Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Jari-jemari Larasati gemetar menyentuh kain brokat halus pada gaun pengantin putih yang melekat di tubuhnya. Di depan cermin besar butik, ia menatap bayangannya sendiri. Gaun itu sangat indah, pas dengan lekuk tubuhnya, dan dirancang khusus untuk hari paling bahagia dalam hidupnya yang tinggal dua minggu lagi. Hari ini adalah jadwal fiting terakhir. Seharusnya, Arjuna ada di sini, berdiri di belakangnya, memeluk pinggangnya, dan berbisik betapa cantiknya calon istrinya. Namun, sudah dua jam Larasati menunggu, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Drrt... drrt...Larasati dengan cepat menyambar ponselnya di atas meja. Bukan telepon dari Arjuna, melainkan sebuah pesan teks dari nomor tidak dikenal. Jantung Larasati berdesir aneh saat membuka pesan yang berisi sebuah foto dan alamat. Di dalam foto itu, tampak punggung seorang pria yang sangat ia kenali. Setelan kemeja hitamnya persis seperti yang ia belikan minggu lalu. Pria itu sedang berjalan merangkul seorang wanita di sebuah koridor rumah sakit bersalin. Alamat yang dikirimkan adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak yang terletak hanya sepuluh menit dari butik ini.
“Datang dan lihatlah calon suamimu, Larasati. Sebelum kamu menyesal seumur hidup.” Napas Larasati tercekat. Pikiran rasionalnya menolak percaya, namun hatinya mendadak disergap rasa cemas yang luar biasa. Tanpa mengganti gaun pengantinnya, ia hanya menyambar blazer hitam panjang miliknya untuk menutupi bagian atas gaun, lalu bergegas pergi menggunakan taksi.
Sesampainya ditempat yang dituju,
Aroma khas rumah sakit langsung menyengat penciuman Larasati. Dengan langkah terburu-buru, ia langsung masuk ke dalamnya, menyusuri koridor lantai dua menuju poli kandungan, sesuai petunjuk si pengirim pesan tadi. Langkahnya mendadak berhenti. Dunianya seolah runtuh seketika.
Di ujung koridor, duduk seorang pria di kursi tunggu. Pria itu adalah Arjuna, tunangannya. Pria yang katanya berjanji akan mencintainya sehidup semati. Namun, Arjuna tidak sendiri. Di sampingnya duduk seorang wanita berambut panjang dengan gaun longgar. Tangan Arjuna dengan begitu lembut mengelus perut wanita itu yang tampak membuncit, tanda bahwa ada kehidupan di dalamnya.
Tatapan mata Arjuna begitu penuh kasih, tatapan yang sama yang ia berikan kepada Larasati. "Sabar ya, Selly. Setelah urusanku dengan Larasati selesai, aku akan bertanggung jawab penuh padamu dan anak kita," ucap Arjuna terdengar lirih, namun bagaikan petir di telinga Larasati.
Wanita bernama Selly itu menyandarkan kepalanya di bahu Arjuna. "Tapi pernikahanmu tinggal dua minggu lagi, Mas Jun. Aku takut kamu melupakan kami."
"Tidak akan. Anak di dalam kandunganmu itu darah dagingku. Aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa seorang ayah," balas Arjuna mantap.
Larasati membeku di tempatnya berdiri. Blazer hitam yang ia kenakan sedikit terbuka, mengekspos bagian bawah gaun pengantin putih yang seharusnya menjadi simbol kesucian cinta mereka. Air mata Larasati luruh tanpa suara. Dua minggu lagi ia seharusnya menikah dengan Arjuna. Tapi hari ini, di tempat ini, ia justru melihat tunangannya sendiri sedang bersiap menjadi ayah dari anak wanita lain.
Rasa sakit yang teramat sangat, berubah menjadi gelombang amarah yang dingin. Larasati menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak akan menjerit hancur di sini. Ia adalah Larasati, wanita yang punya harga diri.
Dengan kepala tegak dan langkah yang bergaung tegas di koridor, Larasati berjalan mendekati pasangan yang sedang berpelukan itu.
"Rencana pertanggungjawaban yang sangat indah ya, Arjuna," suara Larasati menginterupsi, dingin dan menusuk.
Arjuna tersentak, wajahnya langsung pucat pasi saat mendongak dan mendapati Larasati berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang tertutup blazer hitam.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok