Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toni si Mantan Ghaib dan Anting Pasar Malam
Ekantika merasa perutnya bergejolak. Seseorang sudah tahu. Seseorang di kantornya, yang membenci status jandanya, sedang menggali masa lalunya.
Dan orang itu baru saja mengarahkannya pada foto yang sama yang dilihat Dimas.
Ekantika Asna tidak punya waktu untuk menghapus jejak digitalnya. Ia harus segera menyusun alibi yang tidak hanya menutupi usia dan statusnya, tetapi juga sejarahnya dengan Riton.
Ia menghela napas, menutup laptop, dan membalas pesan Riton tentang musik pop-punk itu. Ia harus melanjutkan sandiwara ini, meskipun ia tahu ia sedang berjalan di atas tali tipis yang terbakar.
Nana: Oh, iya! Aku dapet rekomendasi lagu-lagu lama itu dari…
Ia menghapus semuanya. Ia harus menjadi jujur, tetapi jujur sebagai Nana.
Ia mengetik, memaksakan senyum di wajahnya.
Nana: Aku dapet rekomendasi lagu-lagu lama itu dari… mantan pacarku yang super brengsek! 🤣Aku sering dengerin itu kalau lagi galau! Tapi aku udah move on, kok! Gimana kalau lusa kita dengerin lagu-lagu itu bareng?
Kirim.
Ia baru saja menciptakan mantan pacar fiktif, hanya untuk menutupi kecerobohan detail musik.
Tiba-tiba, Dimas menelepon lagi.
“Tik, aku baru lihat pesan yang kamu kirim. Mantan pacar brengsek? Kamu mau ke mana lagi, Tik?”
“Aku sedang membangun alibi yang kokoh, Dimas. Aku butuh kamu membuatkan profil palsu untuk mantan pacarku yang brengsek itu. Jika Riton mencari, dia harus menemukannya. Dan Dimas, alibi itu harus sangat meyakinkan, penuh dengan foto-foto yang menunjukkan aku putus darinya karena dia tidak dewasa,” perintah Ekantika, suaranya kini kembali tajam dan penuh kendali.
Di seberang telepon, Dimas terdiam lebih lama dari biasanya.
“Ekantika. Aku pakar IT, bukan agensi penipuan identitas,” kata Dimas, nadanya mulai terdengar putus asa.
“Kau adalah sahabatku, Dimas. Dan sekarang, kau adalah arsitek dari Algoritma Pembangkangku. Sekarang, mari kita mulai,” desis Ekantika. “Aku butuh nama untuk mantan pacar brengsek Nana. Aku pikir… Arsa. Kedengarannya sedikit manipulatif dan menjengkelkan.”
Ekantika tersentak. Arsa. Itu adalah nama mantan suaminya. Ia tanpa sadar telah menggunakan nama pria yang baru saja ia ceraikan untuk menutupi kebohongan romantisnya.
“Tidak, jangan Arsa. Terlalu dekat,” Ekantika meralat cepat. “Gunakan nama… Toni. Ya, Toni. Buatkan profil Toni, 28 tahun, pekerjaan: Content Creator yang gagal.”
Dimas menghela napas. “Aku akan melakukannya. Tapi kalau kamu ketahuan, aku akan bilang kamu menyandera aku.”
“Tidak masalah. Aku akan membelikanmu perusahaan IT baru kalau aku berhasil menikahi Riton,” Ekantika berjanji, setengah bercanda.
Ia menutup telepon dan bersandar di kursinya. Nana telah lahir. Tapi Nana datang dengan seluruh rombongan alibi digital yang rumit.
Ia melihat kembali ke pesan Riton.
Riton: Oke, lusa kita dengerin pop-punk bareng. Aku akan bawakan kamu kopi terbaik. Sampai ketemu, Na.
Ekantika tersenyum. Ia telah memenangkan pertempuran pertama.
Namun, saat ia membuka email kantornya untuk mengecek jadwal rapat besok (yang seharusnya ia hadiri, padahal ia berbohong kepada Riton bahwa ia di luar kota), sebuah email baru dari departemen HRD muncul.
Kepada: Seluruh Staf Eksekutif dan Manajer Proyek Garuda.
Subjek: Pemberitahuan Perubahan Jadwal Rapat Proyek Garuda dan Penugasan Baru.
Ekantika membuka email itu. Jantungnya langsung berhenti berdetak.
Rapat penting besok yang seharusnya ia hadiri telah dibatalkan. Diganti dengan Video Conference internal pukul 10 pagi. Dan yang lebih buruk, Ekantika ditugaskan untuk memimpin video conference itu dari luar kota, untuk menghindari kerumunan dan fokus.
"Sial," bisik Ekantika. Ia telah membatalkan rapatnya. Dan kini, ia harus benar-benar berpura-pura berada di luar kota, meskipun hanya melalui layar.
