NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ide Gila !

“Emmhhh ... Bibirmu manis kayak biasanya. Makanya aku nggak bisa sehari saja nggak bercinta sama kamu,” gumam Sean sambil kembali melanjutkan pergumulan lidahnya.

“Uh! Pelan-pelan dong, Sayang. Kamu nyakitin lidah aku tahu.” Vera mengeluh dengan permainan kasar kekasihnya itu. “Ini masih sore. Kita punya banyak waktu untuk bercinta. Jadi nggak usah buru-buru. Oke?”

Sean menjawab dengan erangan. Ia kemudian mendorong gadis muda berusia dua puluh tahun itu ke atas sofa. Tanpa banyak bicara Sean pun mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan kekasihnya. Jarinya yang panjang bergerak dengan lincah, membuka satu persatu kancing itu layaknya seorang ahli.

Sebagai seorang pria yang mempunya libido yang tidak seperti pada pria umumnya, membuat Sean agresif. Ia tak pernah merasa puas jika itu berhubungan dengan bercinta. Libidonya yang luar biasa Sean anggap sebagai anugerah terindah dari Tuhan.

Dengan wajahnya yang tampan dan kemahirannya dalam bersilat lidah, membuat Sean tidak pernah kekurangan wanita untuk ia menyalurkan nafsunya. Bahkan, satu wanita tidaklah cukup untuk dirinya.

Pacarnya saat ini memang Vera, tapi selingkuhannya di belakang ada lebih dari dua gadis. Yang mana, sebenarnya mereka juga tahu jika posisinya hanya sebagai selingkuhan. Begitu juga dengan Vera, ia tahu kalau Sean main serong di belakangnya. Akan tetapi, baik Vera maupun selingkuhan-selingkuhan Sean yang lainnya, mereka semua sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.

Mengingat wajah Sean yang tampan bak aktris Hollywood, tubuhnya yang tinggi dan atletis, serta pembawaannya yang pandai bicara itulah, mereka menganggap jika hal yang wajar Sean tidak cukup dengan satu gadis. Yang terpenting adalah Sean bisa memuaskan mereka semua di atas ranjang. Hal itu sudah lebih daripada cukup untuk meredakan kemarahan atas sifat buruk Sean yang gemar berganti-ganti perempuan dan tak setia itu.

“Pelan-pelan, Sayang. Kamu seperti orang yang kelaparan sehabis pulang lembur kerja saja,” kata Vera. Ia mengomel karena Sean menarik kemejanya dengan tidak sabaran. “Aku kan udah bilang tadi, ini masih sore. Kita bisa bercinta semalam suntuk karena besok hari libur.”

“Emmhhh ... aku memang berencana main sampai pagi. Karena besok siang aku harus ketemu klien,” jawab Sean. Suaranya serak karena gairahnya sudah semakin memuncak. Ia menyelipkan tangannya ke dalam cup bra kekasih, lalu ia mulai membelai dengan agak kasar puncak sensitif dari tubuh bagian atas kekasihnya yang seketika langsung menegang.

“Uh, kamu sudah siap rupanya.”

Vera mengerang. Ia kesal karena kenikmatan itu sudah mau meledak di perutnya. Padahal mereka baru mulai bercinta. Itulah kepiawaian seorang Sean Yuritama. Detektif tengil yang terkenal tidak hanya mahir dalam memecahkan kasus orang hilang, juga mahir dalam bercinta.

Di kalangan para gadis, pria berusia dua puluh empat tahun itu adalah seorang idola. Kepiawaian Sean dalam memuaskan pasangan bercintanya sudah menjadi rahasia umum.

Biasanya jika mereka berkumpul untuk sekedar nongkrong di kafe  dan minum kopi, topik pembicaraan mereka sudah pasti Detektif Sean Yuritama. Para gadis yang sudah pernah tidur dengan Sean, entah itu statusnya mantan pacar atau selingkuhan, biasanya akan membanggakan dirinya sendiri merasa bersyukur karena ia mendapat kesempatan bisa melayani pria yang diidolakannya. Membuat gadis yang lain yang belum pernah sekali pun tidur dengan Sean memonyongkan bibir karena kesal.

“Uh, Sayang. Kamu udah siap kalau aku masuk ke dalam?” tanya Sean sambil ia membuka sabuknya. “Aku udah nggak sabar pengen masuk nih.”

“Iya, Sayang iya. Masuk aja. Biasanya kamu juga masuk aja, kan. Nggak pake tanya-tanya,” jawab Vera pura-pura ketus.

“Masalahnya aku nggak pake pengaman, Sayang. Pengamanku uda habis. Gimana kalau aku nggak sengaja keluar di dalam karena udah nggak tahan? Aku nggak mau kalau kamu sampe hamil, Sayang. Kamu kan tahu sendiri kondisi aku sekarang ini kayak gimana,” ujar Sean sambil membuka ritsletingnya.

