Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang Semakin Menipis
Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela, menyinari ruangan luas yang semalam menjadi saksi tangis dan kesendirian Citra. Wanita itu terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, tubuhnya terasa pegal karena semalam ia memilih tidur di sofa besar di sudut ruangan, persis seperti perintah suaminya. Ia mengusap wajahnya pelan, berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang mengering di pipi, lalu bangkit berdiri. Di lehernya, kalung pernikahan yang kemarin dipakaikan Putra masih tergantung, terasa berat seolah membawa beban takdir yang harus ia pikul.
Citra berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dan merapikan penampilannya. Ia tidak boleh terlihat lemah atau berantakan. Ia ingat betul kata-kata Putra semalam: Kau istri Letnan Kolonel Setiawan, kau harus bisa bersikap, walau hanya boneka pajangan. Kalimat itu terasa menyakitkan, namun Citra sadar, itulah kenyataan pahit yang harus ia hadapi setiap hari mulai sekarang. Ia memakai pakaian sederhana namun rapi, mengenakan gaun berwarna krem yang sopan, lalu menyisir rambutnya dengan teliti. Ia harus tampil baik, bukan hanya untuk harga diri keluarga, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Saat ia keluar dari kamar utama, suasana di rumah itu masih sangat sunyi. Rumah ini begitu besar, megah, dan mewah, namun terasa sangat dingin dan sepi. Dinding-dinding tinggi dan perabotan antik yang tersusun rapi seolah menyimpan ribuan cerita masa lalu yang kelam. Citra berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang makan. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat sosok tegap yang duduk di ujung meja panjang itu.
Putra Setiawan sudah ada di sana. Pagi ini ia sudah kembali mengenakan seragam dinas lengkap. Warna seragam itu, lencana kebesaran, dan wibawa yang terpancar dari tubuhnya, selalu berhasil membuat siapa saja yang melihatnya merasa segan dan takut. Ia sedang membaca berkas-berkas dokumen tebal sambil menyeruput kopi hitamnya perlahan. Wajahnya kembali dipasang dengan topeng dingin dan kaku, seolah percakapan emosional dan hampir runtuh semalam tidak pernah terjadi sama sekali.
Langkah kaki Citra yang pelan membuat pria itu mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu sejenak, namun Putra segera membuang muka kembali ke arah berkasnya, tanpa sapaan, tanpa senyum, sama sekali tidak ada kehangatan.
"Selamat pagi, Mas," sapa Citra pelan saat ia sampai di dekat meja. Suaranya tenang, berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar gemetar atau sedih.
Putra hanya mengangguk singkat. "Duduklah. Makan. Waktumu sedikit, aku tidak suka menunggu."
Nada bicaranya datar, dingin, dan penuh perintah, persis seperti seorang komandan yang berbicara pada bawahannya. Citra menarik kursi di sisi berlawanan meja, menjaga jarak yang cukup jauh dari suaminya. Ia mulai mengambil sarapan yang sudah tertata rapi di piringnya, namun rasanya makanan itu terasa hambar di lidahnya. Udara di ruang makan itu terasa begitu berat, penuh ketegangan yang tak terucapkan.
"Pagi ini aku ada inspeksi mendadak ke markas," ucap Putra tiba-tiba, tanpa menatap Citra. Ia meletakkan gelas kopinya dengan bunyi sedikit keras di atas meja. "Kau tidak perlu ikut. Tapi ingat satu hal: mulai hari ini, statusmu sudah berubah. Kau adalah Nyonya Setiawan. Nama baikku, nama baik dinas militer, dan nama baik keluarga ini ada di tanganmu. Jangan sampai kau melakukan hal bodoh, keluar rumah sembarangan, atau berbuat sesuatu yang bisa mencemarkan nama kami. Kau mengerti?"
Citra menghentikan suapan makanannya. Ia menatap wajah samping Putra yang begitu tegas dan tertutup itu. Rasa sakit kembali menusuk hatinya. Apakah baginya aku hanya beban yang harus diawasi? Apakah aku hanya tawanan yang dibawa masuk ke istana emas ini?
"Aku mengerti, Mas," jawab Citra pelan, menurunkan sendoknya. "Aku tahu posisiku. Aku tidak akan melakukan hal yang memalukan. Tapi... bolehkah aku bertanya satu hal?"
Putra menoleh, menatapnya dengan mata yang menyelidik, seolah waspada terhadap apa pun yang akan keluar dari mulut istrinya. "Tanya saja. Tapi tidak janji akan kujawab."
"Profesiku adalah dokter, Mas. Aku sudah bertahun-tahun mengabdikan diri di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Apakah... apakah aku masih boleh bekerja? Atau aku harus mengurung diri di rumah ini selamanya seperti yang kau inginkan?" tanya Citra dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa tenaganya. Pekerjaannya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa berguna, merasa hidup, dan merasa dirinya bukan sekadar benda milik orang lain.
