NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Acara pernikahan itu akhirnya selesai tepat pada pukul sebelas malam. Para tamu telah pulang meninggalkan aku dan Arkan dalam kondisi yang nyaris menyerupai zombi berbalut pakaian pengantin.

Kakiku yang terperangkap dalam sepatu hak tinggi setinggi dua belas sentimeter terasa seperti baru saja dilindas mesin giling aspal. Sementara itu, Arkan—yang sepanjang malam harus memaksakan senyum ramah kepada ratusan kerabat dan rekan bisnis yang menjengkelkan—tampak seperti malaikat maut yang kehabisan energi. Jas pengantinnya yang tadinya rapi sempurna kini sudah sedikit kusut, dan dasi kupu-kupunya telah ditarik longgar sejak satu jam yang lalu.

Saat kami akhirnya berhasil melarikan diri, Hadi sudah menunggu di depan pintu lift dengan senyum lebar yang mencurigakan. Di tangannya terdapat sebuah kartu akses kamar hotel berbahan emas.

"Selamat, Bapak dan Ibu CEO! Acara hari ini sukses besar berkat manuver luar biasa Bu Naura menyelamatkan katering," puji Hadi sambil membungkuk dramatis, lalu menyerahkan kartu akses itu kepada Arkan. "Ini kunci untuk *Presidential Suite* di lantai puncak Hotel Mulia. Pak Surya sudah mengatur semuanya secara khusus untuk malam pertama kalian. Beliau berpesan agar Bapak dan Ibu beristirahat dengan... sangat produktif."

Aku langsung tersedak ludahku sendiri, sementara Arkan menatap asistennya itu dengan tatapan mengancam.

"Hadi, pastikan besok pagi meja kerjamu sudah bersih kalau kamu masih berani menggunakan kata 'produktif' dengan nada menyebalkan seperti itu," ancam Arkan dingin.

Hadi meringis ketakutan, buru-buru menekan tombol lift dan mundur teratur. "S-siap, Pak! Selamat malam! Selamat menikmati fasilitas hotel!"

***

Di Hotel Mulia, Pintu lift tertutup, mengurungku dan Arkan dalam keheningan yang tiba-tiba terasa sangat canggung. Sepanjang lift melaju naik, kami berdua berdiri tegak menatap angka lantai digital yang terus bertambah, sama-sama enggan memulai percakapan. Sadar atau tidak, ini adalah kali pertama kami benar-benar sendirian setelah status kami resmi berubah di mata Tuhan, negara, dan keluarga. Kami adalah suami istri sungguhan. Fakta itu membuat jantungku berdetak dengan ritme yang sangat tidak sehat.

*Ting!*

Pintu lift terbuka tepat di depan pintu ganda kayu mahoni berukir mewah. Arkan menempelkan kartu aksesnya, dan pintu terbuka dengan bunyi klik halus.

Begitu kami melangkah masuk ke dalam kamar *Presidential Suite* tersebut, langkahku seketika terhenti. Rahangku nyaris jatuh menghantam karpet tebal hotel. Di sebelahku, Arkan mematung dengan mata elangnya yang melebar tak percaya.

Ruangan raksasa itu lebih mirip lokasi ritual pemanggilan arwah cinta daripada kamar hotel. Lampu utama dimatikan, diganti dengan puluhan lilin aromaterapi yang menyala temaram di setiap sudut ruangan. Kelopak mawar merah bertebaran di lantai membentuk jalur menuju ranjang *king size* di tengah ruangan. Dan yang paling parah, di atas kasur putih bersih itu, terdapat dua ekor angsa raksasa yang dibentuk dari handuk, saling menempelkan paruh hingga membentuk simbol hati, dikelilingi oleh taburan bunga mawar merah yang mengeja kata *'Happy Honeymoon, Make a Baby Soon - Papa'*.

"Papa benar-benar sudah kehilangan kewarasannya," gumam Arkan dengan suara serak, mengusap wajahnya dengan frustrasi tingkat dewa.

Aku menelan ludah dengan susah payah. "Arkan... tolong katakan padaku kalau di kamar mandi tidak ada kelopak mawar yang mengambang di *bathtub*."

Arkan berjalan menuju kamar mandi marmer yang pintunya setengah terbuka, melongok ke dalam, lalu menghela napas panjang yang terdengar seperti erangan putus asa. "Kabar buruk, Naura. Bukan cuma mawar. Airnya berwarna merah muda dan ada sebotol sampanye lengkap dengan dua gelas kristal di pinggir *bathtub*."

Aku mengerang pelan, menenggelamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Gengsi yang biasanya selalu membentengi kami kini sedang diuji secara ekstrem oleh dekorasi konyol Papa Surya. Kami sama-sama salah tingkah.

"Kamu... mau mandi duluan?" tanyaku ragu-ragu, tidak berani menatap matanya.

"Kamu saja. Kamu pasti sangat lelah membawa beban berat di kepalamu seharian ini," balas Arkan cepat, membuang muka ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu kota Jakarta, berusaha keras menyembunyikan ujung telinganya yang mulai memerah.

