NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Chisen segera membantu Kenji berdiri. Napas Kenji tersengal, namun dia menatap Chisen dengan mata yang penuh rasa haru. Tak menyangka temannya masih memilih menolongnya di saat seperti ini.

Tanpa banyak bicara, Chisen melemparkan batu ke arah Makhluk Kutukan. Serangan kecil itu hanya menjadi pengalih sesaat. Makhluk itu melompat cepat, tubuhnya melesat hendak menerkam mereka berdua.

“Kenji!” teriak Chisen.

Namun Kenji berhasil menangkis serangan itu dengan katana di tangannya. Dentingan keras menggema di udara.

“Dasar bocah sialan..” geram Makhluk Kutukan.

Dalam sekejap, makhluk itu menyerang Kenji dengan brutal. Tebasan demi tebasan dilancarkan tanpa ampun. Kenji mencoba membalas, tetapi perbedaan kekuatan terlalu jauh. Tubuhnya terhempas, lalu diterkam dengan ganas.

Jeritan Kenji menggema di antara pepohonan, sebelum semuanya berubah menjadi pemandangan mengerikan. Makhluk itu mencabik-cabik tubuhnya tanpa belas kasihan.

Chisen hanya bisa membeku. Matanya membelalak, bibirnya bergetar, sementara tubuhnya tak mampu bergerak sedikit pun menyaksikan sahabatnya dihabisi tepat di depan mata.

Ketika Kenji tak lagi berdaya, Makhluk Kutukan itu menyerap energinya. Perlahan, warna rambut dan matanya berubah menjadi putih pucat.

Dengan napas berat, makhluk itu menoleh ke arah Chisen.

“Kasihan sekali… sekarang giliranmu!!”

Seketika Chisen tersentak dan berbalik melarikan diri tanpa menoleh lagi. Daun-daun hutan berderak di bawah langkahnya yang panik. Namun malapetaka tak berpihak padanya. Kakinya tersandung batang kayu, dan tubuhnya terjatuh keras ke tanah.

Makhluk Kutukan itu semakin dekat.

Jantung Chisen berdentum kencang, napasnya tersengal. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, dia memohon “Kumohon.. ampuni aku.. jangan bunuh aku..”

Makhluk itu melompat tinggi, menerkamnya dari udara.

Di saat genting itu, Chisen secara refleks mengeluarkan jimat peninggalan kakeknya. Cahaya terang tiba-tiba memancar, menyilaukan mata makhluk itu hingga ia berteriak kesakitan dan melepaskan cengkeramannya.

Kesempatan itu tak disia-siakan. Chisen bangkit dan kembali berlari.

“Dasar bocah nakal…” geram Makhluk Kutukan itu, kini kembali mengejarnya.

Chisen menoleh sekilas. Makhluk itu masih di belakangnya, tak memberi sedikit pun ruang untuk bernapas. Dia memaksa dirinya berlari lebih cepat, menembus kegelapan hutan yang mulai menipis.

Kazura memandang kerumunan warga yang bergerak menuju arah hutan. Tanpa ragu, dia menodongkan pisau ke arah nenek itu, lalu memaksanya keluar dari rumah. Suaranya dingin ketika dia menyuruh sang nenek mengikuti rombongan warga yang sedang berjalan. Tak ada pilihan lain. Dengan tubuh yang gemetar, nenek itu hanya bisa menurut, melangkah pelan di bawah tekanan Kazura, tanpa mampu melakukan perlawanan sedikit pun.

Di sisi lain, beberapa warga telah tiba di kediaman Kepala Daerah. Tanpa basa-basi, mereka segera melaporkan bahwa dua remaja telah memasuki hutan untuk mencari Makhluk Kutukan. Tak hanya itu, para warga juga bersiap menyusul ke sana untuk mencari keduanya.

Mendengar hal itu, Master Seijun langsung berubah cemas.

“Ini sangat berbahaya.. kita harus segera ke sana,” ucapnya tegas.

