NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Cemburu yang Tidak Diakui

Semua berawal dari kedatangan seorang pria bernama Bimo, konsultan lepas yang diminta perusahaan untuk membantu proyek kampanye pemasaran terbaru divisi Kirana. Bimo berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, berpenampilan rapi, ramah, dan sejak hari pertama sudah menunjukkan ketertarikan yang jelas pada Kirana.

"Kirana, ya? Nama yang cantik, secantik orangnya," goda Bimo di hari pertama mereka bertemu dalam rapat proyek, membuat Kirana tersenyum canggung sementara beberapa rekan kerja lain saling melirik jahil.

Kirana, yang sudah lama tidak mendapat perhatian semacam itu sejak dunia lamanya runtuh, tidak menampik bahwa perhatian Bimo membuatnya merasa sedikit senang—bukan karena tertarik secara romantis, tapi lebih karena terasa menyenangkan diperlakukan dengan hormat dan ramah, alih-alih dinilai dari nama keluarga atau masa lalunya.

Selama proyek berlangsung dua minggu berikutnya, Bimo semakin sering mencari alasan untuk berbicara dengan Kirana—menawarkan bantuan pekerjaan, mengajak diskusi santai saat jam istirahat, bahkan sesekali membawakan camilan kecil ke mejanya.

Yang tidak disadari Kirana, semua interaksi itu diperhatikan dengan seksama oleh sepasang mata dari lantai eksekutif.

Rangga, yang biasanya jarang sekali repot memperhatikan detail interaksi antar-staf, tiba-tiba menjadi jauh lebih sering turun ke lantai delapan sejak kedatangan Bimo. Ia selalu punya alasan formal—mengecek progres proyek, memastikan konsultan eksternal bekerja sesuai kontrak—namun matanya selalu lebih dulu mencari sosok Kirana sebelum memperhatikan hal lain.

"Bimo, laporan progresnya mana?" tanya Rangga suatu siang, nada suaranya lebih tajam dari biasanya, saat mendapati Bimo sedang tertawa bersama Kirana di dekat pantry, jaraknya cukup dekat hingga membuat rahang Rangga mengeras tanpa sadar.

"Oh, Pak Rangga," Bimo sedikit terkejut, buru-buru menjaga jarak dari Kirana.

"Laporannya sedang saya siapkan, Pak, mungkin sore ini bisa saya kirim."

"Saya mau lihat sekarang," Rangga berkata tegas, matanya masih melirik sekilas ke arah Kirana yang berdiri canggung di sana, sebelum kembali menatap Bimo dengan tatapan yang jauh lebih dingin dari biasanya.

Bimo mengangguk cepat, buru-buru kembali ke mejanya untuk menyiapkan laporan, meninggalkan suasana canggung di antara Rangga dan Kirana.

"Pak, tadi itu kenapa nada bicaranya galak banget sama Kak Bimo?" tanya Kirana, sedikit heran dengan reaksi berlebihan atasannya.

"Dia konsultan lepas, kontraknya berdasarkan deliverable, bukan buat ngobrol-ngobrol santai di jam kerja," jawab Rangga singkat, nadanya masih terdengar sedikit kaku.

"Kita cuma ngobrol biasa kok, Pak, nggak ada yang salah," Kirana membela diri, sedikit bingung kenapa hal sederhana itu bisa membuat atasannya bereaksi seketus itu.

"Terserah," Rangga berkata singkat, berbalik pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Kirana yang semakin bingung dengan perubahan mood mendadak itu.

Situasi semacam itu terus berulang selama proyek berlangsung. Setiap kali Bimo mendekati Kirana, entah untuk urusan pekerjaan atau sekadar obrolan santai, Rangga seolah punya radar khusus yang selalu membawanya turun ke lantai delapan tepat pada momen itu, selalu dengan alasan pekerjaan yang terdengar dipaksakan.

"Kirana, ada waktu buat saya nanti sore? Saya pengen ngajak makan malam, sekalian bahas proyeknya lebih santai," ajak Bimo suatu hari, cukup keras hingga terdengar oleh Rangga yang kebetulan lewat tidak jauh dari sana.

