"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Agen Ganda
Kain yang dibawa Dayang Ratih berwarna putih bersih, terlipat rapi di atas nampan bambu.
Mori. Tanpa corak, tanpa sulaman, tanpa pinggiran Prada. Jenis kain yang hanya dipakai untuk satu keperluan di seluruh Kagendra.
Membungkus jenazah.
Dyah Ayu melihatnya dari celah anyaman bilik, ketika Ratih masih melangkah melintasi alang-alang di halaman depan. Senja sudah turun. Cahaya jingga terakhir memanjangkan bayangan dayang itu di atas rumput liar.
"Satu orang," bisik Ki Bongkok di belakangnya. "Tidak ada Prajurit Estri. Permaisuri tidak mau ada saksi kalau mayatnya ternyata belum dingin."
"Atau tidak mau ada saksi kalau Ratih harus menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai."
Dyah Ayu kembali ke ranjang.
***
Ia sudah bangun sejak fajar.
Demam itu pecah sebelum ayam berkokok, meninggalkan tubuhnya selemas kain basah yang diperas. Dadanya masih terasa seperti dikerok dari dalam. Setiap kali ia menelan, tenggorokannya perih. Tetapi kakinya bisa menopang tubuhnya, dan tangannya tidak lagi gemetar saat menggenggam gagang belati.
Ki Bongkok menyuapinya bubur nasi encer tiga kali sepanjang hari. Diam-diam, lewat lorong di bawah akar pohon asam. Sementara itu, di luar Srigading, lelaki tua itu terus memainkan perannya. Ia duduk di depan gudang pusaka dengan wajah murung, menggeleng-geleng setiap kali seorang dayang lewat dan bertanya.
Masih bernapas. Tapi sudah tidak bisa bicara. Mungkin malam ini.
Dyah Ayu sengaja membiarkan lantai bilik tidak dibersihkan. Bercak muntahan hitam dan merah masih mengering di papan jati, dan bau asamnya memenuhi udara. Lalat-lalat berdengung di sekitarnya. Pelita dimatikan. Daun pintu yang didobrak Raja dibiarkan tergeletak di halaman.
Ia berbaring di ranjang, selimut ditarik sampai ke dagu. Rambutnya yang kusut disebar di atas bantal. Bibirnya yang masih pucat sengaja dibasahi air arang yang sudah mengering, meninggalkan noda kehitaman di sudut-sudutnya.
Di bawah bantal, jemarinya menggenggam gagang naga emas.
***
Langkah Ratih berhenti di ambang pintu yang tidak lagi berdaun.
"Gusti Selir?" Suaranya lembut. Terlalu lembut. "Hamba membawakan pakaian bersih dari Gusti Permaisuri."
Tidak ada jawaban.
Dyah Ayu mendengar dayang itu menarik napas. Lalu batuk kecil, menahan bau. Langkahnya masuk, pelan dan hati-hati, menghindari bercak-bercak di lantai. Papan jati berderak di bawah kakinya.
Dari balik bulu mata yang hampir terpejam, Dyah Ayu mengamatinya.
Ratih masih muda, mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darinya. Wajahnya bulat dan manis, dengan tahi lalat kecil di dagu. Ia mengenakan kemben biru tua dari kain katun murah, bukan sutra dayang Permaisuri. Kain yang dipakai untuk menyamar. Bau kanji dan nila pewarnanya masih tajam, bercampur dengan keringat gugup.
Ia meletakkan nampan mori di atas meja. Lalu mendekat ke ranjang.
Satu langkah. Dua.
Dyah Ayu melihat tangan kanan Ratih bergerak ke lipatan setagennya. Ujung sesuatu yang tipis berkilau di sana. Jarum. Sepanjang jari tengah.
Ratih membungkuk di atas ranjang. Tangan kirinya terulur, hendak memeriksa napas di bawah hidung Dyah Ayu.
Ki Bongkok bergerak dari balik tiang di sudut bilik.
Untuk lelaki dengan punggung patah, gerakannya terlalu cepat. Satu tangannya membekap mulut Ratih dari belakang, tangan yang lain mengunci pergelangan kanan dayang itu dan memelintirnya ke punggung. Jarum itu jatuh, berdenting di papan.
Ratih meronta. Teriakannya teredam di telapak tangan yang kering dan berbau tembakau.
Dyah Ayu menyibak selimut dan bangkit.
Ia tidak terburu-buru. Ia duduk di tepi ranjang, menapakkan kaki di lantai, lalu berdiri. Lalu ia mengangkat belati naga emas dan menempelkan bilahnya tepat di bawah dagu Ratih.