“Baik, Master,” jawab Haru sigap.

Master Seijun menoleh cepat. “Tolong himbau para warga untuk kembali ke rumah masing-masing!”

“Baik,” jawab Kepala Daerah tanpa ragu.

Tanpa menunggu lebih lama, mereka segera bergegas menuju hutan.

Sementara itu, di dekat batas pemukiman, Chisen akhirnya melihat cahaya kehidupan di kejauhan. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, dia berteriak meminta tolong.

“Tolooong!!”

Suara itu terdengar oleh para warga. Dalam sekejap, beberapa orang berlari menghampirinya.

Akhirnya, Chisen berhasil keluar dari hutan. Tubuhnya lemas, napasnya terputus-putus, sementara para warga segera mengerumuninya dengan cemas.

Ayah Kenji melangkah maju lebih dulu. Wajahnya tegang, matanya mencari jawaban.

“Di mana Kenji? apa dia bersamamu juga?”

Chisen terdiam. Bibirnya bergetar, matanya menunduk, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.

“Kenji..” suaranya pecah. “Kenji sudah mati.. dihabisi makhluk itu.."

Sejenak dunia seakan berhenti. Ibu Kenji yang mendengar itu langsung terhuyung. Tubuhnya lemas, lalu jatuh pingsan di tengah kerumunan.

Tiba-tiba, suara auman harimau yang menggetarkan udara terdengar dari dalam hutan. Suara itu begitu keras, menggema sampai ke area pemukiman. Para warga saling berpandangan, wajah mereka dipenuhi ketakutan.

“Itu.. Makhluk Kutukan..” gumam salah satu warga.

Auman itu semakin dekat.

Langkah-langkah mundur mulai terdengar, satu per satu warga tanpa sadar menjauh dari batas hutan. Namun semuanya sudah terlambat. Dari balik pepohonan, Makhluk Kutukan itu muncul.

Seketika, suasana membeku.

Para warga terdiam, tubuh mereka kaku, seolah tak percaya apa yang mereka lihat. Detik berikutnya, kepanikan meledak. Mereka berhamburan melarikan diri ke arah rumah masing-masing.

Namun tidak ada yang sempat selamat.

Makhluk itu bergerak jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Satu per satu warga yang tertangkap pandangannya langsung diserang tanpa ampun. Jeritan melengking memenuhi udara malam, bercampur dengan suara kehancuran yang brutal. Korban berjatuhan di mana-mana.

Di tengah kekacauan itu, Kazura memperhatikan dari kejauhan. Matanya menyipit, lalu dia bergumam pelan.

“Akhirnya dia datang.”

Tanpa ragu, dia mendorong nenek yang tadi bersamanya hingga terjatuh ke tanah.

“Nenek!” seru samar dari kerumunan, namun Kazura sudah melangkah pergi, menjauh dengan tenang.

Dari kejauhan, ia hanya mengamati.

Dan seperti yang dia perkirakan, nenek itu menjadi target berikutnya. Makhluk Kutukan menerjang tanpa belas kasihan, mencabik-cabiknya hingga tak bersisa. Kazura hanya tersenyum tipis melihat kejadian itu, tanpa sedikit pun rasa gentar.

Di sisi lain, Master Seijun dan Haru akhirnya tiba di lokasi. Pemandangan di depan mereka membuat keduanya terdiam sesaat. Bangunan rusak, darah, dan warga yang telah menjadi korban. Namun mereka tidak punya waktu untuk ragu.

“Fokus. Kita hentikan dia sekarang,” ucap Master Seijun tegas.

Keduanya langsung bergerak.

Makhluk Kutukan itu masih sangat lincah. Dia melompat ke atap rumah warga, bergerak cepat seperti bayangan. Haru segera mengejarnya dengan kecepatan penuh, berusaha mengimbangi pergerakannya.

Di tengah pertarungan, Master Seijun menatap lebih dalam. Ia menyadari sesuatu.

