Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Jarak Aman
Pertanyaan Andrea menggantung cukup lama di udara. Naya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap bulir-bulir air yang menetes di dinding gelas es kopinya.
“Aku tidak butuh izin yang rumit, Ndre,” ujar Naya pelan.
“Pak Arka punya kesibukannya sendiri, dan aku punya kehidupan yang harus tetap berjalan. Lagipula... kami punya batasan masing-masing.”
Andrea menghembuskan napas halus, sadar tak bisa memaksakan pertanyaannya lebih jauh.
“Ya sudah. Yang penting kamu siapkan CV malam ini. Begitu dapat job description dari HRD, langsung aku kirim via WhatsApp.”
“Siap. Makasih banyak ya, Ndre.”
Selepas berpisah dengan Andrea di depan kafe, Naya tidak langsung pulang ke apartemen. Ia meminta Pak Dudung mengantarkannya ke sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari sana. Ada satu barang penting yang harus ia beli, sebuah guling.
Peristiwa tadi pagi saat Arka memergokinya tertidur terlalu dekat, ditambah godaan pria itu yang berhasil membuat jantungnya maraton, menjadi alarm keras bagi Naya.
Ia butuh pembatas di atas tempat tidur king size itu. Guling adalah solusi paling masuk akal untuk menjaga jarak aman.
Dengan menenteng satu kantong plastik besar berisi guling empuk berwarna putih netral, Naya akhirnya tiba di apartemen Arka menjelang sore.
Pak Dudung membantunya membawakan kantong belanjaan hingga depan pintu unit sebelum pamit ke area parkir.
Naya menempelkan kartu akses, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen yang sepi.
Suasana hening menyambutnya. Arka jelas belum pulang kerja.
Naya menghela napas lega. Ia langsung berjalan menuju kamar utama, meletakkan guling baru itu tepat di tengah-tengah kasur, membelah area tidur menjadi dua bagian yang sama besar.
“Nah, begini kan aman,” gumam Naya puas, menepuk-nepuk guling tersebut.
“Tidak akan ada kejadian salah paham atau keluar batas lagi.”
Setelah meletakkan guling, Naya segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju rumah yang santai. Ia lalu membuka laptop di meja kerja kecil di sudut kamar untuk memoles kembali CV miliknya, bersiap menyambut peluang kerja dari Andrea minggu depan.
*
*
Waktu menunjukkan pukul lima sore saat Doni melangkah masuk ke ruangan kerja Arka tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Sejak pagi, ia memperhatikan bos sekaligus sahabatnya itu terlihat tidak bergairah. Tatapan mata Arka redup, beberapa kali menguap, dan lebih banyak melamun menatap layar laptop yang menampilkan dokumen kantor.
Doni menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Arka, lalu melipat kedua tangan di dada.
“Bro, lu kenapa sih hari ini? Muka udah kayak baju belum disetrika, kusut banget,” celetuk Doni terang-terangan. “Kurang tidur lu? Perasaan tadi pagi gak ada jadwal penerbangan subuh.”
Arka memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu menghembuskan napas berat. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya.
“Gak apa-apa. Cuma agak capek aja,” sahut Arka datar.
Doni menaikkan sebelah alisnya, jelas tidak percaya.
“Capek apaan? Lu seharian cuma duduk di sini, Ka. Mata lu tuh udah kayak panda. Lu... gak bisa tidur semalam? Atau ada yang bikin otak lu traveling?”
Arka mengalihkan pandangannya ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di sore hari. Bayangan Naya tidur bagai gurita pemangsa kembali berputar di kepalanya. Sialnya, hal itu sukses bikin fokusnya berantakan seharian.
“Gua cuma belum terbiasa aja,” gumam Arka pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Gak terbiasa apaan?” pancing Doni, langsung menangkap gelagat aneh sahabatnya itu.
“Sama status baru lu? Atau... sama yang tidur seranjang sama lu sekarang?”
Arka melotot kecil ke arah Doni. “Ngomong lu sembarangan.”
“Ya elah, Ka, kita kenal bukan kemarin sore. Lu tuh kelihatan banget kayak orang yang lagi kepikiran sesuatu,” Doni terkekeh pelan sambil menepuk bahu Arka.
“Udah lah, jam kantor udah kelar. Mending lu pulang, istirahat. Daripada lu di sini makin kelihatan kayak mayat hidup.”
Arka melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul lima lewat lima belas menit. Ia akhirnya merapikan berkas di mejanya dan menutup laptop.
“Gue balik duluan,” ujar Arka sambil berdiri dan mengambil jasnya.
“Sip. Salam buat bini lu ya, Ka! Jangan galak-galak, kasihan Naya!” seru Doni sambil tertawa saat Arka berjalan keluar ruangan.