Ia segera menelepon Dimas lagi.
“Dimas, batalkan rencana Toni si Content Creator dulu! Aku butuh latar belakang video conference di luar kota yang meyakinkan! Pemandangan sawah! Atau pantai! Dan aku butuh delay jaringan yang sedikit diperlambat, agar terlihat seperti aku sedang menggunakan Wi-Fi desa yang lemah!”
“Astaga, Tik. Itu namanya penipuan korporat,” Dimas memprotes.
“Itu namanya multitasking identitas! Aku tidak bisa terlihat profesional di Jakarta dan riang di luar kota dalam waktu yang sama!” teriak Ekantika, panik.
Ia harus menjadi Ekantika Asna yang profesional di depan dewan direksi besok pagi, sambil secara logistik berada di luar kota. Dan di malam harinya, ia harus kembali menjadi Nana yang riang, siap untuk kencan lusa dengan Riton.
Ia melihat kalender. Besok. Hari di mana Ekantika Asna harus berjuang untuk proyeknya, dan Nana harus menjaga kebohongannya.
Drrttt!
Pesan baru dari Riton masuk.
Riton: Na, aku penasaran banget sama kamu. Aku baru aja lihat foto profilmu lagi. Kamu pakai anting yang lucu banget. Itu anting yang kamu beli di mana, Na?
Ekantika memegang telinganya. Anting itu adalah anting berlian kecil yang sangat mahal. Hadiah dari mantan suaminya, Arsa, yang ia kenakan hari ini karena terbiasa.
Nana yang fresh grad tidak mungkin punya anting berlian semahal itu.
Ekantika menutup ponselnya dengan bantingan keras.
“Dimas! Aku butuh anting palsu, dan aku butuh alibi cepat tentang anting mahal ini. Aku akan bilang itu hadiah dari… dari… Tanteku yang kaya!”
Di seberang telepon, Dimas tertawa histeris. “Tantemu yang kaya? Kamu benar-benar akan melibatkan seluruh silsilah keluarga fiktifmu untuk kencan ini?”
Ekantika tidak menjawab. Ia menatap layar ponselnya, di mana pesan Riton tentang anting itu masih terpampang. Ia harus membalas, tetapi ia harus melakukannya dengan cepat, sebelum Riton menyadari bahwa anting itu persis sama dengan anting yang ia kenakan saat bertemu di lobi tadi.
Ia mengetik, memaksakan keriangan palsu yang mematikan.
Nana: Oh, anting itu? Itu anting murahan yang aku beli di pasar malam, Riton! Aku suka banget! Tapi sayangnya, aku lupa di mana aku menaruhnya! 😭 Aku lagi panik nyariin! Nanti kalau ketemu aku fotoin ya! 😉
Ia menekan kirim. Kebohongan yang baru saja ia ciptakan adalah bahwa anting itu hilang, padahal anting itu sedang ia pegang di tangannya.
Ia telah berhasil lolos dari jebakan anting.
Namun, ia baru menyadari satu hal yang mengerikan. Riton pasti akan melihatnya lusa, di kencan mereka. Jika Riton melihat ia mengenakan anting yang sama, sandiwara ini akan berakhir.
Ekantika melihat ke luar jendela. Ia harus segera membeli anting baru, anting murahan yang sesuai dengan citra Nana, dan ia harus melakukannya sekarang, sebelum toko tutup.
Ia berdiri, mengambil tasnya, dan bergegas menuju pintu. Ia harus keluar dari kantornya.
Namun, saat ia membuka pintu, ia melihat Riton Wijaya berdiri di depan ruangannya, tampak khawatir.
“Bu Ekantika, maaf mengganggu. Saya lihat Ibu terlihat pucat. Apa Ibu baik-baik saja?” tanya Riton, matanya tertuju pada wajah Ekantika.
Ekantika membeku. Riton ada di sini? Sekarang?
Riton mencondongkan tubuh sedikit, dan Ekantika harus mundur selangkah. Ia takut Riton akan melihat anting berlian mahal itu.
“Saya baik-baik saja, Riton. Saya hanya… terlalu fokus,” jawab Ekantika, suaranya terdengar kaku.
Riton tersenyum tipis. “Saya dengar rapat besok dibatalkan. Selamat menikmati perjalanan Ibu, ya. Semoga sukses dengan video conference di luar kotanya.”
Ekantika mengangguk kaku, merasa ngeri. Riton tahu persis apa alibinya.
Riton kemudian menatap ke arah tangan Ekantika, yang memegang ponselnya.
“Maaf Bu, tapi… apa Ibu baru saja menjatuhkan ini?” tanya Riton, menunjuk ke lantai di dekat kaki Ekantika.