NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Paman Zhao si Pedagang Serakah

Pintu besi di batas terluar pasar ditarik paksa. Engsel karatan di baliknya menjerit panjang, bergesekan tanpa ampun.

Wan Chen melangkah masuk. Membelah dinding udara pengap yang langsung menyambutnya. Bau anyir darah monster bercampur aroma amonia cair merangsek masuk ke rongga hidungnya. Diikuti oleh bau keringat asam dari puluhan tubuh yang berdesakan.

Inilah pasar gelap Sektor D. Jantung pemukiman kumuh. Tempat nyawa tidak lebih berharga dari sekeping koin tembaga cacat.

Cahaya lampu neon berpendar tidak stabil di atas kepala. Berkedip kuning pucat. Menyinari wajah-wajah keras yang sibuk berlalu-lalang di sepanjang lorong berdebu.

Semua interaksi di sini berputar pada satu hal pokok. Kelangsungan hidup hari ini.

Beberapa hunter bayaran sedang berdebat di bawah tenda terpal kotor. Tangan mereka menunjuk kasar pada bongkahan daging monster berlapis lendir hijau. Suara makian bersahutan soal kadar racun di dalam daging urat tersebut.

Di sisi lain, seorang pria tua bertelanjang dada duduk berjongkok. Menggelar sisa komponen elektronik pra-kiamat yang kotor oleh lumpur merah. Berteriak menawarkan lempengan besi itu kepada siapa saja yang melintas.

Tidak ada yang mempedulikan Wan Chen.

Ia menyeret kakinya menembus keramaian. Sepatunya menggerus permukaan aspal retak dengan tempo lambat. Postur tubuhnya jauh dari kata tegak. Jaketnya robek parah pada bagian perut, basah oleh darah kering yang sudah berubah warna menjadi cokelat gelap.

Tatapannya lurus ke depan. Mengabaikan senggolan dari orang-orang yang berlalu-lalang.

Beberapa pedagang besar yang lapaknya ia lewati hanya menatapnya sekilas. Menilai penampilannya, melihat ketiadaan tas karung buruan, lalu membuang ludah ke tanah basah. Kehilangan minat pada detik yang sama.

Bagi penghuni pasar ini, manusia dengan luka terbuka yang berjalan tanpa membawa hasil jarahan adalah investasi gagal. Seonggok daging berjalan yang tinggal menunggu waktu mati karena infeksi.

'Tetaplah meremehkanku,' batinnya datar. 'Itu jauh lebih aman.'

Langkahnya terus membawanya melewati deretan tenda yang semakin sempit. Menuju sudut paling terpencil dari tata letak pasar yang berantakan ini.

Sebuah kios reyot berdiri menyempil. Atap sengnya melengkung ke dalam, bocor meneteskan air limbah sisa hujan asam. Meja konternya terbuat dari papan kayu lapis yang pinggirannya sudah lapuk dimakan lembap.

Di balik meja rapuh itu, Paman Zhao duduk bersandar di kursi plastiknya.

Pria paruh baya itu memiliki wajah bundar yang tebal. Kulitnya berminyak parah, memantulkan cahaya lampu gantung di atasnya seolah wajahnya baru saja dicelupkan ke dalam minyak mesin. Jari-jarinya yang gemuk bergerak lincah di atas meja.

Trak. Trak.

Ia menghitung tumpukan keping uang logam bernoda lumpur kering. Menggesernya satu per satu dengan Ketelitian seorang penipu.

Paman Zhao adalah lintah darat paling tamak di Sektor D. Pedagang perantara tingkat rendah yang terkenal sangat licik. Ia tidak pernah segan menekan harga barang ke titik terendah demi mencekik hunter miskin yang butuh makan.

Senyum culas terpatri di sudut bibirnya. Ia sangat menikmati suara gesekan koin tersebut.

Wan Chen berhenti tepat di depan meja konternya. Suara napasnya menghela pelan. Otot kakinya bergetar merespons penghentian gerak secara tiba-tiba.

Decitan sol sepatu karet yang terseret aspal itu akhirnya memecah fokus Paman Zhao.

Pedagang serakah itu mendongak. Matanya yang sipit langsung menyisir siluet berantakan di depannya. Dari rambut berdebu abu-abu, turun ke bahu yang merosot, hingga ke robekan jaket kempis di perut Wan Chen.

Begitu mengenali pelanggan rendahan yang rutin ia peras, seringai meremehkan seketika merekah di wajah pria gemuk itu. Ia menjatuhkan koin terakhir di tangannya kembali ke dalam laci meja.

"Kau rupanya. Kukira kau sudah jadi kotoran mutan," sapa Paman Zhao kasar. Suaranya serak.

Wan Chen tidak merespons. Ia hanya menatap lekat permukaan kayu lapis berdebu di depannya. Menetralkan napas.

Pria gemuk itu menyandarkan kedua sikunya ke atas konter. Condong ke depan. Matanya menelusuri ketiadaan ransel atau kotak penyimpan material di punggung bocah tersebut. Kosong melompong.

