Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Matahari sore baru saja bergeser ke barat, memantulkan bias cahaya jingga yang hangat di atas genting-genting rumah warga Desa Kertajaya. Angin sepoi-sepoi berembus pelan, membawa aroma sate ayam dari warung keliling di ujung gang yang berpadu dengan suara anak-anak kecil berlarian sambil tertawa riang.
Di dalam kamar nomor empat, suasana yang biasanya dipenuhi candaan santai sore itu mendadak terasa sedikit berbeda. Di atas meja kecil tempat biasa mereka meletakkan mi instan dan pulpen, kini terbentang selembar uang kertas berwarna merah terang dengan angka nominal dua ratus ribu rupiah.
Raka berdiri terpaku menatap lembaran uang tersebut, sementara Dimas menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan heran. Bayu, yang baru saja masuk sambil membawa kantong plastik berisi air mineral gelas, langsung terhuyung kaget hampir menjatuhkan bawaannya begitu melihat warna merah menyala di atas meja.
"Eh? Tunggu dulu... Ini uang dua ratus ribu rupiah asli atau mainan monopoli?" tanya Bayu dengan mata membelalak lebar, langsung mendekati meja dan membungkuk untuk mengamati lembaran uang itu lebih dekat. "Sejak kapan kelompok usaha Pemuda Mandiri Kertajaya kita punya investor asing?!"
Dimas melipat tangannya di dada, melirik Raka dengan tatapan serius. "Raka, dari mana asal uang sebanyak ini? Kemarin kita baru dapat sepuluh ribu dari Pak Haji Dahlan, siang tadi sepuluh ribu dari ibu dekat balai desa. Tiba-tiba di meja kamar ada dua ratus ribu cash. Jangan bilang lu nemu dompet pejabat desa yang jatuh di jalan?"
Raka menggelengkan kelapanya pelan, mengusap tengkuknya dengan ekspresi bingung bercampur dilema. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab, "Bukan nemu dompet orang. Tadi sore, waktu gue mau ngembaliin cangkul ke pos ronda, gue ketemu Pak RT di jalan."
Di sudut ruangan dekat jendela, Mira duduk menyilangkan kaki dengan anggun di atas kursi kayu. Perempuan bergaun ungu itu melipat tangan di dada, mengamati ekspresi Raka dengan sorot mata tajam namun menyembunyikan rasa ingin tahu yang besar.
"Lalu, lelaki tua berkumis lebat itu tiba-tiba melempar uang kertas merah itu ke wajahmu?" celetuk Mira iseng, mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan begitu, Mira," potong Raka cepat, menoleh ke arah sang putri jin. Raka kemudian menatap ketiga temannya bergantian. "Tadi sore, Pak RT nyamperin gue karena dia tahu kita sekarang lagi buka jasa bersih-bersih dari kartu nama yang kita sebar kemarin. Dia nawarin pekerjaan borongan buat membereskan gudang lama di belakang balai desa."
Bayu langsung berbinar-binar antusias, menepuk meja dengan keras. "Wah! Terus kenapa muka lu kusut begitu, Ka?! Itu kan rezeki nomplok! Borongan gudang balai desa berarti bayarannya pasti gede, dong!"
"Masalahnya bukan di borongannya, Bay," keluh Raka, mengempaskan tubuhnya ke tepi kasur dengan lesu. "Syarat dari Pak RT... pekerjaan itu harus diselesaikan malam ini juga sebelum acara rapat pleno warga besok pagi. Dan gudangnya... gudang itu sudah bertahun-tahun tidak pernah dibuka. Isinya penuh perabot rusak, kardus arsip lama, dan debu tebal."
Mendengar penjelasan itu, suasana kamar mendadak hening sejenak. Bayu yang tadinya girang langsung menelan ludah kasar, perlahan mundur selangkah dari meja.
"Gudang arsip lama? Maksud lu... gudang peninggalan zaman dulu yang jarang dijamah orang?"
"Iya, tepat di belakang aula utama balai desa," jawab Raka pelan.
Dimas menghela napas panjang, merenung sejenak. "Pantesan bayarannya dua ratus ribu kontan di depan. Pekerjaannya mendadak, malam pula."
Mira, yang sedari tadi mendengarkan percakapan tersebut dengan saksama, tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ia melangkah mendekati meja kecil, menunduk menatap lembaran uang merah dua ratus ribu rupiah itu dengan senyum tipis.
"Manusia-manusia pencari kerja," gumam Mira ringan, melirik Bayu dan Dimas bergantian. "Hanya karena sebuah bangunan tua yang penuh debu dan perabot rusak, kalian sudah ragu seperti ini? Di istanaku, para pelayan biasa membersihkan aula penyimpanan pusaka dalam waktu singkat tanpa banyak mengeluh."
Bayu mendengus pelan, menatap udara kosong di dekat Mira meskipun ia tahu sang putri jin sedang berdiri di sana. "Enak banget ngomong ya, Ratu Gaib. Yang mau masuk ke dalam gudang bau apak itu kan bukan Mbak Mira yang wujudnya transparan, tapi kita bertiga yang punya paru-paru buat nyedot debu!"
"Aku tidak tahu ada apa di sana," kata Mira jujur, mengangkat dagunya dengan gaya anggun yang khas. "Tapi kalau kalian benar-benar mau masuk, jangan bertindak sembarangan di tempat yang sudah lama ditinggalkan manusia."
Raka menatap lembaran uang dua ratus ribu rupiah di atas meja, lalu beralih menatap Mira, Bayu, dan Dimas secara bergantian.
Dompet mereka benar-benar tipis, dan uang itu cukup untuk bertahan hidup selama berminggu-minggu ke depan.
Raka mengambil uang itu, menggenggamnya erat, lalu mengembuskan napas.
"Kita ambil," ucap Raka mantap.
Bayu langsung menoleh kaget. "Lu serius, Ka?"
Raka mengangguk. "Dua ratus ribu terlalu besar buat kita tolak."
Mira tersenyum tipis. "Nah. Akhirnya kalian mulai punya keberanian."
Raka menatapnya lurus. "Bukan berani. Bokek."