Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Trauma yang Menyiksa
Hujan turun dengan deras malam itu, menghantam atap rumah seolah-olah langit sedang melampiaskan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan. Kilat menyambar, merobek pekatnya malam dan membiaskan cahaya putih yang menakutkan melalui celah gorden kamar seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Anandara Arunika, yang saat itu masih seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua dan piyama bergambar beruang, terbangun dengan napas memburu. Suara guruh yang menggelegar bukan satu-satunya hal yang membangunkannya. Ada suara lain. Suara yang seharusnya tidak ada di rumahnya pada pukul dua dini hari.
Rumah itu biasanya sepi jika ayahnya, Pak Dirga, sedang berada di luar kota untuk mengawasi proyek konstruksi. Ayahnya adalah seorang insinyur yang gigih, pria yang mendedikasikan keringat dan darahnya untuk membangun masa depan keluarga kecil mereka, meski perusahaannya masih berskala kecil dan sering kali tertatih-tatih di tengah persaingan bisnis. Di malam-malam seperti ini, biasanya hanya ada Anandara dan ibunya, Bu Riri. Ibunya adalah sosok yang selama ini Anandara anggap sebagai pusat dunianya—wanita dengan senyum paling menawan, aroma parfum vanila yang menenangkan, dan tawa yang selalu bisa mengusir rasa takut Anandara.
Namun malam ini, aroma vanila itu tidak terasa menenangkan.
Dengan langkah gontai dan mata yang masih setengah terpejam, Anandara turun dari ranjangnya. Rasa haus memaksanya untuk keluar dari kamar menuju dapur. Lantai kayu terasa dingin di telapak kaki telanjangnya. Saat ia melangkah menyusuri lorong yang remang-remang, telinganya menangkap suara bisikan dari arah ruang tamu. Langkah kakinya terhenti. Jantung kecilnya mulai berdegup lebih kencang. Apakah ada pencuri? Ataukah ayahnya pulang lebih awal dari yang dijadwalkan?
Harapan bahwa itu adalah ayahnya membuat Anandara mempercepat langkahnya, bersiap untuk berlari dan memeluk pria hebat itu. Namun, ketika ia mengintip dari balik dinding pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu, dunia kecil Anandara seketika berhenti berputar.
Kilat kembali menyambar, menerangi ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
Di sofa ruang tamu, ibunya—wanita yang selalu mengajarinya tentang doa sebelum tidur dan dongeng-dongeng indah—berada dalam pelukan seorang pria yang sama sekali tidak Anandara kenal. Pria itu bukan ayahnya. Pria itu tertawa pelan, membelai rambut ibunya dengan keintiman yang membuat perut Anandara mual. Dan yang paling menghancurkan hati gadis kecil itu adalah ekspresi wajah ibunya. Bu Riri tertawa lepas, sebuah tawa bahagia yang sudah lama tidak Anandara lihat sejak ayahnya mulai sibuk dan mengalami kesulitan finansial beberapa bulan terakhir.
Gelas plastik yang digenggam Anandara terlepas dari tangannya, jatuh membentur lantai dan menggelinding dengan suara yang memekakkan telinga di tengah keheningan yang tercipta di sela-sela gemuruh hujan.
Kedua orang dewasa di ruang tamu itu terkesiap dan menoleh serentak. Mata Bu Riri membelalak ngeri saat tatapannya bertemu dengan mata putrinya.
"Nanda..." Suara ibunya bergetar, memanggil nama panggilannya dengan nada yang penuh kepanikan, namun tidak ada nada penyesalan yang cukup dalam di sana. Pria asing itu buru-buru merapikan pakaiannya, wajahnya pias, menyadari bencana yang baru saja terjadi.
Anandara tidak bisa bergerak. Kakinya seolah terpaku pada lantai kayu yang dingin. Udara di sekitarnya terasa lenyap, membuatnya kesulitan bernapas. Otak anak sepuluh tahunnya berusaha keras memproses apa yang baru saja matanya saksikan, namun yang bisa ia rasakan hanyalah rasa sakit yang luar biasa menyengat di dadanya. Sebuah pengkhianatan yang terlalu besar untuk dipikul oleh jiwa yang masih begitu rapuh.
"Nanda, dengarkan Ibu..." Bu Riri melangkah maju, mencoba meraih tangan putrinya.
Namun, tepat pada detik itu, suara pintu depan yang terbuka paksa menghentikan langkah Bu Riri. Angin malam yang basah berhembus masuk, membawa serta sosok pria yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian basah kuyup dan koper di tangannya. Pak Dirga. Ia pulang lebih awal karena rindu pada istri dan anak perempuannya, mengemudi menembus badai hanya untuk menemukan badai yang lebih besar menantinya di dalam rumahnya sendiri.
Mata Pak Dirga yang lelah langsung menangkap pemandangan di depannya. Istrinya yang panik, seorang pria asing yang mencoba mencari jalan keluar, dan putri kecilnya yang berdiri mematung dengan air mata yang mulai menganak sungai di pipinya yang pucat.
