NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:57.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah semuanya selesai di gudang, Adinda tidak langsung merasa lega.

Justru semakin banyak pertanyaan memenuhi kepalanya. Tentang masa lalunya. Tentang anak yang hilang. Dan tentang sosok kecil yang terus muncul di pikirannya sejak tadi.

Karena itulah, di tengah perjalanan pulang, ia tiba-tiba meminta mobil berhenti.

Sore itu mobil yang ia kendarai melambat ke sebuah kafe. Tempat itu tidak asing. Terlalu familiar untuk ia abaikan begitu saja.

Naya mengernyit heran. “Ndin, kenapa berhenti di sini?”

Adinda tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju ke arah bangunan di depannya sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil.

“Aku pertama kali ketemu dia di sini,” ucapnya pelan.

Ia melangkah masuk tanpa ragu. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan, mencari sosok kecil itu.

Namun semakin lama ia berdiri di sana, semakin jelas—yang ia cari tidak ada. Kursi itu kosong. Anak itu ternyata tidak datang lagi.

Adinda menghela napas pelan, langkah yang tadinya begitu yakin kini perlahan mengendur. "Ah... ternyata aku terlalu berharap."

Hatinya terasa aneh. Bukan sedih yang meledak, tapi kosong… seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.

“Udah kita pulang saja,” ucapnya akhirnya.

Naya tidak banyak bertanya. Ia bisa melihat sendiri—ada yang berubah, meski Adinda tidak mengatakannya.

Mobil kembali melaju ke arah pulang. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi bayangan anak kecil itu. Dan entah kenapa….

Tanpa sadar, ucapan Pak Arbani tadi kembali terlintas di kepalanya.

"Ndin, aku berhenti di sini saja," ucap Naya saat sampai di mini market dekat rumahnya.

"Kamu yakin mau berhenti di sini?"

"Iya karena ada yang mau aku beli," sahutnya.

Tanpa basa-basi Adinda langsung meminggirkan mobilnya, lalu keduanya berpisah di tempat ini.

"Terima kasih Ndin...!" seru Naya.

"Sama-sama, seharusnya aku yang banyak berterima kasih padamu," sahut Adinda.

Mobil melaju kembali, kali ini ia benar-benar menuju arah pulang.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam itu, rumah tidak menyambutnya dengan tenang.

Baru saja pintu terbuka, langkah Adinda langsung terhenti. Di ruang tengah, Arya berdiri dalam keadaan yang tidak biasa. Wajahnya kusut, matanya merah, dan sikapnya benar-benar berbeda dari biasanya.

“Dinda…”

Suaranya serak. Ia melangkah mendekat, seperti seseorang yang sudah kehabisan arah.

“Aku salah… aku benar-benar salah…”

Adinda diam. Tatapannya lurus, tidak goyah. Ia tidak mendekat, juga tidak mundur. Hanya berdiri dan melihat seseorang yang dulu ia percaya… kini berdiri dalam keadaan runtuh.

“Aku gak tahu apa-apa soal ini… aku cuma—”

“Cukup,” potong Adinda pelan.

Arya terdiam. Kalimatnya berhenti di tenggorokan.

Di sisi lain, Luna dan Airin yang sejak tadi memperhatikan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tatapan mereka berpindah-pindah antara Adinda dan Arya, sampai akhirnya satu fakta itu benar-benar terdengar jelas.

“Sebenarnya ini ada apa?” tanya Airin dengan nada tidak sabar.

Adinda menoleh ke arah Airin yang seolah menuntut jawaban darinya. "Kau tanyakan saja sendiri pada kakakmu."

Airin semakin tersulit, bukan itu jawaban yang ia inginkan. “Mbak, sudah jangan banyak drama. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi.”

Adinda terdiam tapi tatapannya semakin tajam. “Yang banyak drama itu justru keluargamu sendiri.”

"Maksudnya apa! Jangan berbelit jadi orang!" tuduh Airin.

"Berbelit?" ulang Adinda "Atau jangan-jangan kamu sudah tahu dengan semua ini."

Airin tertunduk. Tatapannya yang tadi nyalang perlahan melemah. Dari situ Adinda sudah bisa menyimpulkan meskipun Airin tidak memberikan penjelasan apapun.

"Benarkah kamu sudah tahu," tebak Adinda dengan senyum masamnya. "Baiklah kalau begitu, sekalian saja, aku kasih tahu," jedah sebentar.

Adinda berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Ibu… ditahan."

Airin terkejut. Tatapannya langsung memanas. Tangannya perlahan mengepal kuat. "Mana mungkin Ibu di penjara jangan ngada-ngada."

