Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
POV author.
Beberapa hari pun berlalu. Keadaan luka luka di tubuh Renata sekarang ini hanya tinggal luka baret saja, bahkan Renata sekarang ini mulai rutin makan dan meminum obatnya.
Renata seperti mempunyai sedikit kekuatan, karena kebaikan yang dilakukan suaminya.
Sejak saat Ivan mencambuk tubuh istrinya, baik Esther maupun dirinya (Ivan) juga tidak saling menghubungi dan berkomunikasi lagi, Karena tiba tiba Esther menghilang.
Di kantor pun, beberapa hari ini Esther juga sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
Dan kata beberapa teman kantornya, Esther sekarang ini sudah resign dari pekerjaannya.
Ivan pun akhirnya juga memilih acuh dan tidak memperdulikan perihal Esther, karena dia pikir Esther memang berniat untuk mengakhiri hubungan dengannya sekarang ini.
Bahkan selama tubuh Renata sakit akibat luka cambukan itu, Ivanlah yang merawat istrinya itu dan menggantikan semua pekerjaan istrinya untuk membersihkan rumah dan merawat anaknya.
Sekarang ini Ivan sedang duduk bersama dengan istri dan juga anaknya di sebuah karpet yang di gelar di ruang tamu. Di karpet itu ada beberapa mainan, yang baru yang dibelikan oleh Ivan untuk anaknya.
Renata tersenyum, melihat suami dan juga anaknya yang bermain main bersama. Dia terus memandang suaminya itu dengan pandangan penuh damba.
Tapi sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dari dalam hati Renata, 'Sebenarnya apa yang kemarin dikatakan Dion pada Mas Ivan? Kenapa tiba-tiba Mas Ivan itu bisa berubah sebaik ini.'
"Dek, kamu kok senyum senyum sendiri sambil lihat Mas terus, apa ada yang aneh dengan wajah Mas?" tanya Ivan sembari menatap istrinya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hehe, Gak papa kok Mas. Mas hari ini tampan banget, beda seperti biasanya," tutur Renata dengan suara yang terdengar lembut. Dia terlihat menundukkan wajahnya, untuk menutupi rasa malu yang sekarang ini mendera dirinya, bahkan pipi Renata sekarang ini juga sudah berubah warna menjadi merah merona.
"Dek, Mas akan berusaha untuk berubah lebih baik, Dek. Maafin Mas yang selama ini selalu memperlakukan mu dengan kasar, bahkan Mas juga selalu menyakiti hatimu," ucap Ivan tulus sembari meremas jari jemari milik istrinya.
Sontak Renata pun mendongakkan wajahnya, dia terlihat menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang lekat, air mata Renata pun akhirnya luruh membasahi ke dua pipinya.
"Loh, Dek. Bukanya jawab kok malah nangis, ada yang sakit Dek?" tanya Ivan dengan wajah khawatir.
Renata pun memberanikan diri, untuk memegang pipi suaminya. Dia pun akhirnya bertanya, "Mas apakah ini beneran kamu? Kamu beneran sudah berubah Mas?"
Ivan pun merespon ucapan istrinya dengan menganggukkan kepalanya.
"Iya Dek, Mas beneran mau berubah. Demi Reyhan, demi keutuhan rumah tangga kita," jawab Ivan dengan wajah serius. Lalu dia terlihat mencium punggung tangan istrinya.
"Mas, bolehkah aku memelukmu? Aku sangat ingin memelukmu untuk sekali saja?" tanya Renata dengan wajah yang terlihat penuh harap.
Ivan pun terlihat merentangkan ke dua tangannya. Lalu dia berkata, "Kalau mau peluk, peluklah Dek!"
Air mata lagi lagi luruh membasahi ke dua pipi mulus Renata, dia memeluk suaminya itu dengan sangat erat.
Bukan sebuah air mata kepedihan yang sekarang ini menghampiri dirinya, tapi ini adalah sebuah air mata kebahagiaan.
Selama lebih dari 8 tahun, Renata tidak pernah di sentuh atau di berikan nafkah batin oleh suaminya. Beberapa hari lalu saat dicambuk, itu adalah kali pertama suaminya itu menyentuhnya 8 tahun berlalu.
