Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi guru TK dadakan
Ananta Shakira, lulusan S2 dari universitas terkenal dalam negeri melangkah pelan menyusuri koridor sekolah taman kanak kanak dengan langkah tenang.
Senyumnya tidak pernah pudar, begutu juga lambaian tangannya, membalas interaksi dengan anak didik maupun rekan rekan sejawat yang baru dia kenal.
Suasana sekolah cukup rame dan riuh oleh tawa dan rengekan anak anak usia pra sekolah itu, Ada yang super aktif berlari lari, juga ada yang sengaja mengencangkan volume suaranya.
Taman Kanak Kanak ini atau dikenal sebagai Kindergarten Permata Husada merupkan pra sekolah internasional. Ada beberapa bahasa asing yang diajarkan untuk tingkat dasar. Karena tujuannya hanya untuk mengenalkan hingga anak anak itu terlatih berkomunikasi di luar bahasa ibu.
Ada dua kategori kelas untuk anak didik di taman kanak kanak ini. Khusus usia empat sampai lima tahun yang berada di kelas nol kecil dan enam tahun di kelas nol besar.
Sudah dua minggu Ananta berdinas di sini. Ananta mengajar di kelas nol besar dan dia sangat bersyukur. Sesuai perintah orang tuanya, Ananta pun selalu mengupload semua kegiatannya bersama anak anak yang setahun lagi akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah dasar di media sosial papanya.
Resiko Ananta jadi anak tunggal yang papanya menjabat sebagai wakil ketua dewan yang haus akan pencitraan. Untuk sementara ini dia terpaksa harus melupakan cita citanya yang ingin berkarir di perusahaan papanya
Flashback tiga minggu yang lalu.
"Posisi papamu banyak yang ngincar. Jadi kamu harus bantu mendukung karir papamu, Nanta," ucap mamanya tenang.
Ananta tau, demi dukungan untuk suaminya, mamanya punya seabrek kegiatan sosial. Ananta ngga mengira kalo dia juga kena imbasnya. Dia pikir setelah lulus kuliah S2, bisa langsung bekerja sebagai direktur di perusahaan papanya. Sayangnya malah diminta mengajar anak anak usia pra sekolah.
"Aku orangnya ngga sabar, mah. Nanti orang tua mereka bisa protes kalo anaknya kucubit karena nakal," protes Ananta dengan menampilkan mimik wajah memohon agar mamanya berpikir ulang dengan rencananya.
Mamanya-Nyonya Prameswari yang berkuasa melototkan matanya.
"Kamu harus belajar sabar, Ananta. Kesabaranmu itu yang akan jadi poin tambahan simpati buat karir papa kamu nanti."
Ananta hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan lelah karena bujukan ngotot mamanya.
"Mah, papa juga baru menjabat. Nanti aja kalo udah mau pemilihan lagi baru nyari simpati." Ananta menawarkan solusi. Dia masih ngeri membayangkan akan menghadapi anak anak kecil yang pastinya akan banyak tingkah dan sulit diatur.
"Justru itu. Dari sekarang kita harus menunjukkan image keluarga yang baik dan bahagia di mata para pemilih. Jadi periode berikutnya papa bisa terpilih lagi dengan pemilik suara yang lebih banyak," tukas Prameswari dengan nada suara menggebu gebu.
"Siapa tau jalan papa jadi ketua komisi bisa tambah lancar," lanjut mamanya masih dengan penuh semangat.
Ananta menghela nafas panjang.
"Untuk apa juga papa jadi anggota dewan, mah. Kita juga udah kaya. Lagi pula rakyat di luar aja sudah ngga percaya." Ananta menyahut skeptis.
Udah aman jadi pengusaha sukses, udah kaya raya juga. Masih aja kurang. Manusia memang tidak tau bersyukur, omel Ananta dalam hati.
Mamanya malah berkacak pinggang sambil melotot menatapnya.
"Kita juga butuh kekuasaan, Ananta. Pernah dengar kalimat orang kaya kalah lawan dengan pejabat?"
Ananta sudah menyerah untuk mendebat mamanya lagi. Jadinya sekarang dia berada di sini, setelah hampir satu minggu memikirkan untuk mengajar anak anak yang ternyata kelakuannya-untungnya cukup manis, tidak sebrutal yang dia pikirkan. Lagi pula di dalam kelas, Ananta tidak sendiri. Masih ada dua guru pendamping yang membantunya. Dia bersyukur karena tidak sendirian ketika mengajar di dalam kelas.
Endflashback
Tepat jam sebelas siang saat anak anak didiknya berjalan beriringan meninggalkan kelas, mamanya tiba tiba menelpon dirinya.
Ponselnya dia jauhkan begitu suara mamanya terdengar nyaring.
"Sayaaang.... kamu ternyata yang dipilih anaknya Pak Latif Jaffar untuk dia temui nanti siang. Kamu udah selesai ngajar, kan, sekarang?"
