NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 1

Aroma cat baru bercampur debu tipis langsung menyambut Siska begitu dia melangkah masuk melewati pintu depan. Rumah berlantai dua di pinggiran kota itu terasa sepi, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang biasa dia dengar di dekat kampusnya. Jendela-jendela besarnya yang bergaya kolonial membiarkan cahaya matahari sore masuk, membentuk garis-garis panjang di atas lantai semen yang masih bersih.

​Siska meletakkan kardus berisi buku-buku kuliahnya di atas lantai ruang tamu. Dia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu mengembuskan napas panjang.

​"Siska! Kardus yang di luar tolong sekalian dibawa masuk, ya!" terdengar teriakan Ferdi, kakaknya, dari arah dapur. Suaranya bergema karena rumah itu masih minim perabotan.

​"Iya, Mas! Sebentar!" sahut Siska.

​Siska keluar lagi ke halaman depan. Di sana, sebuah mobil bak terbuka sewaan terparkir dengan sisa beberapa barang yang belum diturunkan. Rumah baru ini memang tidak terlalu besar, tetapi memiliki halaman yang cukup luas dan dikelilingi oleh pepohonan rindang. Harganya sangat murah—bahkan jauh di bawah harga pasar untuk ukuran rumah dua lantai di pinggiran kota. Ferdi langsung mengambil kesempatan itu tanpa berpikir dua kali. Sebagai kepala keluarga muda yang uang tabungannya hampir terkuras habis untuk biaya persalinan istrinya nanti, rumah ini seperti sebuah mukjizat.

​Saat Siska sedang mengangkat satu kardus lagi, dia menyadari sesuatu. Di seberang pagar pembatas halaman, di teras sebuah rumah yang tak kalah tua, seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi rotan. Pria itu memakai kaos oblong putih yang sudah agak menguning dan sarung kotak-kotak. Tangannya memegang sebatang rokok yang asapnya mengepul lambat.

​Siska tersenyum sopan dan menganggukkan kepala sebagai tanda menyapa tetangga baru. Namun, pria yang kemudian mereka ketahui bernama Pak Cahyo itu tidak membalas senyumannya. Pak Cahyo hanya menatap Siska dengan pandangan yang datar, dingin, dan seolah sedang memperhatikan sesuatu yang salah. Tatapan itu membuat Siska merasa agak risi, sehingga dia bergegas kembali masuk ke dalam rumah.

​Di dalam kamar utama yang terletak di lantai bawah, Selfi sedang duduk di tepi ranjang. Kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Perutnya yang buncit besar membuat pergerakannya menjadi sangat terbatas. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya memancarkan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.

​"Capek ya, Mbak?" tanya Siska sambil meletakkan kardus di sudut kamar.

​Selfi menoleh lalu tersenyum manis. "Sedikit, Sis. Tapi rasanya lega banget akhirnya kita bisa pindah sebelum bayinya lahir. Kasihan kalau harus tetap di kontrakan lama yang sempit itu. Di sini udaranya masih segar, bagus buat anak Mbak nanti." Selfi mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.

​Ferdi masuk ke kamar membawa dua botol air mineral dingin, memberikan salah satunya kepada istrinya dan satu lagi kepada adiknya. "Maaf ya, bikin kalian repot. Harusnya Mas sewa kuli angkut, tapi ya... tahu sendiri, uangnya harus dihemat buat persalinan minggu depan."

​"Ah, Mas Ferdi kayak sama siapa aja. Siska kan malah senang bisa tinggal di sini, jadi lebih dekat kalau mau ke kampus," jawab Siska sambil meneguk air minumnya.

​"Ya sudah, kamu istirahat dulu di kamar atas, Sis. Biar Mas yang beresin sisa barang di depan," kata Ferdi sambil mengecup kening istrinya sebelum kembali ke ruang tengah.

​Setelah Ferdi dan Siska keluar dari kamar, Selfi memutuskan untuk mulai merapikan pakaian-pakaian bayi yang sudah dia cuci jauh-jauh hari. Di sudut kamar utama itu, terdapat sebuah perabotan yang menarik perhatiannya sejak pertama kali mereka datang melihat rumah ini. Sebuah lemari rias kuno berbahan kayu jati tebal dengan cermin besar berbentuk oval yang permukaannya sudah agak buram di beberapa bagian.

​Lemari rias itu sengaja ditinggalkan oleh pemilik rumah sebelumnya karena terlalu berat untuk dipindahkan. Ferdi sempat ingin membuangnya, tetapi Selfi melarang karena merasa ukiran bunga di pinggiran lemari itu sangat indah dan tampak antik.

​Selfi bangkit berdiri dengan perlahan, memegangi pinggangnya yang terasa pegal. Dia berjalan mendekati lemari rias tersebut, membawa selembar kain lap basah untuk membersihkan debu-debu yang menempel di sela-sela ukirannya.

