NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Lantai marmer dingin itu menembus gaun satin maroon yang kukenakan. Aku duduk di tepi tempat tidur berukuran king-size, membiarkan gaun malam ini menyapu lantai kayu dipoles kilap yang memantulkan bayangan diriku sendiri. Gaun ini indah, terbuat dari sutra terbaik dengan detail renda halus di sepanjang lengan dan dada sebuah mahakarya dari perancang busana kenamaan dunia yang dikirim langsung ke kediaman ini tadi pagi.

Namun bagiku, gaun ini tak lebih dari sekadar kain pembungkus untuk barang pajangan baru.

Aku memandangi jemariku yang polos. Tidak ada cincin emas, tidak ada permata berlian, tidak ada lambang ikatan sah yang diakui oleh hukum maupun Tuhan. Di tempat ini, aku bukan seorang istri. Aku tidak punya hak atas nama keluarga Moretti, tidak punya akses ke ruang depan saat tamu-tamu terhormat datang, dan tidak pernah diizinkan melangkah keluar dari gerbang besi setinggi empat meter tanpa pengawalan bersenjata.

Aku adalah Aurora. Dan di dunia bawah tanah yang dikuasai oleh darah dan uang ini, statusku hanya satu: selir rahasia Gabriel Moretti.

Pintu jati berukir di ujung ruangan berdecit pelan, memecah kesunyian malam. Langkah kaki yang sangat kukenal bergema santai namun penuh tekanan. Suara dentakan sepatu kulit mahal di atas marmer itu selalu berhasil memicu detak jantungku untuk berpacu lebih cepat bukan hanya karena rasa takut, melainkan reaksi tubuhku yang terbiasa bersiap menghadapi aura dominasi yang dibawanya.

Gabriel masuk.

Ia melepaskan jas hitamnya dengan gerakan tenang, menyampirkannya di sandaran kursi kulit dekat perapian yang menyala hangat. Kemeja putihnya yang terpasang sempurna kini terbuka dua kancing di bagian atas, memperlihatkan kulit kecokelatan dan bekas luka samar di dekat tulang selangkanya. Aroma tembakau mahal, wiski, dan jejak dingin malam langsung memenuhi udara kamar, menggeser wangi parfum mawar yang tadinya mendominasi.

Matanya hitam, tajam, dan dingin seperti malam tanpa bintang tertuju lurus padaku.

"Kau belum tidur, Cara mia?" suaranya berat, bergema pelan di ruangan yang luas ini.

Aku tidak langsung menjawab. Aku menatapnya saat pria itu melangkah mendekat. Setiap jengkal tubuh Gabriel memancarkan ancaman. Pria ini adalah puncak rantai makanan di kota ini, seorang don yang keputusan singkatnya bisa menghentikan napas puluhan orang dalam sekejap. Dan kini, iblis itu berada di kamarku.

"Aku menunggumu," jawabku pelan, mencoba menjaga agar suaraku tetap stabil.

Gabriel berhenti tepat di hadapanku. Tinggi badannya yang menjulang membuat bayangannya menutupi seluruh tubuhku. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar dan dipenuhi beberapa bekas luka membelai pipiku dengan lembut sebuah kelembutan yang selalu terasa ganjil jika berasal dari tangan yang sama yang biasa menarik pemicu senjata.

"Jawaban yang bagus," gumamnya, bibirnya mengukir senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Aku suka wanita yang tahu cara menyambut pemiliknya."

Kata pemilik itu menyengat hatiku seperti sembilu, namun aku menyembunyikan rasa sakit itu di balik tatapan mataku yang datar.

Dua bulan lalu, kehidupanku sangat berbeda. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya kota, bekerja dari pagi hingga malam untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sampai hari di mana ayahku seorang pria yang kecanduan judi dan tak pernah menganggapku ada membuat kesalahan fatal. Ia meminjam uang dalam jumlah fantastis kepada syndicate Moretti dan gagal membayarnya saat jatuh tempo.

Malam itu, pria-pria berbadan tegap membobol rumah kami, menyeret ayahku yang berlutut menangis memohon ampun. Gabriel hadir di sana, berdiri megah di tengah debu dan kemiskinan rumah kami, mengamati situasi seperti seorang raja yang sedang meninjau tanah jajahan. Ketika moncong pistolnya sudah menempel di dahi ayahku, aku berlari dan menempatkan diriku di antara mereka. Aku tidak membela ayahku karena aku menyayanginya, melainkan karena aku tahu darah di tangan pria itu akan menghancurkan apa pun yang tersisa dari hidupku.

