Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Malam Sebelum Keputusan
Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Setelah pertarungan dengan Sekte Tengkorak Perak, Lin Chen dan Huo Ling'er tidak kembali ke gua tempat mereka bersembunyi selama beberapa hari terakhir.
Lokasi itu sudah tidak aman lagi.
Musuh mengetahui keberadaannya, dan bertahan di sana hanya akan memberi keuntungan bagi pihak yang memburu mereka.
Karena itu, Lin Chen membawa Huo Ling'er menuju tempat lain yang pernah ia temukan saat menjelajahi Gunung Cang Lei seorang diri.
Sebuah cekungan alami yang tersembunyi di bawah akar-akar pohon raksasa.
Akar-akar tua itu saling bertaut di atas kepala mereka, membentuk semacam atap alami yang cukup rapat untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari pandangan di atas.
Tempat itu tidak sempurna.
Namun cukup aman untuk bermalam.
Setelah memastikan area sekitar aman, keduanya duduk untuk beristirahat.
Kali ini mereka tidak duduk saling berhadapan.
Entah sejak kapan, posisi itu berubah dengan sendirinya.
Mereka duduk berdampingan, menghadap ke arah yang sama.
Mungkin karena setelah melewati pertempuran bersama, menatap ke depan terasa lebih wajar daripada terus saling mengawasi.
Api kecil menyala di depan mereka.
Cahayanya memantul lembut di antara akar-akar tua yang menjulur ke segala arah.
Hening berlangsung cukup lama sebelum Huo Ling'er akhirnya berbicara.
"Mereka tidak akan berhenti."
Nada suaranya tenang.
Lin Chen mengangguk pelan. "Tidak."
Ia menambahkan setelah jeda singkat.
"Tetua itu sudah melihat terlalu banyak. Dia tahu apa yang sedang dia kejar, dan orang seperti itu tidak akan menyerah begitu saja."
Huo Ling'er memandang nyala api di depan mereka.
"Mereka memiliki lebih banyak orang, lebih banyak sumber daya, dan lebih banyak waktu."
"Benar." Lin Chen tidak berusaha menghiburnya dengan harapan kosong.
Karena keduanya sama-sama tahu kenyataannya.
Untuk beberapa saat, hanya suara kayu yang terbakar yang terdengar.
Kemudian Huo Ling'er kembali berbicara. "Aku sudah berada di gunung ini selama tiga minggu."
Lin Chen menoleh sedikit.
Ia tidak menyela.
"Awalnya aku datang ke sini untuk berlatih, sekadar menjauh dari keluargaku untuk sementara."
Tatapannya tetap tertuju pada api.
"Aku berasal dari keluarga kecil di Kota Timur."
"Keluarga biasa. Setidaknya sampai api dalam diriku mulai berubah."
Nada suaranya terdengar datar.
Namun Lin Chen bisa merasakan sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
Sebuah kelelahan yang telah dipendam cukup lama.
"Sejak setahun terakhir, orang-orang mulai memperhatikanku."
"Ada yang memujiku."
"Ada yang mengagumiku."
Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak mengandung kegembiraan.
"Dan ada juga yang menatapku seperti seseorang yang sedang melihat barang berharga."
Lin Chen memahami maksudnya.
Di dunia kultivasi, bakat luar biasa sering kali menjadi berkah sekaligus kutukan.
Semakin besar potensi seseorang, semakin banyak orang yang ingin memanfaatkannya.
"Aku tidak suka tatapan seperti itu." Suara Huo Ling'er menjadi lebih pelan. "Mereka tidak melihatku sebagai manusia, mereka hanya melihat sesuatu yang bisa digunakan."
Angin malam bertiup perlahan melewati sela-sela akar pohon.
Lin Chen tetap diam.
Terkadang, mendengarkan jauh lebih penting daripada berbicara.
"Aku tidak berniat kembali ke rumah dalam waktu dekat."