Makhluk itu berwujud seperti harimau, mengandalkan kecepatan, keseimbangan, dan ekor sebagai penyeimbang saat bergerak di medan sempit.

Tanpa membuang waktu, ia mengambil keputusan.

“Sekarang.."

Dalam satu lompatan cepat, Master Seijun mengayunkan Katana Cahaya miliknya ke arah ekor Makhluk Kutukan. Sabetan itu tepat mengenai sasaran.

Shring!

Ekor makhluk itu terputus. Seimbangannya langsung hancur. Makhluk Kutukan itu kehilangan kendali dan jatuh dari atap, menghantam tanah dengan keras.

Di sisi lain, Ryujin, Yua, Fumiro, beserta pasukannya akhirnya tiba di sebuah desa yang tampak aneh sejak langkah pertama mereka masuk.

Saat mereka melewati deretan rumah warga, suasana sunyi yang tidak wajar langsung terasa menekan. Di beberapa sudut jalan, mereka melihat para wanita memeluk anak-anak mereka sambil menangis terisak, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.

“Ada apa dengan desa ini?” gumam Yua pelan, matanya menatap sekitar dengan waspada.

“Aku juga merasakan sesuatu yang tidak beres di sini,” jawab Ryujin, alisnya mengernyit tajam.

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, dari kejauhan terlihat seorang prajurit Kepala Daerah berlari tertatih ke arah mereka. Pakaiannya robek, tubuhnya penuh luka, dan darah mengalir tanpa henti dari beberapa bagian tubuhnya.

Fumiro mundur sedikit. “A.. apa jangan-jangan.."

Ryujin dan Yua langsung menoleh ke arah Fumiro, ekspresi mereka mengeras, menunggu kelanjutan kata-kata yang tak berani ia ucapkan.

Prajurit itu akhirnya tiba di hadapan mereka, lalu jatuh berlutut dengan suara serak.

“Tolong.. mereka semua.. sudah mati..”

Seketika, udara di sekitar mereka terasa membeku.

“Di mana mereka?” tanya Ryujin cepat, suaranya menekan emosi yang mulai sulit dikendalikan.

Tanpa menjawab lebih banyak, prajurit itu memaksa dirinya berdiri kembali dan berlari tertatih, memberi isyarat agar mereka mengikutinya.

Mereka pun bergegas menyusul, melewati jalan yang semakin sunyi, hingga akhirnya tiba di sebuah area terbuka.

Dan di sanalah mereka melihatnya.

Mayat-mayat tergeletak di tanah, berserakan tanpa pola, beberapa masih dalam posisi seolah sempat berusaha melarikan diri. Darah mengalir membentuk genangan yang meresap ke tanah kering, sementara udara dipenuhi aroma kematian yang menusuk.

Langkah mereka perlahan berhenti.

Ryujin mengepalkan tangannya. Yua terpaku, matanya melebar tak percaya. Fumiro menunduk, seolah mencoba menolak kenyataan yang terbentang di depan mata.

“Kita… terlambat?” ucap Yua lirih, suaranya bergetar, nyaris pecah di antara kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan.

Tiba-tiba, dari arah belakang mereka terdengar suara langkah cepat disertai benturan senjata yang saling beradu. Suara itu memecah kesunyian kematian yang menyelimuti desa.

Mereka semua menoleh.

Di kejauhan, pertarungan masih berlangsung. Master Seijun dan Haru tengah menghadapi sisa Makhluk Kutukan yang mulai melemah, tubuhnya sudah tak lagi mampu bergerak dengan lincah seperti sebelumnya.

Ryujin dan Yua segera berlari menghampiri tanpa ragu, bergabung dalam pertempuran untuk mengakhiri semuanya.

Dalam satu momen yang menentukan, Haru melancarkan serangan terakhir yang membuat Makhluk Kutukan itu tersungkur tak berdaya. Energinya bergetar lemah, seolah menyadari akhir dari eksistensinya.