Pada saat ia mau melepaskan celana, tiba-tiba saja di luar terdengar suara orang menggedor pintu dan berteriak-teriak menyuruh Sean keluar. “Sialan! Siapa sih yang datang malam-malam begini dan teriak-teriak. Ganggu orang mau senang-senang aja.”

“Sayang, jangan-jangan itu klienmu yang datang. Mending kamu buruan deh bukain pintu. Daripada nanti kita diprotes tetangga sebelah gara-gara ada orang berisik depan rumah kamu.”

“Nggak mungkin! Klienku itu cowok, bukan cewek. Jadi nggak mungkin yang di depan itu klienku,” bantah Sean sambil ia mengenakan kembali celana yang dilepaskannya.

“Kamu tunggu di sini, ya. Aku cek dulu ke depan.” Sean berbalik lalu keluar dari kamar tidurnya dan dengan tergesa-gesa menuju pintu utama ruang tamu.

Sebelum membuka pintu, Sean mengintip terlebih dahulu dari jendela kaca. Ia menyingkap gorden sedikit, lalu mulai mengintip. Gadis yang berdiri di depan pintunya adalah orang yang tidak ia kenal. Akan tetapi, wajahnya seperti tidak asing. Tubuhnya yang tinggi dan langsing itu benar-benar tampak sangat jelas meski penerangan di teras depan rumah Sean agak sedikit temaram.

Terdorong rasa penasaran, Sean pun akhirnya membukakan pintu sambil pura-pura mengomel.

“Heh, kamu ini nggak punya sopan santun ya! Malam-malam bertamu dan gedor-gedor rumah orang sambil teriak-teriak. Bersisik tahu!”

“Siapa suruh pintunya nggak dibuka – buka. Ya aku gedor-gedorlah,” sahut Christaly tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Makanya kalau ada tamu buruan pintunya dibuka. Biar nggak digedor-gedor.”

Sean sudah hampir menyembur gadis kurang ajar di hadapannya. Akan tetapi, saat ia memerhatikan lebih saksama wajah gadis muda itu, melihat betapa sempurna lekuk tubuhnya dan bagaimana buah dada serta bokongnya yang kencang dan bulat, kemarahan di dada Sean pun seketika padam. Demi menjaga gengsinya, Sean pun kembali pura-pura marah.

“Tadi aku lagi di kamar mandi. Nggak mungkin dong aku buru-buru bukain pintu,” kata Sean. “Kamu ini siapa sih? Ada perlu apa sama aku datang malam-malam? Mengganggu kenikmatan orang lain saja.”

Christaly menggaruk kepala. Sekarang ia jadi agak sedikit malu karena telah lancang dan bersikap tidak sopan. Dengan tulus Christaly pun meminta maaf kepada Sean. Ia kemudian menjelaskan jika maksud dan tujuannya datang berkunjung adalah meminta Sean agar mau bekerja sama dengannya untuk pura-pura menculik Pak Haris supaya mereka bisa mendapatkan uang tebusan dari si istri lintah darat itu, dan menggunakan uangnya untuk membayar hutang.

“Aku tahu, kok, kalau kamu punya hutang yang luar biasa banyak ke Pak Haris dan nggak bisa ngelunasinnya. Aku juga sama. Jadi, mendingan kita kerja sama aja, buat pura-pura nyulik Pak Haris terus minta tebusan,” ujar Christaly. “Kalau kita udah dapet uangnya, kita pake lagi uang itu buat bayar hutang ke Pak Haris. Impas, kan?”

Sean tertawa mendengar ide naif gadis di hadapannya itu. “Nona ... Siapa namu?”

“Christaly, panggil aja aku Christaly.”

“Nona Christaly, aku nggak tahu, kamu ini lugu apa dungu. Kamu pikir semudah itu apa nyulik orang terus minta tebusan? Yang ada belum sempat kita bayar utang ke Pak Haris, kita udah ditangkap polisi.”

“Tapi, kamu kan detektif. Ayah kamu polisi, kan? Jadi apa yang mesti ditakuti? Kita bisa bebas dengan gampang kayak anak-anak pejabat di televisi itu.” Christaly masih bersikeras.

“Huh! Kamu baru bangun tidur atau belum makan dari pagi, sih? Ngomongnya makin ngelantur aja. Mendingan masuk dulu, deh. Di sini takut ada orang lewat yang denger. Nanti mereka bisa salah paham,” ujar Sean.

Dia kemudian mundur sedikit dan membuka pintu lebar-lebar untuk memberi jalan kepada Christaly. “Silakan duduk. Kamu mau minum teh apa kopi?”

“Eh, nggak usah repot-repot. Aku nggak mau minum apa-apa. Aku nggak haus, kok,” sahut Christaly cepat-cepat sebelum Sean pergi ke dapur. Christaly yang tak mau membuang waktu pun kembali menanyakan soal tawarannya. “Jadi, gimana soal tawaranku tadi itu? Kamu setuju apa nggak sama rencanaku?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!