Huo Ling'er melanjutkan. "Karena aku tahu apa yang akan terjadi jika aku kembali."
"Mereka akan mencoba menentukan jalan hidupku."
"Mereka akan mencoba memanfaatkan kekuatan yang bahkan belum kupahami sepenuhnya."
Ia menghela napas panjang. "Aku tidak ingin itu."
Keheningan kembali turun.
Api kecil di depan mereka terus menyala.
Menerangi wajah mereka dengan cahaya jingga yang lembut.
Setelah beberapa saat, Huo Ling'er berkata lagi, "Aku juga tahu bahwa aku tidak bisa terus bersembunyi di gunung ini."
Tatapannya mulai berubah, menjadi lebih serius.
"Dan aku tidak bisa terus menghadapi orang-orang seperti Sekte Tengkorak Perak seorang diri."
Lin Chen mengangguk pelan. Ia memahami ke mana arah pembicaraan ini berjalan.
Huo Ling'er menatap nyala api beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Apa yang kau katakan tentang warisan Phoenix."
"Tentang kekuatan yang tersegel."
"Tentang ikatan yang bisa membangunkannya."
Ia berhenti sejenak. "Kalau semua itu benar..."
"Itu benar." Jawaban Lin Chen datang dengan tenang.
Huo Ling'er meliriknya.
"Kalau semua itu benar," ulangnya dengan penekanan yang lebih kuat, "berarti aku hanya memiliki dua pilihan."
Lin Chen menunggu.
"Terus bersembunyi atau menghadapi semuanya."
Kalimat terakhir itu menggantung di udara.
Tidak perlu diselesaikan, keduanya mengerti maksudnya.
Lin Chen menatap api kecil di depan mereka.
Kemudian berkata pelan,
"Atau mengambil kendali."
Huo Ling'er menoleh. Tatapannya bertemu dengan tatapan Lin Chen. "Kendali?"
Lin Chen mengangguk. "Ya."
"Bukan menerima takdir."
"Bukan mengikuti jalan yang ditentukan orang lain."
"Bukan membiarkan dunia memutuskan siapa dirimu."
Suaranya tenang. Namun setiap kata terdengar jelas.
"Ini tentang memilih sendiri apa yang ingin kau lakukan dengan kekuatan itu, tidak ada yang berhak menentukan selain dirimu."
Untuk pertama kalinya malam itu, Huo Ling'er tidak langsung membalas.
Ia hanya memandang Lin Chen dalam diam.
Merenungkan kata-kata tersebut, kemudian perlahan mengalihkan pandangannya kembali ke nyala api.
Keheningan kembali turun.
Namun kali ini terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih ringan.
Seolah sesuatu yang selama ini membebani pikirannya mulai menemukan bentuk yang bisa ia pahami.
Waktu berlalu.
Api kecil terus menyala dan bayangan mereka memanjang di antara akar-akar tua.
Dua sosok yang berbeda.
Dua jalan hidup yang berbeda.
Namun kini perlahan mulai berjalan ke arah yang sama.
Akhirnya Huo Ling'er memecah keheningan.
"Besok pagi. Aku akan mengambil keputusan besok pagi."
Lin Chen menoleh dan mengangguk. "Baik."
Huo Ling'er menyandarkan punggungnya ke akar pohon.
"Lagipula, kita membutuhkan istirahat."
Tatapannya mengarah ke langit malam yang terlihat melalui celah akar di atas.
"Kita lebih membutuhkan tidur daripada percakapan panjang."
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis muncul di wajah Lin Chen.
"Kali ini aku setuju."
Huo Ling'er mendengus pelan.
Malam pun kembali hening.
Di bawah perlindungan akar-akar tua Gunung Cang Lei, dua orang yang dipertemukan oleh takdir yang belum sepenuhnya mereka pahami perlahan memejamkan mata.
Dan saat fajar tiba nanti, sebuah keputusan akan mengubah arah perjalanan mereka untuk selamanya.