kenapa pas Kak Haruma nyayat jaringan dalam tengkuk lehernya, bentuk lukanya malah cap pola geometris lingkaran simetris begini?!"
Haruma terdiam sejenak. Ia mengambil foto itu dari tangan Harumi, menatap pola garis-garis rumit yang tercetak di atas tulang tengkorak korban.
"Iya ya...?" gumam Haruma pelan, ikut merasakan kebingungan yang sama. "Harusnya kan kalau korban dicengkeram pakai telapak tangan raksasa, bekas luka bakar di jaringan dalamnya ngebentuk pola lima jari atau lebam bekas cengkraman telapak tangan. Tapi ini malah ngebentuk ukiran geometris kayak stempel kerajaan kuno."
"Itu dia yang dari tadi muter-muter di kepala Rumi, Kak!" seru Harumi sambil memegang pelipisnya. "Enggak ada kecocokan bentuk sama sekali antara wujud serangan 'tangan raksasa' di plafon TKP, sama 'stempel geometris' di bawah kulit! Kayak dua hal yang berdiri sendiri-sendiri!"
Haruma merenungkan pertanyaan adiknya.
Sebagai dokter yang terbiasa berpikir anatomis, Haruma mencoba menyusun hipotesis (kemungkinan) baru di dalam kepalanya.
"Rumi... pas kamu lihat bayangan tangan raksasa itu di plafon, apa kamu lihat tangan itu menancapkan sesuatu ke tengkuk Jonathan?" tanya Haruma memancing.
Harumi memejamkan matanya, memanggil kembali memori batinnya. "Sebentar, Kak..."
Harumi mengingat-ingat detik-detik saat ia menengadah menatap plafon kamar penthouse. "Pas telapak tangan raksasa itu mencengkeram dada Jonathan... memang ada satu titik pusaran energi hitam yang ngumpul paling pekat di area tengkuk leher belakangnya. Titiknya kecil, tapi berdenyut kayak jarum, Kak."
Haruma menepuk pahanya pelan. "Nah! Munginkah begini, Dek..."
"Gimana, Kak?" cecar Harumi penasaran.
"Tangan raksasa yang kamu lihat itu... sebenarnya bukan 'senjata' utamanya," tebak Haruma menerangkan alur pemikirannya. "Tangan raksasa dari asap hitam itu cuma media atau manifestasi energi kuat buat 'memegang' raga dan sukma Jonathan supaya gak bisa bergerak atau berteriak."
Harumi membelalakkan matanya pelan. "Ooooh... jadi tangan raksasa itu cuma fungsi penahan atau pasung ghaibnya?!"
"Iya, bener!" angguk Haruma mantap. "Tangan raksasa itu memegang tubuh korban dari atas. Nah, pas tubuh korban terkunci gak bisa gerak, barulah sihir utamanya bekerja: menempelkan 'stempel' geometris ini di titik tengkuk sebagai saluran penyedot energi hidup!"
Harumi manggut-manggut mendengar penjelasan kakaknya. Teori itu terasa sangat masuk akal bagi indera batinnya.
Namun, rasa penasaran di kepala Harumi belum sepenuhnya tuntas.
"Oke, masuk akal kalau tangan raksasa itu cuma penahannya," kata Harumi menyetujui. "Tapi kenapa harus berbentuk pola geometris begini, Kak? Kenapa enggak pakai mantra santet biasa yang bikin pembuluh darah pecah atau jantung berhenti?"
Haruma tersenyum tipis, menatap adiknya dengan pandangan penuh kedalaman ilmu. "Karena ini bukan santet dendam pribadi lokal, Rumi. Ini adalah sihir pencuri usia milik sebuah sekte."
"Hah? Sebuah sekte?" tanya Harumi bingung.
Haruma menunjuk pada garis busur yang terputus di sudut kanan bawah foto tersebut.
"Iya, soalnya pas di dalam dimensi kelabu yang tadi Kakak masuki bareng Sekar Arum, sukma Jonathan bilang apa?" tanya Haruma. "Dia bilang, dia menolak menandatangani aliran dana 50 miliar buat 'pajak darah' proyek. Artinya, stempel geometris ini adalah simbol transaksi ghaib! Sihir ini butuh stempel resmi buat menyedot usia dan energi hidup korban, lalu mengirimkan energi itu ke pusat sekte mereka."