Pertanyaan itu membuat Putra terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat wajah Citra. Di mata wanita itu, ada kilatan semangat dan keteguhan yang jarang ia lihat pada wanita lain. Ia ingat betul saat melihat Citra bekerja di rumah sakit tempo hari saat wanita itu memeriksa pasien dengan penuh kelembutan, ketelitian, dan dedikasi yang luar biasa. Saat itu, Citra terlihat sangat berharga, sangat berkilau, dan sangat... indah. Pikiran itu kembali membuatnya kesal pada dirinya sendiri. Kenapa ia selalu teringat hal-hal baik tentang wanita ini?
Putra bangkit berdiri, merapikan seragamnya dengan gerakan tegas. Ia berjalan melewati sisi meja tempat Citra duduk, berhenti tepat di samping kursi wanita itu. Ia menunduk sedikit, menatap Citra dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kebencian dan rasa hormat yang terpaksa ia akui.
"Kau boleh bekerja," jawabnya pelan namun tegas. "Aku tidak akan melarangmu melakukan hal itu. Lagipula, menjadi dokter adalah keahlianmu, sama seperti aku menjadi prajurit. Aku tidak akan membuang bakatmu sia-sia. Tapi ingat syaratnya: kerjaanmu tidak boleh mengganggu kewajibanmu sebagai istriku. Kau harus tetap menjaga sikap, berpakaian pantas, dan ingat siapa suamimu. Dan satu lagi..."
Putra mendekatkan wajahnya sedikit, membuat napasnya yang hangat terasa menyentuh telinga Citra. "Gunakan keahlian doktermu itu sebaik-baiknya. Siapa tahu nanti kau butuh menyembuhkan luka, baik luka orang lain, maupun luka yang mungkin akan aku berikan pada keluargamu."
Kalimat terakhir itu seperti es yang dingin menusuk ke dalam tulang Citra. Ia menegang kaku di tempatnya. Lagi-lagi ancaman itu. Lagi-lagi dendam itu. Rasanya Putra tidak pernah lupa sedetik pun akan tujuan utamanya, sementara Citra perlahan mulai kehilangan dirinya sendiri dalam hubungan rumit ini.
"Terima kasih, Mas," jawab Citra dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menangis lagi di depan pria ini. Air matanya seolah menjadi senjata yang membuat Putra semakin bingung dan semakin marah pada dirinya sendiri.
Putra tidak menjawab lagi. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan dengan langkah tegap dan cepat, seolah ingin lari dari suasana yang mulai membuatnya sesak napas. Suara pintu depan yang tertutup rapat terdengar bergema ke seluruh penjuru rumah, meninggalkan Citra sendirian kembali dalam keheningan yang panjang.
Setelah memastikan suara kendaraan Putra sudah menjauh, Citra kembali duduk diam. Di dalam hatinya, ada rasa lega karena ia masih diizinkan bekerja. Rumah sakit adalah satu-satunya tempat ia bisa bernapas lega, tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri, bukan sekadar istri dari musuh keluarga. Namun, di balik rasa lega itu, kekhawatiran besar masih menghantuinya. Apa yang sebenarnya direncanakan Putra? Sampai di mana batas kebencian itu akan ia lampaukan?
Siang itu, Citra memutuskan untuk tidak berdiam diri di rumah. Ia bergegas bersiap-siap menuju rumah sakit, melapor kembali bertugas. Sesampainya di sana, sambutan hangat dari rekan-rekan dan perawat membuat hatinya sedikit lebih hangat. Namun, sorot mata penasaran dan bisik-bisik pelan yang terdengar saat ia lewat, mengingatkan dirinya bahwa beritanya menikah dengan Letnan Kolonel Setiawan sudah menjadi pembicaraan hangat di mana-mana.
"Dokter Citra! Selamat ya, baru sempat mengucapkan selamat," sapa Suster Rina yang berpapasan dengannya, tersenyum ramah namun dengan tatapan menyelidik. "Pasti bahagia sekali ya, suami gagah, berkedudukan tinggi. Pasangan yang sangat serasi."
Citra hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa palsu namun harus ia pertahankan. "Terima kasih, Sus. Ya... semuanya baik saja."
"Eh, tapi Dok," Suster Rina mendekat sedikit, berbisik pelan. "Kata orang-orang, Pak Letnan itu orangnya sangat dingin, tegas, dan menakutkan sekali. Benar tidak? Bagaimana rasanya menjadi istrinya?"
Pertanyaan itu tepat sasaran. Bagaimana rasanya? Rasanya seperti berjalan di atas tali yang sangat tipis di atas jurang yang dalam. Rasanya seperti memegang bara api yang indah namun bisa membakar diri kapan saja. Rasanya dicintai sekaligus dibenci pada saat yang bersamaan.
"Dia... dia orang yang bertanggung jawab, Sus. Hanya saja... dia punya prinsip yang sangat kuat," jawab Citra sekenanya, lalu bergegas pergi ke ruang perawatan untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.
Sepanjang hari itu, Citra bekerja dengan sangat rajin, menumpahkan segala kekhawatiran dan perasaannya ke dalam pekerjaannya. Ia memeriksa pasien dengan teliti, mendengarkan keluhan mereka, dan memberikan perawatan terbaik. Menjadi dokter memberinya ketenangan yang tidak ia dapatkan di rumah barunya.
Namun, takdir seolah terus mempertemukannya dengan sosok itu. Menjelang sore, saat Citra sedang sedang berada di ruang ganti untuk bersiap pulang, terdengar suara riuh rendah lagi dari arah depan. Suara langkah kaki berat dan perintah-perintah singkat terdengar mendekat. Jantung Citra berpacu kencang. Ia kenal suara itu, ia kenal aura itu.
Pintu ruang ganti terbuka perlahan, dan sosok yang memenuhi pikirannya selama ini berdiri di sana. Putra Setiawan. Wajahnya terlihat sedikit lelah, mungkin karena tugas seharian, namun tatapannya tetap tajam dan menguasai ruangan. Di belakangnya, beberapa staf rumah sakit tampak gugup berdiri menunggu.
Putra mengisyaratkan tangan agar mereka semua mundur dan menjauh. Saat hanya tinggal mereka berdua, ia melangkah masuk lebih dekat, menutup pintu di belakangnya. Ia menatap Citra yang masih mengenakan seragam dokter putih, rambutnya sedikit terurai berantakan karena lelah bekerja, namun wajahnya tetap memancarkan kecantikan alami yang mempesona.
"Aku lewat sini, sekalian menjemput," ucap Putra singkat, matanya meneliti penampilan istrinya. Ada kilatan kagum yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. "Kau bekerja cukup keras. Seolah ingin lupa kalau kau sudah punya suami."
Citra menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia menatap balik mata hitam itu dengan keberanian yang mulai ia bangun perlahan. "Bekerja adalah kewajiban dan panggilanku, Mas. Sama seperti tugasmu di militer. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa."
Putra terdiam. Ia berjalan semakin dekat, jarak di antara mereka semakin menipis. Udara di ruangan itu terasa panas dan berat. Ia menatap wajah Citra begitu lekat, meneliti setiap detail, seolah mencari jejak kejahatan yang selama ini ia yakini ada di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan, kelelahan, dan kelembutan yang menyakitkan hatinya.
"Kau tahu, Citra..." ucap Putra parau, suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berat. "Semakin aku melihatmu, semakin aku bingung. Kau bertindak seolah-olah kau benar-benar tidak bersalah. Kau bertindak seolah-olah kau benar-benar wanita baik-baik. Dan itu... itu membuat rencanaku semakin sulit dijalankan."
Tangan kekar Putra terangkat, perlahan menyentuh pipi Citra. Sentuhan itu begitu kontradiktif dingin namun membakar, kasar namun lembut. Citra tidak mundur, ia membiarkan sentuhan itu ada di sana, menatap lurus ke dalam mata pria itu.
"Dan apa rencanamu sebenarnya, Mas?" tanya Citra pelan, berani sekali. "Menghancurkan aku? Menyakiti aku? Kalau iya, lakukan saja sekarang. Tapi ingatlah satu hal... aku tidak pernah meminta dilahirkan dari keluarga ini. Dan aku tidak pernah meminta hatiku perlahan berdebar setiap kali kau dekat."
Kalimat terakhir itu terucap begitu saja, di luar kendali Citra sendiri. Wajahnya memerah seketika karena malu, namun ia tidak memalingkan wajah.
Mata Putra melebar. Tubuhnya menegang hebat. Di dalam dadanya, perang besar kembali berkecamuk lebih dahsyat dari sebelumnya. Pengakuan diam-diam itu, kejujuran yang polos itu, benar-benar menghancurkan benteng pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin menjauhkan dirinya, tapi jantungnya berdetak begitu kencang seirama dengan jantung wanita di depannya.
Tanpa sadar, tanpa rencana, wajah Putra perlahan mendekat. Jarak antara wajah mereka tinggal beberapa senti. Napas mereka bercampur baur. Di detik itu, dendam, kebencian, janji masa lalu, semuanya lenyap seketika, digantikan oleh daya tarik yang begitu kuat dan tak terbantahkan.
Namun, akal sehat masih tersisa sedikit dalam diri seorang prajurit. Putra mengerang pelan, menepis tangannya dari pipi Citra seolah tersengat listrik. Ia mundur selangkah, menatap Citra dengan tatapan bingung dan marah-marah pada dirinya sendiri, marah pada takdir, marah pada perasaan yang tak diinginkan ini.
"Cepat bersiap," ucapnya kasar, suaranya serak dan berat, memunggungi Citra agar tidak tergoda lagi. "Kita pulang. Dan ingat... jangan pernah berharap aku membalas perasaan apa pun. Kau tetaplah putri Haris Lestari. Dan aku tetaplah orang yang akan menghancurkan segalanya."
Putra berjalan keluar ruangan dengan langkah tergesa, meninggalkan Citra yang berdiri terpaku dengan jantung yang berdebar tak beraturan dan pipi yang memanas. Di ruangan itu, tersisa aroma tubuh Putra yang kuat dan bingung yang sama besarnya di hati Citra.
Bersambung...