"Ditinggal mati di luar sana? Atau malah sengaja dibuang oleh timmu?" cibir Paman Zhao memancing.

Ia mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah. Gestur arogan seolah sedang mengusir sekawanan lalat yang hinggap di tumpukan sampah.

"Pergi sana. Jangan menghalangi jalan di area depanku. Aku sedang sibuk menghitung untung besarku hari ini."

Diam. Wan Chen masih mempertahankan posisinya tanpa berniat membuka suara. Menghemat sisa kalori yang menyusut cepat di aliran darahnya.

"Hei, kau mendadak tuli?" Paman Zhao mendengus keras. Alis tebalnya bertaut jengkel. "Dengar ya. Tempat ini bukan posko amal untuk hunter buangan sepertimu."

Paman Zhao meraih selembar kain lap hitam dari bawah meja. Mulai menggosok ujung konternya dengan gerakan asal-asalan.

"Kalau kau mau mengemis cairan antiseptik, pergi sana cari kuil relawan di sektor pinggiran. Jangan datang membawa bau darahmu ke tempatku."

Ia melempar kain lap itu sembarangan ke tumpukan kardus kosong. Lalu menatap Wan Chen dari atas ke bawah.

"Aku tidak menerima barang rongsokan. Aku juga tidak mau menampung potongan daging tikus tanah mutan. Kembali saja ke tenda lusuhmu."

Seorang hunter bayaran bertubuh kekar di bilik sebelah yang kebetulan mendengar kalimat itu menoleh ke arah mereka. Terdengar kekehan pelan. Cemoohan brutal terhadap pemburu gagal memang selalu menjadi tontonan gratis yang menghibur di pasar ini.

'Selalu banyak bicara,' gumam Wan Chen dalam kepalanya.

Ia sama sekali tidak merasa marah. Rasa tersinggungnya sudah mati rasa. Ia pernah dikhianati dan dibuang ke mulut monster oleh rekan yang ia percayai sepenuh hati. Omong kosong pedagang licik ini bahkan tidak mampu menyentuh dinding saraf emosinya.

Angin malam kembali masuk dari sela-sela atap tenda. Membawa debu halus ke mata.

Wan Chen memutus keheningannya. Ia menegakkan kedua bahunya perlahan. Memaksa tulang punggungnya kembali ke postur tegap yang kaku.

Satu langkah pelan ditarik ke depan.

Tubuhnya kini menekan sisi luar meja konter. Posisi wajahnya berada tepat di bawah sorotan lampu kuning bohlam milik Paman Zhao.

Pergerakan hening yang tidak bisa ditebak itu membuat ritme napas Paman Zhao terhenti satu ketukan.

Wan Chen mengangkat pandangannya. Iris matanya yang redup menabrak lurus ke dalam manik mata pedagang gemuk itu. Menguncinya tanpa ampun.

Sedingin bongkahan es. Tidak ada rasa terhina. Tidak ada kepanikan karena ditolak. Tidak ada juga permohonan putus asa yang biasa Paman Zhao lihat dari para klien miskinnya.

Hanya ada observasi datar. Ketenangan absolut yang mematikan.

Paman Zhao mendadak merasa dadanya sesak. Bulu kuduk di lehernya meremang tanpa alasan logis.

Ia menelan ludahnya paksa. Naluri jalanannya berteriak ada sesuatu yang ganjil dari situasi ini. Bocah ingusan yang biasa ia tekan habis-habisan ini seharusnya menunduk dan memohon. Bukan menatapnya balik seperti predator kelaparan yang sedang menilai mangsa empuk.

"Apa yang kau..."

Paman Zhao membuka mulutnya lebar-lebar. Bersiap melontarkan umpatan untuk mengusir rasa gugupnya. Namun suaranya menyangkut keras di kerongkongan.

Wan Chen tidak membiarkannya merangkai kalimat.

Ia membuang napas pelan dari hidung. Tangan kanannya yang terbalut sisa debu merah bergerak perlahan. Menyelusup masuk ke dalam kantong jaket robeknya.

Tindakan itu hanyalah manuver pengalih perhatian. Layar biru tak kasat mata di dalam benaknya langsung merespons. Fitur penyimpanan dimensional mulai membaca kehendaknya. Mengisolasi materi statis di dalamnya.

Napas Paman Zhao seketika tertahan di tenggorokan. Matanya melirik panik ke arah pergerakan tangan tersebut. Ia menggeser kaki perlahan di bawah meja. Curiga jika bocah buangan ini tiba-tiba mengeluarkan pisau patah atau senapan rakitan yang sudah kehabisan amunisi.

Tapi Wan Chen tidak meraih senjata.

Ia menarik telapak tangannya keluar dari balik lapisan jaket.

Lengan itu bergerak lambat. Kepalan tangannya terkunci kuat. Ia membawa tangannya terangkat naik, bersiap melepaskan sesuatu tepat di atas permukaan kayu lapis yang berminyak itu.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!