Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kepulangan ke Sumberwungu
Perjalanan pulang ke Al-Hikmah terasa sangat berbeda dari perjalanan pengungsian berbulan-bulan lalu. Kali ini, meski tetap waspada, langkah-langkah rombongan terasa lebih ringan, diiringi obrolan dan sesekali tawa kecil yang selama ini jarang terdengar.
Zaki berjalan di antara para santri putra, sesekali menoleh ke arah kelompok santriwati yang berjalan tidak jauh di depan, mencari sosok Nafisah yang kini bisa ia pandang tanpa harus menyembunyikan senyum yang otomatis muncul setiap kali mata mereka bertemu.
"Kang, kamu senyum-senyum lagi," canda Kang Fadil, yang kini menjadi teman seperjalanan Zaki sejak kepergian Darto ke laskar. "Kangen tembok tinggi itu, ya?"
"Kangen banyak hal," jawab Zaki, tersenyum lebih lebar.
Perjalanan yang dulu ditempuh dalam ketegangan dan ketakutan, kini terasa seperti napak tilas yang penuh kenangan. Mereka melewati punggung bukit tempat pesawat Belanda pernah terlihat, sungai tempat mereka istirahat pertama kali, dan akhirnya, setelah dua hari perjalanan, gapura bata merah bertuliskan PONDOK PESANTREN AL-HIKMAH mulai terlihat di kejauhan.
Beberapa santri tidak bisa menahan air mata haru melihat gapura itu, tempat yang selama berbulan-bulan hanya bisa mereka rindukan dalam ingatan. Zaki sendiri merasakan dadanya penuh, mengenang hari pertama ia tiba di tempat ini, mengejar ayam yang lepas bersama Darto, dan segala kejadian yang mengikutinya sejak saat itu.
Al-Hikmah menyambut mereka dengan keadaan yang, alhamdulillah, tidak terlalu buruk. Beberapa bagian bangunan tampak rusak ringan akibat ditinggalkan tanpa perawatan selama berbulan-bulan, ada genteng yang bocor, rumput liar yang tumbuh subur di halaman, dan sarang burung yang bertengger di berbagai sudut. Tapi struktur utama, termasuk masjid, asrama, dan yang paling penting bagi Zaki, tembok tinggi pemisah antara asrama putra dan putri, masih berdiri kokoh seperti sedia kala.
"Alhamdulillah," gumam Kiai Wahid, berdiri di tengah halaman dengan mata berkaca-kaca menatap sekeliling. "Rumah kita masih di sini, menunggu kita kembali."
Hari-hari pertama kepulangan diisi dengan kerja bakti besar-besaran: membersihkan bangunan, memperbaiki genteng yang bocor, membabat rumput liar, dan mengembalikan Al-Hikmah pada kondisi yang layak huni seperti sediakala. Seluruh santri, baik putra maupun putri, terlibat aktif dalam proses pemulihan itu, meski tetap dengan pembagian tugas yang menjaga batas-batas yang sudah menjadi aturan pondok.
Zaki mendapati dirinya kembali pada rutinitas yang familiar namun terasa baru: piket dapur umum, kelas nahwu bersama Ustaz Malik yang juga kembali dengan selamat, dan sesekali, pertemuan singkat dengan Nafisah di perpustakaan kecil di belakang masjid, tempat yang dulu menjadi saksi awal mula kedekatan mereka.
"Ruangan ini masih sama," kata Nafisah, tersenyum mengenang ketika mereka berdua kembali duduk di tempat biasa, dengan Ustaz Malik yang juga kembali duduk di kursinya dekat pintu, seolah waktu tidak pernah berlalu.
"Satu meter, Nak Zaki," kata Ustaz Malik, tanpa mengangkat kepala dari kitabnya, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah pudar meski dunia di luar telah berubah begitu banyak.
"Inggih, Ustaz," jawab Zaki, tersenyum mengenang kembali kebiasaan yang dulu terasa menegangkan, kini terasa seperti pelukan hangat dari masa lalu yang familiar.
Namun, di balik kehangatan kepulangan itu, ada juga kenyataan pahit yang harus dihadapi. Beberapa keluarga santri yang tinggal di sekitar Sumberwungu mengabarkan kehilangan anggota keluarga selama masa pertempuran, dan desa itu sendiri, meski selamat dari kehancuran besar, menyimpan bekas-bekas luka yang tidak mudah dihapus: rumah-rumah yang rusak, ladang yang terbengkalai, dan trauma yang masih membekas di wajah-wajah penduduk yang selamat.
Zaki, dalam salah satu perjalanannya membantu mengantar bantuan makanan ke desa, mendengar kabar yang membuatnya waspada: rumor tentang seseorang di desa yang diduga memberikan informasi kepada Belanda selama masa pendudukan, meski belum ada bukti pasti siapa pelakunya.
"Katanya, ada yang mencurigakan dari cara Pak Lurah Suryo bersikap selama masa pertempuran," bisik seorang penduduk desa kepada Zaki, suaranya penuh kehati-hatian. "Rumahnya tidak pernah disentuh, padahal rumah-rumah di sekitarnya rusak parah. Dan beberapa kali terlihat berbicara dengan orang asing yang tidak dikenal."
Kabar itu menetap di pikiran Zaki, mengingatkannya bahwa meski gencatan senjata telah tercapai dan kehidupan mulai kembali normal, ada bayang-bayang lain yang mungkin masih mengintai dari dalam, sebuah ancaman yang berbeda dari serangan terbuka, namun tidak kalah berbahayanya bagi keutuhan komunitas yang telah bersusah payah mereka jaga bersama.
Ia memutuskan untuk menyimpan kabar itu sementara waktu, menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya kepada Kiai Wahid, sambil terus mengamati dengan hati-hati, tidak ingin menuduh tanpa bukti yang jelas, namun juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kecurigaan yang mulai tumbuh di dalam dirinya.