NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Dia Neya ?

Lembaran dokumen di atas meja kerja kayu mahoni itu sudah tidak bergeser selama satu jam terakhir. Kinan menatap deretan angka dan grafik pertumbuhan saham perusahaan ayahnya dengan pandangan kosong. Mengenakan setelan kemeja formal yang kaku, ia kini duduk di ruangan megah lantai teratas gedung korporasi milik keluarganya.

Kinan telah resmi menjadi apa yang orang tuanya inginkan: seorang penerus takhta bisnis darah biru yang patuh.

Ia tidak lagi membantah. Ia juga tidak lagi berteriak menolak saat sang ayah mengingatkan tentang agenda makan malam bersama keluarga Mahendra akhir pekan ini untuk meresmikan perjodohannya. Kinan menyetujui semuanya. Baginya, menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk diatur oleh ambisi orang tuanya adalah harga kecil yang harus ia bayar, asalkan keluarga darah birunya itu benar-benar menepati janji untuk tidak menyentuh atau membahayakan nyawa Neya lagi.

Tok, tok.

Pintu ruangan terbuka, memecah kesunyian yang membekukan itu. Seorang pria tegap dengan setelan jas hitam—Bram, ajudan kepercayaan yang sengaja Kinan bayar secara rahasia—melangkah masuk dan menunduk hormat.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Kinan langsung. Suaranya terdengar datar dan serak, tipe suara dari seseorang yang sudah lama melupakan cara untuk tersenyum.

Bram mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, "Sesuai perintah Anda, saya terus memantau rumah sakit secara berkala, Tuan Muda. Kemarin siang, Mbak Neya sudah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang oleh dokter."

Mendengar kabar itu, ada seulas rasa lega yang menyengat dada Kinan, namun hanya bertahan sedetik sebelum rasa sesak kembali menguasainya. "Lalu, apa ada hal lain?"

Bram tampak ragu sejenak, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto hasil jepretan kamera jarak jauh. "Kemarin malam, setelah Mbak Neya tiba di rumahnya, tampaknya akan ada sebuah acara yang digelar secara tertutup di dalam rumah tersebut. kemungkinan... itu adalah acara akad nikah."

Deg.

Jantung Kinan seolah berhenti berdetak. Ia menyambar foto yang diletakkan Bram di atas meja. Tangannya seketika bergetar hebat. Di dalam foto yang sedikit agak buram itu, tampak Neya dengan kebaya putih bersih sedang duduk di samping seorang laki-laki berkemeja rapi yang membelakangi kamera. Di sudut lain, Ibu Imelda tampak tersenyum haru.

"Akad... nikah?" bisik Kinan, suaranya tercekat di tenggorokan. Jantungnya seperti dihantam gada besi hingga hancur berkeping-keping. Neya-nya... gadis yang beberapa hari lalu ia tangisi di lantai ruang rahasia, kini sudah bersanding dengan orang lain?

Tanpa mendengarkan penjelasan Bram lebih lanjut, Kinan menyambar kunci mobilnya di atas meja. Ia berjalan setengah berlari keluar ruangan, mengabaikan panggilan sekretarisnya, dan langsung memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi menuju alamat rumah abu-abu yang sempat dilaporkan oleh ajudannya.

Satu jam kemudian, mobil sedan hitam milik Kinan terparkir di bawah rindangnya pohon besar, beberapa puluh meter dari rumah minimalis milik keluarga Neya. Dari balik kaca mobil yang gelap, Kinan menurunkan sedikit jendelanya, membiarkan matanya menatap lurus ke arah teras rumah itu.

Di sana, acara tampaknya baru saja selesai. Beberapa orang berpakaian rapi tampak berjalan keluar dari pintu rumah. Tak berselang lama, sosok yang sangat ia rindukan muncul.

Neya melangkah keluar ke teras, masih mengenakan kebaya putihnya. Wajah gadis itu tampak pucat, matanya kosong menatap lurus ke depan. Melihat wajah itu, air mata yang selama ini Kinan tahan di depan ayahnya, runtuh begitu saja membasahi pipinya. Rasa ingin berlari dan mendekap tubuh ringkih itu bergejolak hebat di dalam dadanya.

Namun, langkah kaki Kinan mendadak terkunci di dalam mobil saat melihat seorang laki-laki bertubuh tegap keluar dari dalam rumah dan langsung berdiri di samping Neya. Laki-laki itu berwajah ramah, tersenyum begitu tulus, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh bahu Neya seolah sedang menenangkan gadis itu dari rasa lelahnya.

Neya tidak menolak. Gadis itu hanya diam membiarkan bahunya disentuh, lalu ikut berjalan masuk kembali ke dalam rumah bersama laki-laki tersebut.

Kinan mencengkeram setir mobilnya dengan amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, menahan badai emosi yang siap meledak di dalam dadanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh laci dasbor mobilnya, mengambil selembar foto lama yang selalu ia sembunyikan di sana. Foto dirinya dan Neya yang sedang tertawa lepas di bawah payung yang sama, bertahun-tahun lalu.