Dayang itu berhenti meronta seketika.
***
Bilah itu dingin. Dyah Ayu tahu, karena ia melihat kulit Ratih meremang di sepanjang leher, dan butir-butir keringat mulai muncul di garis rambutnya. Keringat itu mengalir turun, menyentuh logam, dan terus mengalir.
"Kau tidak perlu berteriak, Ratih," ucap Dyah Ayu pelan. "Tidak ada yang akan datang. Kau tahu sendiri. Gusti Permaisuri mengirimmu sendirian, supaya tidak ada yang melihat apa yang kau lakukan di sini."
Ia menekan bilah itu sedikit lebih ke atas, memaksa dagu Ratih terangkat. Mata dayang itu membelalak putih, bergerak liar ke kiri dan kanan.
"Dan karena tidak ada yang melihatmu masuk, tidak ada pula yang akan melihatmu keluar." Dyah Ayu memiringkan kepala. "Ada sumur di halaman belakang. Ditutup dengan paku baru. Ki Bongkok bisa membukanya dalam waktu sepemakan sirih."
Gigi Ratih bergemeletuk di balik telapak tangan Ki Bongkok.
"Lepaskan mulutnya, Ki."
Ki Bongkok menurunkan tangannya perlahan. Ratih terengah, menarik napas panjang yang tersendat.
"Hamba hanya... hamba hanya disuruh..."
"Mengantar kain kafan dan memastikan aku sudah mati. Kalau belum, jarum itu masuk ke telinga. Tidak meninggalkan bekas. Semua orang akan mengira penyakit mendadak itu akhirnya menang." Dyah Ayu tersenyum tipis. "Aku tahu, Ratih. Aku hanya ingin tahu apakah kau cukup pintar untuk tidak berbohong."
Ratih menutup mulutnya. Bibirnya bergetar.
***
"Ayahmu bernama Ki Darsa," lanjut Dyah Ayu, dengan nada seolah sedang membaca daftar belanja dapur. "Pedagang kain di Pasar Pandean. Dulu tokonya punya tiga pintu. Sekarang tinggal satu lapak di emperan, di dekat penjual gerabah."
Napas Ratih berhenti.
"Dua tahun lalu, ia meminjam empat puluh keping perak dari Juragan Wangsa untuk membeli kain dari pedagang Cina di pelabuhan. Kapalnya tenggelam di Selat Madura. Kainnya tidak pernah datang." Dyah Ayu menggeser bilah belati sedikit, menyusuri garis rahang Ratih. "Kau mengirim seluruh upahmu dari keraton setiap bulan. Tapi itu hanya cukup untuk membayar bunganya."
"Bagaimana..."
"Ibumu menjahit di rumah, di ujung gang yang buntu di tepi kali. Rumah ketiga dari pohon waru. Pintunya tidak berpalang." Suara Dyah Ayu tidak berubah sedikit pun. "Adik perempuanmu, Sari. Sembilan tahun. Juragan Wangsa sudah meminta Sari untuk dijadikan pembantu di rumahnya, sebagai pengganti utang. Bulan depan, setelah panen."
Ratih mulai menangis. Tanpa suara. Air matanya bercampur keringat, mengalir di sepanjang bilah emas.
Dyah Ayu tahu semua itu dari seorang tukang cuci tua yang kakaknya tinggal di gang yang sama. Satu malam saja, lewat lorong pelayan dan tiga mulut yang berbisik. Ki Bongkok mengumpulkannya sementara Dyah Ayu masih menggigil di ranjang.
"Aku tidak akan menyentuh keluargamu, Ratih," ucapnya pelan. "Aku tidak perlu."
Ia mendekatkan wajahnya, sampai napasnya menyentuh pipi Ratih yang basah.
"Pikirkan baik-baik. Kau masuk ke sini sendirian. Kalau kau tidak keluar, Permaisuri akan mengira aku membunuhmu dan menyembunyikan mayatmu. Ia akan bertanya-tanya apa yang sempat kau katakan padaku sebelum mati." Dyah Ayu berhenti sejenak. "Dan kalau kau keluar hidup-hidup, tetapi aku juga masih hidup, Permaisuri akan bertanya-tanya kenapa jarum itu tidak pernah digunakan."
Ratih memejamkan mata rapat-rapat.
