NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Keesokan harinya, London Copper Box Arena saksi bisu dari sejarah baru yang tertulis dengan tinta emas. Babak Grand Final berlangsung selama lima jam yang melelahkan, menguras seluruh air mata, peluh, dan strategi terakhir dari kedua tim. Namun, dengan pikiran yang jauh lebih jernih setelah panggilan video malam itu, Jasmine bermain tanpa beban. Karakter penembak jitunya bergerak bagai hantu di arena virtual, melepaskan tembakan-tembakan mustahil yang mematahkan mental tim lawan. Saat tembakan terakhir Jasmine menembus pertahanan musuh di ronde kelima, layar arena bergetar hebat menampilkan tulisan raksasa AETHER IS YOUR WORLD CHAMPION! Gemuruh konfeti emas jatuh bagai hujan di atas panggung. Bryan langsung menangis histeris, memeluk Kenzie dan Ilias dengan erat. Axel berjalan mendekati Jasmine, matanya berkaca-kaca penuh kebanggaan yang meluap. Ia mengangkat piala perak raksasa itu bersama Jasmine ke udara, di bawah sorotan lampu global. Mereka berada di puncak dunia. Tim Aether adalah juara dunia yang baru.

---

Malamnya, pihak manajemen menyewa sebuah lounge mewah di pusat kota London untuk merayakan kemenangan mereka. Denting gelas minuman, musik yang mengalun keras, dan gelak tawa memenuhi ruangan. Semua orang berdansa, namun Jasmine memilih untuk duduk di sudut dekat balkon luar. Di tengah kemeriahan dan kepungan pujian internasional itu, hatinya mendadak terasa sunyi. Ia merindukan keheningan tepi danau. Ia merindukan aroma teh chamomile yang hangat, dan yang paling utama, ia merindukan sosok jangkung Liam dengan senyuman miringnya yang menenangkan. Kemenangan ini terasa lengkap di luar, namun ada satu sudut di hatinya yang mendambakan kepulangan. Dari posisinya duduk, Jasmine bisa melihat betapa kontrasnya dunia luar dengan apa yang berkecamuk di dalam dadanya. Di tengah lantai dansa yang bermandikan cahaya lampu neon ungu dan magenta, Bryan tampak berdiri di atas sofa sambil mengangkat replika trofi perak mereka tinggi-tinggi. Wajahnya merah padam, berteriak heboh mengikuti ketukan musik bas yang berdentum keras, dikelilingi oleh para staf manajemen dan beberapa kreator konten global yang terus mengabadikan momen tersebut. Di sudut lain, Kenzie tampak mengobrol elegan dengan perwakilan sponsor utama mereka dari Eropa. Senyumnya sangat ramah, pembawaannya yang selalu rapi dan tenang malam ini terlihat sangat lepas. Sementara Ilias duduk tidak jauh dari sana, sesekali tertawa kecil sambil menikmati kudapan malam, bertindak sebagai penonton yang damai dari kesuksesan timnya.

Mereka semua bahagia. Mereka sangat layak mendapatkan kebahagiaan itu setelah melewati berbulan-bulan penuh siksaan latihan yang menguras air mata. Tim Aether kini berada di puncak ekosistem esports global. Nama mereka disambut di media sosial, menjadi tajuk utama di berbagai portal berita, dan nilai kontrak mereka dipastikan akan melonjak drastis setelah malam ini. Jasmine menunduk, menatap gaun rajut hitam berkerah tinggi yang dikenakannya malam ini, pakaian kasual namun sopan yang sengaja ia pilih untuk menggantikan jersi kaku yang seharian menempel di tubuhnya. Jemarinya bergerak perlahan, mengusap permukaan gelas kaca berisi jus apel dingin di atas meja. Dinginnya embun gelas itu mengingatkannya pada embun pagi di tepi danau Indonesia. Rasanya baru kemarin ia duduk kikuk di halaman rumahnya, terganggu oleh suara bebek putih yang gemuk, lalu mendapati seorang pria jangkung dengan celemek cokelat menawarkan secangkir teh hangat sebagai obat penat. ’Hanya dua minggu,’ batin Jasmine seolah tidak percaya. Dua minggu di London terasa seperti dua tahun yang melelahkan fisik dan batinnya. Di sini, setiap orang memandangnya dengan penuh ekspektasi. Mereka memujinya karena dia adalah 'Jasmine sang penembak jitu andalan', sebuah aset berharga yang bisa menjamin kemenangan Tim Aether melalui akurasi makro jemarinya. Tidak ada yang bertanya apakah bahunya sakit setelah duduk belasan jam. Tidak ada yang peduli apakah kepalanya berdenyut nyeri akibat paparan radiasi monitor, kecuali Liam. Pria yang jauh di seberang samudra itu adalah satu-satunya orang yang memandang Jasmine hanya sebagai Jasmine, seorang gadis biasa yang butuh ruang tenang untuk bernapas tanpa perlu memegang senjata virtual.