Kinan memandangi foto lama itu, lalu beralih menatap pintu rumah abu-abu yang kini sudah tertutup rapat di kejauhan. Rasa cemburu yang membakar batinnya kini bercampur dengan kebingungan yang teramat besar. Selama delapan tahun menjalin hubungan, ia tahu betul siapa saja orang di sekeliling Neya. Gadis itu tidak pernah memiliki teman dekat laki-laki, apalagi kekasih simpanan.

Ini tidak masuk akal, batin Kinan menolak keras kenyataan di depannya. Ada sesuatu yang janggal dari ekspresi kosong Neya di teras tadi. Tatapan mata Neya tidak memancarkan binar seorang pengantin baru yang bahagia.

Kinan meraih ponselnya, menekan satu tombol panggil cepat ke nomor ajudannya. Begitu panggilan tersambung, suara Kinan terdengar begitu dingin dan penuh penekanan.

"Bram. Cari tahu siapa laki-laki yang bersanding dengan Neya hari ini. Selidiki latar belakangnya, pekerjaannya, dan hubungannya dengan Ibu Imelda. Jangan lewatkan satu detail pun."

Baik, Tuan Muda. Segera saya laksanakan," jawab Bram di seberang telepon sebelum sambungan terputus.

Kinan melempar ponselnya ke kursi penumpang. Kepalanya mendadak berputar lambat, menariknya kembali pada memori mengerikan malam itu. Suara letusan senjata yang memekakkan telinga, pekikan histerisnya sendiri, dan tubuh Neya yang ambruk dalam sekejap ke pelukannya dengan darah yang merembes cepat di dada kiri gadis itu. Saat itu, dunianya runtuh. Setengah dari jiwanya seolah ikut mati bersama deru napas Neya yang melemah.

Kinan memejamkan mata rapat-rapat, memukul setir mobilnya sekali demi meluapkan rasa frustrasi yang mengalir di nadinya. Jika menyerah pada perjodohan konyol pilihan ayahnya adalah satu-satunya cara agar Neya tetap bisa bernapas di dunia ini, ia bersumpah akan melakukannya. Ia rela neraka ini menjadi miliknya sendiri, asalkan Neya selamat.

Namun, melihat Neya yang kini justru bersanding dengan laki-laki lain, menyisakan sebuah luka baru yang tidak kalah mematikan di hatinya.

Kinan menyandarkan kepalanya pada setir mobil, menatap nanar ke arah teras rumah yang kini sudah kosong dan sepi. Di tengah rintik hujan yang kian lebat membasahi kaca mobilnya, satu pertanyaan pilu sekaligus penuh tuntutan bergaung mematikan di dalam benaknya:

Siapa dia, Neya?

Pertanyaan itu bergaung berulang kali di dalam kepalanya, memantul di antara dinding-dinding sunyi mobil sedan hitamnya yang terasa semakin menyempit dan menyesakkan. Kinan menarik napasnya dalam-dalam, namun pasokan oksigen di sekitarnya seolah telah habis. Dadanya terasa begitu kebas. Setengah dari dirinya ingin sekali membuka pintu mobil ini, berlari menerobos rintik hujan, menendang pintu rumah abu-abu itu, dan menarik Neya kembali ke dalam pelukannya. Ia ingin berteriak di depan wajah Ibu Imelda, menuntut penjelasan atas sandiwara gila apa lagi yang sedang mereka pertontonkan di hadapannya hari ini.

Namun, akal sehatnya yang tersisa segera mencengkeram erat kesadarannya. Bayangan wajah bengis ayahnya yang mengancam akan melenyapkan Neya dari muka bumi ini jika ia berani membangkang kembali berputar, menjadi pembatas tak kasat mata yang mengunci pergerakan tubuh Kinan. Ia tidak boleh ceroboh. Langkah kaki yang salah sedikit saja dari dirinya bisa menjadi vonis mati kedua bagi gadis itu.

Kinan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih terasa dingin. Guratan luka emosional yang ia bawa sejak malam berdarah itu rasanya kembali menganga lebar, mengucurkan rasa sakit yang jauh lebih perih daripada luka fisik mana pun. Ironi hidupnya terasa begitu pekat; ia memiliki segalanya—kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, nama besar keluarga darah biru yang disegani banyak orang—namun untuk melindungi wanita yang paling ia cintai pun, ia harus berpura-pura mati secara perlahan dan menyerahkan takdirnya pada perjodohan kasta yang amat ia benci.

Dengan gerakan yang terasa sangat berat, Kinan memutar kunci kontak. Mesin mobil sedan hitam itu menderu halus, memecah keheningan yang sejak tadi membekukan ruang kabin. Ia menyeka sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan, mengubah raut wajahnya yang sempat hancur menjadi sedingin es, topeng pertahanan diri yang harus selalu ia kenakan mulai detik ini.

Sebelum menginjak pedal gas, Kinan melemparkan pandangan terakhirnya ke arah jendela lantai dua rumah Neya yang remang-remang.

Kinan memindahkan tuas transmisi, menginjak gas perlahan, dan membiarkan mobilnya bergerak maju menjauhi pekarangan rumah abu-abu tersebut. Kendaraannya melaju membelah jalanan kota yang kian basah dan licin, meninggalkan potongan masa lalunya yang kini tampak kian kabur di balik spion, berselimut kabut hujan yang turun semakin deras sore itu.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!