Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jendral ngaret, bapak naik pangkat
Matahari belum naik. Bulan masih keliatan nangkring di langit, pucet tapi nggak mau pulang. Ayam jantan di kandang belakang juga belum berkokok. Dunia masih tidur.
Tapi alarm militer Chandra yang dia pasang sejak hari pertama jadi prajurit udah bunyi: _kring_. Pelan, di kepala doang. Ditambah ngorok halus dua manusia yang tidur di kasur yang sama — buyar sudah mimpi tempur.
Chandra melek. Seketika nyesel melek.
Kakinya nggak bisa gerak. Ditindih bocah 4 tahun. Cikal tidurnya berantakan. Bukan cuma mainnya, tapi tidurnya juga aktif. Kaki di perut, tangan di muka, kepala udah deket dengkul Chandra. Jurus tidur kungfu.
Dada Chandra juga agak sesek. Berat. Ada tangan alus nyender di situ. Tangannya Anna. Yang punya tangan masih tidur pules, napasnya anget kena leher Chandra. Mungkin nggak sengaja. Mungkin kebiasaan. Ibu sama anak, tidurnya sama-sama nggak bisa diem.
Sepersekian detik, mata Chandra diem. Jatuh ke wajah polos cantik yang nyender di dadanya.
Adem. Cantik. Nggak pake bedak, nggak pake settingan. Alisnya agak kusut, bibirnya sedikit mangap. Anna nggak pernah bosen buat diliatin.
Seketika Chandra lupa wajah ini yang semingguan ini bikin rumah gempar. Wajahnya nggak punya salah. Nggak ada sorot hitam kesalahan. Nggak ada dendam. Liatnya bikin dada Chandra aneh — pengen ngelindungin dia seumur hidup, lupa kalo Anna itu bukan cewek sembarangan. Dia jaga diri sendiri. Dia bisa bikin bom cabe. Dia bisa bikin Marsekal Besar tunduk.
Insting Jendral yang biasa bangun paling pagi, lari 5 kilo, mandi air es — ilang. Diganti insting bapak yang nggak mau tidur istri dan anaknya keganggu gara-gara dia gerak.
Jadi Chandra mutusin: balik tidur. Merem lagi. Narik napas pelan. Berharap mimpi indah ini nggak buyar pas dia bangun lagi. Biarin apel pagi telat. Biarin negara nunggu. 15 menit jadi bapak nggak akan bikin perang.
...
Pagi-pagi.
Chandra turun dari lantai dua. Kaya bapak-bapak komplek, bukan kaya Jendral yang fotonya nempel di markas. Kaos oblong, celana training, sendal jepit. Nggak ada bintang di pundak. Nggak ada pistol di pinggang.
Wajahnya masih bantal. Mata masih sipit. Chandra beneran ngaret 3 jam dari jam biasanya dia bangun. Rekor.
Di gendongannya, Cikal masih berantakan. Belum mandi, belum cuci muka, rambutnya berdiri kaya landak abis kesetrum. Masih setengah ngantuk, pipi ditempel ke dada ayahnya, ngeces dikit.
Semua orang di ruang tengah udah sibuk sama tugasnya masing-masing. Arjuna duduk tegap, udah pake seragam, kopi udah setengah. Chandrawati keliatan lagi berdiri, nyuguhin kopi ke suaminya sambil senyum-senyum ke anak sulungnya.
Delapan selir udah standby di meja makan, nyiapin sarapan dibantu dayang. Sendok garpu beradu, wangi nasi uduk kemana-mana.
Terus semua kepala nengok. Serempak. Kayak liat kuda berkepala dua.
Ini bukan Jendral. Pikir mereka keheranan. Ini bapak anak 1 yang begadang.
Sementara Ratna? Nggak keliatan. Mungkin lagi nangis di kamar karena semalem Chandra nggak ke kamarnya. Atau mungkin lagi mikir alibi baru.
Di belakang Chandra, Anna nyusul. Turun tangga buru-buru. Pake kebaya kuning muda, selendangnya jatuh sebelah, rambutnya dibiarin gerai, masih basah ujungnya. Gaya ibu-ibu bangun kesiangan, dibangunin anak. Boro-boro moles bedak, mandi aja kaya dikejar setan, sabunan 3 detik.
“Tumben jam segini belum siap?” tanya Chandrawati. Senyumnya ngembang sampe kuping. Goda.
Chandra garuk tengkuk yang nggak gatel. “Kasih Cikal makan dulu. Baru bangun udah minta makan,” sahutnya. Alasan paling masuk akal abad ini.
Tugas negara emang penting. Tapi tugas jadi bapak jauh lebih penting. Mengingat Cikal masih manggil dia “paman jahat”, bintang di seragamnya boleh lepas, tapi panggilan “Papa” harus buru-buru dijadiin lencana. Pangkat tertinggi.
“Paman jahat... Cikal mau rengginang,” suara serak bocah baru bangun. Tangannya nunjuk toples di meja tengah.
Chandra nurut. Kayak prajurit dapet perintah Kaisar. Jalan ke tengah rumah, ke depan bapaknya yang lagi ngopi, sambil ngambil rengginang dari toples. Satu, dua, tiga. Disuapin ke mulut Cikal yang mangap kaya burung.
Sementara Anna? Nunduk malu-malu. Jalan cepet-cepet ke meja makan, mau nyelametin diri dari tatapan 1 batalion. Tapi telat.
Para selir sama dayang udah senyum-senyum goda. Kode-kodean.
“Nikah udah lima tahun tapi masih malu-malu kaya pengantin baru,” goda salah satu selir, namanya Sumi. Sambil nyenggol lengan Anna pake sutil. “Semalem rujuk ya, Neng?”
Anna langsung salah tingkah. Kupingnya merah. “Udah, udah. Siapin sarapannya cepet. Tuan-tuan bentar lagi berangkat,” sahutnya cepet, alihin pembicaraan. Tangannya sibuk nggak jelas, benerin selendang, benerin piring, benerin dunia.
Chandra yang denger cuma diem. Tapi ujung kupingnya merah juga. Jendral berwibawa, kalah sama godaan Sumi.
Cikal ngunyah rengginang, terus narik kaos Chandra. “Paman jahat, suapin lagi.”
Chandra ngasih lagi. Terus lagi. Sampe pipi Cikal gembul sebelah.
Chandrawati ketawa kecil. Arjuna geleng-geleng sambil senyum. Bapaknya Chandra yang biasanya muka batu, sekarang ketawanya ditahan. Pemandangan langka: Jendral Chandra, tukang ngomel, sekarang jadi tukang suapin rengginang.
Anna liat dari meja makan. Sekilas. Terus balik nunduk, tapi senyumnya nyangkut. Nggak bisa hilang.
Dia menang lagi. Bukan di medan perang. Di meja makan. Di gendongan anak. Di bantalnya Chandra.
Dan Chandra? Dia baru sadar. Jadi “Paman Jahat” yang bangun kesiangan, nggak pake seragam, nyuapin rengginang ke anaknya... rasanya lebih damai daripada menang perang.
lnjut thor