NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.

"Sejak saya kecil... saya tidak pernah tahu rasanya dipeluk oleh orang tua, rasanya disayang, atau rasanya menjadi anak yang berharga," lanjutnya dengan suara yang tercekat. "Bagi Ibu dan laki-laki yang saya sebut Ayah itu... saya hanyalah beban, hanyalah pembantu, dan hanyalah anak yang salah lahir. Selama ini, seluruh kasih sayang, makanan enak, pakaian bagus, perhatian, dan kebanggaan mereka... semuanya, semuanya hanya diberikan untuk Sania. Adik tiri saya itu. Sania segalanya bagi mereka, sedangkan saya... saya bukan siapa-siapa. Saya hanya ada saat mereka butuh, dan dibuang saat mereka merasa saya mengganggu."

Salwa mengangkat wajahnya, menatap Ardiansyah dengan pandangan yang memohon, penuh kepedihan masa kecil yang tertahan puluhan tahun.

"Saya tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang orang tua, Ayah. Tidak pernah. Jadi... bolehkah kali ini... saya memeluk Ayah? Sekali saja. Agar saya tahu, rasanya punya ayah itu seperti apa."

Hati Ardiansyah terasa tercabik-cabik mendengar pengakuan putrinya itu. Ia tidak sanggup lagi menahan gejolak rasa yang bergemuruh di dadanya. Selama dua puluh tahun ia memendam rindu, selama dua puluh tahun ia hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam, berharap suatu hari bisa memeluk anak yang selama ini selalu ia bayangkan wajahnya dalam doa.

Dan kini, anak itu ada di hadapannya. Cantik, tegar, namun penuh luka yang disebabkan oleh orang-orang jahat yang ia percayai dulu.

Tanpa ragu sedetik pun, Ardiansyah berjalan mengelilingi meja kerja itu, melangkah cepat mendekati Salwa. Dengan tangan yang gemetar menahan haru dan sakit hati, ia merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

"Datanglah ke sini, Nak... Putriku..." suaranya pecah, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang mulai terlihat guratan usia.

Salwa pun berlari kecil, menubruk dada bidang ayahnya itu, lalu memeluknya erat-erat seolah takut jika ia melepaskannya, ayahnya akan hilang lagi seperti mimpi-mimpi indah yang sering ia alami namun sirna saat bangun tidur.

Ardiansyah membalas pelukan itu dengan kekuatan penuh, memeluk putri kandungnya seeratnya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Salwa, menghirup aroma tubuh anaknya yang terasa begitu akrab dan miliknya sepenuhnya. Ia menangis, menangis tersedu-sedu melepaskan segala rindu yang tertahan, segala kemarahan pada nasib, dan segala rasa sakit karena tidak bisa melindungi putri kecilnya selama ini.

"Maafkan Ayah... maafkan Ayah, Salwa..." bisik Ardiansyah di sela-sela isak tangisnya. "Maafkan Ayah karena terlambat datang. Maafkan Ayah membiarkanmu hidup sendirian, membiarkanmu disakiti, dibuang, dan diperlakukan buruk oleh manusia-manusia jahat itu. Ayah tidak tahu... Ayah tidak menyangka mereka sekejam itu padamu. Ayah pikir setidaknya ibumu akan melindungimu... tapi ternyata... ternyata Ayah salah besar."

Ia mengusap lembut rambut hitam panjang putrinya, membelai punggung dan bahu gadis itu dengan penuh kasih sayang, berusaha memberikan segala kehangatan dan perlindungan yang selama dua puluh tahun ini hilang dari hidup Salwa.

"Mulai detik ini, Nak... semuanya akan berubah," janjinya dengan suara tegas namun masih bergetar. "Tidak ada lagi yang boleh menyakitimu. Tidak ada lagi yang boleh memandangmu rendah. Tidak ada lagi Sania, tidak ada lagi Ibu, tidak ada lagi laki-laki bernama Joko yang bisa berbuat semena-mena padamu. Mulai sekarang, Ayah ada di sini. Ayah akan menjadi perisai yang paling kuat bagimu. Kamu adalah putri tunggal ku, kamu adalah wanita paling berharga di dunia ini bagiku. Dan semua kasih sayang, kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan yang Ayah punya... semuanya akan menjadi milikmu, Salwa. Hanya milikmu."

Salwa memeluk ayahnya semakin erat, menangis sepuasnya, menumpahkan semua kesedihan masa kecilnya, semua rasa iri saat melihat Sania dimanja, semua rasa sakit saat dibentak dan dipukul, semua rasa malu saat diceraikan dan diusir. Semua beban itu seolah perlahan terangkat, digantikan oleh rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ia menangis bukan lagi karena ia lemah, tapi karena akhirnya ia menemukan tempat di mana ia benar-benar diinginkan, tempat di mana ia tidak perlu takut diusir atau dibuang. Di dalam pelukan ayahnya itu, Salwa merasa lengkap kembali.