"Jasmine."

Sebuah suara bariton yang sangat akrab memecah lamunan Jasmine. Ia mendongak, menemukan Axel sudah berdiri di samping sofanya. Sang kapten malam ini terlihat luar biasa tampan dengan kemeja hitam formal yang melekat pas di tubuh tegapnya. Namun, tidak seperti ekspresi kemenangan yang biasa ditunjukkan oleh seorang juara dunia, gurat wajah Axel malam ini tampak begitu rumit. Ada perpaduan antara rasa bangga yang luar biasa, rasa lelah yang amat sangat, dan seberkas kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng ketegasannya. Axel tidak langsung bicara. Ia mengambil posisi duduk di ruang kosong sofa tepat di sebelah Jasmine, memotong jarak di antara mereka hingga Jasmine bisa mencium aroma parfum maskulin Axel yang pekat. Axel meletakkan segelas minuman ringan di meja, lalu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah riuh rendah lantai dansa sebelum akhirnya mengalihkan seluruh fokus matanya pada wajah Jasmine.

"Kenapa duduk sendirian di sini? Di luar sana, semua orang mencari sang MVP kita malam ini," ucap Axel, nadanya melembut, kehilangan seluruh aksen perintah mutlak yang biasa ia gunakan di dalam ruang latihan. Perhatian intens itu kembali hadir, mengunci Jasmine dalam atmosfer yang intim dan penuh tekanan emosional.

"Aku cuman agak pusing karena musiknya terlalu keras, Kak Axel. Di sini lebih tenang," jawab Jasmine pelan, memberikan alasan yang paling aman.

Axel terdiam sejenak. Matanya bergerak perlahan, memperhatikan lingkaran hitam samar di bawah mata Jasmine, lalu turun ke jemari ramping gadis itu yang masih memegangi gelas jus. Tanpa diduga, Axel mengulurkan tangannya yang besar, berniat untuk menyentuh dan menggenggam punggung tangan Jasmine seperti yang dilakukannya di balik panggung tempo hari. Namun, sebelum kulit mereka sempat bersentuhan, Jasmine dengan gerakan halus yang sangat natural menarik tangannya untuk membetulkan letak rambut panjangnya yang terurai. Itu adalah penolakan yang sangat halus, namun dampaknya luar biasa telak. Tangan Axel menggantung di udara selama satu detik yang canggung, sebelum akhirnya ia menariknya kembali dengan kepalan yang mengendur di atas lututnya sendiri.

Sebuah senyuman pahit yang sangat tipis terukir di sudut bibir Axel. "Kamu berubah, Jasmine. Sejak kita tiba di London, atau mungkin... sejak pria barista itu datang ke lingkungan kita, kamu selalu membangun jarak sama aku," ucap Axel dengan nada suara yang melorot rendah, menyiratkan rasa perih yang teramat dalam yang menghantam egonya sebagai seorang pria.

