Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Zahra 1
Zahra, kembali ke kamar. Namun, pikirannya tetap pada ingatan Bu Maryam. Wanita itu memang dikenal dengan mulut pedas, seharusnya Zahra bersyukur karena tidak diizinkan oleh Allah untuk menjadi menantu Maryam.
Walau begitu, Azmi tidak pernah menyakiti hatinya. Tutur kata pria itu selalu lembut, yang sudah membuat Zahra jatuh cinta dalam waktu singkat.
Tak heran, Abi Adam ingin menjodohkan mereka. Semua sangat indah dulu ... sebelum kehancuran melanda masa depan Zahra.
Beberapa tahun lalu, ketika Zahra sudah tidak ada keinginan untuk hidup.
Flashback on
“Astagfirullah … Zahra!” Ummi Hawa terbelalak, hendak memanggil Zahra untuk makan malam, malah dikejutkan dengan keadaan Hawa yang tergeletak dilantai.
Kondisi Zahra waktu itu sangat mengkhawatirkan. wajah pucat dan kondisi rambut yang sangat berantakan, tubuh terkulai lemah dalam keadaan tangan yang berlumuran darah, Zahra baru saja ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri. Dia pikir dengan begitu masalahnya akan selesai atau hidupnya akan berakhir.
Karena memang itulah keinginannya yang frustasi dengan keadaan sekarang. Namun, semua itu percuma yang ada hanya menyakiti orang tuanya saja. Bagaimana hati seorang ibu tidak teriris melihat putrinya menderita.
“Abi!” teriaknya memanggil sang suami sambil berlari ke arah Zahra.
Ummi Hawa, tidak bisa menyembunyikan kecemasan apalagi menahan air matanya, hati seorang ibu akan hancur jika melihat keadaan putrinya histeris apalagi ketika melihat darah pada pergelangan tangannya.
“Ummi ada apa?” Abi Adam baru saja masuk.
"Zahra, Abi ….”
“Astagfirullah!”
Abi Adam tentu syok melihat keadaan putrinya, yang langsung memangku Zahra keluar dari kamar itu. Ummi Hawa berlari di belakang mengikutinya setelah tiba di teras ia langsung menuju mobil dan membuka pintunya. Abi Adam langsung menidurkan Zahra di car seat Hawa duduk di samping Zahra untuk menemaninya. Sementara Adam duduk di bagian kemudi langsung tancap gas membawa Zahra ke rumah sakit.
Mobil mereka berhenti di depan gerbang ketika seorang pria yang merupakan penjaga rumah sekaligus pondok pesantrennya itu menghampiri. Abi Adam menurunkan sedikit jendelanya untuk bicara kepada pria itu.
“Pak Ismail, tolong jaga pondok. Saya harus ke rumah sakit membawa putri saya.”
“Kenapa dengan Ning Zahra, pak Kiyai?”
“Hanya demam,” jawab Abi Adam berbohong yang langsung menutup jendelanya. Pak Ismail langsung membuka gerbang, membiarkan mobil Adam pergi.
Tidak ada satupun yang tahu keadaan Zahra, terpaksa Adam berbohong demi kebaikan putri juga keluarganya. Beruntung keadaan pondok sudah sepi karena para santri sudah tertidur jika tidak, mungkin seisi pesantren sudah membicarakan Zahra.
Abi Adam belum siap memberikan jawaban kepada mereka, tentang Zahra yang berniat untuk bunuh diri sementara masalah yang menimpa putrinya selama dua bulan ini.
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung membawa Zahra ke IGD, Zahra pun langsung mendapat pelayanan dari tenaga medis yang berjaga, tidak sedikit dari mereka melirik Adam juga Hawa, mungkin mereka bertanya-tanya tentang pergelangan tangan Zahra.
Abi Adam tidak peduli dengan pandangan itu, atau pemikiran mereka tentang putrinya yang Abi Adam pikirkan adalah keselamatan Zahra. Dia juga harus menenangkan sang istri yang terus saja menangis.
“Keluarga Aisyah Az-Zahra,” ucap seorang Dokter. Adam dan Hawa langsung berdiri menghadap pria berjas putih itu. Kecemasan terlihat jelas di wajah mereka, menatap wajah Dokter penuh harap.
“Kami Dokter, saya ibunya dan ini suami saya ayahnya,” terang Ummi Hawa. Dokter itu manggut-manggut lantas celingukan ke arah belakang entah apa yang dia cari.
“Suaminya tidak ikut?”
“Suami siapa Dokter?" Ummi Hawa dan Abi Adam saling pandang.
Lalu Ummi Hawa kembali menatap dokter wanita setengah baya itu. "Putri saya belum menikah dia belum punya suami," jelasnya. Mereka merasa cemas, hatinya semakin gelisah ketika dokter bertanya tentang suami Zahra.
