Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 01 AWAL
Malam di Lembah Nian tidak pernah benar-benar dingin, melainkan lembab dan berbau busuk. Bau jelaga tua yang tercampur dengan sisa-sisa lemak manusia yang terbakar tiga tahun lalu masih melekat di serat-serat pepohonan gundul.
Mu Jin merapatkan kain kumal yang membebat bahu kirinya. Di punggungnya, terikat sebilah pedang dengan sarung kayu polos tanpa ukiran. Pedang itu berat, kaku, dan tidak seimbang, sama sekali tidak cocok untuk tangan seorang prajurit. Namun, tangan Mu Jin memang bukan tangan prajurit.
Telapak tangannya kasar, berkapalan tebal di bagian dasar jari-jari akibat bertahun-tahun mencengkeram gagang kapak pembelah kayu.
Dia adalah seorang tukang kayu bakar. Seluruh hidupnya diukur dari berapa banyak tumpukan kayu jati yang bisa dia belah sebelum matahari terbenam, dan berapa keping koin tembaga yang bisa dia tukarkan untuk membeli beras kencur bagi ibunya yang sudah lumpuh.
Atau setidaknya, begitulah hidupnya sebelum malam itu.
Malam ketika langit Lembah Nian berubah menjadi merah darah. Malam ketika sekelompok orang bertopeng tembaga berkuda melintasi desa mereka, bukan untuk merampok, bukan untuk memeras harta, melainkan untuk membantai setiap bernyawa tanpa mengucap sepatah kata pun.
Mereka tidak mengambil emas. Mereka tidak menyentuh lumbung padi. Mereka hanya membunuh, memotong leher, membakar rumah, lalu pergi begitu saja seolah-olah seluruh desa hanya bentangan ilalang yang perlu ditebas.
Mu Jin selamat hanya karena dia sedang berada jauh di dalam hutan, terjebak di bawah rerumpunan bambu akibat tanah longsor. Ketika dia berhasil merangkak keluar pada subuh hari, yang tersisa dari desanya hanyalah tumpukan tulang yang menghitam dan sisa abu yang masih mengepul.
Tiga tahun telah berlalu sejak hari itu. Tiga tahun dia berjalan menelusuri batas-batas wilayah Murim, bukan sebagai seorang pendekar yang haus kehormatan, melainkan sebagai bayangan gila yang mencari jawaban. "Mengapa?" Hanya itu satu-satunya pertanyaan yang tersisa di kepalanya.
Jika desanya adalah sarang bandit, dia bisa mengerti. Jika ayahnya adalah seorang pahlawan tersembunyi yang menyimpan rahasia kitab suci, dia bisa paham. Tapi desanya hanya berisi petani miskin, penenun miskin, dan tukang kayu miskin. Mereka bahkan tidak tahu cara memegang pisau dapur dengan benar.
"Kau membuang-buang napasmu, Tukang Kayu."
Suara parau itu memecah kesunyian hutan bambu. Mu Jin berhenti melangkah. Sepatunya yang terbuat dari jerami terendam dalam lumpur hitam.
Di hadapannya, duduk seorang lelaki tua di atas batu datar. Lelaki itu tidak memiliki lengan kanan, dan mata kirinya telah membusuk hingga menyisakan rongga hitam yang mengerikan.
Pakaiannya robek-robek, dipenuhi kotoran dan darah kering. Di pinggangnya tergantung sebuah lambang logam yang retak: lambang Kedai Bayangan, jaringan informasi tergelap di wilayah Timur.
"Aku punya dua keping perak," kata Mu Jin. Suaranya serak, kering seperti gesekan dua ampelas. "Itu semua milikku bulan ini."
Lelaki tua itu tertawa, suara tawa yang menyerupai batuk berdarah. "Dua keping perak untuk membeli rahasia yang menghancurkan sekte-sekte besar? Kau gila, Mu Jin. Kau terus datang padaku setiap bulan, membawa koin tembaga hasil menjual kayu dan sedikit perak hasil mencuri dari mayat-mayat di jalanan."
"Kau janji akan memberiku nama," ujar Mu Jin. Matanya tidak berkedip. Tidak ada kilatan amarah atau tekad pahlawan di sana. Matanya kosong, seperti sumur tua yang ditinggalkan.