Harumi mengusap dagunya, matanya berkilat-kilat mulai memahami benang merahnya. "Dan stempel ini bentuknya cuma pecahan... Bukan bentuk stempel utuh, gitu maksudnya?"
"Betul!" timpal Haruma cepat. "Bentuknya terputus. Ini cuma satu dari beberapa pecahan stempel lingkaran yang utuh. Kalau cuma punya satu pecahan ini, kita belum bisa membaca utuh apa lambang sekte mereka."
Harumi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kemudinya kembali. "Gila ya, Kak... Rumit banget permainan orang-orang kaya penyembah iblis ini. Mereka ngebunuh orang pakai sistem yang rapi banget. Ada dana 50 miliar, ada stempel geometris, ada eksekutor sihirnya."
Haruma terkekeh pelan melihat adiknya yang gemas. "Tapi setidaknya, bingungnya kita malam ini berbuah manis, Dek. Kita memang belum paham utuh seluruh arti simbol gaib ini, tapi bukti fisik foto makro ini sudah lebih dari cukup buat bikin kicep pengacara Budiarto dan Kombes Polda besok pagi!"
Harumi langsung tertawa renyah, rasa tegang di wajahnya seketika mencair. "Hahaha! Iya bener banget, Kak! Besok pagi pas rapat jam 8, foto cap luka bakar geometris di dalam tengkorak ini bakal aku banting di atas meja depan mukanya Budiarto! Mau ngeles pakai alasan serangan jantung alami apa lagi dia kalau udah ada bukti ilmiah gini!"
"Jangan dibanting juga fotonya, Dek. Nanti dikira polisi gak sopan," goda Haruma tertawa.
"Biarin, Kak! Biar kapok itu pengacara borjuis!" balas Harumi tertawa puas.
Haruma merapikan kembali foto-foto cetakan makro itu, memasukkannya dengan telaten ke dalam map cokelat, lalu mengikat talinya rapat-rapat. Ia meletakkan map tebal itu di atas pangkuannya dengan aman.
"Ya udah, Rumi. Sekarang jam berapa?" tanya Haruma sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"Jam 8 malam lewat sedikit, Kak," jawab Harumi mengecek layar ponselnya.
"Kita pulang sekarang yuk," ajak Haruma lembut. "Kasian Ayah, Ibu, sama Dek Niza udah nungguin dari tadi. Ibu kan tadi bilang mau masak gulai ayam kesukaan kita."
Mendengar kata 'gulai ayam', mata Harumi seketika berbinar-binar gembira. Rasa lelah dan pusing memikirkan misteri stempel geometris seketika menguap digantikan rasa lapar.
"Asyikkk! Ayo Kak, kita pulang sekarang!" seru Harumi penuh semangat. "Pikiran pusing mikirin stempel iblis paling pas diobati pakai gulai ayam santan buatan Ibu!"
Haruma tertawa renyah melihat tingkah manja adiknya. "Dasar kamu ini, kalau udah denger makanan langsung berubah seratus delapan puluh derajat."
Harumi memutar kunci kontak MPV hitamnya. Mesin mobil menderu halus dan stabil, menyalakan lampu utama yang membelah kegelapan pekarangan markas kepolisian.
Harumi menginjak pedal gas perlahan, membawa mobil mereka bergerak mundur lalu meluncur mulus melewati gerbang Dokpol Bhayangkara.
Mobil MPV hitam itu melaju menyusuri jalan raya kota yang mulai dipenuhi kerlap-kerlip lampu jalanan, mengarah menuju ke rumah mereka di Parung, Bogor—sebuah tempat berteduh yang penuh dengan kehangatan doa, kedamaian, dan kasih sayang keluarga.
Bukti fisik pertama dari kejahatan sekte penyembah iblis telah terkunci aman di dalam map cokelat Haruma.
Dan esok pagi, pertarungan hukum yang sesungguhnya di meja rapat kepolisian siap untuk meletus hebat.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu