NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 // MBKCM

​Jarum jam tepat menunjukkan pukul satu siang ketika pintu ruko kaca Twin's Florist berdenting pelan. Rio, pemuda kuliahan yang menjadi pekerja paruh waktu Kiana, melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah-engah sembari menyandang tas ranselnya.

​"Siang, Mbak Kiana. Siang, Mbak Sas. Maaf ya agak telat sepuluh menit, tadi jalanan di dekat kampus macet sekali karena ada pengalihan arus ke arah mall baru," ujar Rio sembari meletakkan tasnya di loker bawah meja kasir. Rio sudah mengenal Saskia karena dia sering melihat Kiana video call dengan wanita berambut sebahu itu.

​Saskia yang sedang berdiri di belakang Kiana langsung menoleh dengan senyuman lebar. "Eh, Rio! Pas banget kamu baru datang. Tidak apa-apa telat sedikit, yang penting siang ini kamu stand-by di toko ya?"

​"Siap, Mbak Sas. Aman," sahut Rio sigap.

​Sementara itu, Saskia kembali memfokuskan perhatiannya pada Kiana yang sedang duduk di kursi rias kecil dekat tangga lantai dua. Tangan Saskia dengan telaten merapikan rambut hitam Kiana yang diikat rapi ke belakang, lalu memasangkan sebuah pita rambut kain berwarna pastel yang manis.

​Saskia mundur dua langkah, memandangi hasil karyanya dari belakang sebelum akhirnya berjalan memutari kursi untuk menatap Kiana dari samping. Tawa renyah langsung keluar dari bibir Saskia.

​"Kiana, coba deh kamu lihat di cermin," goda Saskia sembari menunjuk bayangan sahabatnya. "Kamu itu kalau dilihat dari belakang masih seperti gadis remaja tahu. Badannya masih kelihatan ramping. Tapi lucunya, begitu kamu balik badan dan dilihat dari samping... ternyata perutmu sudah buncit sekali!"

​Kiana seketika merona merah, tangannya yang halus bergerak mengusap perut kembungnya yang kini tercetak jelas di balik gaun hamil longgar yang dia kenakan. "Ih, Saskia! Namanya juga sedang hamil besar, tentu saja perutku menonjol. Ada-ada saja kamu ini."

​"Hahaha, tapi beneran kamu gemas sekali, Kia. Aura keibuanmu keluar banget," puji Saskia tulus.

​Kiana bangkit berdiri perlahan, membetulkan letak tas selempangnya lalu menoleh ke arah meja kasir. "Rio, Mbak titip toko dulu ya. Kamu jaga ruko sebentar. Kami tidak akan lama kok, hanya mau mencari beberapa keperluan sebentar di luar."

​"Iya, Mbak Kiana. Hati-hati di jalan ya, jangan lelah-lelah," sahut Rio ramah dari balik meja.

​"Kami pamit dulu ya, Rio," tambah Saskia sembari menarik lengan Kiana keluar ruko karena ponselnya sudah bergetar, menandakan bahwa taksi online yang mereka pesan sudah tiba di depan gerbang.

​Di dalam kabin taksi online yang bergerak membelah jalanan kota Bandung menuju pusat perbelanjaan yang baru diresmikan, Kiana menatap keluar jendela dengan gurat kecemasan yang samar di wajahnya.

​"Sas, kamu yakin kita harus pergi ke mall baru itu sekarang?" tanya Kiana, suaranya terdengar agak ragu. "Pasti nanti di sana ramai sekali, Sas. Soalnya kan mall itu baru beberapa jam lalu selesai diresmikan sama jajaran pejabat dan pemiliknya."

​Saskia yang sedang asyik memikirkan daftar belanjaan langsung menoleh, menepis kekhawatiran Kiana. "Ih, justru karena baru diresmikan hari ini, kita harus datang sekarang, Kiana! Kalau kita datangnya besok-besok, kita nggak bakal kebagian diskon besar-besaran dari brand-brand baru di sana."

​Saskia memajukan tubuhnya, menatap perut Kiana dengan mata berbinar-binar. "Duh, aku sudah tidak sabar tahu! Aku ingin sekali membelikan bando-bando yang lucu atau topi bayi yang menggemaskan untuk si kembar di perutmu ini. Walaupun... jenis kelamin mereka berdua kan belum diketahui secara pasti karena posisi mereka yang suka sembunyi saat di-USG kemarin."

​Kiana tersenyum keibuan, tangannya kembali mengusap perutnya yang mendadak terasa hangat. "Iya, dokter kemarin juga bilang posisinya masih membelakangi."

​"Ih, tapi firasatku ya, Kia... siapa tahu mereka ini malah sepasang! Satunya laki-laki, satunya perempuan. Wah, kalau benar sepasang, pasti bakal lengkap dan lucu sekali!" cerocos saskia antusias.

​"Mau laki-laki atau perempuan, yang penting mereka berdua sehat dan selamat sampai persalinan nanti, Sas. Hanya itu doaku," tutur Kiana lirih, menatap lembut perut buncitnya.

.

.

​Begitu tiba di mall baru tersebut, suasana benar-benar sesuai dengan dugaan Kiana, luar biasa megah dan sangat padat. Namun, rasa cemas Kiana seketika menguap begitu mereka berdua memasuki area baby shop di lantai tiga.

​Selama hampir dua jam, Kiana dan Saskia benar-benar menikmati waktu mereka untuk belanja puas. Mereka berkeliling memilih barang-barang perlengkapan bayi yang sangat lucu, mulai dari baju-baju rajut berukuran mini, kaus kaki bermotif hewan, hingga selimut bulu yang teramat lembut. Rasa lelah seolah sirna digantikan oleh kebahagiaan yang membuncah di dada Kiana melihat tumpukan barang calon anaknya.

​Namun, petaka kecil dimulai saat mereka memutuskan untuk pulang menjelang sore hari. Begitu mereka keluar dari toko bayi dan hendak menuju eskalator, situasi di koridor utama mall mendadak berubah menjadi sangat kacau. Rupanya, sedang ada acara pembagian voucer belanja gratis dan penampilan artis ibu kota di atrium utama lantai bawah, memicu gelombang pergerakan ribuan pengunjung yang membludak naik ke lantai atas.

​"Aduh, Sas... kok jadi ramai sekali begini?" bisik Kiana ketakutan, tangannya secara refleks mendekap perut buncitnya secara protektif di tengah kepungan manusia.

​Saskia yang menenteng dua kantong belanjaan besar juga mulai panik. "Sial, orang-orang ini kenapa jadi dorong-dorongan begini, sih?! Kia, pegang tanganku yang erat!"

​Arus desakan dari pengunjung yang membludak semakin tidak terkendali. Di tengah hiruk-pikuk dan aksi saling dorong antar pengunjung, tubuh Kiana yang sedang berbadan dua mendadak tak sengaja tersenggol dengan cukup keras oleh bahu seorang pria yang tergesa-gesa melintas.

​"Ah!" pekik Kiana pelan.

​Senggolan keras itu seketika membuat keseimbangan tubuh Kiana goyah. Kakinya terpeleset ke arah belakang, membuat tubuhnya oleng dan bersiap jatuh tersungkur ke atas lantai ubin mall yang keras. Saskia menjerit histeris karena pegangan tangan mereka terlepas. "Kiana!!!"

​Kiana memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima benturan yang bisa mengancam nyawa dua janinnya. Namun, benturan keras itu tidak pernah terjadi.

​Sebuah lengan yang teramat sangat kokoh dan kekar mendadak bergerak dengan kecepatan kilat dari arah samping, menangkap dan menopang tubuh Kiana yang oleng sebelum sempat menyentuh lantai. Kiana tersentak, perlahan membuka kelopak matanya yang bergetar.

​Saat itulah, waktu seolah berhenti berputar di tengah riuhnya ribuan manusia di mall tersebut.

​Kiana mendongak, dan sepasang matanya langsung bertemu lurus dengan sepasang mata elang yang teramat sangat tajam, dingin, namun saat ini sedang membelalak lebar karena syok yang luar biasa. Pria yang menolongnya tidak lain dan tidak bukan adalah Ardan Arkatama.

​Mereka berdua sama-sama terpaku kaget, membeku dalam keheningan yang mencekam karena dipertemukan kembali oleh takdir di tempat yang sama sekali tidak terduga ini.