"Aku tidak pernah mengada-ngada, dan asal kamu tahu, ibumu terlalu banyak menyembunyikan kejahatan dariku."

Tangan Airin melayang ke udara hampir saja mengenai wajah Dinda, tapi dengan cepat Arya menangkasnya. "Sudah, jangan memperkeruh suasana ... Ibu memang salah."

Suasana langsung berubah. Tidak ada lagi suara tinggi, tidak ada lagi sindiran. Yang tersisa hanya ketegangan yang menggantung, dan rasa tidak percaya yang belum sepenuhnya bisa diterima.

Adinda tidak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah melewati Arya begitu saja, meninggalkan semua penjelasan yang terlambat itu di belakangnya.

☘️☘️☘️☘️

Pagi datang seperti biasa, tapi tidak dengan suasana yang sama.

Adinda kembali ke kantor, mencoba menenggelamkan pikirannya dalam pekerjaan. Berkas demi berkas ia selesaikan, meski sesekali pikirannya masih terlempar ke hal-hal yang belum selesai. Namun kali ini ia memilih tetap bergerak.

“Heh!”

Suara temannya tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Bos pusat datang!”

Adinda tidak langsung menoleh. “Terus?” sahutnya singkat, masih fokus pada pekerjaannya.

“Ya jelas penting! Jarang banget dia ke sini.”

Belum sempat Adinda menanggapi, suasana ruangan berubah. Beberapa orang mulai berdiri. Suara langkah terdengar dari arah pintu utama. Teratur dan tegas

Adinda akhirnya menoleh.

Jantungnya berdetak lebih cepat saat matanya akhirnya menangkap sosok yang datang dari arah pintu utama.

Bersambung ....

maaf sedikit telat

1
Sugiharti Rusli
semoga setelah tahu isi hati masing", hubungan mereka bisa lebih maju yah, karena Alesia juga butuh kasih sayang Adinda yang selalu ada dalam tumbuh-kembangnya kelak,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalan waktu, hati mereka mulai terikat tanpa mereka sadari, apalagi Alesia juga memanggil Adinda sedari awal mama tanpa tahu kalo dia memang ibu yang melahirkannya,,,
Sugiharti Rusli
mungkin awalnya Valen juga ga ada perasaan apa" kepada Adinda yang dulu juga masih sah sebagai istri si Arya,,,
Sugiharti Rusli
pada awalnya baik Adinda maupun Valen bertemu karena urusan Alesia, karena dia ibu yang melahirkan anak yang dirawat Valen sejak lahir,,,
Sugiharti Rusli
memang pepatah Jawa 'witing tresno jaranan soko kulino' itu memang benar yah
Sugiharti Rusli
hadeh akhirnya mereka bisa jujur sama perasaannya masing" yah sekarang
Dew666
💜💜💜💜
Mundri Astuti
dah halalin adinda Valen, ye ilah....pada malu" meong pada😂
Sugiharti Rusli
apalagi Arya juga sudah punya tanggung jawab lain kepada istri dan putranya sekarang, dan dia sadar kalo kebutuhan Alesia juga tidak akan mungkin dia bisa penuhi seperti yang Valen beri selama ini
Sugiharti Rusli
kalo sudah saling mengerti, paling tidak si Valen tidak harur ovt terhadap interaksi Arya dan Alesia yah,,,
Sugiharti Rusli
dan Arya juga sudah menyadari sepenuh nya, kalo sejak Alesia bayi yang jadi tempat pulang adalah Valen, ayah yang merawat dan mengasuhnya
Sugiharti Rusli
karena biar bagaimanapun keberadaan Arya sebagai ayah biologis Alesia akan tetap melekat sampai kapanpun,,,
Sugiharti Rusli
tapi memang harus dibicarakan sih yah tentang hal ini, agar baik Valen dan Arya memiliki pandangan yang sama tentang putri mereka,,,
Sugiharti Rusli
kira" apa yang akan disampaikan Valen ke Arya saat sekarang mereka bertemu ga sengaja di taman yah, eh kalo Arya sengaja dink mencari putrinya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kamu juga menjaga jarak sama Adinda, padahal kalo kamu sudah mulai nyaman, bisa bicara layaknya dua orang dewasa,,,
Sugiharti Rusli
dan Arya juga ga mungkin mengambil alih perhatian Alesia, dia hanya menganggap teman baik saja dan namanya bocil yah mudah menyapa
Sugiharti Rusli
jadi hal" kecil saja, kamu yang lebih paham kan,,,
Sugiharti Rusli
hadeh Valen seharusnya sih jangan ovt tentang kondisi Alesia yah, kan sedari bayi kamu yang ada di dekat dia,,,
Dew666
🥰🥰
Dew666
🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!