Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Aruni dan Rama melangkah mendekat, memperhatikan layar komputer yang membuat si kembar begitu antusias. Melihat Rayyan dan Zayyan sedang asyik menelusuri situs edukasi anak, Rama tersenyum hangat. Ia kemudian berbalik dan mengambil sesuatu dari dalam lemari kerjanya.
Sebuah tas kotak berukuran sedang dikeluarkan dan langsung disodorkan Rama kepada Rayyan.
"Ini adalah laptop yang sama sekali belum Paman pakai dan selalu Paman taruh di dalam lemari ini. Sepertinya sudah saatnya kalian memiliki ini untuk mengenal dunia luar. Paman minta pergunakan dengan bijak, ya. Tadi Paman juga sudah memasangkan modem untuk jaringan internet di rumah kalian!" ujar Rama lembut.
Mendengar hal itu, matanya Rayyan dan Zayyan berbinar. Keduanya langsung berhambur memeluk Rama dan mencium pipinya secara bergantian.
"Terima kasih, Paman! Pokoknya Paman Rama itu paman terbaik sedunia!" seru Rayyan gembira.
"Betul! Paman yang paling the best!" sambung Zayyan tak kalah antusias.
Aruni yang menyaksikan pemandangan itu menyunggingkan senyum tipis seraya menahan haru. Hatinya tersentuh, namun di sisi lain terbersit rasa getir. Ia tahu betul kedua putranya sangat merindukan sosok figur seorang ayah. Namun, Aruni yakin sosok ayah biologis mereka tidak akan pernah mungkin hadir di kehidupan mereka. Status sosial mereka bagaikan langit dan bumi. Lagipula, Aruni berpikir Edgar pasti sudah lama melupakan kejadian malam itu. Ditambah lagi, peristiwa penculikan mencekam tujuh tahun lalu semakin meyakinkannya bahwa situasi di dalam keluarga Edgar sedang tidak baik-baik saja, ia terlalu takut jika keselamatan nyawa si kembar sampai terancam.
*
*
Sementara itu, di ruangan keluarga Mansion Ganendra yang megah, Edgar sedang duduk berhadapan dengan Tuan Fernando. Ia memperlihatkan berkas rencana pembangunan resort di kawasan pedesaan yang sejuk.
"Suasana di sana sangat asri dan udaranya sangat baik untuk memulihkan kesehatan Papah," jelas Edgar pelan.
Tuan Fernando yang duduk di kursi rodanya tersenyum lebar, matanya berbinar penuh minat. "Wah, sepertinya Papah sudah tidak sabar ingin segera pergi ke sana, Edgar... Papah pernah mendengar nama desa itu. Dulu Papah punya teman di daerah sana, tapi beliau sudah lama meninggal. Besok antarkan Papah ke sana, ya?"
Edgar menghela napas halus seraya menatap sang ayah penuh rasa hormat. "Baiklah, Pah. Tapi kalau besok sepertinya Edgar belum bisa menemani, masih ada urusan penting dengan perusahaan milik Pak Ogawa. Mungkin lusa Edgar baru bisa menyusul. Apakah Papah mau diantar oleh Pak Dani dan para pengawal terlebih dahulu?"
"Ya sudah, terserah kamu saja, Edgar. Yang penting besok Papah ingin berangkat ke sana!" sahut Tuan Fernando tak sabar.
Edgar tersenyum tipis melihat antusiasme ayahnya. "Baiklah, Pah. Kebetulan aku sudah membeli sebuah vila mewah di sana, lokasinya sangat dekat dengan proyek resort yang akan berjalan sebentar lagi. Aku juga akan menghadiri peresmian peletakan batu pertama sebagai simbol bahwa kawasan wisata milik Ganendra Group resmi dibangun."
Tuan Fernando menepuk bahu putranya penuh kebanggaan, mengagumi pencapaian Edgar yang tak pernah gagal membawa kejayaan bagi keluarga mereka.
*
*
Keesokan paginya, udara sejuk menyelimuti Desa Sukamakmur. Rama, Aruni, Laras, dan Rena memanfaatkan momen tersebut dengan berjoging santai menyusuri jalanan desa. Sementara itu, si kembar memilih tetap berada di halaman vila milik Rama untuk mengasah kemampuan bermain bola.
"Zayyan, awas saja pertandingan nanti sore kau berbuat menyebalkan seperti kemarin!" ancam Rayyan seraya menunjuk adiknya.
"Iya, Kak, tenang saja! Nanti aku bakal oper bolanya dan gak di bawa sendiri lagi," janji Zayyan seraya memamerkan cengirannya.