Tanpa menunggu lebih lama, Haru segera mengangkat tangannya, memusatkan kekuatan segel.

“Segel Akhir..” gumamnya lirih.

Cahaya hitam kebiruan menyelimuti tubuh Makhluk Kutukan itu, melilit seperti rantai tak kasat mata, menekan seluruh sisa kekuatannya hingga benar-benar lenyap. Dalam beberapa detik, makhluk itu terseret ke dalam segel dan menghilang sepenuhnya.

Akhirnya Makhluk Kutukan itu telah tersegel.

Haru menyerahkan kotak segel tersebut kepada Master Seijun dengan ekspresi tenang namun berat, lalu Master Seijun menyimpannya dengan hati-hati ke dalam kotak khusus yang telah disiapkan.

Ryujin melangkah maju, suaranya berat. “Master.. mereka semua tewas.”

Keheningan langsung menyelimuti kata-kata itu.

Master Seijun menutup matanya sejenak. Napasnya tertahan, sebelum akhirnya dia membuka kembali dengan raut wajah yang dipenuhi kesedihan yang dalam.

“Kalau begitu.. mari kita kumpulkan para korban dan kembalikan mereka kepada keluarga masing-masing.” ucapnya pelan.

Perintah itu terdengar sederhana, namun beratnya menghantam hati setiap orang yang mendengarnya.

Suara tangisan mulai terdengar di seluruh penjuru desa. Para warga yang selamat berlarian di antara puing dan tubuh yang telah tak bernyawa, memanggil nama orang-orang yang tak akan pernah menjawab lagi.

Di sisi lain, Haru berdiri diam di tengah suasana itu. Hingga pandangannya tertuju pada seorang gadis yang menangis tersedu di dekat salah satu korban.

Langkahnya perlahan mendekat.

Dan saat dia tiba, dia terdiam.

Gadis itu adalah Kazura. Di pelukannya, terbaring tubuh neneknya yang sudah tak lagi bernyawa.

“Mengapa.. nenekku harus menjadi korban..” suara Kazura bergetar hebat, air matanya jatuh tanpa henti.

“Dengan siapa lagi aku harus hidup sekarang..”

Haru tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak melihat kepedihan yang begitu nyata di hadapannya. Dengan pelan, dia berlutut di samping Kazura, mencoba menenangkan meski kata-kata terasa tak lagi cukup.

“Aku ikut merasakan sakitmu,” ucapnya lirih nyaris seperti bisikan.

Dari kejauhan, Yua memperhatikan adegan itu tanpa sadar.

Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia tidak tahu siapa gadis itu, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ada rasa asing yang menusuk saat melihat Haru bersama seseorang yang sedang hancur seperti itu.

Dengan langkah pelan, Yua akhirnya mendekat.

Dan ketika ia melihat jelas wajah Kazura yang menangis di atas tubuh neneknya, napasnya terhenti sejenak.

Dia terdiam.

Lalu tanpa disadari, air mata jatuh dari matanya sendiri.

Bukan hanya karena apa yang dia lihat.. tapi karena ia sadar, di dunia ini, kehilangan bisa datang kepada siapa saja tanpa peringatan, tanpa ampun.

Pagi perlahan menyelimuti Desa Nagamari dengan cahaya pucat yang tidak sepenuhnya mampu menghapus sisa-sisa tragedi malam sebelumnya. Di kediaman Kepala Daerah, para pemburu berkumpul dalam suasana yang berat, masing-masing membawa beban yang tak terlihat di pundak mereka.

Master Seijun berdiri di tengah ruangan, menundukkan kepala dengan penuh penyesalan.

“Kami tidak menyangka semua ini akan terjadi,” ucapnya lirih. “Atas keterlambatan dan kelalaian kami, kami meminta maaf. Kami akan mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkan.”

