Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After That
Setelah pembajakan sawah, Rayga dan Aurellia tidur begitu nyenyak.
Bahkan jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, mereka berdua masih saja berada di alam mimpi tanpa ada tanda-tanda hendak bangun.
"Apa semalam Tuan Rayga pulang, Bi?" tanya Rosa pada Bi Nery yang sedang menyiram tanaman di halaman samping.
"Bibi tidak tahu, Ros. Mungkin tidak pulang, karena pagi ini Bibi belum ada melihat tuan Rayga," jawab Bi Nery masih melanjutkan pekerjaannya.
"Syukur lah kalau Tuan Rayga tidak pulang. Kalau perempuan itu sudah turun apa belum, Bi?" tanya Rosa.
"Belum ... mungkin Non Aurellia masih di kamarnya," jawab Bi Nery masih saja lanjut menyiram tanaman, dia sudah langsung tahu siapa yang dimaksud oleh Rosa.
Rosa tidak lagi bertanya atau menanggapi jawaban Bi Nery, melainkan dia langsung berjalan cepat kembali masuk ke dalam rumah.
Dengan langkah terburu-buru, Rosa menaiki tangga menuju lantai atas.
Tujuan utamanya adalah kamar yang ditempati oleh Aurellia.
Tanpa mengetuk pintu kamar, Rosa langsung menerobos masuk.
Kata-kata hujatan sudah berseliweran di dalam kepalanya untuk dia lontarkan pada Aurellia.
"Enaknya jam segini masih belum bang- teriakan Rosa menggantung ketika matanya melihat yang tidur di sana juga ada Rayga.
Melihat itu Rosa langsung ketakutan.
Dia memutar langkahnya dan hendak lari keluar dari kamar itu.
Namun, langkahnya kembali terhenti ketika suara berat dan serak khas orang bangun tidur memanggilnya.
"Hei, siapa yang kau teriaki?!"
Mendengar pertanyaan itu, nyali Rosa langsung menciut.
Wajahnya merah padam, tubuhnya juga gemetar ketakutan.
Keringat dingin yang tidak diundang ikut keluar membasahi telapak tangan dan keningnya.
"Maaf, Tuan. Saya kira di sini tidak ada Tuan, tadi saya hanya ingin bercanda sama non Aurellia. Kami sudah terbiasa begitu," jawan Rosa berbohong.
Setelah berkata seperti itu, Rosa keluar dari kamar tanpa menunggu tanggapan Rayga yang masih melotot padanya.
Sedangkan Aurellia yang juga ikut terbangun mendengar teriakan Rosa saat pertama masuk kamar, dia hanya diam saja.
"Jaga batasan dengan pelayan! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Kita punya privasi yang tidak sepatutnya mereka bisa lancang seperti itu."
Setelah Rosa keluar dari kamar, malah imbasnya pada Aurellia yang dapat skakmat dari Rayga.
"Baik, Tuan," jawab Aurellia yang masih mengantuk dan malas banyak bicara untuk memberi keterangan tentang hubungannya yang diklaim Rosa, kalau mereka sudah terbiasa dengan guyonan seperti tadi.
Rayga melirik jam di dinding kamar, dia begitu kaget teringat jadwal yang telah dilewatkannya.
"Pukul sembilan," cuitnya.
Rayga segera beranjak menuju kamar mandi, dia melewati begitu saja pakaiannya yang berserakan di lantai tanpa ada niat memakainya kembali.
Aurellia mengintip pria yang telah mengarungi surga bersamanya beberapa jam lalu.
Ada rasa kagum melihat tubuh yang begitu profesional di depan matanya.
"Dilihat dari belakang saja, dia begitu gagah. Apalagi dilihat dari depan," gumam Aurellia, tanpa disadarinya muncul seulas senyum di bibirnya yang membengkak akibat ulah Rayga.
Rayga telah hilang dari pantauan matanya, tetapi Aurellia masih saja menatap jejak bayangan pria itu dengan senyum kekagumannya.
Sedangkan dari balik dinding kamar mandi, ada Rayga yang mengintip apa yang dilakukan Aurellia.
Masuk ke dalam kamar mandi bukannya untuk membersihkan diri, ternyata Rayga ke sana hanya buat mengambil bathrobe.
Dia memakai kimono berbahan handuk itu, lalu kembali keluar dari kamar mandi.
"Kenapa?" tanya Rayga menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak apa-apa," jawab Aurellia kelabakan, karena ketahuan oleh Rayga menatapnya intens seperti itu.
"Kagum padaku?" tanyanya lagi.
Rayga biasanya hemat bicara, tetapi tanpa dia sadari, sekarang sifatnya jauh berbeda dengan aslinya.
"Sebagai wanita normal, wajar aku mengagumi lawan jenisku. Apalagi sudah kulihat semuanya dari dia, tetapi Tuan tenang saja, aku hanya mengagumi tanpa ada niat untuk merebut hati apalagi memiliki," jawab Aurellia terang-terangan.
Awalnya Rayga merasa tersanjung karena Aurellia mengakui memang mengaguminya, tetapi kalimat terakhir Aurellia membuat mood Rayga memburuk.
"Aku akan balas budi seperti kesepakatan kita dan aku tidak akan mempersulitnya. Setelah ada anak laki-laki seperti yang Tuan pinta, aku akan pergi tanpa mengusik kehidupan Tuan," lanjut Aurellia yang dibalas dengan pelototan marah oleh Rayga.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi pernyataan Aurellia, pria itu langsung keluar meninggalkan Aurellia yang juga sudah diam di tempat.