​Kedua tangan Ardan mendekap tubuh Kiana dengan sangat erat dari belakang untuk menopangnya. Dan entah karena ketidaksengajaan atau dorongan insting, satu telapak tangan kanan Ardan yang besar dan hangat terletak tepat, melekat sempurna di atas permukaan perut buncit Kiana.

​Dug. Dug.

​Pada detik kebersamaan itu, sebuah keajaiban biologis mendadak terjadi di dalam rahim Kiana. Dua anak kecil di dalam perut Kiana seakan-akan tersadar sepenuhnya secara magis bahwa ini adalah sentuhan tangan dari ayah kandung mereka yang sesungguhnya. Detik itu juga, dua janin kembar tersebut memberikan sebuah gerakan responsif berupa tendangan kecil yang cukup kuat dan beruntun tepat di bawah telapak tangan Ardan.

​Deg!

​Hantaman tendangan kecil dari dalam perut itu seketika membuat jantung Ardan berdesir hebat dengan rasa ngilu dan getaran emosional yang luar biasa besar yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Ardan terperangah, menatap tangannya yang menempel di perut Kiana dengan tatapan goyah.

​Menyadari situasi berbahaya ini, Kiana yang pertama kali menguasai akal sehatnya langsung dilingkupi oleh rasa panik dan trauma masa lalu yang mendalam. Kiana segera bergerak menghindar dengan kasar, menjauhkan tubuhnya dari dekapan Ardan dan menyentakkan tangan pria itu dari perutnya.

​Tanpa mengucapkan satu patah kata terima kasih pun, dengan wajah yang memucat dan napas yang memburu, Kiana langsung berjalan cepat. Dia meraih dan menarik paksa tangan Saskia yang sejak tadi ikut mematung diam di tempat. Saskia yang tadinya syok setengah mati karena takut Kiana akan jatuh, kini syoknya bertambah seratus kali lipat karena menyadari pria yang berdiri di depan mereka adalah Ardan Arkatama.

​"Kiana... tunggu dulu...!" panggil Ardan dengan suara baritonnya yang mendadak terdengar parau dan goyah, melangkah satu tindak hendak mengejar.

​Namun Kiana tidak menghiraukan panggilan itu. Dia terus setengah berlari menarik Saskia menembus kerumunan pengunjung untuk menuju lift darurat. Begitu mereka berhasil masuk ke dalam lift yang sepi menuju area parkir bawah tanah, Saskia langsung menahan pintu lift dan menatap Kiana dengan tatapan tidak percaya sekaligus gemas.

​"Kia! Kenapa kita malah pergi begitu saja, sih?!" seru Saskia dengan suara tertahan, napasnya naik turun. "Kia, ini... ini saatnya kamu mengatakan yang sebenarnya pada pria itu! Ini saatnya kamu bilang kalau kamu sedang mengandung anak-anaknya! Kamu tidak lihat tadi bagaimana ekspresi wajahnya? Dia bahkan masih berdiri mematung menatap lurus ke arahmu saat kita pergi tadi!"

​Kiana bersandar pada dinding besi lift, air mata yang sejak tadi dia tahan di hadapan Ardan akhirnya luruh membasahi pipinya yang pucat. Dia menggelengkan kepalanya dengan sangat lemah, memegangi perutnya yang masih terasa bergetar akibat tendangan tadi.

​"Diam, Sas... aku mohon diam," isak Kiana, suaranya terdengar sangat perih dan hancur. "Dia... pria itu tidak akan pernah menginginkan kehadiran anak-anak ini di dalam hidupnya. Bagi dia, aku hanyalah wanita sampah yang berkhianat. Aku tidak mau mengemis belas kasihan dari pria kejam sepertinya. Ayo kita pulang, Sas... bawa aku pulang ke ruko sekarang juga."

​Saskia yang melihat air mata sahabatnya seketika kehilangan kata-kata. Dia mengembuskan napas panjang penuh kekecewaan, lalu merengkuh tubuh bergetar Kiana ke dalam pelukannya saat pintu lift tertutup rapat, membawa mereka menjauh dari jangkauan Ardan yang kini masih berdiri kaku di lantai atas dengan telapak tangan yang masih menyisakan kehangatan dari tendangan sang buah hati.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!