Dokter itu hanya diam seolah mengerti keadaan lalu mengajak Adam dan Hawa masuk ke ruangannya. Ummi Hawa dan Abi Adam hanya saling tatap dengan hati yang penuh tanya.
“Silakan duduk.”
Ummi Hawa dan Abi Adam mendaratkan pantatnya di depan dokter yang kini sudah siap memberikan penjelasan. Tatapan dokter itu tidak bisa diartikan.
“Begini … Ibu, Pak, saya tidak tahu masalah yang sudah menimpa anak kalian. Saya bisa melihatnya dengan kejadian saudara Zahra yang hendak menyayat pergelangan tangannya."
“Apa anak saya selamat Dokter?” tanya Abi Adam.
“Alhamdulillah, anak Ibu selamat dan masih hidup tetapi …."
"Tetapi apa Dok?" Ummi Hawa dan Abi Adam semakin dibuat bingung juga cemas. Ummi terus menggenggam tangan suaminya erat.
"Saya tidak tahu apa ini menjadi kabar bahagia untuk kalian atau sebaliknya. Tapi, saya sebagai dokter harus tetap menyampaikan."
"Putri saya nggak kenapa-napa kan Dok? Tangannya tidak cacat kan Dok?" Hanya itu yang Ummi cemaskan.
"Ummi, tenang dulu, ya. Biarkan Dokter bicara dulu," ucap Abi Adam sambil menenangkan istrinya.
Abi Adam selalu dalam keadaan tenang, berbeda dengan Ummi Hawa yang tidak pernah sabar. "Dok, ada apa dengan putri kami? Katakan saja Dok, apa pun itu insya Allah kami siap mendengarnya," ucap Abi Adam.
"Begini ya Pak, Bu, sekarang anak ibu tengah mengandung, mungkin itu alasan dia untuk bunuh diri.”
“Hamil!”
Ummi Hawa dan Abi Adam tercengang.
Dunia seakan gelap dan waktu seakan berhenti. Kabar bahagia yang mungkin di nanti setiap orang, tapi kabar bahagia itu tidak pernah diharapkan di keluarga mereka.
Bagaimana mereka bisa bahagia, sedangkan putri mereka Zahra belum menikah tapi dalam rahimnya sudah tertanam benih seseorang.
"Astaghfirullah, Abi ...."
Ummi Hawa tak dapat lagi membendung air matanya. Abi Adam berusaha untuk tenang tapi dia juga tidak bisa menahan tangisnya. Abi Adam terus memeluk sang istri yang sudah merasa sesak.
Ummi Hawa pasti bingung, apa yang harus dia katakan pada semua orang, tentang putrinya yang hamil … tidak— bagaimana mungkin seorang anak pimpinan pondok pesantren hamil di luar nikah, apa kata mereka. Mau taruh di mana wajahnya, ya Allah apa yang engkau rencanakan, kenapa harus ujian seperti ini yang engkau berikan.
Ummi Hawa memijat pelipisnya yang begitu pening, kepala tiba-tiba berdenyut. Detik demikian matanya semakin kabur, Adam langsung menangkap tubuh istrinya yang jatuh pingsan.
Dokter segera bangkit membantu Ummi Hawa untuk dipindahkan ke atas ranjang. Di ruangan yang seharusnya menjadi ketenangan malah menjadi ketegangan.
****
Suara Adzan subuh berkumandang, seluruh santri di pondok pesantren An-Nur berjalan berhamburan menuju mesjid. Mereka melangkah tanpa harus di perintah, dan seperti biasa mereka ikut berjamaah. Namun, pagi ini ada yang membuat mereka bertanya-tanya tentang keberadaan sang pimpinan pondok.
Sementara Abi Adam sendiri, hanya berjamaah dengan istri di dalam kamar rawat di rumah sakit sambil terus berharap dan berdoa untuk kesembuhan Zahra.
"Abi, kita harus gimana Bi?" tanya Ummi dengan tatapan yang begitu kosong. Abi Adam yang duduk di depannya setengah berbalik, menghadap sang istri yang memang belum siap menerima ujian ini.
"Kita berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah," jawab Abi Adam mengusap lembut tangan Hawa.
Hawa menatapnya sedih lantas bicara.
"Yakin? Dia bisa memberikan petunjuk sedangkan dia baru saja menguji kita. Abi selalu bilang jika yang terjadi dalam hidup adalah karena takdirnya, lalu apa kehamilan Zahra juga takdirnya?"
----------------
"Kadang ujian membuat mereka ragu akan Tuhannya"
TBC ...
Jangan lupa like, vote, dan komen 😘
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