Perjalanan menuju apartemen memakan waktu sekitar empat puluh menit karena kemacetan khas jam pulang kantor.
Selama di dalam mobil, Arka lebih banyak diam, memikirkan bagaimana situasi di rumah nanti.
Begitu tiba di unit apartemennya, Arka menempelkan kartu akses. Suasana dalam apartemen tampak tenang dan harum aroma pembersih lantai yang segar.
Ia melangkah menuju kamar utama dan mendorong pintunya pelan.
Di sudut kamar, Naya terlihat sedang fokus di depan laptopnya dengan kacamata bertengger di hidung. Namun, pandangan Arka tidak bertahan lama di sana. Matanya langsung tertuju pada objek baru yang berada tepat di tengah-tengah kasur king size miliknya.
Sebuah guling putih berukuran besar membujur kaku di sana, membelah tempat tidur itu menjadi dua zona terpisah.
Arka menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap guling itu lalu beralih menatap Naya dengan alis bertaut. Lalu tersenyum tipis.
Arka melangkah masuk, melepas jas hitamnya lalu menyangkutkannya santai di kapstok dekat pintu. Langkah kakinya yang mantap mendekati tempat tidur, berhenti tepat di samping sisi kasur yang kini "berbenteng".
Pria itu mencondongkan badan, menepuk-nepuk guling putih yang tampak masih sangat baru dan mengkilap tersebut dengan dua jarinya.
“Wah, hebat ya,” sindir Arka dengan nada suara beratnya yang khas.
“Sekarang tempat tidur saya sudah resmi punya garis pembatas wilayah. Pakai benteng pertahanan segala.”
Naya yang semula fokus menatap layar laptop langsung mendongak. Ia melepas kacamatanya pelan, lalu menatap Arka tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Itu bukan benteng, Pak Arka, tapi investasi keamanan,” jawab Naya tenang, menopang dagunya dengan satu tangan.
“Dengan begitu, dijamin tidak akan ada lagi 'musang kecil' yang tiba-tiba berubah jadi gurita pemangsa di tengah malam.”
Arka terkekeh pelan. Sebuah kekehan bernada dingin yang sanggup membuat tengkuk siapa pun meremang. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua lengan di dada sambil menatap Naya tajam.
“Gurita, ya?” ulang Arka pelan, mengingat kembali bagaimana seluruh kaki dan tangan perempuan itu membelitnya tadi pagi. “Setidaknya musang tahu cara menjaga jarak. Apa kamu yakin kain dakron ini cukup kuat buat menahan gurita yang lepas kendali pas lagi mimpi?”
Naya mengernyit, kepalanya miring sedikit memperhatikan ekspresi Arka. Nada bicara pria itu tenang, namun ada kilat kejengkelan yang kentara di matanya.
“Lho? Bukannya Pak Arka sendiri yang minta?” cetus Naya heran. Ia memajukan tubuhnya, menatap Arka yang masih berdiri tegak di samping tempat tidur.
“Tadi pagi Pak Arka yang protes karena saya tidur kemana-mana. Pak Arka juga yang terang-terangan bilang kalau kita butuh guling buat pembatas. Sekarang barangnya sudah ada, kok malah sewot?”
Arka sempat terdiam. Ia tidak menyangka Naya akan membalas ucapannya secara lugas. Bayangan kekesalannya tadi pagi saat menahan napas akibat jarak yang terlalu dekat, memicu keputusannya yang spontan menyuruh Naya membeli guling.
Namun melihat benda itu benar-benar membujur kaku membelah kasurnya, ada perasaan ganjil yang tak kasatmata mengusik benaknya.
Arka mendengus pelan, berusaha menguasai raut wajahnya agar tetap datar. Ia mengurai lipatan tangannya lalu melangkah mendekati meja kerja Naya.
“Saya memang minta pembatas. Tapi bukan guling sebesar ini,” ujar Arka beralasan, menunjuk benda putih tebal itu dengan dagunya. “Ini makan tempat. Kasur jadi berasa makin sempit.”
Naya melotot tak percaya. “Ini ukuran standar tempat tidur king size, Pak! Lagipula, kalau tidak tebal, ya tidak akan mempan menahan 'gurita' yang Pak Arka maksud tadi.”
“Terserah kamu,” sahut Arka singkat, enggan memperpanjang perdebatan yang membuat dirinya makin serba salah. Ia memutar badan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Yang jelas, jangan salahkan saya kalau tengah malam guling itu malah melayang ke lantai.”
Naya menatap punggung Arka yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan napas terengah gemas. Ia memegang guling putih itu, menepuknya pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
“Aneh banget. Dia yang nyuruh, dia juga yang protes,” gumam Naya jengkel pada dirinya sendiri sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak