Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Clan Barat
Nova berjalan menuju aula pertemuan manor, gaya bangunan khas kerajaan itu terasa sangat terasa kental suasananya, bahkan jubah yang di gunakan nona Zoya dan yang lainnya terasa seperti berada di abad pertengahan antara abad ke 11-12.
Nova tak menyangka ia bisa merasakan sedang berada seperti di dunia fantasy, bangunan khas kerajaan yang hanya bisa ia lihat di televisi saja kini nampak jelas di hadapan matanya.
“Silahkan duduk, Nova.”
Nova menarik kursi dan duduk di ikuti yang lainnya.
“Maafkan sikap Ethan dan yang lainnya, aku tahu pertemuan pertama kalian tidak begitu menyenangkan...” ucap Nona Zoya membuka pembicaraan. “Kami, sengaja mengundangmu kemari karena melihat potensi yang ada pada dirimu sebagai praktisi jiwa.”
Praktisi jiwa?
Nova mengerutkan keningnya, dan mendengarkan setiap penjelasan dari nona Zoya. Ia belum sepenuhnya paham, apakah hanya dia seorang sebagai kultivator di antara mereka? Gumamnya.
“Maksud nona, praktisi jiwa?”
Kemudian nona Zoya menjelaskan bahwa praktisi jiwa lebih fokus ke kekuatan spiritual/jiwa (soul, spirit), bukan tubuh. Jalur ini biasanya lebih berbahaya tapi juga unik. Melatih kesadaran, mental, dan kekuatan jiwa, bisa menyerang atau bertahan lewat jiwa (serangan mental, ilusi, kontrol)
Tidak terlalu bergantung pada kekuatan fisik
Rentan jika jiwa mereka terluka atau di serang.
Nova mengangguk paham ternyata sangat berbeda dengan dirinya.
Jadi mereka seorang praktisi jiwa, pantas saja kekuatan fisik mereka sangat lemah.
“Jadi seperti itu, Nona. Baiklah aku mengerti,” ucap Nova.
Ethan yang berada di sebelahnya menoleh dengan cepat.
“Kau tidak tahu apa itu praktisi jiwa?”
Nova menggeleng pelan sambil menggaruk tengkuknya yang yak gatal, jika saja mereka semua tahu bahwa ia seorang kultivator mungkin akan membuat seisi manor menjadi heboh.
“Ck! Ternyata kau seorang pemula,” ejek Darius.
Nova hanya tertawa pelan, ia tahu dimana ia harus menggunakan kekuatannya. Meskipun Nova sedikir tersinggung, ia tak mempermasalahkan itu karena ia ingin lebih tahu lebih jauh tentang seorang praktisi jiwa.
“Cukup Darius! Semuanya fokus dan habiskan makanan di piring kalian,” ucap Nona Zoya dengan aura yang penuh dengan tekanan. Cukup membuat suasana kembali tenang.
Setelah penjamuan tamu mereka yaitu Nova selesai, Nona Zoya langsung membicarakan beberapa poin penting untuk kelangsungan dari manor mereka.
“Jadi maksud kami mengundang mu kemari, untuk mengajakmu bergabung dengan Clan kami The Grifindor. Clan kami tergabung beberapa Clan lainnya yang berada di bagian barat, dan masih banyak lagi, jadi bagaimana? Apa kau setuju untuk bergabung dengan kami?”
Nova sejenak terdiam dan menimang keputusan apa yang akan dia ambil, karena tentu saja setiap keputusan yang di ambilnya memiliki resiko dan keuntungan tersendiri untuknya.
Semua orang menatap ke arahnya, menunggu jawaban apa yang akan di berikan Nova. Sementara salah satu pemuda yang tak lain adalah Darius, hanya bisa meremehkan dan menganggap Nova tidak pantas untuk bergabung dengan Clan mereka.
“Baiklah, Nona. Beri aku waktu untuk mengambil keputusan yang tepat, karena aku juga harus berlatih dengan seseorang, dan meningkatkan kemampuan ku,” jawab Nova dengan suara yang cukup rendah.
Nona Zoya tersenyum, ia bersandar di kursi nya dan menatap ke arah Nova dengan tenang, sehingga membuat Nova yang melihatnya dapat merasakan keteduhan.
“Tentu saja, aku akan menunggu keputusanmu,” jawab Nona Zoya.
Darius yang duduk di paling ujung berdiri.
“Nona, bukankah dia harus melewati beberapa ujian dulu sebelum ia bergabung dengan Clan barat?” ucapnya mencoba memancing kegaduhan.
Gonor, salah satu pengawal Nona Zoya langsung menatap Darius dan membuatnya terpental dari kursinya.
Brakk!!
Serangan jiwa tingkat tinggi?
Semua orang langsung terkejut menyaksikan itu, terlebih Nova. Bukannya kasihan dengan sosok Darius, ia malah terkesan dengan kekuatan yang di keluarkan oleh Gonor.
“Lancang kau! Apa kau tidak tahu malu, berbicara seperti itu tanpa seizin dari Nona Zoya?!” bentak Gonor sambil menatap Darius yang berusaha bangkit.
Namun, bukannya jawaban yang di dapat, tapi Darius langsung meninggalkan aula itu.
“Kurang ajar!”
Saat Gonor hendak mengejar, Nona Zoya menahannya.
“Sudah biarkan saja, hormati tamu kita yang masih ada disini,” ucap Nona Zoya dengan tenang.
Gonor menarik auranya dan kembali duduk di kursinya, suasana kembali tenang dan Nova melanjutkan obrolan ringan bersama Nona Zoya dan yang lainnya.
Calista yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, mulai tertarik dengan sosok Nova yang terlihat misterius. Bahkan tak ada yang mengetahui kekuatan Nova berada di tingkat apa.
***
Ke esokan harinya, Nova sedang berada di kediaman Pratama untuk membawa kartu rekening prioritas berwarna hitam miliknya. Ia di temani oleh Aruna di sampingnya, setelah melakukan beberapa prosedur Nova akhirnya bisa mengantongi kartu prioritasnya itu yang berisi satu triliun lebih.
“Jika kau masih memiliki berlian, jangan lupa beritahu om, Nova.”
Nova mengangguk paham, dan setelah itu Nova bersama Aruna pergi menuju sebuah pusat perbelanjaan yang cukup elite bagi sebagian kalangan orang, namun bagi Aruna yang memiliki banyak uang itu hanya sekedar tempat biasa.
Meskipun Nova sudah mengantongi uang yang sangat banyak, ia merasa kurang terbiasa dengan suasana yang penuh dengan barang-barang mahal itu.
“Ayo, sekarang kita beli ponsel baru untukmu, sekarang kamu bisa membeli apapun yang kamu mau Nova, ayo cepat!” ucap Aruna sambil menarik tangan Nova dengan penuh antusias.
Dan saat keduanya berjalan, seseorang tak sengaja menabrak Aruna hingga nyaris terjatuh.
Brukk!
“Awww!”
“Upps! Sorry nggak sengaja,” ucap seorang gadis sambil menutup mulutnya dan tertawa cekikikan.
Untungnya Nova sigap menangkap tubuh Aruna agar tidak terjatuh, keduanya terkejut begitu melihat siapa yang dengan sengaja menabrak Aruna hingga nyaris terjatuh.
“Vanesha?” ucap Aruna dan Nova bersamaan.
Vanesha menatap keduanya dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia mendelikkan matanya sambil berkata.
“Cih! ngapain kamu disini? Mendingan kamu pergi ke tanah abang aja, nggak usah kesini, kamu nggak bakalan sanggup beli satupun barang yang ada disini,” ucap Vanesha dengan penuh ejekan kepada Nova.
Vanesha tahu siapa Aruna, jadi ia kurang berani untuk menyinggungnya. Merasa kesal dengan sikap Vanesha yang semena-mena Aruna maju selangkah sambil berkata.
“Memangnya kamu sanggup?” tanya Aruna.
Merasa Aruna membela Nova, Ia menjadi sedikit gentar.
“Kamu nggak usah ikut campur! Apapun yang aku mau disini pasti bisa ku beli, memangnya kenapa?!” jawab Vanesha dengan suara yang sedikit bergetar.
Kedua teman Vanesha menjadi panik dan ketakutan, namun sebelum semuanya berbuntut panjang Nova segera menengahi mereka dan menarik Aruna untuk menjauh dari Vanesha dan teman-temannya
“Udah, nggak usah ladenin mereka. Nggak terlalu penting,” ucapnya sambil berjalan menjauhi Vanesha dan kedua temannya.