NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1- PEMBUKAAN

Indah Miranda selalu percaya bahwa pernikahan adalah tempat untuk menemukan cinta, kasih sayang, dan seseorang yang akan menjadi rumah untuk pulang. Namun, sejak hari pertama menjadi istri, ia harus menerima kenyataan pahit: hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki oleh sang suami.

Di balik senyumnya yang terpasang, Indah menyimpan luka mendalam. Ia terus berusaha keras mendapatkan sedikit saja perhatian dari pria yang ia cintai sepenuhnya. Ia menunggu sapaan hangat, perhatian kecil, dan kata-kata cinta yang tak pernah datang. Setiap hari ia bertanya dalam hati: Apakah diriku kurang sempurna, hingga aku tak mampu membuat suamiku mencintaiku?

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit saja?" tanya Indah dengan suara bergetar menahan tangis.

Namun jawaban yang ia terima justru menghancurkan sisa-sisa harapannya.

"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya milik dia, sepenuhnya."

Kalimat itu membuat dunia Indah runtuh seketika. Ia sadar bahwa selama ini ia hanya berjuang sendirian mempertahankan pernikahan yang mungkin tidak pernah memiliki tempat sedikit pun di hati suaminya.

Namun, saat Indah mulai lelah, hendak menyerah dan memilih pergi, sesuatu perlahan mulai berubah. Sang suami mulai menyadari satu hal: wanita yang selama ini ia abaikan begitu saja, adalah orang yang paling setia—selalu bertahan di sisinya saat dunia luar justru meninggalkannya.

Timbul serangkaian tanya besar:

Apakah cinta yang selama ini hilang itu masih bisa tumbuh kembali?

Apakah perhatian yang mulai diberikan suaminya benar-benar tulus, atau hanya rasa bersalah karena tiba-tiba takut kehilangan?

Di titik ini, Indah harus mengambil keputusan berat:

Tetap bertahan dan menunggu seseorang yang belum tentu mencintainya balik, atau berani belajar mencintai dirinya sendiri dan melepaskan luka yang terlalu lama ia simpan sendirian?

"Indah..." suara suaminya terdengar begitu dingin, seketika membuat langkah kaki Indah terhenti di tempat.

"Aku menikahimu bukan karena cinta," ucapnya tanpa keraguan sedikit pun. "Aku hanya menepati janji kepada ibuku. Jadi, jangan pernah berharap aku bisa mencintaimu seperti yang kamu inginkan."

Mata Indah perlahan mulai berkaca-kaca, menahan perih yang menusuk. Selama ini ia sudah berusaha sekuat tenaga menjadi istri yang baik, berharap suatu hari nanti hati pria yang ia cintai akan luluh dan berubah.

"Mas... jadi selama ini aku hanya seseorang yang harus kamu jalani semata-mata karena sebuah janji?" tanya Indah lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Pria itu hanya diam membisu, tak membantah namun juga tak membenarkan.

"Aku tidak pernah meminta banyak, Mas. Aku hanya ingin dihargai... ingin merasa bahwa aku benar-benar istrimu, bukan sekadar seseorang yang ada di sini karena kewajiban semata."

Indah menahan derasnya air mata agar tak tumpah. Hatinya hancur lebur mendengar kenyataan pahit: pernikahan yang ia anggap sebagai awal kebahagiaan, ternyata hanyalah sebuah janji yang dipaksakan untuk ditepati.

Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada satu pertanyaan yang terus menghantui dan tak pernah ia temukan jawabannya...

Jika suatu hari nanti aku pergi dan meninggalkanmu... apakah kamu akan merasa kehilangan? Atau memang aku tidak pernah berarti apa-apa bagimu, sedetik pun?

Rizky, sang suami Indah, menatapnya datar.

"Aku sudah bilang kan... aku gak cinta sama kamu," ucapnya tajam tanpa ragu. "Kita hidup masing-masing saja. Jangan berharap lebih."

"Yang aku cinta hanya Hana. Tidak ada wanita lain di hatiku. Kamu harus ngerti dan sudah faham ya, Indah."

"Kenapa... kenapa tidak ada tempatku di hatimu, Mas? Kita sudah menikah dua tahun lamanya," tanya Indah dengan suara gemetar penuh luka.

Air matanya mulai jatuh, pertanyaan pahit terucap dalam keputusasaan.

"Apakah... aku hanya sekadar mainan bagimu, Mas?"

"Kenapa kamu begitu egois?! Kalau begitu, kenapa kamu tidak menceraikan aku saja?!" suaraku pecah, air mata tak lagi ku bendung.

Rizky menatapku, tegas. "Aku tidak akan menceraikan mu."

"Untuk apa aku dipertahankan selama ini, Mas? Bahkan kamu tidak pernah mencintaiku sedikit pun!"

"Jangan terlalu serakah," potongnya dingin. "Kamu ada di posisi kamu, dan Hana ada di hatiku. Kalian berbeda."

Hati ini terasa remuk redam. "Rasanya sakit sekali harus berbagi suami dengan bayang-bayang wanita lain setiap hari. Kalau begitu, pilihlah dia. Ceraikan aku, Mas. Biarkan aku bebas."

"Kamu dan dia itu berbeda, Indah. Kamu harus mengerti."

"Jadi aku dan dia memang berbeda — kamu mencintainya, dan denganku tidak sama sekali. Lalu untuk apa kau menahan ku di sini?! Pernikahan ini hanya membuatku menderita. Ceraikan saja aku!"

"Aku tidak akan menceraikan mu, Indah. Sampai kapan pun, tidak akan. Jangan harap kamu bisa dapat cerai dariku."

Indah menatapnya dengan mata yang basah namun kini mulai berkilat tegas.

"Kamu benar-benar egois. Baiklah... kalau begitu, aku yang akan pergi dari sini. Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu. Urus saja sendiri bayang-bayang masa lalu mu itu."

"Berapa kali kau mengucapkan itu, Indah? Aku tahu betul kau sangat mencintaiku. Kau tidak akan benar-benar pergi," ucap Rizki santai, seakan yakin sepenuhnya bahwa Indah hanya akan mengancam tanpa berbuat apa-apa.

Namun kali ini, Indah tidak menoleh. Ia tidak berhenti, tidak menengok ke belakang untuk terakhir kalinya. Langkah kakinya mantap menjauh — keluar dari rumah itu, rumah yang tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang baginya. Tempat di mana ia tak pernah dihargai sebagai seorang istri.

"Dua tahun ini... menjadi seorang istri yang harus berbagi suami dengan wanita lain di hatimu. Sungguh begitu menyakitkan."

Langkah Indah terhenti sejenak di depan pintu, menatap ruangan yang seharusnya menjadi rumah baginya, namun justru terasa seperti penjara yang sunyi.

"Setiap malam aku tidur di sebelahmu, tapi rasanya aku sendirian. Setiap pagi aku menyapamu, tapi matamu selalu memandang ke tempat lain. Aku ada di sini, di depan matamu — tapi kau tak pernah benar-benar melihatku."

Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya yang remuk redam.

"Cukup sudah. Aku berhak dihargai, aku berhak dicintai sepenuhnya — bukan sebagai pelengkap di sela-sela kenangan tentang dia. Hari ini aku pergi bukan karena aku membencimu, tapi karena aku mulai mencintai diriku sendiri."

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!