Aku mengangguk kaku, lalu menyeret langkah kakiku yang sakit menuju meja rias besar di sudut kamar. Di sinilah bencana sesungguhnya dimulai. Sanggul modern yang menempel di kepalaku sejak subuh tadi tidak ditata dengan sihir, melainkan dengan puluhan—atau mungkin ratusan—jepit lidi hitam yang ditusukkan dari berbagai arah oleh sang perias.

Aku mengangkat kedua tanganku yang sudah pegal, mulai meraba-raba tumpukan rambut yang mengeras karena tumpukan *hair spray*. Satu jepit berhasil kucabut. Dua jepit. Tiga jepit. Pada jepit kelima belas, lenganku mulai gemetar karena kelelahan, sementara sanggul itu bahkan belum goyah sedikit pun. Rasanya kepalaku ditancapi paku bumi!

"Aduh..." keluhku pelan saat salah satu jepit lidi tanpa sengaja menarik rambut asliku dengan keras. Aku meringis, mataku sedikit berair karena rasa perih di kulit kepala.

Tiba-tiba, sosok tinggi besar Arkan muncul di cermin meja rias, berdiri tepat di belakangku. Dia sudah melepaskan jas pengantinnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan urat-urat maskulin di lengannya.

"Turunkan tanganmu," perintah Arkan dengan suara baritonnya yang rendah dan tenang.

Aku menatapnya lewat pantulan cermin. "Aku bisa sendiri, Arkan. Ini cuma jepit rambut."

"Turunkan tanganmu sebelum kamu merobek kulit kepalamu sendiri, Manajer Naura," ulangnya, kali ini tidak menerima bantahan. Tangannya yang besar dan hangat terulur, dengan lembut namun tegas menurunkan kedua tanganku yang sudah gemetar agar bertumpu di pangkuanku.

Gengsiku ingin menolak, tapi kelelahanku menang telak. Aku membiarkannya mengambil alih.

Jari-jari panjang Arkan mulai menyelusup ke dalam helaian rambutku yang kaku. Sentuhannya luar biasa hati-hati, seolah dia sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Matanya memicing fokus, mencari ujung-ujung tembaga hitam yang bersembunyi di balik sasakan rambut.

Satu per satu, jepit lidi itu dicabutnya dan diletakkan di atas meja rias, menimbulkan bunyi yang berirama konstan.

"Sebenarnya ada berapa ton besi yang bersarang di kepalamu ini, Naura? Periasmu itu berniat membuat sanggul atau membangun pondasi gedung bertingkat?" gerutu Arkan, keningnya berkerut serius melihat tumpukan jepit yang mulai menggunung di atas meja.

Aku terkekeh pelan, rasa sakit di kepalaku berangsur hilang digantikan oleh sensasi geli yang menyenangkan dari sentuhan jari-jarinya di kulit kepalaku. "Ini namanya seni menahan gravitasi, Pak CEO. Kalau tidak pakai paku bumi sebanyak ini, sanggulku sudah rubuh sejak acara lempar bunga tadi sore."

Arkan mendengus pelan, namun tangannya terus bekerja dengan telaten. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya di punggungku, dan setiap kali dia menunduk sedikit untuk mencari jepit yang tersembunyi, napas hangatnya berembus pelan menyapu tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Jantungku yang tadinya sudah sedikit tenang, kini kembali berontak memukul tulang rusuk.

Di dalam cermin, mata kami tanpa sengaja beradu pandang. Waktu seolah berhenti berputar. Tatapan mata elang Arkan tidak lagi menyiratkan arogansi sang penguasa Mahardika Group, melainkan memancarkan kelembutan yang begitu dalam hingga membuatku nyaris sesak napas.

"Kamu bekerja sangat keras hari ini," gumam Arkan pelan, suaranya mengalun bagai mantra di tengah keheningan kamar. Jari telunjuknya baru saja berhasil menarik jepit terakhir, membiarkan rambut panjangku yang ikal akhirnya jatuh tergerai bebas menutupi punggung kebayaku.

Dia tidak segera menarik tangannya menjauh. Sebaliknya, jari-jari besarnya menyisir rambutku yang tergerai dengan gerakan membelai yang luar biasa lembut, mengurai sisa-sisa ikatan yang kusut.

"Kamu yang menyelamatkan seluruh acara dari kehancuran total. Kamu berhadapan dengan vendor katering, mengatur logistik darurat, menendang hama bernama Valerie dengan elegan, dan tetap tersenyum cantik menyambut ribuan tamu seolah tidak terjadi apa-apa," lanjut Arkan, matanya tak lepas dari pantulan mataku di cermin.

Aku menelan ludah, pipiku terasa panas terbakar oleh pujiannya yang terlampau tulus. Pujian dari seorang Arkan Mahendra adalah hal langka yang nilainya jauh melebihi logam mulia. "I-itu sudah tugasku sebagai... istrimu." Kataku dengan suara yang jauh lebih kecil dari cicitan tikus.