Seruan heboh mamanya membuat Ananta tersentak.
Dia dijodohkan? Seolah ada mercon yang meledak menghancurkan gendang telinganya hingga sesaat dia merasa tuli.
"Ananta, kamu dengar mama, kan?"
Ananta masih bengong.
"ANANTA!"
Dia langsung tersentak mendengar gelegar suara mamanya.
"Malah diam aja. Ayo, kamu langsung ke butik Tante Dita. Dia sudah nunggu kamu datang." Suara mamanya kembali terdengar dengan nada yang ngga sabar.
"Ma ...," protes Ananta. Dia kaget, Sejak kapan perjodohan ini di atur?
Dadanya bergemuruh karena kesal dan mau marah.
Eh, bukannya anak tunggal Om Latif Jaffar sudah meninggal ? Kenapa dia bisa lupa, Ananta menggerutu dalam hati.
Ananta tentu saja tau berita itu. Anak konglomerat ternama itu meninggal karena kecelakaan satu bulan yang lalu.
Tapi kenapa dia masih saja dijodohkan dengan orang yang sudah meninggal.
"Ma, aku mau dinikahkan dengan pocica, ya?" sungut Ananta.
"Loh, kok, pocica." Prameswari-mamanya Ananta menyanggah kaget. Tapi ngga lama kemudian terdengar suara tawa lepasnya.
"Mama belum cerita, ya. Mama lupa. Ini anaknya Om Latif Jaffar yang lain."
Lho, bukannya anak Om Latif Jaffar cuma satu, batin Ananta bingung.
Beda dengan volume suara mamanya di awal yang meninggi, sekarang sudah menurun dan cenderung berbisik saat beliau berucap lagi.
"Anak Om Latif dengan istri sirinya."
Ananta tercengang. Info ini baru kali ini dia dengar.
"Nanti aja mama cerita. Sekarang kamu ke butik Tante Dita. Ngga enak kalo Arsen lama menunggu."
"Arsen?" Siapa lagi, batinnya pusing.
"Itu, anaknya Om Latif Jaffar. Namanya Arsen Angkasa."
"Tapi aku mau meeting sama guru guru yang lain, ma. Ngga bisa seenaknya aja, dong, pergi begitu aja," tolak Ananta cepat.
Intinya dia ngga mau dijodohkan.
"Mama yang akan ijinkan sama Tante Juli. Sekarang kamu pergi, ya. Mama mau telpon Tante Juli."
"Ma---." Protes Ananta terputus karena mamanya sudah menoffkan sambungan telpon mereka.
Ananta menghembuskan nafas kesal.
Masih kurang baktinya dengan jadi guru di tk ini, ya, gerutunya kesal dalam hati.
Memang beberapa hari yang lalu ada sentilan omongan papa dan mamanya yang akan mencarikan jodoh untuknya. Tapi Ananta sudah menolaknya. Ternyata penolakannya tidak dianggap.
Ananta menghembuskan nafas yang kali ini lebih panjang lagi.
Kali ini dia akan membantah keinginan mamanya.
Kalo jadi guru, Logika Ananta masih bisa terima. Tapi menikah? Dia maunya sekali seumur hidup. Bukan kawin sebentar terus cerai.
Ananta menyimpan ponselnya ke sakunya dan melangkahkan kakinya menuju ruang untuk meeting.
Tapi langkah kakinya terhenti ketika bertemu dengan Tante Juli yang menatapnya panik.
"Ananta, kenapa kamu ke sini?" Tante Juli berseru kaget.
"Meeting, tante."
Wajah Tante Juli nampak makin panik. Reflek dia menggandeng Ananta berjalan cepat meninggalkan ruang meeting.
"Ngga apa apa ngga ikut meeting, Nanta. Kamu mau kencan, kan ...?"
"Ngga apa apa, tante. Ngga penting juga," bantah Ananta cepat.
"Jangan begitu, Nanta. Nanti Pak Latif ngga jadi kerja sama dengan papa kamu," sergah Tante Juli makin khawatir. Sebenarnya bukan begitu. Dia lebih takut dimarahin Mama Ananta sebagai donatur tetap kindergartennya.
"Kalo perjodohan ini sukses, dana pengembangan sekolah kamu, aku tambahin tiga kali lipat." Bujukan mamanya Ananta terngiang lagi di telinganya.
Ananta terdiam.
DEG
Jantungnya berdebar keras.
Maksudnya? Ada kekecewaan menyusup dalam hati Ananta.
"Datang aja temuin anaknya Pak Latif, Nanta. Dari sekian banyak perempuan, kamu yang terpilih sayang." Wajah Tante Juli nampak bangga. Dia harus bisa meyakinkan Ananta. Terbayarng dana segar yang akan turun nanti.
Ananta tanpa sadar memijat keningnya.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?