"Terima kasih, Ayah..." gumam Salwa lirih, hatinya yang dulu hancur dan dingin kini mulai dipanaskan kembali oleh kasih sayang sejati. "Terima kasih sudah datang menjemput saya. Saya pikir... saya pikir Tuhan sudah melupakan saya. Tapi ternyata... Tuhan masih baik, Dia mengembalikan Ayah pada saya."

Ardiansyah melepaskan pelukannya sejenak, lalu mengusap wajah putrinya, menghapus jejak air mata itu dengan lembut, menatap mata Salwa dalam-dalam.

"Tuhan tidak pernah melupakanmu, Nak. Ayah pun tidak pernah. Dan mulai sekarang, kita akan berjalan bersama. Kita akan buktikan pada dunia, dan pada mereka yang jahat itu... betapa besar penyesalan mereka telah melepaskan mu, dan betapa mahal harga yang harus mereka bayar atas setiap tetes air matamu."

Di ruangan itu, di tengah derasnya air mata rindu dan bahagia, ikatan darah yang sempat terputus oleh kebohongan masa lalu akhirnya terjalin kembali lebih kuat dari sebelumnya. Dan dari kasih sayang ayah dan anak itu, tumbuhlah tekad yang semakin kokoh: untuk bangkit bersama, dan menghancurkan siapa saja yang berani melukai atau menghalangi jalan mereka.

Setelah puas melepaskan rindu dan menumpahkan segala rasa sakit dalam pelukan itu, Ardiansyah perlahan melepaskan rangkulannya. Ia kembali mengusap lembut pipi putri kandungnya, menatap wajah Salwa yang kini terlihat lebih tenang meski mata dan kelopak matanya masih merah sembab.

Hati Ardiansyah terasa nyaman namun juga penuh kekhawatiran. Ia tahu, tubuh dan jiwa gadis itu telah menanggung beban yang terlalu berat hanya dalam kurun waktu satu hari ini. Diceraikan, diusir, berjalan di tengah hujan, hingga akhirnya mengetahui segala kebenaran pahit masa lalu. Semua itu pasti menguras seluruh tenaga dan perasaannya.

"Nak," ucap Ardiansyah pelan, suaranya lembut namun tegas. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis senyum ayah yang penuh kasih sayang, bukan lagi senyum dingin yang dulu ditampakkannya saat masih menjadi sosok misterius. "Sudah cukup untuk malam ini. Kau sudah melewati hari yang sangat panjang, berat, dan menyakitkan. Tubuhmu pasti sangat lelah, dan pikiranmu pun butuh istirahat untuk mencerna semua yang baru saja kau dengar dan kau ketahui."

Salwa mengangguk pelan. Ia memang merasa seluruh tenaganya tersedot habis. Rasanya ia ingin sekali tidur panjang, tidur yang nyenyak tanpa lagi dihantui rasa takut atau mimpi buruk seperti dulu. Namun, rasa penasaran dan semangatnya untuk membalas dendam masih menyala kuat di dadanya. Ia ingin tahu lebih banyak, ingin segera bertindak.

"Tapi Ayah... bagaimana dengan rencana kita? Saya ingin tahu apa yang harus saya lakukan besok," jawab Salwa lirih, suaranya masih sedikit serak.

Ardiansyah tersenyum makin lebar, lalu menepuk pelan bahu putrinya.

"Tenang saja, Nak. Semuanya sudah Ayah susun matang-matang. Besok, saat matahari terbit dan pikiranmu sudah segar kembali, Ayah akan membicarakan semuanya secara rinci. Kita akan bahas langkah demi langkah bagaimana kita akan bangkit, dan bagaimana kita akan membuat mereka semua menyesal telah berbuat jahat padamu dan pada kita."

Ia berjalan kembali ke balik meja kerjanya, lalu berbalik menatap Salwa dengan pandangan yang penuh arti.

"Dan ada satu hal lagi..." tambah Ardiansyah, nada bicaranya sedikit berubah menjadi lebih serius namun tetap hangat. "Besok, selain membicarakan rencana kita, Ayah juga akan memperkenalkan seseorang kepadamu. Seseorang yang sangat Ayah percaya, seseorang yang sudah membantu Ayah selama bertahun-tahun, dan orang itu akan memegang peran yang sangat penting dalam proses perubahan dirimu dan dalam perjalanan kita nanti."

Mata Salwa sedikit membelalak karena terkejut. "Seseorang, Ayah? Siapa dia?"

Bersambung,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!