Jasmine menoleh, menatap mata kaptennya dengan binar mata yang berkaca-kaca. "Aku gak berubah, Kak Axel. Aku masih Jasmine yang sama, yang Kakak bawa ke tim lima tahun lalu. Aku selalu menghormati Kakak sebagai penyelamat aku, sebagai kapten terbaik yang pernah ada di dunia ini."

"Tapi bukan sebagai seorang pria yang ingin melindungi kamu seumur hidup, kan?" potong Axel cepat, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang tertahan di tenggorokan. Ia menatap Jasmine dengan pandangan mata yang penuh dengan keputusasaan yang nyata. "Semua perlindungan aku selama ini, semua aturan yang aku buat, aku bersumpah demi trofi di luar sana kalau aku melakukannya demi kebaikan kamu, Jasmine. Aku ingin memastikannya gak ada satu pun hal buruk di dunia ini yang bisa nyentuh kamu atau menghancurkan masa depan kamu."

"Aku tahu, Kak. Aku sangat tahu dan aku berterima kasih untuk itu," jawab Jasmine, air matanya perlahan mulai menggenang, membuat pandangannya buram. Jasmine menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya untuk menyuarakan retakan yang selama ini tersimpan di balik layar. "Tapi perlindungan Kak Axel lama-kelamaan terasa seperti sebuah sangkar. Kakak membangun dinding yang terlalu tinggi di sekeliling aku sampai aku lupa gimana rasanya melangkah di atas tanah dengan bebas tanpa rasa takut melakukan kesalahan. Di London ini, kita memang memenangkan dunia Kak... tapi di dalam sini, aku merasa sangat kosong."

Kalimat jujur yang keluar dari bibir Jasmine bagai sebuah hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh fondasi kebenaran yang selama ini dianut oleh Axel. Pria itu terpaku membisu di tempat duduknya. Rahangnya mengatup rapat, menahan rasa sakit yang luar biasa hebat di dalam dadanya. Ia ingin membantah, ia ingin mengatakan bahwa dunia luar itu kejam dan hanya dirinya yang paling tahu cara menjaga Jasmine tetap aman. Namun, melihat air mata yang mengalir di pipi mulus Jasmine, Axel menyadari satu hal yang sangat menakutkan bagi egonya, cintanya yang protektif dan posesif ternyata adalah racun yang perlahan-lahan mematikan kebahagiaan gadis itu.

Sebelum ketegangan emosional di antara mereka semakin meruncing, Ilias tiba-tiba berjalan mendekati sudut meja mereka dengan senyum hangatnya. "Kak Axel, Jasmine, pihak manajemen meminta kita semua berkumpul di depan panggung untuk sesi foto bersama seluruh kru. Ayo, ini momen bersejarah untuk Tim Aether."

Axel menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosi di wajahnya dan kembali mengenakan topeng sang kapten karismatik. Ia berdiri tegak, membetulkan letak kerah kemejanya. "Ayo, Jasmine. Selesaikan tugas terakhir kamu malam ini," ucapnya dingin namun tidak lagi mengandung nada memaksa, sebelum berjalan mendahului mereka menuju kerumunan.

Jasmine mengusap air matanya dengan tisu, dibantu oleh tatapan menenangkan dari Ilias yang menepuk pundaknya lembut. "Kamu hebat, Jasmine. Pulang dari sini, semuanya akan membaik," bisik Ilias penuh arti.

Jasmine melangkah mengikuti mereka menuju panggung selebrasi. Di bawah kilatan ratusan lampu kamera media internasional, di antara sorak-sorai kemenangan Tim Aether yang mengguncang kota London, Jasmine tersenyum ke arah lensa. Namun, di dalam hatinya yang terdalam, senyuman itu bukan ditujukan untuk trofi perak dunia yang berkilau di depannya, melainkan sebuah bentuk perayaan sunyi karena ia tahu, besok pagi, penerbangan pulang menuju tanah air akan segera membawanya kembali ke pelukan kehangatan sejati di seberang jalan rumahnya. Badai di London telah resmi berakhir dengan kemenangan, namun babak baru kebebasan hidupnya baru saja akan dimulai.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!