Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Enam Bulan
Waktu berlalu dengan cepat. Musim panas di Milan perlahan berganti menjadi musim gugur. Daun-daun di taman mansion mulai berubah warna menjadi kuning keemasan dan merah, berguguran tertiup angin. Udara terasa lebih sejuk, dan hari-hari menjadi sedikit lebih pendek.
Sarah kini sudah memasuki usia kehamilan enam bulan. Perutnya sudah mulai membesar dengan jelas, dan ia bisa merasakan gerakan-gerakan kecil dari janinnya setiap hari. Kadang berupa tendangan ringan, kadang berupa gerakan memutar yang membuat Sarah tersenyum bahagia.
"Kamu semakin aktif ya, sayang," bisik Sarah saat ia berbaring di tempat tidur, merasakan tendangan kecil di perutnya.
Sarah bangun setiap pagi dengan perasaan yang lebih ringan. Ia tidak lagi merasakan mual seperti di trimester pertama. Nafsu makannya semakin meningkat, dan ia sering meminta Yola untuk membuatkan makanan-makanan favoritnya.
"Yola, hari ini aku ingin sup labu," ujar Sarah suatu pagi.
"Tentu, Sarah. Aku akan membuatkannya dengan krim segar," jawab Yola.
Yola sangat perhatian pada Sarah. Ia selalu memastikan makanan yang disajikan bergizi dan sehat, sesuai dengan anjuran dr. Andini. Sarah juga semakin sering berjalan-jalan di taman mansion, karena dokter menganjurkannya untuk tetap aktif.
Samudra juga semakin perhatian. Setiap kali ia pulang dari kantor, ia selalu menanyakan kabar Sarah dan janinnya. Ia sering membelikan baju-baju hamil yang cantik untuk Sarah, dan kadang ia juga membawa oleh-oleh kecil berupa camilan sehat.
"Pak, Bapak terlalu baik," ujar Sarah saat Samudra memberikan sebuah kotak berisi kue-kue kecil.
"Kamu layak mendapatkan yang terbaik, Sarah," jawab Samudra.
Samudra juga sering menemani Sarah saat ia melakukan pemeriksaan kehamilan. Setiap kali dr. Andini mengatakan bahwa janinnya sehat, wajah Samudra selalu berseri-seri.
Suatu sore, saat Sarah duduk di taman, ia merasakan tendangan yang sangat kuat dari perutnya. Ia tersenyum, lalu menaruh tangannya di atas perut.
"Kamu sangat aktif hari ini, sayang," bisik Sarah.
Samudra datang dan duduk di sampingnya. "Ada apa?"
"Bayinya menendang, Pak. Sangat kuat," jawab Sarah.
Samudra tersenyum. "Boleh aku merasakan?"
Sarah mengangguk, lalu menarik tangan Samudra dan meletakkannya di atas perutnya. Samudra menunggu beberapa detik, dan tiba-tiba, ia merasakan tendangan kecil di telapak tangannya.
Samudra terkesiap, lalu tersenyum lebar. "Dia menendang. Dia benar-benar menendang."
"Iya, Pak. Dia sangat aktif," ujar Sarah.
Samudra menatap perut Sarah, lalu menatap Sarah. "Terima kasih, Sarah. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk merasakan ini."
Sarah tersenyum. "Saya juga berterima kasih, Pak. Karena Bapak sudah memberikan aku kehidupan yang baru."
Mereka duduk bersama di taman, menikmati sore yang tenang. Samudra menggenggam tangan Sarah, dan Sarah membiarkannya. Mereka tidak lagi hanya sekadar atasan dan bawahan, atau pemberi kontrak dan penerima kontrak. Mereka adalah dua orang yang sedang menunggu kelahiran anak mereka.
Malam itu, Sarah duduk di kamarnya, menatap perutnya di depan cermin. Ia mengenakan dress hamil berwarna krem yang dibelikan Samudra. Ia tersenyum, dan memutar badannya perlahan untuk melihat perubahan pada tubuhnya.
"Kamu sudah besar, sayang," bisiknya. "Tidak sabar untuk bertemu denganmu."
Ia mengambil foto USG dari dr. Andini, dan menatapnya. Janin itu sudah terlihat jelas. Ada wajah kecil, tangan, dan kaki. Semuanya terlihat sempurna.
Sarah tersenyum, lalu meletakkan foto itu di atas meja riasnya.
Di luar jendela, bulan bersinar terang, menerangi taman mansion. Sarah menatap bulan, dan berdoa dalam hati.
"Tuhan, tolong jagalah bayi ini. Jagalah dia agar lahir dengan sehat dan sempurna."
Keesokan harinya, Samudra membawa Sarah ke klinik ProVita untuk pemeriksaan rutin. dr. Andini memeriksa tekanan darah Sarah, berat badan, dan posisi janin.
"Semuanya normal, Sarah. Janinnya tumbuh dengan baik. Beratnya sudah sesuai dengan usia kehamilan," ujar dr. Andini.
"Apakah ada yang perlu diperhatikan, Dok?" tanya Sarah.
"Kamu harus tetap menjaga pola makan dan istirahat. Dan jangan lupa untuk berjalan-jalan ringan setiap hari, agar peredaran darah tetap lancar," jawab dr. Andini.
Sarah mengangguk. "Baik, Dok."
Setelah pemeriksaan selesai, Samudra dan Sarah keluar dari klinik. Samudra membukakan pintu mobil untuk Sarah.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Samudra.
"Sangat senang, Pak. Dokter bilang janinnya sehat," jawab Sarah.
Samudra tersenyum. "Syukurlah."
Saat mereka dalam perjalanan pulang, Sarah menatap Samudra. "Pak, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Kita sudah berada di titik ini. Aku sudah hamil enam bulan. Dan kita semakin dekat setiap harinya. Tapi aku masih bertanya-tanya... apa yang sebenarnya Bapak rasakan tentangku?" tanya Sarah.
Samudra menatap Sarah, lalu tersenyum. "Sarah, aku sudah bilang sebelumnya. Aku tidak bisa berpura-pura lagi. Aku peduli padamu. Aku peduli pada bayinya. Dan aku ingin kita menjadi keluarga."
Sarah menatap Samudra, dan air matanya mulai mengalir. "Pak..."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Sarah. Aku ingin kamu tetap di sini, bersama aku, dan bersama bayi kita," ujar Samudra.
Sarah mengangguk, dan tersenyum. "Aku juga ingin itu, Pak."
Malam itu, mereka kembali ke mansion dengan perasaan bahagia. Sarah menatap perutnya yang semakin besar, dan ia tersenyum.
"Keluarga," bisiknya. "Kami akan menjadi keluarga."