"Kau ingat apa yang terjadi pada Nyai Kenanga di pelataran candi? Ia melayani Permaisuri lebih dari dua puluh tahun. Permaisuri tidak membelanya dengan satu kata pun." Suara Dyah Ayu turun menjadi bisikan. "Menurutmu, berapa lama Nyi Ageng Rukmi akan butuh waktu untuk menemukan rumah ketiga dari pohon waru, kalau Permaisuri mulai meragukanmu?"
Kaki Ratih tidak lagi bisa menahan berat tubuhnya. Ki Bongkok menahan lengannya agar ia tidak ambruk.
***
Dyah Ayu menurunkan belatinya.
Ia melepas gelang emas tebal di pergelangan kanannya, gelang yang dipasang di tangannya pada hari ia diangkat menjadi Selir Utama. Gelang itu berat dan hangat karena suhu kulitnya. Ia meletakkannya di atas telapak tangan Ratih yang gemetar.
"Ini lebih dari empat puluh keping perak," ucapnya. "Kirimkan ke ayahmu besok pagi. Bayar utangnya. Sari tetap di rumah."
Ratih menatap gelang itu seolah benda itu bisa menggigitnya.
"Ada dua pilihan, Ratih. Kau bisa mati malam ini di Srigading, dan tidak ada yang akan menangisimu kecuali ibumu yang tidak pernah tahu ke mana anaknya hilang." Dyah Ayu meletakkan tangannya di atas tangan Ratih, menutup jemari dayang itu di sekeliling gelang. "Atau kau kembali ke paviliun Permaisuri dan mengatakan aku masih bernapas, tetapi muntah darah dan tidak akan bertahan tiga hari lagi. Lalu kau menjadi mataku di bilik itu."
"Kalau Gusti Permaisuri tahu..."
"Ia tidak akan tahu. Karena aku akan menjaga keluargamu lebih baik daripada ia menjaga Kenanga."
Lama Ratih tidak bergerak. Hanya isakan kecil yang tertahan di dadanya. Hanya lalat yang berdengung di atas bercak muntahan.
Lalu, perlahan, ia berlutut.
Lututnya membentur papan jati dengan bunyi tumpul. Ia membungkuk sampai dahinya menyentuh kaki Dyah Ayu. Gelang emas itu masih tergenggam erat di tangannya.
"Hamba, Ratih," bisiknya, suaranya pecah. "Hamba milik Gusti Selir."
Dyah Ayu meraih tangan kiri Ratih dan membalikkannya, memperlihatkan ibu jarinya. Ia menempelkan ujung belati naga emas di sana, lalu menekannya sedikit. Setetes darah merah muncul di kulit cokelat itu, bulat dan berkilau.
Ia menempelkan ibu jari yang berdarah itu ke bilah belati. Tepat di atas ukiran aksara Kawi.
Kusumawardhani.
"Darahmu sekarang tercatat atas nama seorang Ratu yang dibunuh oleh junjunganmu," ucap Dyah Ayu. "Kalau kau mengkhianatiku, ingatlah bahwa kau tidak hanya mengkhianati aku."
Di sudut bilik, Ki Bongkok menunduk dalam-dalam. Tangannya yang kering mengepal di atas lutut.
***
Ratih tidak segera berdiri.
Ia masih bersujud, napasnya tersengal-sengal. Lalu tiba-tiba ia mengangkat kepala. Wajahnya basah dan pucat, tetapi matanya kini menatap lurus ke arah Dyah Ayu. Ada ketakutan lain di sana. Ketakutan yang lebih besar dari belati.
"Gusti Selir," bisiknya. "Sebagai bukti kesetiaan hamba. Gusti harus tahu sesuatu malam ini juga."
Dyah Ayu diam.
"Gusti Permaisuri tahu Sinuwun memindahkan adik Gusti dari penjara bawah ke bilik tahanan di Balai Wiyata. Beliau murka. Beliau bilang Sinuwun mulai lunak." Ratih menelan ludah. "Tadi siang, hamba mendengar beliau berbicara dengan Rakryan Wiradipa di balik tirai."
Ia mencengkeram ujung kain Dyah Ayu dengan jemari yang gemetar.
"Besok malam, Gusti Permaisuri akan menyusupkan senjata rahasia dan surat buatan ke bilik tahanan adik Anda, Arya Sadewa, untuk mengeksekusinya mati atas tuduhan rencana pemberontakan terhadap Raja!"
Belati di tangan Dyah Ayu berhenti di udara.
"Surat itu sudah ditulis," lanjut Ratih, nyaris tak bersuara. "Dengan tulisan tangan yang meniru tulisan Gusti Selir sendiri."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..