"Baguslah. Ayo kita latihan lagi biar bisa menang melawan grupnya si Mono. Dia itu selalu menantang aku berduel, dan sore ini tim kita harus menang!" sahut Rayyan penuh semangat. Zayyan mengangguk mantap setuju.
Menjelang sore hari, Rama dan Rena berpamitan kembali ke Jakarta. Di rumah, Rayyan dan Zayyan sudah rapi mengenakan seragam sepak bola kebanggaan mereka. Aruni yang melihat tingkah kedua putranya hanya bisa menepuk jidat.
"Kalian ini, bukannya belajar biar nanti ulangan semester nilainya bagus, malah main bola terus!" keluh Aruni sambil menggelengkan kepalanya.
"Bunda jangan banyak protes! Buktinya semester kemarin aku dan Zayyan dapat juara satu. Kami tidak usah belajar pun apa yang sudah dijelaskan guru di sekolah sudah menempel di kepala kami, Bun!" jawab Zayyan percaya diri.
Aruni hanya bisa menghela napas panjang. Ia harus mengakui kejeniusan kedua buah hatinya yang memang selalu meraih nilai sempurna di sekolah dasar.
"Kami kan ingin seperti Cristiano Ronaldo, Bun, jadi pesepak bola dunia! Dulu Ronaldo itu hidupnya sama dengan kita, dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat luar biasa... sama seperti Bunda yang luar biasa membesarkan kami!" ucap Rayyan tulus. Bocah kecil itu melangkah maju dan memeluk ibunya erat-erat, yang langsung disusul oleh Zayyan.
Air mata haru Aruni menetes pelan. Ditatapnya dua anak laki-laki yang tumbuh menjadi sosok yang begitu penyayang. Dari ambang pintu, Bik Sumi dan Larasati tersenyum haru menyaksikan kehangatan tersebut, mereka tak menyangka si kembar akan tumbuh menjadi sosok kebanggaan ibunya yang selama ini selalu hidup penuh akan penderitaan.
*
*
Peluit pertandingan akhirnya berbunyi di lapangan rumput yang berbatasan langsung dengan area vila mewah, sebuah vila bertingkat yang terkenal lama kosong. Pertandingan antara tim si kembar dan tim Mono dari kampung sebelah berlangsung sangat sengit.
Namun, di tengah jalannya permainan, Rayyan melesakkan tendangan keras ke arah gawang. Bola melambung tinggi, meleset, dan jatuh tepat di dalam pekarangan vila mewah tersebut.
Mono yang memanfaatkan situasi mendadak tersenyum culas. "Rayyan, kau harus tanggung jawab ambil bola itu! Gara-gara tendanganmu yang terlalu keras, bolanya masuk ke vila angker!"
Zayyan dan Fikri langsung memegang lengan Rayyan.
"Jangan, Kak! Nanti kamu kesambet, vila itu kan angker!" cegah Zayyan cemas.
"Sudah, tak usah takut. Ini kan masih siang, tidak ada hantu nongol siang-siang begini," sahut Rayyan berusaha tenang.
Mono menimpali sambil mengejek, "Yaelah, sudah seperti dracula saja yang munculnya pas matahari terbenam!"
Tak sudi mendengarkan ocehan Mono, Rayyan membulatkan tekad. Ia melangkah nekat menerobos pintu gerbang vila yang kebetulan sedikit terbuka dan tidak terkunci. Langkah kecilnya menginjak rumput pelataran menuju kolam air mancur, tempat di mana bola sepak mereka tersangkut.
Namun, baru beberapa langkah mendekati air mancur, langkah Rayyan terhenti mendadak.
Seorang pria tua berambut putih duduk di atas kursi roda, perlahan mendatangi posisi bola tersebut lalu memungutnya. Rayyan membeku di tempat, menelan ludahnya dengan susah payah.
‘Itu... manusia apa setan, ya? Bukankah vila ini kosong?’ batin Rayyan bergulat dengan rasa takut dan penasaran.
Rayyan pun mendadak gugup, rasa takutnya mulai bergelayut menguasai dirinya.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..
jangan sampai seperti 7tahun yg lalu..
kamu baru memulai nya jangan di buat kacau hanya karena ular pyton mu tegak..🤭🤭
genjar terus Edgar s aruni nya soalnya s Rama juga suka n kamu ada saingan nya🤣🤣🤣
s kembar emang is the best deh
kamu aja kalah sama anak mu Edgar 🤣