Brak!
Aurellia terperanjat kaget ketika suara dentuman keras memekakkan telinganya.
Pintu kamar ditutup dengan bantingan keras oleh Rayga.
Untung saja pintu berbahan jati itu begitu kokoh.
Kalau tidak, mungkin pintunya sudah roboh.
"Astaga!" Aurellia memegang dadanya, menahan rasa kaget yang membuat jantungnya terasa hampir mau copot.
"Dia memang tampan, tetapi kenapa hobinya bikin orang jantungan?" gerutu Aurellia menatap pintu yang sudah tertutup, seolah di sana masih ada Rayga yang hendak dia umpati.
Sedangkan di kamar lain, Rayga juga membanting pintu kamarnya.
Tiba-tiba saja, emosinya membludak seperti itu.
Saat mau masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya, ponsel Rayga berdering, sehingga dia mengurungkan niat awalnya.
"Ada apa?" tanya Rayga tanpa basa-basi saat panggilan telepon itu dijawabnya.
"Gawat, Bos. Perusahaan di Amsterdam mengalami masalah besar. Para investor menghentikan kerjasama dengan kita, beberapa klien juga sudah pindah haluan, Sepertinya kita harus berangkat sekarang ke sana, pimpinan cabang sudah angkat tangan, karena dia sudah berusaha keras mempertahankan kestabilan perusahaan, tetapi tetap tidak membuah kan hasil," jelas Xander melalui sambungan teleponnya.
"Kerjamu apa? Kenapa bisa terjadi hal seperti itu? Apa kamu tidak memantau perusahaan yang ada di sana?" Rayga malah menyalahkan Xander yang punya tugas khusus untuk memantau semua perusahaan di bawah naungan mereka.
"Aku selalu pantau dan bekerja keras setiap hari, tetapi sepertinya ada yang tidak beres di luar kendaliku," jawab Xander.
"Dasar payah, percuma kau jadi hacker kalau masih kecolongan dalam bekerja!" Rayga mengumpati Xander, tetapi tidak memberi kesempatan Xander membantahnya, karena Rayga terlebih dahulu mengakhiri panggilan telepon mereka.
Rayga melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur, lalu berjalan cepat memasuki kamar mandi.
Dia membersihkan diri hanya sebentar, tidak ada acara rendaman air hangat di bathtub terlebih dahulu.
Mandi sekilas di bawah guyuran shower, lalu balik ke dalam kamar untuk memakai pakaiannya.
Tidak ada acara packing pakaian yang hendak dia bawa, Rayga hanya mengenakan pakaian yang melekat di tubuhnya saja untuk berangkat ke Amsterdam, salah satu kota besar di negara Belanda.
Di Belanda Rayga mempunyai beberapa perusahaan yang beroperasi secara legal dan ilegal.
Perusahaannya tersebar di beberapa kota untuk yang legal dan ada beberapa juga di beberapa daerah terpencil untuk perusahaan ilegal.
Laporan Xander saat ini untuk perusahaan legal di bidang textil yang beroperasi di pusat kota Amsterdam.
Sebelum berangkat, Rayga menemui Aurellia terlebih dahulu.
Wanita itu masih berbaring di tempat tidurnya.
"Aku ada urusan penting, mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aku kembali ke sini. Kamu jangan macam- macam, tetap di rumah ini dan jangan coba-coba kabur!"
"Aku tidak akan kabur, akan tetap di sini sampai kesepakatan kita berakhir. Semoga perjalanan Tuan selamat pulang-pergi. Semoga Tuhan mempermudah segala urusan Tuan dan memperlancar segala pekerjaannya." Aurellia mengiringi Rayga dengan doa dan harapan sebelum keberangkatan pria itu.
Aurellia duduk dan menarik selimut, menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.
Lalu berjalan mendekat dengan selimut sebagai penutup tubuhnya.
Dia mengulurkan tangannya untuk menyalami Rayga yang hendak pergi.
Ragu-ragu Rayga membalas uluran tangan Aurellia, karena ini baru kali pertama seorang wanita bersikap manis padanya.
Apalagi mengulurkan tangan dan menyalami dengan takzim seperti itu.
"Aku berangkat," pamit Rayga setelah tangannya dilepaskan oleh Aurellia.
"Hati-hati calon papa anakku. Maaf, aku tidak bisa mengantar ke luar. Aku masih begini." Aurellia makin berani dengan menyematkan panggilan pada Rayga sebagai calon papa anaknya, lebih berani lagi ketika Aurellia membuka selimutnya dan memperlihatkan bagaimana dirinya yang terlihat polos tanpa sesor.
Rayga kaget melihat Aurellia yang begitu berani padanya.
Dia menelan salivanya susah payah.
Andai bukan dalam keadaan genting yang mengharuskan dia pergi secepatnya, pasti saja Rayga akan kembali menerkam mangsa yang ada di depan mata.
Akan dia buat Aurellia terkapar tak berdaya sampai berteriak minta ampun dibawah tubuhnya untuk menyudahi permainannya.
"Tunggu aku kembali, akan kubuat kamu K.O sampai tak bisa berjalan," ujarnya yang dibalas kerlingan mata oleh Aurellia.