Mendengar kata 'istrimu', gerakan tangan Arkan di rambutku terhenti seketika. Dia menundukkan wajahnya, menyejajarkan posisinya dengan kepalaku, hingga dagunya nyaris menyentuh bahuku.

"Ya. Istriku," bisik Arkan posesif. "Mulai detik ini, kata itu bukan lagi sekadar status di atas kertas bermeterai. Ini nyata, Naura. Kamu milik saya sepenuhnya, dan tidak ada satu orang pun, apalagi Valerie, yang bisa mengubah fakta itu."

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam arus perasaannya yang begitu kuat. Gengsi yang selama ini kubangun tinggi-tinggi rasanya sudah hancur lebur menjadi debu tak bersisa. Jika ini adalah perang, maka aku bersedia mengibarkan bendera putih untuk kalah di tangannya.

"Sekarang pergilah mandi sebelum saya berubah pikiran dan menyuruhmu menyusun laporan keuangan malam ini juga," ucap Arkan tiba-tiba, merusak momen romantis itu dengan ancaman ala bos diktator yang sangat tidak elegan, lalu melangkah mundur dengan cepat. Ujung telinganya yang merah padam membuktikan bahwa sang CEO sedang mati-matian menutupi kegugupannya sendiri.

Aku tertawa renyah, rasa canggung di antara kami menguap tak berbekas. Sifat tsundere Arkan memang tidak bisa disembuhkan, tapi justru itulah yang membuatnya menggemaskan. "Baik, Pak Bos!"

Setengah jam kemudian, setelah membersihkan diri dari segala riasan dan tumpukan *hair spray*, aku keluar dari kamar mandi mengenakan piama satin lengan panjang yang cukup tertutup. Arkan mendapat gilirannya masuk ke kamar mandi, dan dia berhasil keluar sepuluh menit kemudian dalam balutan kaus oblong hitam dan celana *training* yang entah bagaimana tetap membuatnya terlihat seperti supermodel papan atas.

Kini, krisis baru kembali menghadang.

Kami berdua berdiri di sisi kanan dan kiri kasur, menatap tumpukan kelopak mawar dan sepasang angsa handuk raksasa yang masih bertengger dengan congkak di tengah kasur. Di apartemen, kami mungkin sudah terbiasa tidur satu ranjang, tapi di sana ada guling stroberiku yang legendaris sebagai batas suci teritorial. Di sini? Tidak ada guling. Hanya ada kasur, bantal, dan satu selimut tebal yang harus dibagi berdua.

"Jadi..." aku menunjuk ke arah angsa handuk itu. "Siapa yang mau mengeksekusi mereka?"

Arkan mendengus keras. Tanpa banyak bicara, dia meraih kedua handuk angsa itu dengan kasar dan melemparkannya ke lantai begitu saja, disusul dengan sapuan tangannya yang membersihkan kelopak mawar ke karpet. Kasur kini bersih dan kosong.

Aku merangkak naik ke atas kasur dengan gugup, menarik selimut hingga menutupi daguku, menempati sisi pinggir kasur seolah takut jatuh ke jurang. Arkan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang remang, lalu ikut merebahkan tubuh besarnya di sampingku.

Hening.

Satu menit berlalu. Aku menatap langit-langit kamar dengan mata membelalak, tubuhku kaku layaknya papan cucian. Jarak di antara kami sebenarnya masih tersisa sekitar setengah meter, tapi hawa panas dari tubuhnya terasa membakar hingga ke kulitku.

Tiba-tiba, pergerakan selimut terasa. Lengan Arkan yang panjang dan kokoh terulur, meraih pinggangku, dan dengan satu tarikan bertenaga, dia menarik tubuhku hingga berguling melintasi kasur dan menabrak dada bidangnya.

"Arkan!" pekikku tertahan, hidungku menabrak kaus hitamnya yang beraroma *mint* segar.

"Guling penjaga perbatasanmu tidak ada di sini, jadi jangan mencoba tidur di pinggir kasur seolah saya ini monster yang akan memakanmu hidup-hidup," gerutu Arkan serak, mengeratkan pelukannya di pinggangku, menyembunyikan wajahnya di lekukan leherku. Napasnya yang teratur menyapu kulitku, memberikan sensasi geli yang membuatku merinding.

Aku berusaha meronta kecil demi sisa-sisa gengsi. "Tapi ini bukan apartemen kita. Udaranya tidak sedingin itu sampai kamu harus berfungsi sebagai selimut berpemanas."

"Udaranya memang tidak dingin," jawab Arkan dengan santai, bibirnya mengecup pelan nadi di leherku, membuat seluruh saraf motorikku lumpuh seketika. "Tapi saya ini bosmu, dan saya tidak butuh alasan suhu udara untuk memeluk istri saya sendiri di malam pertama pernikahan kami. Paham, Manajer Naura?"

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!