NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus

Udara bulan September di Oxfordshire selalu membawa aroma yang sama: tanah basah, daun maple yang membusuk secara perlahan, dan aroma jelaga tua yang menempel pada dinding-dinding batu bergaya Gotik.

Aurora Vance menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang seketika membuat tenggorokannya sedikit gatal. Ia membetulkan pegangan pada gagang kopernya sebuah koper kain berwarna biru tua yang rodanya sudah agak seret dan mengeluarkan suara berderit menggeledak setiap kali melintasi batu jalanan (cobblestone).

"Empat tahun, Rory. Cuma empat tahun," bisiknya pada diri sendiri.

Di hadapannya, gerbang besi tempa menjulang tinggi, membingkai pemandangan St. Jude’s College. Bangunan itu tampak lebih mirip kastil abad pertengahan daripada sebuah tempat belajar. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya dengan pakaian yang terawat baik. Beberapa mahasiswa baru diturunkan dari mobil sedan hitam berkilat oleh sopir pribadi, sementara yang lain tertawa-tawa sambil membawa tas kain bermerek mahal.

Rory menunduk sebentar, melirik sepatu sneakers putihnya yang sudah agak memudar di bagian ujung. Ia tidak minder. Untuk apa? Sepatu ini masih utuh, fungsinya masih sama dengan sepatu seharga lima ratus poundsterling milik gadis berkulit pucat yang baru saja melewatinya. Lagipula, beasiswa penuh yang mengover biaya kuliah dan asramanya tidak didapatkan dari cara berpakaian, melainkan dari nilai ujian masuknya yang berada di peringkat teratas nasional.

Ia melangkah menuju area registrasi di pelataran tengah (Quadrangle). Suasana di sana sangat riuh. Ratusan mahasiswa baru bergerombol, memegang peta kampus dan lembaran jadwal Freshers'Week pekan orientasi yang konon di St. Jude’s terkenal sangat menguras fisik dan mental.

"Nama dan nomor registrasi?"

Suara itu tidak datang dari meja pendaftaran, melainkan dari seorang mahasiswa senior yang berdiri di dekat jalur masuk dengan papan jalan di tangannya. Lelaki itu mengenakan jas almamater berwarna biru gelap dengan pin perak bertuliskan Senior Committee di dada kirinya.

Rory mendongak. "Aurora Vance. Nomor registrasi SV-8890."

Lelaki senior itu menyapu pandangannya dari ujung kepala sampai ujung kaki Rory, lalu mencoret sesuatu di papannya tanpa tersenyum sedikit pun. "Asrama St. Margaret, lantai tiga. Jangan buang waktu berlama-lama di kamar. Pengarahan perdana dimulai tepat pukul dua siang di Hall Utama. Keterlambatan satu detik saja berarti poin pelanggaran pertama."

"Terima kasih," jawab Rory singkat. Tanpa mengulur waktu, ia menyambar kunci kamarnya dari meja panitia dan segera berjalan cepat menuju blok asrama.

Kamar asramanya kecil namun bersih. Sebuah ranjang tunggal dengan kasur yang lumayan empuk, meja belajar dari kayu ek tua yang menghadap ke jendela, dan lemari dua pintu. Di ranjang sebelah, seorang gadis rambut keriting mengembang sedang sibuk membongkar isi koper yang meluap dengan baju-baju berwarna cerah.

"Oh! Hai!" Gadis itu langsung melompat berdiri, hampir saja menabrak lampu meja. "Kamu teman kamarku? Aku Gemma! Gemma Foster. Jurusan Seni Murni."

"Aurora. Panggil saja Rory. Jurusan Sains Data dan Biokimia," jawab Rory sambil meletakkan kopernya di sisi ranjang yang kosong.

Gemma membelalakkan mata. "Biokimia? Whoa, otak encer. Beda banget sama aku yang cuma bisa melukis. Btw, kamu udah lihat para panitia di luar? Gila, ya. Mereka kelihatan kayak model majalah tapi mukanya seperti algojo. Terutama cowok yang berdiri di dekat air mancur itu siapa namanya... Julian? Julian Radcliffe!"

Rory membuka kopernya dan mulai menyusun pakaiannya yang tidak seberapa ke dalam lemari. "Aku tidak terlalu memperhatikan. Yang jelas, mereka bilang kita harus ada di Hall Utama jam dua tepat."

"Kamu dingin banget, Rory," tawa Gemma meledak. "Tapi serius, suasana di sini agak menakutkan. Katanya senior di St. Jude’s itu disiplinnya sangat keras. Kalau kita bikin masalah sedikit saja, nilai poin asrama kita bisa dipotong."

Rory hanya tersenyum tipis. "Selama kita ikuti aturannya, harusnya aman-aman saja."

Namun, perkataan Rory terbukti terlalu optimis.

Pukul 13.55, Hall Utama sudah dipadati oleh ratusan mahasiswa baru. Ruangan berarsitektur megah dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca patri itu terasa sangat dingin. Di panggung depan, lima orang mahasiswa senior berdiri sejajar dengan postur tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi.

Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tinggi tegap yang seketika menyedot perhatian seluruh ruangan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Julian Edward Radcliffe.