Namun Kepala Daerah menggeleng pelan. “Ini bukan sepenuhnya kesalahan kalian. Para warga juga mengabaikan peringatan untuk tidak mendekati area hutan.”

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Sebenarnya.. semua ini bermula dari dua remaja yang pertama kali mengusik Makhluk Kutukan itu. Karena mereka, warga jadi berbondong-bondong mencari sampai ke dekat hutan.”

Haru mengangkat wajahnya. “Bisakah Anda menjelaskan lebih rinci?”

Kepala Daerah menghela napas panjang. “Awalnya hanya pertengkaran kecil. Mereka saling menantang untuk menangkap Makhluk Kutukan itu. Tapi malam itu.. mereka benar-benar pergi ke hutan. Dan setelah itu, terjadilah peristiwa semalam.”

Ryujin mengernyit. “Apakah kedua remaja itu juga tewas?”

“Tidak,” jawab Kepala Daerah singkat. “Satu masih hidup. Satu lagi telah tewas.”

Ruangan itu langsung diselimuti keheningan yang lebih dalam.

Master Seijun akhirnya berbicara kembali, suaranya berat namun tegas. “Kami akan memberikan ganti rugi kepada masyarakat. Kaisar juga akan mengirimkan bantuan untuk desa ini.”

---

Di istana, suasana rapat berubah tegang ketika kabar dari Desa Nagamari dibacakan di hadapan Kaisar dan para menteri. Wajah sang Kaisar mengeras saat mendengar jumlah korban yang tidak sedikit.

Dalam benaknya, dia kembali teringat pada surat ancaman yang pernah diterimanya. Kalimat dingin yang kini terasa seperti kenyataan yang sedang berjalan.

“Akan ada banyak nyawa berharga yang menjadi korban…”

Tangan Kaisar mengepal kuat. Dalam sekejap, ia menggebrak meja.

“Siapa yang melakukan semua ini kepada rakyatku!!”

Suara itu menggema di seluruh ruangan, membuat para menteri menunduk tegang. Di sudut ruangan, Tuan Yamato saling bertukar pandang dengan rekan-rekannya, lalu tersenyum tipis. Sebuah ekspresi yang sulit diartikan.

---

Saat rombongan pemburu bersiap meninggalkan desa, langkah mereka terhenti oleh sosok yang tiba-tiba muncul di depan pintu gerbang.

Seorang gadis berlutut di tanah.

Kazura.

Haru langsung terkejut melihatnya. Wajah gadis itu masih sembab, matanya kosong namun dipenuhi tekad yang rapuh.

“Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di sini…” suaranya bergetar.

“Aku ingin menjadi pemburu seperti kalian.. agar aku bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi.”

Dia menunduk dalam-dalam. “Kumohon.. aku membutuhkan bimbingan kalian.”

Keheningan kembali jatuh di antara mereka.

Ryujin menoleh ke Master Seijun. “Bagaimana ini, Master?”

Namun Haru lebih dulu bersuara. “Menjadi pemburu bukan hal yang mudah. Bahaya bisa datang kapan saja. Tolong pikirkan ini dengan matang.”

Kazura tetap berlutut, tidak bergerak sedikit pun.

Master Seijun menatapnya lama. Tatapannya dalam, seolah melihat dirinya sendiri di masa lalu atau mungkin melihat kesalahan yang tak bisa lagi ia ubah.

Akhirnya dia berbicara dengan suara tegas namun penuh beban.

“Jika itu keputusanmu.. aku menerimamu sebagai muridku.”

Mata semua orang melebar.

Kazura terdiam sesaat.. lalu air matanya jatuh lagi, kali ini bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena harapan yang baru saja diberikan kepadanya.

Dia membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih.. banyak…”

Dan hari itu, rombongan pemburu kembali melanjutkan perjalanan menuju Istana. Membawa Kazura bersama mereka sebagai awal dari takdir yang baru, yang belum mereka ketahui akan membawa mereka ke arah yang lebih gelap atau lebih terang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!