Kirana, yang sebenarnya masih ragu, sempat terdiam sejenak mempertimbangkan tawaran itu. Sebelum ia sempat menjawab, suara Rangga tiba-tiba menyela dari belakang.

"Kirana ada rapat evaluasi mendadak sore ini, saya yang minta," kata Rangga tegas, meski faktanya tidak ada rapat evaluasi apa pun yang direncanakan hari itu.

Kirana menoleh terkejut, menatap Rangga dengan alis terangkat bingung. "Rapat apa, Pak? Saya nggak pernah denger soal itu."

"Baru saya putuskan barusan," jawab Rangga tanpa berkedip, nadanya begitu meyakinkan hingga Kirana nyaris percaya begitu saja, meski jelas kebohongan itu terlalu mendadak untuk masuk akal.

Bimo, yang tidak berani membantah atasan tertinggi perusahaan, hanya bisa mengangguk kecewa. "Oh, baik, Pak. Mungkin lain kali saja, Kirana."

Setelah Bimo berlalu, Kirana menatap Rangga dengan tatapan menyelidik. "Pak, jujur deh, emang beneran ada rapat evaluasi sore ini?"

Rangga terdiam sejenak, tampak bingung mencari alasan, sebelum akhirnya menjawab dengan nada defensif. "Ada. Nanti jam empat, di ruang rapat lantai sepuluh. Bawa laporan progres kamu."

Kirana mengangguk, meski masih ragu dengan kejujuran jawaban itu, tapi memilih untuk tidak membantah lebih jauh karena toh ia memang tidak terlalu berminat pada ajakan makan malam Bimo—entah kenapa, ia merasa lebih penasaran dengan alasan sebenarnya di balik sikap aneh Rangga hari itu.

Sore harinya, benar saja ada rapat evaluasi mendadak di lantai sepuluh, meski isinya terasa jauh lebih singkat dan tidak terlalu substansial dibanding rapat-rapat biasanya, seolah memang sengaja dibuat hanya sebagai alasan.

Di akhir rapat, saat karyawan lain sudah keluar ruangan, Kirana sengaja tertinggal sejenak, menatap Rangga yang sedang merapikan berkas-berkasnya.

"Pak," panggil Kirana, membuat Rangga mendongak.

"Ada apa?"

"Bapak beneran nggak suka Kak Bimo deket-deket sama saya, ya?" tanya Kirana langsung, memberanikan diri, penasaran dengan jawaban yang mungkin akan keluar.

Rangga terdiam cukup lama, rahangnya sedikit mengeras, tampak seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri antara mengakui atau menyangkal. "Saya cuma nggak suka kalau ada karyawan yang nggak fokus kerja karena sibuk digodain konsultan luar," jawabnya akhirnya, nadanya terdengar dibuat-buat kaku.

"Saya tetap fokus kerja kok, Pak, meskipun Kak Bimo ngobrol sama saya," Kirana membalas, sedikit menantang, ingin melihat sejauh mana reaksi atasannya itu.

"Terserah kamu mau percaya apa," Rangga berkata singkat, mengambil berkasnya dan berjalan cepat keluar ruangan, menghindari tatapan Kirana yang masih penuh selidik.

Kirana berdiri sendirian di ruang rapat yang kosong, menatap pintu yang baru saja tertutup, seulas senyum kecil tanpa sadar muncul di wajahnya. Ia tidak yakin seratus persen, tapi firasatnya mulai semakin kuat bahwa reaksi-reaksi aneh Rangga selama ini bukan sekadar soal profesionalisme kerja semata.

Jangan-jangan Dewi benar, pikirnya, mengingat kembali candaan sahabatnya beberapa waktu lalu. Jangan-jangan Pak Rangga... cemburu?

Pikiran itu membuat pipinya memanas sendiri, dan untuk pertama kalinya, Kirana membiarkan dirinya mempertimbangkan kemungkinan itu dengan serius, meski hatinya masih dipenuhi kebingungan tentang apa yang sebenarnya ia rasakan pada atasannya yang dingin namun entah kenapa selalu berhasil membuat jantungnya berdebar aneh itu.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!