Pelukan yang selama ini Renata impikan, sebuah pelukan hangat yang sangat Renata rindukan, dan biasanya hanya bisa dia dapatkan dari alam mimpi.
"Dek, udah ya meluknya! Kasihan itu Reyhan di cueki sama ibu dan juga ayahnya!" ujar Ivan dengan suara risih, lalu dia terlihat menjauhkan tubuhnya dari tubuh istrinya.
"Hehe, maaf Mas. Soalnya aku itu kangen banget dengan momen kebersamaan kita di saat seperti ini."
Hembusan nafas kasar tampak keluar dari hidung Ivan, lalu dia pun berkata, "Hari ini mau makan di luar gak Dek? Mumpung Mas libur!"
Dengan mata berbinar Renata pun langsung menyetujui permintaan suaminya.
Karena baginya, ini adalah pertama kali suaminya itu mengajaknya untuk makan diluar.
'Ya Allah makasih banyak,' batin Renata dengan sebuah senyuman bahagia.
"Reyhan anak ibu, ayok ganti baju dulu! Setelah ini kita berdua akan pergi makan sama ayah," ucap Renata pada putranya yang sedang duduk bermain balok.
Lalu Renata terlihat menggendong anaknya itu ke arah kamar miliknya.
Ceklek
Lagi lagi Renata dibuat bingung. Dengan keadaan kamarnya yang sekarang ini mirip sekali seperti gudang.
Renata akui, beberapa hari lalu. Waktu dirinya itu sakit, dia memang tidur di dalam kamar suaminya. Tapi sejak kapan suaminya itu membersihkan kamarnya, menggulung kasur, bahkan menaruh beberapa benda yang tidak begitu berguna yang sebelumnya ada di kamar suaminya, ke dalam kamarnya.
Tiba tiba sebuah tangan pun melingkar pada perutnya.
Sontak Renata pun menoleh ke arah belakang, dia lagi lagi tersenyum manis.
"Kamu pasti terkejut ya, lihat kamar kamu yang berantakan seperti ini!" ujar Ivan sembari memeluk istrinya itu dari arah belakang.
"Huum Mas, tapi kalau kamarku jadi gudang seperti sekarang ini, terus aku tidur dimana Mas?" tanya Renata dengan wajah bingung.
"Kamu nanti tidurnya di kamar Mas terus Renata! Jujur Mas itu sangat merasa bersalah sama kamu, Mas juga sangat takut kehilangan kamu. Hanya kamu satu satunya orang yang mencintai Mas dengan tulus dan juga apa adanya. Bahkan kamu juga dengan sukarela menahan sakit, demi melahirkan Reyhan."
Ivan terlihat mengeratkan pelukannya itu, bahkan tubuh Ivan juga terlihat bergetar. Karena sepertinya Ivan sedang menangis sekarang ini.
Renata pun mengigit bibir bawahnya, karena saking eratnya pelukan suaminya itu, sampai menekan ke bagian bawah perutnya. Sungguh Renata sendiri sekarang ini sangat sulit untuk mendeskripsikan perasaannya.
Hatinya sangat bahagia, karena di balik luka dalam yang di torehkan oleh suaminya beberapa hari lalu. Sekarang dia mendapatkan sedikit kebahagiaan.
Tapi fisiknya, tepatnya dibagian perut, sungguh terasa sangat sakit.
"Pokoknya Mas akan terus berusaha Dek, untuk berubah dan bisa mencintaimu lagi sedalam dulu," imbuh Ivan.
Reyhan yang seperti mengerti akan kesusahan ibunya pun, tiba tiba meminta di gendong oleh ayahnya.
"Oh .. Reyhan juga ingin di peluk Ayah ya ... sini biar Ayah peluk," ujar Ivan sembari mengambil anaknya dari gendongan istrinya.
Renata terlihat menghembuskan nafas dengan lega berkali kali, kala sakit di perutnya sekarang ini berkurang.
Suaminya pun membawa anaknya untuk masuk ke dalam kamarnya, Renata memandang punggung suaminya dengan tatapan penuh syukur.
Lalu Renata mengejar langkah suaminya itu menurut ke kamar, lagi lagi Renata di buat terkejut dengan pemandangan yang dia lihat di dalam kamar suaminya.
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