NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Perang Dingin di Meja Makan

BAB 13: Perang Dingin di Meja Makan

​Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse mewah, menyiram lantai marmer dengan cahaya kekuningan yang hangat. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer membeku yang menyelimuti dapur pagi ini.

​Kiara berdiri di depan kompor dengan mata yang tampak sedikit sembap dan berkantung guratan lelah. Setelah tangisnya mereda semalam, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya: ia tidak akan membiarkan Adrian menginjak-injak harga dirinya lagi. Jika pria itu menganggap hubungan ini murni bisnis di atas kertas, maka Kiara akan memperlakukannya persis seperti itu. Seorang rekan bisnis yang asing.

​Kiara menata piring berisi roti panggang, telur mata sapi, dan segelas jus jeruk di atas meja makan. Gerakannya begitu tenang, sunyi, tanpa suara dentingan yang sengaja dikeras-keraskan seperti kemarin. Ini bukan lagi kemarahan yang meluap-luap, melainkan sebuah pengabaian yang dingin. Mode silent treatment yang sesungguhnya.

​Langkah kaki tegap yang sangat familiar terdengar mendekat. Adrian masuk ke area dapur dengan setelan kerja yang sudah rapi—kemeja navy yang dipadukan dengan celana kain hitam, tampak luar biasa tampan dan berwibawa. Pria itu sempat menghentikan langkahnya sejenak, mata elangnya langsung mengunci sosok Kiara.

​Adrian mengira pagi ini ia akan disambut oleh banting pintu atau wajah cemberut yang menggemaskan dari istri kontraknya. Namun, melihat Kiara yang bersikap teramat tenang dan datar, ada sesuatu yang terasa mengganjal di sudut hati sang profesor.

​Kiara menarik kursinya sendiri, duduk dan mulai memakan sarapannya tanpa menoleh sedikit pun pada Adrian yang kini ikut duduk di kursi seberang meja.

​"Roti panggangnya tidak gosong hari ini, Kiara," ujar Adrian memecah keheningan, mencoba memancing reaksi dengan nada baritonnya yang santai dan sedikit tengil.

​Hening. Kiara tetap mengunyah rotinya dengan pandangan lurus ke depan, seolah kursi di hadapannya kosong tak berpenghuni. Pria di depannya ini tidak kasat mata.

​Adrian menyipitkan matanya, rahangnya sedikit mengeras karena tidak terbiasa diabaikan. "Saudara Kiara, aku sedang bicara padamu," sahut Adrian lagi, kini menggunakan nada dosen otoriternya yang biasa membuat mahasiswa gemetaran.

​Namun, Kiara justru meraih gelas jus jeruknya, meminumnya perlahan, lalu menyeka bibirnya dengan tisu dengan gerakan yang teramat anggun dan tenang. Setelah selesai, ia bangkit berdiri, membereskan piring kotornya sendiri, lalu berjalan menuju wastafel untuk mencucinya—sama sekali tidak menyentuh atau melirik piring milik Adrian.

​Adrian mengembuskan napas panjang, menahan kejengkelan yang mulai merayap di dadanya. Silent treatment dari gadis ini ternyata jauh lebih mengusik ketenangannya daripada bentakan kemarahan semalam.

​Ketegangan itu berlanjut hingga ke lingkungan kampus. Di kelas teori siang ini, Kiara sengaja memilih duduk di barisan paling belakang, tersembunyi di balik tubuh mahasiswa-mahasiswa bertubuh tinggi. Sepanjang jam kuliah, ia mencatat materi dengan tekun, namun matanya sama sekali tidak pernah terarah ke depan podium, tempat Adrian sedang mengajar dengan wibawa mutlaknya.

​Begitu bel tanda kelas berakhir berbunyi, Kiara menjadi orang pertama yang mengemas barang-barangnya. Ia berjalan cepat meninggalkan ruang kuliah, mencoba menghindari interaksi apa pun.

​Namun, Adrian tentu saja tidak membiarkan mainannya lolos begitu saja.

​Saat Kiara sedang berjalan menyusuri koridor sepi di dekat laboratorium bahasa yang jarang dilewati mahasiswa pada jam siang, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram lengannya dari belakang, menarik tubuh mungilnya ke dalam sekat lorong sempit di antara dua loker besar.

​"Ah!" Kiara terpekik kecil saat tubuhnya berbalik dan langsung dihadang oleh dada bidang Adrian yang keras. Pria itu menguncinya dengan sebelah tangan yang bertumpu pada loker besi di samping kepala Kiara.

​"Melewati jam kuliahku tanpa menatapku sekali pun, dan sekarang mencoba kabur?" bisik Adrian, wajah tampannya menunduk rendah, mengikis jarak di antara mereka hingga napas mint-nya menerpa wajah Kiara. "Kamu benar-benar keras kepala, Sayang."

​Kiara tidak memekik, tidak juga mencoba mendorong dada Adrian seperti biasanya. Ia hanya berdiri tegak, mendongakkan wajahnya yang datar, lalu menatap lurus ke dalam manik mata elang Adrian dengan pandangan yang teramat dingin, kosong, dan dipenuhi rasa benci yang tersirat jelas.

​"Minggir, Pak Adrian. Saya ada kelas lain sepuluh menit lagi," ucap Kiara, suaranya terdengar begitu datar dan tanpa riak emosi sedikit pun.

​Adrian sempat terpaku. Tatapan mata Kiara yang sedingin es itu mendadak memberikan hantaman aneh yang membuat dadanya terasa sesak. Seringai tengil yang sempat terukir di sudut bibirnya perlahan memudar. Ada rasa tidak nyaman yang asing merayap di dalam hati sang profesor melihat gadis di depannya benar-benar memperlakukannya seperti orang asing yang paling ia benci.

​"Kamu masih marah soal semalam, hm?" suara Adrian mendadak merendah, kehilangan sedikit nada dominannya. Dia memajukan wajahnya lagi, mencoba mengembalikan atmosfer nakalnya. "Mau kuberi 'kecupan penenang' di sini agar wajah cemberutmu itu hilang, Mahasiswaku?"

​Mendengar godaan mesum itu di tengah situasi ini, sudut bibir Kiara terangkat, membentuk sebuah senyuman sinis yang teramat tipis sekaligus menyakitkan.

​"Silakan saja jika Anda ingin melakukannya, Pak Profesor," lirih Kiara, menantang tatapan Adrian tanpa rasa takut sedikit pun. "Lakukan saja sesuka Anda seperti semalam. Bukankah bagi Anda saya ini hanya barang sewaan di atas kertas kontrak yang bisa Anda pakai kapan saja Anda mau? Jadi, untuk apa Anda meminta izin sekarang? Langsung ambil saja hak Anda yang berharga tiga ratus lima puluh juta itu."

​Jleb.

​Kalimat sarkasme yang keluar dari bibir ranum Kiara seketika membungkam Adrian sepenuhnya. Kata-kata dingin gadis itu menghantam ego tinggi sang profesor dengan telak. Sentuhan nakal tangan Adrian di loker besi mendadak melemas.

​Melihat Adrian yang terdiam kaku dengan rahang yang mengunci, Kiara menggunakan kesempatan itu untuk menepis tangan Adrian dari jalannya. Ia melangkah keluar dari sekat loker dengan dagu tegak, meninggalkan sang profesor yang berdiri mematung sendirian di koridor sepi dengan perasaan campur aduk dan kepanikan terselubung yang mulai menjalar di dalam hatinya.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!