Aku menatap mata Gabriel malam itu tanpa berkedip, memohon agar nyawa ayahku diampuni dengan imbalan apa pun yang bisa kuberikan. Dan Gabriel, untuk alasan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, menyetujuinya. Ia membeli utang itu, membayar nyawa ayahku, dan mengklaim diriku sebagai imbalannya. Ayahku dibiarkan pergi melarikan diri entah ke mana, sementara aku diboyong ke puri megah ini dipenjara dalam kemewahan yang dingin.

"Apa yang kau pikirkan?" suara Gabriel memecah lamunanku. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku dengan tekanan lembut.

"Tidak ada," bohongku. "Hanya lelah."

Gabriel terkehdap pelan. Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku hingga aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya yang beraroma alkohol tipis.

"Kau selalu menjadi pembohong yang buruk, Aurora. Matamu selalu mengatakan hal yang berbeda dari bibirmu," bisiknya. tangannya berpindah ke belakang leherku, menarikku mendekat hingga jarak di antara kami terkikis habis. "Kau memikirkan kebebasanmu lagi?"

Jantungku berdegup kencang. Ia selalu tahu.

"Apakah salah jika aku merindukan hidupku yang dulu?" tanyaku bersuara pelan, mencoba memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya.

Mata Gabriel memicing seketika. Suasana di dalam kamar mendadak berubah menjadi tegang. Kelembutan pada jarinya menghilang, berganti dengan pegangan yang menguat di tengkukku, menahan posisiku agar tidak bisa menghindar.

"Hidupmu yang dulu sudah mati di hari ayahmu menjualmu padaku," ucapnya dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Di sini, kau memiliki segalanya. Gaun terbaik, perhiasan termahal, perlindungan dari semua musuhku. Kau adalah selir favoritku, Aurora. Tidak ada wanita lain yang diizinkan melangkah ke lantai ini, apalagi tidur di ranjangku."

"Tapi aku tidak punya kebebasan, Gabriel! Aku tidak punya hak atas diriku sendiri!" seruku, sebuah luapan emosi yang selama ini kupendam akhirnya pecah juga.

Aku tahu ini berbahaya. Berteriak di depan seorang bos mafia adalah tindakan bunuh diri. Namun, dinding-dinding emas ini mulai membuatku sesak napas. Aku lelah menjadi burung dalam sangkar yang hanya dikeluarkan saat pemiliknya ingin melihat keindahannya.

Gabriel tidak marah. Ia justru menatapku dengan binar ketertarikan yang membakar. Perlawananku seolah-olah menjadi hiburan baginya, sebuah permainan tarik-ulur yang makin menyulut obsesinya.

Ia menarikku berdiri secara mendadak. Gaun maroonku mengembang anggun saat tubuhku terdorong rapat ke dada bidangnya. Satu tangannya melingkar kuat di pinggangku, mengunci tubuhku tanpa celah, sementara tangan lainnya mencengkeram rahangku, memaksa wajahku mendongak.

"Kebebasan adalah ilusi bagi orang-orang lemah, Cara mia," bisiknya tepat di depan bibirku. Suaranya terdengar amat dominan, mengintimidasi sekaligus memabukkan secara bersamaan. "Dan kau tidak lagi berada di dunia orang lemah. Kau milikku. Darahmu, napasmu, hatimu... semuanya milik Gabriel Moretti."

"Kau bisa memiliki tubuhku karena utang itu," balasku dengan napas terengah, mencoba bertahan dari pesona dan intriknya yang menyiksa, "tapi kau tidak akan pernah bisa memiliki hatiku."

Senyum tipis yang bahaya kembali terbit di wajah tampannya. Gabriel mendekatkan wajahnya, menempelkan dahi kami bersamaan.

"Kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan hatimu itu," gumamnya pelan, sebuah janji bersirat yang terdengar seperti ancaman. "Aku punya seluruh waktu di dunia untuk menghancurkan pertahananmu, Aurora. Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan."

Bibirnya kemudian menyapu bibirku dalam sebuah ciuman yang menuntut, penuh dengan dominasi yang menandai kepemilikan. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah klaim kekuasaan yang tegas dari seorang raja kepada tawanan favoritnya.

Aku memejamkan mata, merasakan keputusasaan dan getaran aneh yang menjalar di tubuhku. Di dalam sangkar emas bernuansa maroon ini, aku tahu perang emosi antara diriku dan Gabriel baru saja dimulai. Aku harus terus bertahan, karena jika aku menyerah dan membiarkan diriku jatuh cinta padanya, aku akan benar-benar kehilangan diriku selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!