JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidur di sofa
Dante melangkah lebar meninggalkan bar bawah tanah yang remang-remang itu. Langkah kakinya terdengar konstan dan berat di atas lantai koridor, membelah keheningan malam Surabaya yang kian larut. Di belakangnya, Lucas menyamakan langkah sembari mendekap erat map berisi berkas kesepakatan aliansi yang baru saja ditandatangani.
Begitu mereka masuk ke dalam lift pribadi menuju area parkir, Dante melonggarkan sedikit dasinya yang terasa mencekik. Ketegangan dari konfrontasi dengan Don Hendra tadi masih menyisakan sisa-sisa adrenalin di tubuhnya.
"Lucas, bagaimana dengan jalur pengiriman cadangan?" tanya Dante tanpa menoleh, matanya menatap angka lift yang bergerak turun. "Aku tidak mau mempercayakan seratus persen jalur Timur pada Hendra setelah apa yang dia lakukan malam ini."
"Semua sudah diantisipasi, Tuan Muda," jawab Lucas sigap. "Saya sudah memerintahkan tim logistik kita untuk menyiapkan jalur alternatif melalui pelabuhan tikus di Banyuwangi. Jika Hendra berani bermain gila lagi, kita bisa langsung memutus pasokan dan mengalihkan semuanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."
Dante mendengus puas. "Bagus. Pastikan pengawasan di gudang pribadinya diperketat. Sekali saja dia membuat pergerakan mencurigakan, habisi dia tanpa perlu menunggu perintahku."
"Dimengerti, Tuan."
*Ting.*
Pintu lift terbuka, menampilkan area parkir bawah tanah yang sepi. SUV hitam mereka sudah menunggu dengan mesin yang menyala. Namun, tepat sebelum mereka melangkah keluar dari lift, Dante mendadak menghentikan langkahnya sejenak. Ada jeda beberapa detik sebelum dia berdehem kecil, mencoba membersihkan tenggorokannya yang terasa kering.
"Lalu..." Dante menjeda kalimatnya, berpura-pura sibuk merapikan lengan jasnya yang sebenarnya sudah rapi sempurna. "Bagaimana kondisi... tawanan sialan itu?"
Lucas yang sudah sangat hafal dengan tabiat bosnya itu hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat samar. "Maksud Anda Nona Nayara?"
"Siapa lagi? Memangnya aku punya tawanan lain yang merepotkan di kota ini?" sahut Dante ketus, menyembunyikan rasa gengsinya. "Apakah dia sudah mati dan mengotori kasur hotelku?"
"Belum, Tuan Muda. Anda tidak perlu khawatir," jawab Lucas dengan nada tenang yang tertata. "Dokter pribadi kita sudah datang ke *penthouse* dua jam yang lalu saat Anda sedang rapat. Beliau sudah memberikan suntikan penurun panas dan antibiotik dosis tinggi."
Dante kembali melangkah menuju mobil. "Lalu? Demamnya?"
"Demamnya sudah turun drastis, Tuan. Saat saya memeriksa kamar beberapa saat lalu sebelum menjemput Anda, tubuhnya sudah tidak menggigil lagi," jelas Lucas sembari membukakan pintu mobil untuk Dante. "Dokter juga sudah membersihkan luka robek di telapak tangan kirinya dan mengganti perbannya dengan yang baru. Infeksinya berhasil dicegah. Saat ini Nona Nayara sedang tertidur pulas."
Dante terdiam sejenak mendengar laporan itu. Dia masuk ke dalam mobil dan mengempaskan tubuhnya ke kursi belakang. Rasa jengkel yang membakar dadanya sejak sore tadi entah mengapa sedikit menyurut, digantikan oleh rasa lega yang aneh—yang langsung dia tepis jauh-juegos dari benaknya.