​"Kayu sebagus ini kok ditinggalkan begitu saja," gumam Selfi sendirian.

​Dia mulai mengelap bagian atas meja rias, lalu beralih ke laci-laci kecil di bagian bawah cermin. Ada tiga laci di sana. Laci pertama kosong. Laci kedua hanya berisi beberapa peniti berkarat. Ketika Selfi menarik laci ketiga yang berada di posisi paling bawah, laci itu terasa macet.

​Selfi mencoba menariknya lagi dengan sedikit tekanan. Krek. Laci itu terbuka, tetapi tidak sepenuhnya. Rupanya ada sesuatu yang mengganjal di bagian belakang laci. Penasaran, Selfi memasukkan tangan kanannya ke dalam celah laci yang sempit, meraba-raba bagian dalam yang gelap dan berdebu.

​Jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah kotak kecil.

​Dengan hati-hati, Selfi menarik kotak itu keluar. Kotak itu terbuat dari beludru merah yang sudah sangat kusam, hampir kehitaman karena usia dan debu. Jantung Selfi tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Dia meniup debu di atas kotak itu, menciptakan kepulan abu-abu kecil di udara, lalu membuka tutupnya.

​Mata Selfi seketika membelalak.

​Di dalam kotak itu terletak sebuah cincin permata yang sangat indah. Logam cincinnya berwarna emas tua dengan ukiran sulur-sulur halus yang tampak sangat rumit. Di bagian tengahnya, terdapat sebuah batu permata berwarna merah tua keunguan yang berkilau jernih, seolah-olah menangkap seluruh sisa cahaya matahari sore di kamar itu. Permata itu begitu memikat, hingga Selfi tidak bisa mengalihkan pandangannya selama beberapa detik.

​"Indah banget..." bisik Selfi seakan terhipnotis.

​Tanpa sadar, seperti digerakkan oleh bisikan gaib yang tidak terdengar, Selfi mengambil cincin itu dari kotaknya. Dia menatap jari manis tangan kanannya yang agak membengkak karena efek kehamilan. Logikanya mengatakan bahwa cincin sekecil itu tidak akan muat di jarinya saat ini. Namun, rasa penasaran yang besar mengalahkannya.

​Selfi mendorong cincin itu masuk ke jari manisnya.

​Anehnya, cincin itu meluncur dengan sangat mudah, seolah-olah ukuran logamnya menyesuaikan diri dengan bentuk jarinya. Cincin itu melekat sempurna, memberikan sensasi dingin yang menyengat kulitnya untuk sesaat, sebelum rasa dingin itu berubah menjadi kehangatan yang menjalar ke seluruh lengannya.

​Selfi tersenyum, mengagumi jarinya yang kini dihiasi cincin mewah tersebut di depan cermin kuno. Kilau batu merah itu tampak serasi dengan kulitnya.

​Namun, ketika Selfi mencoba menarik kembali cincin itu untuk menyimpannya, cincin itu tidak bergeser sedikit pun. Kulit jarinya mendadak terasa seperti terkunci oleh logam emas tua tersebut. Selfi mencoba menariknya lebih keras, menggunakan air liur untuk melicinkannya, tetapi gagal. Cincin itu seperti telah menyatu dan mencengkeram erat tulangnya.

​"Aneh... kok nggak bisa lepas?" gumam Selfi, mulai merasa sedikit panik.

​Tepat pada saat itu, angin kencang berembus dari luar, membuat jendela kamar yang terbuka menutup dengan keras. BRAKK!

​Selfi terlonjak kaget. Jantungnya berdebar kencang. Di dalam keheningan kamar yang mendadak terasa sangat dingin, Selfi sayup-sayup mendengar sebuah suara dari arah atas plafon kamar. Suara itu sangat pelan, namun terdengar jelas di telinganya.

​Srek... srek... srek...

​Suara itu terdengar seperti sesuatu yang berat sedang diseret di atas langit-langit kayu. Selfi mendongak, menatap plafon kamarnya dengan perasaan was-was. "Suara apa itu? Tikus kah?"

​"Mbak Selfi! Makanan datang! Mas Ferdi beli nasi padang nih!" teriakan Siska dari ruang tengah membuyarkan lamunan Selfi.

​Selfi menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia menurunkan lengan bajunya yang panjang untuk menutupi cincin di jarinya, memutuskan untuk tidak menceritakan hal ini dulu kepada Ferdi agar suaminya tidak cemas. Dengan langkah pelan, Selfi berjalan keluar kamar untuk bergabung dengan suami dan adik iparnya, tanpa menyadari bahwa di atas plafon kamarnya, sepasang mata tersembunyi baru saja selesai mengawasinya.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!