Lelaki tua itu meludah ke lumpur. Ludahnya bercampur darah pekat. "Nama? Kau ingin nama? Baiklah. Aku akan memberimu satu nama. Tapi ingat, begitu kau mendengarnya, kau tidak akan bisa kembali menjadi tukang kayu. Kau bahkan tidak akan bisa mati dengan tenang."
Lelaki tua itu bangkit perlahan, bersandar pada sebatang bambu yang goyah. Dia menunjuk pedang di punggung Mu Jin dengan jarinya yang tersisa.
"Pedang itu... kau mencurinya dari mayat salah satu pembantai desamu yang tewas terkena racun di rawa-rawa, bukan? Kau membawa pedang baja hitam dari Sekte Pedang Bulan Merah, tapi kau bahkan tidak tahu cara mencabutnya tanpa merusak pergelangan tanganmu sendiri. Kau hanyalah mangsa yang berjalan membawa senjata pemburu."
"Siapa mereka?" potong Mu Jin. Dia tidak peduli dengan ejekan itu. Dia tahu dia lemah. Dia tahu jika seorang murid luar sekte semenjana bertarung dengannya, Mu Jin akan mati dalam tiga hitungan. Dia tidak tahu ilmu meringankan tubuh, tidak tahu cara menyalurkan qi, dan tidak tahu jurus pedang apa pun. Yang dia tahu hanyalah bagaimana cara mengayunkan beban berat lurus ke bawah, seperti membelah kayu.
Lelaki tua itu mendekat, berbisik hingga napasnya yang berbau bangkai menerpa wajah Mu Jin.
"Orang-orang yang membantai desamu... mereka tidak disuruh oleh iblis. Mereka disuruh oleh seorang pembawa keadilan."
Mu Jin menatapnya kaku. "Apa maksudmu?"
"Pendekar Pedang Suci dari Timur, Lu Chen," bisik lelaki tua itu, diiringi seringai mengerikan.
"Pahlawan besar yang disembah oleh seluruh Murim. Pria yang membunuh Raja Iblis sepuluh tahun lalu. Dialah yang memerintahkan pembersihan desamu."
Dunia di sekitar Mu Jin seolah berhenti berputar. Rintik hujan mulai turun, membasahi bambu dan menetes di atas luka-luka lama di wajah Mu Jin.
"Mengapa?" tanya Mu Jin. Suaranya begitu pelan, nyaris tenggelam oleh suara angin. "Mengapa seorang pahlawan membantai desa tukang kayu?"
"Karena desamu dibangun di atas tanah yang tidak boleh ada," jawab lelaki tua itu. "Desamu berdiri di atas makam kitab racun terlarang. Lu Chen tidak ingin ada risiko. Dia tidak peduli apakah kalian tahu atau tidak tentang kitab itu. Baginya, keberadaan kalian saja sudah merupakan ancaman bagi kedamaian Murim.
Kalian dibantai bukan karena dosa kalian, tapi karena kalian tidak berarti."
Kata itu menghantam dada Mu Jin lebih keras daripada pukulan kapak mana pun. Seluruh keluarga, tetangga, anak-anak yang pernah tertawa bersamanya, dibakar hidup-hidup hanya karena mereka tinggal di tempat yang salah, oleh seorang pria yang dipuja seluruh dunia sebagai pahlawan.
"Sekarang kau tahu," kata lelaki tua itu sambil berbalik. "Pergilah ke gua dan gantung dirimu, Mu Jin. Kau tidak bisa membalas dendam pada matahari hanya karena dia membakar kulitmu."
Namun Mu Jin tidak bergerak. tangannya merayap naik, mencengkeram gagang pedang hitam di punggungnya.
Tangannya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena beratnya kebenaran yang baru saja menumpuk di atas pundaknya.
Di dunia Murim yang kelam ini, keadilan hanyalah milik mereka yang memegang pedang paling tajam. Dan bagi seorang tukang kayu yang tidak memiliki apa-apa, pedang kaku di punggungnya adalah satu-satunya alat yang tersisa untuk membelah takdirnya sendiri.