"Baguslah kalau begitu," gumam Dante dingin, menatap ke luar jendela mobil yang mulai bergerak membelah jalanan kota. "Setidaknya besok pagi kucing liar itu sudah punya cukup tenaga untuk mulai membayar utangnya padaku."
________
"Apa maksudmu kamar lain penuh?" geram Dante, suaranya yang rendah namun sarat ancaman membuat manajer hotel dan dua petugas resepsionis yang mengekor di belakang mereka gemetaran.
"Maaf, Tuan Muda Dante," manajer hotel itu memberanikan diri berbicara, suaranya bergetar hebat sampai harus menunduk dalam-dalam. "Malam ini ada delegasi konferensi internasional yang mendadak memesan seluruh kamar eksekutif dan suite yang tersisa sejak sore tadi. Kamar yang tersedia saat ini hanya kamar tipe standar di lantai bawah..."
"Kau menyuruhku tidur di kamar biasa?!" Dante berbalik dengan gerakan kilat, mencengkeram kerah kemeja sang manajer hingga pria paruh baya itu terangkat sedikit dari lantai. Mata elangnya berkilat murka. "Kau tahu siapa aku, hah?! Aku bisa membeli seluruh gedung hotel sialan ini besok pagi dan memecatmu menjadi gelandangan!"
"M-Maaf, Tuan... ini kesalahan sistem kami... ampun, Tuan..." manajer itu terbata-bata dengan wajah pucat pasi, hampir menangis karena kehabisan napas.
"Tuan Muda, harap tenang," Lucas menengahi, meletakkan tangan di bahu Dante. "Ini area publik. Kamar penthouse Anda masih aman. Biar saya yang mengambil kamar standar di bawah, dan Anda bisa kembali ke penthouse suite."
Dante melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat sang manajer terhuyung jatuh ke lantai marmer. Dante mendengus muak, merapikan jasnya dengan kasar. "Cari tahu siapa dalang di balik kekacauan sistem ini, Lucas. Kalau ini sengaja dilakukan orang-orang Hendra untuk memancingku, pastikan mereka mati besok pagi."
"Baik, Tuan Muda," sahut Lucas membungkuk hormat.
Dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun, Dante berbalik dan melangkah lebar menuju satu-satunya kamar *penthouse suite* yang tersisa—kamar tempat Nayara diposisikan untuk beristirahat.
Brak!
Dante mendorong pintu jati kamar penthouse dengan kasar, sengaja menciptakan suara dentuman keras untuk meluapkan amarahnya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar utama yang luas dan mewah.
Di atas ranjang king size, Nayara yang baru saja tertidur pulas setelah demamnya turun mendadak tersentak bangun. Gadis itu membuka matanya lebar-lebar, memegangi dadanya yang berdegup kencang karena kaget. Begitu melihat sosok Dante yang berdiri di ujung ranjang dengan wajah sekaku iblis, pertahanan ketus Nayara langsung bangkit.
"Kamu punya tangan untuk mengetuk pintu tidak, sih?! Sungguh tidak punya sopan santun!" semprot Nayara, suaranya masih agak serak tapi bertenaga karena efek obat dari dokter.
"Tutup mulutmu!" bentak Dante, suaranya menggelegar di dalam kamar yang kedap suara itu. Dia melangkah mendekati sisi ranjang, menatap Nayara dengan pandangan menghina. "Luar biasa ya. Di mana ada tawanan di dunia ini yang tidur dengan nyaman di atas kasur sutra hotel bintang lima, sementara bosnya harus bertaruh nyawa di luar?!"
Nayara mengernyit jengkel, memutar bola matanya dengan ekspresi paling tidak peduli sedunia. "Lalu? Apa urusannya denganku? Memangnya aku yang minta ditaruh di kamar ini? Kamu sendiri yang menyuruh asistenmu membaringkanku di sini, Tuan Muda yang Ambyar Otaknya!"