Pria itu mengenakan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan rompi almamater gelap. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan rambut cokelat gelapnya tertata rapi namun terkesan alami. Ada keanggunan yang sangat alami dari cara berdirinya jenis keanggunan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tumbuh di dalam istana atau rumah megah berhektar-hektar.

Namun, yang paling menonjol dari Julian adalah matanya. Tatapan hazel-nya dingin, seolah ia bisa membaca semua pikiran konyol para mahasiswa baru di hadapannya.

"Waktu menunjukkan pukul dua tepat," suara Julian menggelegar di dalam Hall. Suaranya berat, tenang, namun memiliki wibawa yang membuat seluruh bisik-bisik di ruangan itu langsung terhenti seketika. "Pintu utama telah dikunci. Bagi siapa pun yang berada di luar pintu saat ini, mereka telah gagal memenuhi standar kedisiplinan pertama St. Jude’s."

Beberapa mahasiswa baru saling berpandangan dengan cemas.

"Nama saya Julian Radcliffe, Ketua Panitia Pengawasan dan Kedisiplinan Pekan Orientasi," lanjutnya, melangkah pelan di sepanjang panggung. "Selama satu minggu ke depan, kami tidak peduli dari mana kalian berasal. Kami tidak peduli seberapa kaya orang tua kalian, atau berapa banyak gedung yang disumbangkan keluarga kalian untuk kampus ini. Di tempat ini, kalian semua sama: mahasiswa baru yang harus membuktikan bahwa kalian pantas menyandang almamater ini."

Julian berhenti melangkah. Matanya menyapu barisan depan, lalu perlahan bergeser ke arah tengah tepat di mana Rory berdiri.

Rory tidak menunduk seperti mahasiswa lain yang ketakutan. Ia menatap lurus ke panggung, memperhatikan cara senior itu membawakan dirinya. Bagi Rory, gertakan seperti ini sudah biasa. Di lingkungan tempat tinggalnya dulu, ia sudah kenyang melihat orang-orang yang berusaha mendominasi lewat nada suara.

Mata Julian menyipit sedikit ketika menyadari ada satu pasang mata yang menatapnya tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Gadis itu dengan rambut cokelat tua terikat asal dan sweater abu-abu yang agak kebesaran menatapnya dengan raut wajah yang sangat datar. Bukan tatapan menantang yang childish, melainkan tatapan yang seolah berkata: Cepat selesaikan bicaramu, aku punya hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan.

Ada jeda dua detik sebelum Julian mengalihkan pandangannya kembali ke seluruh ruangan.

"Tugas pertama kalian telah dibagikan di meja masing-masing," sambung Julian, suaranya kembali dingin. "Setiap kelompok harus menyelesaikan pemetaan perpustakaan tua dan mengumpulkan analisis struktur bangunan sebelum pukul lima sore. Jika ada satu anggota kelompok yang terlambat atau mengumpulkan analisis yang asal-asalan, seluruh kelompok akan mendapat pengurangan nilai."

Suara desah kekecewaan dan keluhan langsung merayap di antara para mahasiswa baru. Tugas itu sangat berat untuk hari pertama.

"Ada pertanyaan?" tanya Julian.

Rory mengangkat tangannya tanpa ragu.

Seluruh pandangan di Hall Utama mendadak tertuju padanya. Gemma yang berdiri di samping Rory meremas lengan jaket Rory dengan panik, berbisik, "Rory, kamu gila ya?"

Julian menatap gadis itu. "Ya. Yang di tengah. Sebutkan nama dan jurusanmu."

"Aurora Vance. Biokimia," suara Rory terdengar jernih dan berartikulasi jelas, memantul di dinding-dinding batu Hall. "Saya mau konfirmasi mengenai format analisis. Apakah laporan harus ditulis tangan sesuai format standar kampus tahun 1920 seperti yang tertera di panduan, atau diperbolehkan menggunakan format digital untuk menghemat waktu pengolahan data?"

Beberapa senior di panggung menaikkan alis mereka. Pertanyaan itu sangat teknis untuk seorang mahasiswa baru yang baru tiba dua jam lalu.

Julian menatap Rory dengan cermat. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di balik mata hazel-nya, namun wajahnya tetap tidak tersenyum.

"Panduan diciptakan bukan untuk dipertanyakan, Miss Vance," jawab Julian datar. "Tulis tangan. Tiga lembar kertas parchment. Jika kamu merasa menghemat waktu itu penting, maka latihlah jemarimu untuk menulis lebih cepat. Bukan mencari jalan pintas."

Rory tidak menunjukkan raut wajah kesal. Ia hanya mengangguk pelan. "Diterima. Terima kasih atas penjelasannya, Senior Radcliffe."

Rory kembali berdiri tegap, langsung mengeluarkan pulpen dari saku celananya dan mencatat instruksi tersebut di buku kecilnya. Sama sekali tidak ada aura tersinggung atau baper dari sikapnya.

Di atas panggung, Julian memperhatikan gerakan tangan gadis itu saat mencatat. Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, sudut bibir Julian terangkat sangat tipis hampir tak terlihat sebelum ia kembali menetralkan ekspresinya.

Gadis yang menarik, batin Julian. Dan sangat realistis.

Hari pertama baru saja dimulai, dan roda takdir di antara dua dunia yang bertolak belakang itu resmi berputar.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!