Keheningan yang mencekik menguasai ruangan itu. Bahkan suara hujan seakan mereda, memberi panggung pada kehancuran sebuah keluarga.
"Dirga... aku bisa jelaskan," suara Bu Riri pecah, terdengar lebih seperti cicitan ketakutan daripada sebuah pembelaan.
Pak Dirga melepaskan kopernya. Benda berat itu jatuh berdebum ke lantai. Wajah pria yang biasanya selalu dihiasi senyum hangat dan bijaksana itu kini berubah menjadi kanvas keputusasaan dan kemarahan yang tak tertahankan. Urat-urat di lehernya menonjol, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jelaskan apa, Riri?!" Suara Pak Dirga menggelegar, lebih keras dan lebih menakutkan dari petir mana pun malam itu. "Jelaskan mengapa kau membawa laki-laki bajingan ini ke rumah kita? Ke tempat anak kita tidur?!"
Pria asing itu mencoba menyelinap pergi, namun Pak Dirga dengan cepat mencengkeram kerah bajunya dan melemparkannya ke luar pintu dengan tenaga yang lahir dari amarah yang meluap-luap. "Pergi dari rumahku sebelum aku membunuhmu!" teriak Pak Dirga. Pria itu berlari menembus hujan, menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Bu Riri yang kini menangis tersedu-sedu di lantai.
Anandara masih berdiri di tempat yang sama, tubuh mungilnya bergetar hebat. Ia melihat ayahnya—pahlawan terbesarnya—hancur berkeping-keping. Pria yang tak pernah lelah bekerja dari pagi hingga malam demi membelikannya sepatu baru dan membayar uang sekolahnya, kini menangis dengan suara parau yang menyayat hati.
"Apa kurangku, Riri? Apa?" tanya Pak Dirga dengan suara yang kini melemah, dipenuhi penderitaan yang tak berujung. "Aku tahu bisnisku sedang hancur. Aku tahu aku tidak bisa memberimu kemewahan seperti dulu. Tapi apakah ini balasanmu? Setelah semua yang kita bangun?"
Bu Riri, bukannya meminta maaf dengan tulus, malah mendongak dengan tatapan yang tiba-tiba berubah tajam. Rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh keegoisan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. "Ya! Bisnismu hancur, Dirga! Kau selalu sibuk, kau selalu di lapangan, meninggalkanku sendirian di rumah ini mengurus segalanya dengan uang belanjamu yang semakin hari semakin tidak cukup! Aku lelah! Aku butuh seseorang yang memperhatikanku, yang bisa memberiku kehidupan yang layak, bukan janji-janji kosong tentang masa depan yang tidak pasti!"
Setiap kata yang keluar dari mulut ibunya seperti belati yang menusuk langsung ke jantung Anandara. Gadis kecil itu menutup telinganya dengan kedua tangannya, tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Namun suara itu terlalu keras, terlalu nyata. Ibunya tidak hanya mengkhianati ayahnya, tapi juga menghina kerja keras pria itu. Pria yang setiap malam memijat kakinya sendiri karena kelelahan, hanya agar besok bisa kembali bekerja keras.
Malam itu, sesuatu di dalam diri Anandara patah dan tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
Pertengkaran itu berlangsung hingga menjelang pagi. Berakhir dengan Bu Riri yang masuk ke kamar, mengemas barang-barangnya ke dalam koper besar. Pak Dirga duduk termenung di lantai ruang tamu, menatap kosong ke arah dinding, seolah jiwanya telah tercabut dari raganya.
Ketika Bu Riri berjalan menuju pintu depan dengan kopernya, ia berhenti sejenak di depan Anandara. Wanita itu berjongkok, mencoba menyentuh pipi putrinya. Namun, dengan gerakan refleks yang mengejutkan, Anandara menepis tangan ibunya. Mata gadis kecil yang biasanya berbinar penuh kehangatan itu kini menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang terlalu dewasa dan terlalu kelam untuk seorang anak berusia sepuluh tahun.
"Nanda..." Bu Riri berbisik, air mata palsu menggenang di matanya. "Ibu harus pergi. Suatu saat kamu akan mengerti."
"Ibu jahat," ucap Anandara dengan suara datar yang nyaris tak terdengar, namun menggema di seluruh ruangan. "Nanda benci Ibu."
Bu Riri tertegun. Ia menelan ludah, lalu bangkit berdiri tanpa berkata apa-apa lagi. Suara langkah sepatunya menjauh, diikuti bunyi pintu yang ditutup, dan suara mesin mobil yang menyala sebelum akhirnya menghilang di ujung jalan. Ia pergi begitu saja. Meninggalkan suami yang hancur dan seorang anak perempuan yang jiwanya terluka parah.
Hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan setelah malam jahanam itu adalah masa-masa tergelap dalam hidup Anandara dan Pak Dirga. Kepergian Bu Riri seolah membawa pergi seluruh cahaya dan kehangatan dari rumah mereka. Pak Dirga, yang sebelumnya dikenal sebagai pria yang tangguh, jatuh ke dalam jurang depresi yang dalam. Ia berhenti pergi ke lokasi proyek. Berkas-berkas desain bangunannya berserakan di atas meja, tidak tersentuh dan tertutup debu.
Dampak dari kondisi psikologis Pak Dirga langsung menghantam usahanya. Para klien yang sebelumnya memercayakan proyek mereka padanya mulai menarik diri karena keterlambatan dan ketidakprofesionalan yang mendadak terjadi. Hutang-hutang mulai menumpuk. Perusahaan kecilnya gulung tikar. Mereka terpaksa menjual rumah penuh kenangan itu untuk menutupi hutang dan pindah ke sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota yang sempit dan pengap.
Di usia sepuluh tahun, Anandara dipaksa oleh keadaan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia belajar memasak nasi sendiri, mencuci seragam sekolahnya, dan memastikan ayahnya makan setidaknya satu kali sehari. Sering kali, Anandara menemukan ayahnya menangis di tengah malam sambil menggenggam foto pernikahan mereka. Di saat-saat seperti itu, Anandara hanya berdiri di ambang pintu, melihat bahu ayahnya yang bergetar.
Ia tidak pernah menangis lagi sejak malam ibunya pergi. Air matanya seolah telah mengering, digantikan oleh bongkahan es yang perlahan-lahan membeku di dalam dadanya. Rasa kehilangan dan pengkhianatan itu tidak membunuhnya, melainkan mengubahnya.
"Cinta itu bohong," bisik Anandara pada dirinya sendiri saat ia menatap pantulan wajahnya di cermin retak kamar mandi kontrakan mereka. Ia benci menyadari bahwa matanya memiliki bentuk yang sama dengan mata ibunya. Ia benci menyadari bahwa darah wanita pengkhianat itu mengalir di nadinya.
Dalam keheningan malam-malam panjang di mana ia menjaga ayahnya yang terlelap karena kelelahan menangis, Anandara membuat sebuah sumpah yang akan mengukir jalan hidupnya di masa depan. Ia bersumpah untuk tidak pernah menjadi seperti ibunya. Ia bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan hatinya dikuasai oleh perasaan lemah bernama cinta. Jika cinta bisa membuat pria sehebat ayahnya hancur lebur dan kehilangan segalanya, jika cinta bisa membuat seorang ibu membuang anak kandungnya demi kesenangan sesaat, maka cinta adalah sebuah penyakit mematikan yang harus ia hindari seumur hidup.
Waktu berlalu tanpa belas kasihan. Setahun setelah kejadian itu, Pak Dirga perlahan mulai bangkit, didorong oleh rasa bersalahnya saat melihat putrinya yang mengurus rumah sendirian. Ia mulai menerima pekerjaan serabutan sebagai mandor bangunan, membuang gengsinya sebagai seorang insinyur bergelar demi bisa menyekolahkan Anandara. Melihat ayahnya mulai berjuang kembali, Anandara pun mulai menata fokusnya. Ia belajar dengan gila-gilaan, mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya, seolah-olah prestasi akademis adalah satu-satunya tameng yang bisa melindunginya dari rasa sakit.
Namun, di balik nilai-nilainya yang sempurna dan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, Anandara Arunika tumbuh menjadi gadis yang hatinya hampa. Kosong. Sebuah rumah megah yang perabotannya telah dijarah habis, menyisakan ruang-ruang gelap yang dipenuhi jaring laba-laba masa lalu. Ia menutup semua pintu menuju hatinya, membuang kuncinya entah ke mana.
Ia tidak butuh siapa-siapa. Ia tidak percaya pada siapa-siapa. Baginya, setiap senyuman manis dari lawan jenis adalah awal dari sebuah kebohongan, dan setiap janji setia adalah ilusi yang pada akhirnya akan berujung pada pengkhianatan. Trauma itu menyiksa, mengakar kuat di relung jiwanya, tumbuh seperti tanaman merambat berduri yang mencekik kemampuannya untuk merasakan kasih sayang.
Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian di masa SMP, di tengah dinding es yang ia bangun begitu tinggi dan tebal, seorang gadis ceria bernama Sinta menerobos masuk dengan paksa, tidak membawa cinta romantis yang Anandara benci, melainkan sebuah persahabatan tulus yang perlahan-lahan menjadi satu-satunya 'rumah' yang tersisa bagi jiwa Anandara yang tersesat. Namun, sebelum Sinta datang, malam hujan dan pengkhianatan itu adalah satu-satunya realita yang membentuk Anandara. Sebuah prolog kelam dari kehidupan seorang wanita yang takut untuk mencintai.
pengamat Senja_