"Kau—" Dante terperangah. Keberanian mulut Nayara benar-benar selalu berhasil membakar habis sisa-sisa kesabarannya. "Asal kau tahu, kamar lain penuh karena kelalaian sialan. Dan aku tidak sudi berbagi kasur dengan tikus kecil sepertimu."
"Ya sudah, kalau tidak sudi, keluar sana! Tidur saja di koridor atau di kolam renang bawah! Jangan mengganggu istirahatku, kepalaku masih sedikit pusing tahu!" balas Nayara acuh tak acuh. Dia membalikkan tubuhnya memunggungi Dante, menarik selimut tebalnya sampai ke telinga, bersiap untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
Melihat pengabaian yang begitu meremehkan itu, urat di pelipis Dante berdenyut hebat. Chemistry ketegangan di antara mereka meledak seketika. Dante tidak tinggal diam; dia berjalan ke ujung ranjang, meraih kedua pergelangan kaki Nayara dari balik selimut, lalu menariknya dengan satu sentakan kuat.
"Aaaakh! Bajingan gila! Apa-apaan kamu?!" jerit Nayara histeris saat tubuhnya terseret kasar di atas kasur hingga kakinya menggantung di udara.
Dante mencengkeram kaki Nayara, menatapnya dengan senyuman miring yang kejam dan dominan. "Turun dari kasurku, Kucing Liar. Hak istimewamu malam ini sudah habis."
"Lepaskan kakiku, Iblis! Sakit!" Nayara meronta-ronta, mencoba menendang dada Dante dengan kakinya yang bebas, namun Dante dengan mudah menangkapnya dan menarik Nayara hingga gadis itu terduduk paksa di lantai karpet yang dingin.
"Sofa panjang di sana," tunjuk Dante dengan dagunya ke arah sofa beludru kelabu di sudut ruangan. "Itu tempatmu malam ini. Dan jangan coba-basi kembali ke ranjang ini kalau kau masih ingin melihat ayahmu bernapas besok pagi."
Nayara berdiri sambil memegangi pinggangnya yang agak linu. Matanya yang bulat kini menyala-nyala penuh kebencian dan rasa jengkel yang teramat sangat. Dia melangkah mendekati Dante, menatap dada pria itu yang bidang karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Kamu benar-benar tipe pria paling menjijikkan yang pernah aku temui seumur hidupku, Dante Moretti!" desis Nayara, suaranya bergetar menahan amarah yang berapi-api. "Menindas wanita yang sedang sakit demi ego kekuasaanmu yang kekanak-kanakan itu?! Sungguh menyedihkan!"
"Kekanak-kanakan?" Dante memajukan wajahnya perlahan, mengunci pandangan Nayara hingga gadis itu bisa merasakan aura intimidasi yang pekat dari sang Don Mafia. "Aku hanya sedang mengajarimu arti dari posisi seorang tawanan, Nayara. Kau tidak punya hak atas kenyamanan di tempat ini."
"Oh, ya? Baiklah!" Nayara tersenyum manis, senyuman sarkastik yang paling tajam. Dia menyambar satu bantal dan selimut tipis dari atas kasur dengan sentakan kasar, tepat di depan wajah Dante. "Aku akan tidur di sofa itu dengan senang hati! Setidaknya tidur di sofa dingin jauh lebih baik daripada harus satu kasur dengan bajingan psikopat sepertimu! Bau parfummu membuat mualku kambuh lagi!"
Setelah menyemprot Dante dengan kata-kata pedasnya, Nayara berbalik dengan hentakan kaki yang sengaja diperkeras, lalu mengempaskan tubuhnya ke atas sofa panjang. Dia membungkus dirinya dengan selimut, memunggungi Dante sepenuhnya sebagai tanda permusuhan mutlak.
Dante berdiri mematung di samping ranjang, menatap punggung gadis itu dengan rahang yang mengeras namun ada seulas senyuman miring yang misterius di sudut bibirnya. Kucing liar itu selalu punya cara untuk membalas ucapannya tanpa rasa takut.